INK START FANTASY : Impian

INK START FANTASY : Impian
CHAPTER 60 : KEMBALI KEROMBONGAN


__ADS_3

"Terimakasih atas bantuan anda tuan"


"Terimakasih banyak"


""Terima kasih tuan""


Ke empat orang tersebut berlutut dan berterima kasih kepada Impian.


Setelah Impian menyembuhkan mereka berlima, ke empat orang yang masih bergerak berkumpul di hadapan Impian.


Kakek pelayan masih tidak dapat bergerak meski tubuhnya telah stabil. Luka yang di derita cukup parah, sehingga, meskipun telah di sembuhkan dari sihir penyembuh, tubuhnya belum siuman sepenuhnya.


Impian yang melihat hal tersebut merasa canggung dan kaget. Memang benar untuk berterima kasih untuk hidup jika dalam posisi seperti ini, tetapi apa yang mereka lakukan terlihat berlebihan oleh Impian.


"tidak perlu bingung, itu mungkin karena aku. Kita kembali terlebih dahulu"


Phelipe datang dengan menyeret tubuh pemimpin bandit yang telah terikat tali. Orang tersebut membawa tubuh pemimpin bandit seperti karung goni.


""tuan calon ksatria suci""


Saat Phelipe datang, ke empat orang yang berlutut di hadapan Impian mengucapkan kata-kata yang sama.


Melihat hal ini, Impian akhirnya mengerti dengan tindakan berlebihan orang-orang ini.


Apa tang di tunjukan dari sikap mereka telah Impian rasakan sendiri saat berada di restoran kota Yoilka.


sepertinya bangsawan sangat senang berlutut di hadapan seseorang


Entah mengapa, kata-kata yang keluar dari dalam hati Impian di salah artikan dalam kehidupan di kerajaan suci Lorena.


"hey gendut, apa kamu sudah mengumpulkan barang-barang jarahan?"


Setelah menyerahkan bandit yang tidak bisa di habisi hingga akhir oleh Impian, Impian sibuk dengan melakukan pertolongan pertama pada korban yang ada.


Biasanya, pemain hampir tidak perduli dengan kehidupan NPC-NPC yang ada di INK START FANTASI, dan saat kejadian seperti ini terjadi, jarahan yang ada, baik itu bandit atau pengawal yang telah kalah akan selalu di kumpulkan oleh pemain.


Keuntungan akan selalu di prioritaskan dan pemain akan selalu memanfaatkan situasi apapun yang sedang terjadi.


"tentu saja! kamu tidak perlu khawatir soal itu"


"kerja bagus gendut!"


"jangan remehkan insting seorang pedagang"


Impian memberikan jempol kepada Togay dan Togay yang memberikan jawaban dengan kebanggaannya.


"apa yang sedang kalian bicarakan?"


"tidak ada~"


"ya, tidak ada~"


Sembari menuju kembali ke rombongan pengawalan Saintess, Phelipe bertanya kepada Impian dan Togay.


[misi selesai]


[mendapatkan 21000 exp]


[ketenaran kerajaan +1000]


Hasil dari quest dadakan yang di terima Impian telah selesai.


...----------------....


Kembali beberapa saat lalu, di mana Impian melihat beberapa orang yang telah di rampok oleh para bandit.


[Sudden Quest]


[Selamatkan putri dari Baron Ansiron dari para bandit!


Penyelesaian Quest :


Denila Ansiron selamat


Hadiah Quest :


Hutang budi dari keluarga Ansiron.


Kesukaan keluarga Ansiron meningkat.


Exp : +21000


Ketenaran kerajaan +1000


Waktu Penyelesaian :


Hingga seluruh ksatria penjaga Denila Ansiron tumbang.


Catatan Quest :


Hadiah tambahan akan tergantung dari hasil yang penyelesaian.]


Quest tiba-tiba di dapatkan hanya dari mengamati ke adaan sekitar.

__ADS_1


Impian [apa kamu melihat quest-nya?]


Impian langsung menghubungi Togay melalui chat party.


Togay [ya, tapi bagai mana kamu mendapatkannya?]


Impian [tidak tahu, hanya melihat sekitar, tiba-tiba quest di dapatkan]


Togay [lalu bagai mana? kita tidak bisa menjalankannya karena tugas ini]


Saat ini, Impian dan Togay sedang melakukan tugas pengawalan. Tugas pengawalan yang mereka lakukan bukanlah tugas pengawalan biasa, mereka mengawal pemimpin kerajaan.


Pengawalan pemimpin kerajaan biasanya lebih penting dalam dunia abad seperti ini. Tidak dapat di ganggu bahkan dalam hal kecil yang ada.


Impian [akan aku tanyakan]


Setelah selesai memberitahu Togay melalui chat party, Impian mendekat ke arah gerbong kereta kuda yang memiliki Saintess di dalamnya.


Mendapatkan izin dari Saintess, Impian bersama Togay pergi ke tempat tujuan quest berada.


"Total 20 orang musuh, kamu ikuti rencanaku"


Sembari berkuda, Impian memberitahu Togay.


"apa yang harus aku lakukan?"


"kamu masuk lebih dulu, berikan serangan kejutan dan buat suasana mencekam untuk menjatuhkan mental!"


"apa! kamu ingin aku menyerang lebih dulu? kau bilang 20 orang!? bagai mana aku menghadapi mereka semua!?"


