
Tidak ada lagi hambatan, kebangkitan kembali para undead sudah tidak bekerja. Setiap prajurit dan ksatria maupun setiap pemain ditempat, mereka semua dapat menghabisi undead sepenuhnya.
Impian bergerak dengan panik. Exp dan jiwa yang akan didapat, dia rasakan akan berkurang atas persaingan dari seluruh orang. Tidak ada monopoli atas tindakan Impian.
"siaaaaaallllllllllll"
Dirinya merasa bahwa tindakan diawal yang tidak melakukan segera dan saat-saat perbincangan menjadi sia-sia untuk dilakukan. Dirinya mengerahkan seluruh kemampuan untuk mempercepat pergerakan dan kecepatan dalam bergerak agar setidaknya masih dapat mengeliminasi banyak dari jumlah undead yang ada.
Meski begitu, Impian masih tidak dapat berbuat banyak. Biar bagaimanapun, setiap undead yang ada di tempat ini telah dihentikan atau dibiarkan agar tetap di tempatnya.
Hanya tinggal menunggu serangan terakhir, serangan penghabisan datang dan itu semua selesai. Seluruh undead yang ada telah dihabisi dan tidak menunggu Impian datang.
"huh~ sial!"
Melihat tidak adanya undead lagi yang bertahan, Impian hanya bisa bersumpah. Akhirnya, seluruh undead yang ada di tempat ini telah menghilang dari pandangan orang-orang.
Seorang ksatria elf datang dari kejauhan dan berlari mendekati Impian.
Meski undead-undead yang ada sudah berhasil di musnahkan seluruhnya, setiap prajurit yang ada tidak mengendurkan sikap mereka. Tidak ada teriakan kemenangan yang terlihat dari satu prajuritpun, bahkan pemain yang sebelumnya meneriakan suara kemenangan mereka, terinfluens karena melihat para NPC tidak merayakan kemenangan mereka.
Para pemain, yang melihat para NPC tidak merayakan kemenangan mereka, menunggu pergerakan NPC selanjutnya. Pengalaman mereka diawal sewaktu kemenangan atas pertempuran makhluk Chaos, dimana tidak ada satupun NPC yang merayakan, membuat mereka menahan diri.
Dikarenakan sebelumnya, pikiran mereka tentang kemenangan dipatahkan oleh situasi selanjutnya yang ternyata pertempuran itu sendiri belum selesai. Mau tidak mau, pemain yang melihat para NPC tidak meneriakan kemenangan mereka pada situasi saat ini, ikut bersiap atas instruksi selanjutnya yang datang.
"tuan Impian"
Itu adalah Istina. Dirinya datang mendekati Impian dengan berlari.
"Lich telah dikalahkan dan delapan penyihir hitam telah ditangkap seluruhnya"
Dirinya melaporkan kepada Impian.
"oh, bagus kalau begitu. Akhirnya kita bisa beristirahat"
"...."
Mendengar jawaban dari Impian, Istina terdiam, seperti tercengang atas jawaban itu sendiri.
"ada apa lagi kakak Istina?"
Melihat Istina yang seperti itu, Impian bertanya kepadanya.
"ah, tidak... Awalnya aku ingin bertanya, apakah ada musuh lagi disekitar sini"
Mendengar jawaban itu, Impian terdiam sejenak.
Dirinya berpikir, Istina merupakan ksatria dengan pangkat tertinggi atas golongannya. Tidak ada ksatria Ranting Borneo lain yang datang, artinya mereka semua masih disana dan menunggu hasil yang diperoleh dari Istina.
Mereka semua adalah ksatria dengan kemampuan dan pengalaman yang besar, lalu untuk apa mereka bertanya kepada Impian?
Apakah mereka sendiri tidak menginvestigasi keadaan dan lingkungan saat ini?
Bagaimana dengan prajurit lain yang dapat mereka perintah untuk mengetahui sendiri situasi dan musuh yang ada?
Bukan seperti itu.. Itu karena Impian seorang yang telah bertindak diawal-awal pertempuran. Baik tindakan dan pengamatannya telah membuktikan dirinya sendiri kepada para elf.
