INK START FANTASY : Impian

INK START FANTASY : Impian
CHAPTER 61 : TIBA DI KOTA TIMAN


__ADS_3

Sekembalinya Saron dan yang lain, mereka membawa lima orang bersama mereka. Sepertinya mereka hanya membawa bandit-bandit yang memiliki posisi penting saja.


Impian yang sempat melihat jalannya penggrebekan base kamp bandit, melihat banyak dari mereka, tetapi yang di bawa Saron dan yang lainnya hanya lima orang.


Rombongan kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Cukup lama waktu berlalu. Perjalanan tergolong aman hingga mencapai kota perbatasan. Hanya ada beberapa monster yang datang dan di hadapi dengan mudah oleh prajurit - prajurit yang ada.


Hampir sama dengan apa yang terjadi di kota Yoilka. Beberapa warga berdiri di sisi - sisi jalan untuk menyambut Saintess yang datang mengunjungi kota mereka.


Tidak hanya warga lokal dari kota Timan, banyak pemain dapat terlihat di sela - sela warga yang berkumpul.


Pemimpin kota Timan hanyalah seorang baron. Yang tampak kebetulan bahwa baron tersebut merupakan ayah dari Denila Ansiron.


Dengan di selamatkannya putri mereka yang hadir bersama rombongan Saintess, pemimpin kota menyambut kedatangan Saintess dengan lebih megah.


Mungkin karena apa yang terjadi dengan kota Moscard, warga kota yang ada terlihat lebih ramai dan sesak.


Terlihat tidak hanya pemimpin kota yang berdiri di hadapan Saintess, beberapa orang beastman dapat terlihat di sisi pemimpin kota.


kukira Kerajaan Lorena tidak memihak salah satu kubu, kenapa orang-orang beastman ada di kota ini?


Impian yang melihat hal tersebut mempertanyakan keadaan di dalam hati.


Sempat melihat singa besar di pusat latihan prajurit ibu kota, tetapi Impian hanya mengira bahwa itu merupakan urusan politik. Impian tidak menyadari apa yang terjadi selama ini.


Waktu yang di habiskan Impian saat semua terjadi berada di dalam dungeon. Impian tidak mengetahui apapun tentang peristiwa kota Timan.


Penyambutan berjalan dengan lancar. Setelah pembubaran pengawal dan di berikan waktu luang, Impian di undang langsung oleh baron Ansiron untuk mengunjungi rumahnya.


Baron Ansilon ingin berterima kasih secara langsung kepada penyelamat putri mereka. Phelipe sendiri?


Meski ia juga menyelamatkan putri sang baron, Phelipe menolak undangan baron secara halus.


"itu sudah menjadi tugasku, sebagai calon ksatria Saintess untuk menjalankan perintahnya"


Berbeda dengan Impian yang bertindak dengan inisiatifnya sendiri, Phelipe bergerak atas perintah Saintess saat itu.


Mendengar tolakan dari ajakannya, baron Ansilon tidak memaksa lebih jauh. Dengan hal itu, hanya Impian yang berada di tempat baron. Bagaimana dengan Togay?


Tentu saja dia berada di samping Impian sebagai pengikut pribadinya.

__ADS_1


"Aku ingin berterimakasih secara langsung kepada tuan ksatria suci Saintess"


"terimakasih tuan ksatria suci"


Denila yang duduk di samping baron juga mengucapkan terima kasihnya.


Saat ini Impian dan Togay berada di ruang tamu rumah baron. Cukup besar ruangan yang ada. Meskipun posisi yang di miliki hanyalah seorang baron, tetapi sebagai pemimpin kota Timan, tempat lalu lalangnya perpindahan barang antar kerajaan, rumah yang di miliki tergolong besar.


Kesuksesan kota Timan sebagai kota perbatasan, mungkin menjadi ke untungan tersendiri bagi wilayah baron.


"ah, aku masih seorang calon, tidak perlu berlebihan untuk gelar sendiri"


"tidak, tidak, rumor yang ada sudah tersebar luas tentang tuan ksatria suci. Kami mengetahui bahwa anda adalah ksatria suci, hanya masalah waktu sebelum pengangkatan resmi anda"


apa begitu cepat?


Impian berpikir bahwa rumor mungkin akan tersebar saat kejadian di restoran Yoilka telah terjadi. Tetapi itu hanya berselang dua hari dari tepat saat kejadian.


Baron yang mengetahui tentang rumor yang beredar, menandakan bahwa penyebaran rumor lebih cepat ketimbang rombongan Saintess yang sedang menuju kota ini.


