
"seberapa banyak monster yang datang!?"
Salah satu prajurit pada barisan depan rombongan, sedang dalam kesusahan menghadapi penyerbuan monster.
Meski kekuatan prajurit barisan depan dari rombongan sangat kuat, tetapi monster yang datang tidak terlihat menurun sedikitpun.
Tidak hanya monster darat yang menyerbu, tetapi monster terbang terlihat silih berganti menyerang rombongan.
"Phelipe! sebelah kanan!"
Lara berteriak saat melihat monster terbang telah datang dan menyerang gerbong kereta kuda Saintess. Hanya ada mereka berdua saat ini yang menjaga kereta kuda Saintess.
Ardan dan Impian telah di kirim untuk menghadapi gangguan pada barisan belakang. Meski prajurit yang berada pada barisan depan menghadang monster - monster yang datang, tetapi banyak dari mereka yang bahkan melayang terbang di atas udara. Sehingga, beberapa monster terbang, tidak terbendung dan berhasil lolos dari hadangan prajurit di barisan depan.
Phelipe yang merupakan ahli dalam serangan jarak jauh, menghabisi monster - monster terbang yang lolos dan menyerang kereta kuda Saintess.
*Shu-
*Shu-
Satu persatu anak panah melayang dengan kecepatan tinggi menuju monster terbang.
Kyaaacckkkk
Khaaaa!
Setiap panah yang menancap pada tubuh monster terbang, entah itu lubang besar pada tubuh mereka, atau luka serius tercipta. Monster - monster itu jatuh satu persatu.
Sayangnya, monster yang menyerang, terlihat tidak ada habisnya. Jika ini terus berlanjut, seberapa kuat-pun pasukan yang ada, posisi seperti ini akan membuat mereka jatuh dalam kesusahan besar.
Stamina prajurit harus tetap di pertahankan, tetapi monster yang datang, sayangnya terlihat 'tak ada habisnya.
Diagram sihir besar, sangat besar, bahkan dapat menyelimuti seluruh rombongan yang ada. Muncul satu persatu dari gerbong kereta kuda Saintess.
Sepertinya, Sang Saintess melakukan sesuatu dan mengaktifkan sihir besarnya.
Akibat dari apa yang di lakukan Sang Saintess, tubuh setiap prajurit yang ada, terselimuti cahaya kuning kehijauan. Meski cahaya sedikit redup, entah mengapa, tubuh mereka kembali segar tanpa terlihat sedikit-pun kelelahan pada wajah mereka.
Pertarungan dari penyerbuan monster, masuk ke babak baru.
...----------------....
Sementara itu, di posisi paling belakan dari rombongan. Berbagai anak panah dan sihir yang menyerang para prajurit telah terhebti. Tidak satu-pun serangan kembali datang.
"BANGSAT! BERANINYA KAU!"
Sang jendral, yang tubuhnya terjatuh akibat ulah Impian, berteriak keras.
Apa yang di lakukan Impian telah memberi mereka waktu. Pertarungan kembali terjadi. Kali ini, tidak satu vs satu, Ardan membantu Impian, bersama menghadapi sang jendral.
"pemimpin, kami berhasil kabur!"
"cepat lari! gunakan batu rune! aku akan menyusul!"
Tujuan awal dari sang jendral bertarung, adalah untuk menahan Impian dari pengejaran. Hanya untuk menahan dan kalau bisa menghabisi Impian di tempat.
Sayangnya, Impian terlalu kuat, mau 'tak mau, sang jendral tidak bisa hanya bertahan saja. Saat sang jendral memutuskan untuk menyerang, gangguan kembali muncul dengan datangnya satu lagi calon ksatria suci.
__ADS_1
Saat teriakan sang jendral terdengar, Impian melihat ke arah para penyergap kabur. Apa yang dapat di temukan, tubuh mereka menghilang satu persatu!
Impian terkejut dengan apa yang terjadi. Hal itu telah menjawab pertanyaan yang di milikinya. Meskipun Impian selalu menggunakan skill [The One Who's See The Truth] sepanjang perjalanan, Impian tidak melihat orang - orang penyergap ini.
Mereka seperti datang tiba - tiba dari udara kosong. Tanpa terduga meskipun ia telah mengaktifkan skill-nya tanpa henti.
Melihat Sang Jendral yang masih di tempat, meskipun bawahannya telah pergi. Impian mengubah senjata yang di gunakannya menjadi busur.
Ini menyatakan bahwa Sang jendral telah mengubah rencana awalnya untuk bertahan menjadi mode menyerang.
"skill-ku telah habis, serangan yang kumiliki tidak akan berdampak besar seperti sebelumnya. Aku akan membantu-mu dari belakang!"
"cih! inilah yang aku tidak sukai dari orang lemah"
Meski mengeluh, Ardan tetap berlari dan menyerang sang jendral.
"Beraninya kalian dua orang cecunguk!"
*shu! shu! shu!
Tiga anak panah yang telah teraliri sihir kecepatan, terbang menuju sang jendral. Seakan tidak mendengarkan sedikit-pun perkataan jendral, Impian menyerang dengan anak panah dan busurnya.
*Trang! Trang! Trang!
Anak panah yang melesat, ditangkis seluruh-nya dengan pedang besar sang jendral.
"serangan seperti ini, apa kau pikir akan melukaiku!?"
"tentu saja tidak, serangan ini yang akan melukaimu!"