Para elf percaya, bahwa Impian dapat melihat kejanggalan maupun situasi pada ruang lingkup yang lebih jauh. Jadi atas sikap Istina yang seperti itu, Impian akhirnya berpikir, bahwa mereka juga menunggu informasi dari Impian sendiri.
"tunggu sebentar"
Kemudian Impian melompat setinggi yang dirinya bisa. Sesampainya di ketinggian yang bisa 'ia capai, Impian mengaktifkan pijakan lingkaran sihir untuk bisa tetap berada diudara.
Mengaktifkan skil [The Great One Who's See The Truth], [The Great One Who Control Mana], [The Great One Who's Order The Life], dan [The Great One Who's Order The Soul] secara bersamaan sepenuhnya. Bukan berarti skil-nya dapat berguna seluruhnya saat ini, tetapi Impian tidak tahu dan hanya berpikir bahwa mungkin saja dengan mengaktifkan seluruh skil sepenuhnya, kejanggalan yang kelewat dapat terdeteksi.
Impian mengamati sepenuhnya, jauh pandangan mata itu melihat setiap inci yang dapat matanya capai. Mengamati dengan perlahan, baik itu perubahan dalam pergerakan yang mencurigakan ataupun mana hitam yang berpotensi membuat kekacauan seperti sebelumnya.
Para prajurit yang melihat tindakan Impian menunggu dalam diam. Bahkan Istina yang berada tepat dibawah Impian, menunggu Impian menyelesaikan tindakannya.
__ADS_1
Tidak ada satupun yang bertanya. Mereka hanya menunggu dalam posisi bersiap.
"ada beberapa mana hitam yang melayang-layang, tetapi itu sepertinya dari pemain atau kemampuan mereka. argh.. aku tidak tahu! dengan kapasitas otak-ku yang tidak seberapa dalam masalah ini, aku hanya bisa bilang tidak ada kejanggalan lagi! biarlah.."
Kemudian Impian kembali dan turun ke samping Istina.
"kurasa aman?"
Sembari memberikan jawabannya dalam kepala miring, Impian menyampaikan kepada Istina.
Mendengar jawaban itu, Istina mengangguk, lalu melihat ke sekeliling-
"persiapkan upacara serah!"
Perintah Istina mengumandang kesegala arah. Berawal dari satu orang, menyebar kesegala penjuru medan tempur yang diteruskan oleh setiap prajurit elf yang ada.
Karena kumandangan perintah tersebut, perintah itu diteruskan hingga mencapai setiap orang yang berada di medan tempur. Ekspresi kegembiraan dapat dilihat dari para dwarf dan prajurit manusia dari kerajaan lain, bahkan para beastman terlihat beberapa dari mereka mengepalkan kedua tangan mereka dengan wajah tersenyum penuh kemenangan.
Sebaliknya, berbeda dengan para pemain yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi, termasuk Impian sendiri, terheran-heran dengan tindakan para NPC, khususnya para prajurit elf. Seluruh musuh telah berhasil dikalahkan, tetapi bukannya teriakan penuh keberhasil, para elf malah ingin melakukan upacara saat ini?
"itu cara para elf setelah melewati perang besar. Ikuti saja alurnya"
Doranda menjelaskan kepada Impian yang dilihatnya kebingungan atas apa yang terjadi.
Memang terlihat aneh bahkan bagi Impian sendiri, tetapi beberapa saat kemudian, seluruh ksatria Ranting Borneo terlihat datang dan mendekati Impian. Dibelakang mereka, terlihat para ksatria, prajurit, dan para penatua mengikuti mereka.
"tuan Impian, bisakah kami meminta kehadiran anda bersama kami?"
Astaresee yang telah tiba dihadapan Impian berbicara kepadanya dan meminta kehadiran Impian.
"sure"
Tidak tahu apa yang akan terjadi, Impian hanya menyetujuinya. Kemudian mereka, para ksatria Ranting Borneo berjalan menuju tempat dimana lubang cacing makhluk Chaos pernah berada dan Impian mengikuti dari belakang.
Tidak ada yang mengikuti mereka selain ksatria Ranting Borneo. Setiap elf, baik para ksatria kota lain, para penatua, dan para prajurit biasa berada beberapa meter dari ksatria Ranting Borneo dengan membentuk seperti lingkaran.