"saya mengetahui bahwa anda adalah salah satu dari orang dunia lain. Maka dari itu, saya ingin memberikan hadiah khusus untuk anda"


Gelang dengan hiasan biru seperti safir, sebuah buku dan kotak kecil berisi permata.


"saya memang tidak bisa memberikan hadiah yang lebih memuaskan tuan ksatria suci, tetapi ini adalah barang - barang paling berharga yang kami miliki. Tolong terimalah hadiah kecil kami"


"hmm? jika ini barang paling berharga yang anda milik, tidak perlu berlebihan untuk pemberian, hal - hal biasa saja juga tidak masalah untukku"


"tidak tuan, tidak, keselamatan berharga putriku lebih tinggi di bandingkan barang - barang ini. Saya juga tidak bisa memberikan sesuatu yang biasa kepada tuan ksatria suci. Tolong di terimalah hadiah dari kami"


Baron tetap memaksa Impian untuk mengambil barang - barang yang ada di hadapannya.


"baiklah kalau begitu, kesampingkan tentang hadiah. Bolehkah aku bertanya?"


"silahkan tuan... apa yang bisa saya bantu?"


Sepertinya sang baron menyalah artikan kata - kata Impian, tetapi Impian tetap bertanya tanpa memperdulikan hal itu.


"apa yang di lakukan putri anda bersama pengawalnya di dalam hutan? bukankah terdapat jalan raya dan itu lebih aman"


"ah, tuan ksatria ingin mengetahui kronologi kejadian yang menimpa putriku?"

__ADS_1


"benar"


"sebenarnya kami memiliki mansion di luar dari kota ini...."


Sang baron menjelaskan cerita di balik penyergapan bandit putrinya.


Jauh dari kota, melewati hutan Dinili yang berada di luar kota, baron memiliki tempat tinggal lain. Disanalah istrinya, ibu dari Denila sering berada. Itu sudah menjadi cerita lama untuknya.


Saat ini, tempat itu sudah menjadi peristirahatan terakhir dari ibu Denila. Sang ibu, di makamkan di dekat mansion berada. Taman indah yang didirikan di dekat mansion.


Satu minggu lalu, adalah hari peringatan kematian ibu Denila. Sayangnya, atas kejadian yang sedang menimpa kota Timan, baron Ansilon tidak dapat meninggalkan kota untuk saat ini.


Denila yang bersama pengawal pilihan baron langsung, mengawal dan menemani Denila untuk pergi ke tempat itu.


Kota sendiri telah menjadi tempat pengungsi orang - orang dari kota H'rden yang melarikan diri.


Demi menjaga kota perbatasan dan kerajaan yang tidak memihak salah satupun dari mereka yang sedang berperang, baron harus memfilter siapa saja yang dapat memasuki kota.


Awalnya berjalan dengan lancar, tetapi sayangnya, salah satu orang yang paling di cari dari aliansi elf berhasil memasuki kota.


Orang - orang beastman yang telah mendapatkan ijin dari Saintess langsung, datang dan mencari buronan mereka di lingkungan kota.


Waktu yang semestinya hanya membutuhkan tiga hari perjalanan pulang pergi, baron menunda kepulangan Denila dari mansion itu.


Kepulangan Denila yang tertunda dan menjadi bencana bagi keluarga mereka sendiri. Bandit datang dan menghadang mereka.


Apa yang berhasil di temukan dari beberapa bandit yang di bawa oleh pasukan Saintess adalah orang - orang dari Moscard. Mereka adalah mantan prajurit Moscard yang telah melarikan diri ke kerajaan ini.


Melihat hal itu, baron pernah mendapatkan laporan dari penjaga gerbang kota, yang mengatakan bahwa mereka pernah menolak rombongan prajurit Moscard yang ingin memasuki kota.


Sayangnya, beberapa prajurit itu telah merubah profesi mereka sebagai bandit.


Dengan pengalaman mereka sebagai prajurit dan bawahan bandit yang telah mereka kumpulkan, banyak penjaga yang telah baron pilih sendiri, gugur dalam misi melindungi Denila.


Saat itulah Impian datang dan menyelamatkan satu - satunya putri tercinta sang baron.


"apakah bandit sering muncul di luar kota?"


"memang ada, tetapi tidak sebanyak saat ini. Akibat perang, banyak warga Moscard yang melarikan diri ke negri ini dan menjadi bandit. Kami telah melakukan patroli teratur, sayangnya, kami baru mengetahui bahwa manta prajurit Moscard, khususnya kota H'rden menjadi salah satunya"


Setelah mengetahui kronologi kejadian secara langsung dari sang baron, Impian berbincang - bincang sedikit. Hanya untuk basa - basi dan mengenal lebih dekat, cukup lama waktu pembicaraan berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2