Ardan membalas kata - kata jendral dan menyerang dengan tombaknya. Anak panah yang di lesatkan oleh Impian, hanya untuk membeli waktu agar Ardan sampai di tempat sang jendral berdiri.
Suara keras dari tombak dan pedang besar yang bertemu dapat terdengar. Meski serangan tombak Ardan terlihat sangat kuat, sayangnya sang jendral masih dapat menahannya.
*shu! *shu!
Anak panah kembali datang!
Sang jendral yang menahan tombak Ardan mundur beberapa langkah. Serangan kuat Ardan memang dapat di tahan oleh jendral, tetapi anak panah - anak panah itu mengganggu, sehingga sang jendral memutuskan untuk mundur.
"apa yang kamu lakukan!"
Ardan berteriak bukan dari gangguan anak panah Impian, tetapi tubuhnya tidak dapat di gerakan. Dari teriakannya, hal itu menyatakan bahwa yang menyebabkan tubuh Ardan tidak bergerak adalah Impian.
Ardan bisa saja lepas dari kendali penahan tubuh, tetapi, Ardan malah berteriak pada Impian. Akibatnya, Ardan tidak mengejar tubuh jendral yang mundur kebelakang.
Sesaat tubuh sang jendral menapakan seluruh kakinya ke bumi, tanah sekitar jendral amblas dan menciptakan lubang besar.
"trik murahan seperti ini tidak akan mempan padaku!"
Sayangnya, sebelum tanah di bawah kakinya amblas sepenuhnya, sang jendral melompat ke udara.
Kedua hal ini, baik saat Ardan berteriak dan tanah di bawah kaki sang jendral runtuh, hal itu terjadi secara bersamaan.
Melihat sang jendral lompat ke udara, tanah di bawah kaki Ardan naik dan mendorongnya ke arah sang jendral!
Merasakan penahan tak kasat mata pada tubuhnya telah tiada, Ardan melesat ke arah jendral dengan tanah yang terangkat sebagai tumpuan.
__ADS_1
*BAANNNGGG!
Seranga tombak Ardan mengenai tubuh sang jendral dan membuat suara besar lainnya. Akibatnya tubuh sang jendral terpental keras.
Sebelum tubuh sang jendral menyentuh bumi akibat terpental dari serangan tombak Ardan, lagi - lagi tanah terangkat dan menyerang tubuh jendral yang terpental di udara.
"Agh!"
Ardan yang berada di udara saat melancarkan serangan ke tubuh jendral, seharusnya tidak dapat cepat bergerak kembali untuk melancarkan serangan lanjutan. Tidak adanya tumpuan pijakan, akan membuat ia tetap di udara.
Tetapi tanah lain telah terangkat tepat di belakang tubuhnya yang sedang di udara. Memanfaatkan tanah yang terangkat itu, Ardan menghentakan kakinya dan terjun ke arah jendral yang telah terpental kembali itu.
*Dash!
*Bang!!!
Dua kali penuh, sang jendral terkena serangan tombak Ardan secara langsung!
Meski level Ardan berada di bawah sang jendral, tetapi Ardan merupakan salah satu calon ksatria suci. Dua kali terkena serangan langsung, bukanlah hal yang dapat di anggap enteng. Apalagi dua serangan menyakitkan yang di terima dari Impian sebelumnya masih terasa.
Tubuh sang jendral, meski masih dapat berdiri, telah babak belur, penuh dengan luka.
"tuan calon ksatria! kami datang untuk membantu"
Banyak prajurit yang berada untuk menjaga tawanan telah datang. Gangguan serangan panah dan sihir telah tiada. Akibatnya, mereka dapat datang dan membantu sisa penyergap yang masih tersisa, yaitu sang jendral sendiri.
"bangsat! akan-ku ingat hal ini bocah-bocah tengik!"
Sang jendral yang masih berdiri babak belur, menghancurkan kristal bening berwarna biru muda yang ada di tangannya.
Percikan cahaya redup menyelimuti tubuhnya dan membuat tubuh sang jendral perlahan - lahan menghilang.
*Shu! *shu!
*jleb!
Dua anak panah terbang ke arah jendral yang mulai menghilang. Sayangnya, hanya satu yang mengenai sang jendral langsung dan satu anak panah yang tersisa menembus udara kosong. Itu adalah serangan dua anak panah yang di lesatkan oleh Impian.
"dia kabur"
Melihat hal itu, Ardan berkata seakan bukan apa - apa dari kaburnya sang jendral. Berbeda dengan Impian, yang berlari ke arah tempat di mana sang jendral pernah berada.
"dia menggunakan kristal rune 'kembali'. Kita tidak akan menemukannya, kecuali kita mengetahui tujuan kristal itu"
Ardan menjelaskan kepada Impian yang masih berdiri di tempat sang jendral menghilang.
Impian tidak berusaha mencari kemana sang jendral menghilang, sebenarnya Impian menganalisan aliran mana yang bekerja dari kristal itu. Dengan menggunakan skill [The One Who's See The Truth] dan [The One Who's Control Mana], Impian berusaha memahami cara kerja kristal.
Mungkin saja sewaktu - waktu, sihir yang bekerja dapat dimanfaatkan untuk di praktekan langsung olehnya.
[Sudden Quest Selesai]
[Mendapatkan title [satu yang mengalahkan jendral]
[mendapatkan 890000 exp]
[ketenaran kerajaan meningkat 10000]
__ADS_1
[ketenaran dunia meningkat 200]
[level up!]