Pohon-pohon itu tumbuh satu persatu oleh para druid tersebut. Keindahan itu bahkan lebih terasa saat angin menghembuskan pohon tersebut dan menerbangkan daun-daun dan kelopak bunga putih itu.
"apa yang terjadi?"
"apa yang dilakukan para NPC?"
Pemandangan itu bahkan membuat para pemain yang melihatnya terdiam sejenak karena mengagumi keindahan yang terjadi. Kemudian para elf satu-persatu melantunkan nada dari seruan mereka yang membuat suasana kembali seperti mistis tersendiri.
Hanya lantunan acapela dengan lirik
🎶AAAAAaaaaaa~🎶
ataupun
🎶ooooOOOOOoooo~🎶
tapi lantunan terasa sangat damai. Bahkan beberapa pemain yang mendengarkannya meneteskan air mata mereka dan hanyut dalam lantunan syahdu.
"Anda adalah orang yang paling berperan besar dari pertempuran ini. Kami ingin anda berada di pusat dari upacara serah"
"lanjutkan"
Menerima persetujuan Impian, para ksatria Ranting Borneo melanjutkan upacara mereka.
Tannivh melanjutkan dengan mengeluarkan lingkaran sihirnya. Setelah beberapa saat, pohon besar berdaun dan berbunga putih tumbuh sangat besar.
Berada di pusat dari seluruh orang yang membentuk lingkaran. Pohon besar itu, yang ditumbuhkan oleh Tannivh menjadi pusat dari upacara yang sedang berlangsung.
Entah itu karna pohon yang ditumbuhkan atau upacara yang sedang digelar, kumpulan orb berbagai warna dengan yang mendominasi warna hijau muncul, melayang-melayang di udara.
"wahai teman, saudara seperjuangan-ku... yang telah bertempur di sisi-ku... kalian telah melakukan yang terbaik dari yang terbaik... bunda alam akan membimbing kalian... perjuangan kalian tidak akan pernah dilupakan oleh kami... kembalilah ke bumi dan terimakasih..."
__ADS_1
Kata-kata yang diucapkan oleh Tannivh, menggema dan terdengar keseluruh penjuru setiap orang yang berdiri melakukan upacara. Diiringi dengan lantunan nada acapela dan guguran daun dan bunga dari setiap pohon yang ada.
Perlahan-lahan, setiap orb hijau yang melayang terpecah dan menyebar kesetiap arah. Sebaran dari pecahan orb itu, menumbuhkan tanaman dari bumi yang tumbuh di segala tempat disetiap ruang bekas medan pertempuran.
Landscap dari bekas pertempuran telah rusak, menjadi gersang tanpa satupun tanaman menghiasi pemandangan yang ada. Pecahan orb-orb tersebut, mengembalikan tempat ini, yang merupakan hutan besar sebelumnya, kembali ke keadaan semula saat apa yang dilakukan pecahan orb tersebut menumbuhkan kembali tanaman yang ada.
Melihat hal itu, Impian mengerti, orb-orb yang melayang bukanlah bagian dari sihir atas upacara yang sedang berlangsung, tetapi mereka adalah jiwa-jiwa dari setiap ksatria maupun prajurit biasa yang telah gugur di medan perang. Hal itulah yang menyebabkan setiap warna dari orb berbeda dan didominasi oleh warna hijau dari seluruh orb yang ada.
Hijau, merupakan bagian dari para elf, dan jumlah yang gugur dalam pertempuran, lebih besar dari pihak elf. Melihat itu, jiwa-jiwa yang telah gugur dalam pertempuran kembali bangkit dan khusus bagi jiwa para elf, membangun ulang bumi yang telah rusak atas perustiwa pertempuran sebelumnya.
"jadi begitu, mereka adalah jiwa yang telah gugur, mengembalikan bumi dalam kesuburannya"
mendengar kata-kata yang terucap dari Impian, setiap anggota ksatria Ranting Borneo terperangah.
Dalam pandangan setiap orang yang ada ditempat ini, hanyalah guguran daun dan bunga yang ada. Tanpa melihat setiap orb yang muncul melayang-layang di udara.
Tumbuhan dan tanaman yang tumbuh secara tiba-tiba, bagi mereka yang awam dan tidak tahu fenomena dibaliknya, hanyalah mengira bahwa hal tersebut karena bagian dalam upacara. Itu memang benar, pertumbuhan kembali setiap tanaman adalah bagian dalam upacara, tetapi penyebab di balik itu adalah karena jiwa-jiwa tersebut yang melebur dan kembali ke bumi.
Impian melihat, jiwa-jiwa hijau itu terlihat penuh semangat dalam mengembalikan bumi menjadi seperti semula, tetapi, beberapa jiwa, orb yang berwarna coklat, terlihat tidak bersemangat di tempatnya.
"tidak hanya jiwa elf yang telah gugur yang terpanggil, tetapi berbagai jiwa dari setiap prajurit terpanggil kembali"
Impian melangkahkan kakinya setelah mengucapkan kata itu. Saat langkah pertama telah berpijak, setiap ksatria Ranting Borneo yang mengelilinginya membuka jalan untuknya, seakan dengan alami, mereka melakukan hal tersebut.
Impian mendekati orb berwarna coklat, jiwa yang berbeda dari jiwa-jiwa yang ada. Orb dengan warna kedua yang lebih banyak dari setiap orb yang ada.
"kalian adalah jiwa-jiwa dari setiap dark elf yang telah gugur. Kalian terpanggil karena upacara yang dilakukan oleh para elf. Kalian tidak bisa ikut mengembalikan kesuburan bumi karena kalian bukanlah bagian dari Pine. Apakah itu yang membuat kalian bersedih?"
Orb-orb coklat itu menanggapi Impian dengan berkedip maupun tindakan naik turun yang seperti mengangguk. Mereka semua menanggapi kata-kata Impian itu.
"pergilah kumpulkan rekan-rekan kalian yang ada disetiap tempat. Aku akan menunggu, akan kubantu kalian kembali ke bumi"
Setiap orb coklat, jiwa para dark elf bergetar hebat mendengar ucapan Impian. Tidak butuh waktu lama, mereka pergi kesegala tempat yang dapat mereka capai.
Tiga orb coklat, yang terlihat sedikit lebih besar dan memiliki sinar sedikit lebih terang dari yang lainnya. Berada dihadapan Impian dan tetap berada di tempatnya.
"ada apa?"
Mereka tetap berada di tempatnya dan hanya berkedip-kedip atas tanggapan yang didapat.
Kemudian Impian melambaikan tangannya-
"berbicaralah"
Ketiga orb coklat itu, mulai berubah membentuk tubuh. Tubuh dari sosok dark elf dan terlihat seperti orang-orang kuat yang bukan dark elf biasa.
"*saya adalah Arenta"
"nama saya adalah Uleinir"
"saya adalah Nermenia*"
Ketiga dark elf berbicara dan memperkenalkan diri mereka kepada Impian.
"dalam bentuk spirit kami, kami dapat merasakan jiwa-jiwa lain ditubuh anda"
Apakah itu jiwa monster yang baru saja diserap oleh Impian beberapa saat lalu?
Atas tindakannya itu, jiwa-jiwa yang diserap Impian berubah menjadi kekuatannya, dan dark elf dihadapannya membicarakan hal itu.
"benarkah? mungkin itu jiwa monster"
"dalam bentuk ini, kami mengerti akan hal itu. Maka dari itu, sebagai ucapan terimakasih karena membantu saudara-saudara kami kembali ke alam dalam peristirahatan mereka, biarkan kami juga menjadi bagian dari kekuatan anda"
Orang itu, adalah dark elf yang memperkenalkan dirinya sebagai Arenta. Dirinya berbicara mewakili kedua dark elf lainnya.
"aku membantu bukan karna mengharapkan imbalan. Kembali ke alam adalah bagian dari kepercayaan kalian, jangan paksakan diri kalian hanya untuk membalas budi"
__ADS_1
Ketiga dark elf terdiam mendengar ucapan Impian, bahkan para ksatria Ranting Borneo yang berada didekatnya, memandang Impian dengan mata penuh.