Belum lama ini Togay berlatih dalam pertarungan, mendengar rencana yang di ajukan oleh Impian, tentu saja hal yang wajar jika ia memprotes dengan keras.


"tidak perlu menghadapi semua musuh. aku melihat satu dengan sasaran sempurna, cukup tahan dia sebentar, sisanya biar aku yang mengurus"


Togay tidak menyuarakan lagi pendapatnya. Meski masih kebingungan dengan apa tujuan sebenarnya Impian, dengan tindakan selama ini, Togay ganya percaya saja.


"akan sulit menerobos hutan dengan kuda, tempat ini cukup, parkirkan kudamu"


Impian dan Togay turun dari kudanya dan di ikat ke pohon yang ada di sana.


Jarak antara mereka dengan para bandit yang ada sudah tidak terlalu jauh. Kira-kira, jarak yang ada antara Impian dan Togay berkisar 100 meter lebih sedikit.


"lalu?"


Impian menangkupkan kedua tangannya ke tanah.


Dengan sihir bumi-nya, tanah yang ada di sekitar Togay terangkat sekitar dua meter.


"siapkan perisaimu!"


"lompat ke belakang dengan tujuan menapakkan kakimu pada telapak kakiku"


Sembari melompat ke atas, dengan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Togay, Impian mengaktifkan beberapa sihir.


Sihir pertama adalah sihir yang di tujukan untuk tubuh Togay. Menyelimuti tubuhnya dengan sihir angin, menyesuaikan dengan tekanan udara dan hempasan angin yang akan tercipta.


Kemudian dengan tubuh Impian dengan posisi yang aneh, dengan tangan yang terpaku pada lingkaran sihir, dimana lingkaran sihir berbentuk vertikal di udara, Impian menarik tubuh Togay yang di selimuti sihirnya agar sejajar dengan tubuh.


Saat Togay melompat dan mensejajarkan tubuhnya dengan Impian, saat ini posisi mereka menjadi saling tertumpu satu sama lain.


Bayangkan jika kamu ingin melompat ke atas dengan posisi jongkok, tetapi tumpuan tubuh-mu bukanlah bumi, melainkan telapak kaki Impian.


Dengan menerapkan cara kerja dari peluru senapan agar kecepatan laju bertambah, Impian menggunakan sihir pada tubuh Togay.


Memfokuskan pada kaki sendiri, Impian memperkuat kerja kaki yang akan mendorong tubuh Togay, melesat langsung ke arah musuh.


"ingatlah untuk menahan orang itu beberapa saat, aku akan memberikan tekanan mental pada sisa bandit yang ada. Jika kamu sudah siap, aku akan mengirimmu!"


"tidak usah banyak bertanya! langsung saja!"


Deru angin akibat beberapa sihir yang di hasilkan membuat area sekitar mereka cukup ribut. Tidak ada waktu dengan posisi canggung yang ada, Togay hanya berteriak untuk segera di lakukan.


"baiklah, ini dia!"


Impian melemparkan tubuh Togay dengan mendorong kedua kakinya.


Sihir yang ada membantu dorongan, sehingga tekanan yang ada membuat tubuh Togay melesat kedepan!


"AAAAAAaaaaaaaaa!!!!!"


Sihir yang ada di sekitar tubuh Togay mengurangi daya gesekan pada udara, selain itu, tekanan udara membuat tubuh Togay menambah kecepatan laju yang ada.


Setelah Mengirim Togay melaju cepat, Impian sekali lagi memfokuskan sihir selanjutnya.


Menggunakan mana sebagai katalis dan gunakan sihir penghilang keberadaan mana, Impian mengirim mana melalui bawah tanah tepat di bawah tubuh pemimpin bandit.


Gerakan mana yang mengalir sangat cepat, jika di bayangkan, kecepatan yang ada mungkin dapat menyaingi kecepatan data internet yang terkirim antar negara.


Sihir bumi lainnya mendorong tanah di bawah pemimpin bandit terangkat tiba-tiba. Tanpa bisa menyadari aliran mana yang bergerak, pemimpin bandit tidak dapat mengelak dari sihir tersebut.


Togay yang tengah melaju di udara, melihat sasarannya dan memperkuat cengkraman perisai yang ia pegang.


*DANG!!!

__ADS_1


Saat tubuh Togay telah terbabrak tubuh pemimpin bandit, Impian mengeluarkan senjata busur dan anak panahnya.


*wus!


*wus!


Anak panah melesat ke arah bandit!


Tentu saja, busur dan anak panah telah di aliri mana dan menerapkan sihir di atasnya. Dengan kedua hal tersebut, anak panah yang melesat dan mengenai sasaran secara langsung, membunuh target seketika.


Dengan tujuan memberikan dampak kejutan di awal serangan, Impian melancarkan serangan jarak jauh lain yang menyebabkan dampak kematian dalam satu serangan.


Setelah itu, Impian mengganti senjata yang di pegangnya dengan sebuah tombak.


Intervensi waktu antar serangan pertama dengan serangan berikutnya tidak boleh terlalu besar. Maka dari itu, Impian melesat maju ke arah kerumunan bandit di depan.


Selanjutnya, jalan pertempuran seperti apa yang telah terjadi.


...----------------....


Kembali ke waktu saat ini. Impian bersama yang lainnya kembali menuju rombongan Saintess berada.


Kakek pelayan di tandu oleh dua pengawal yang ada, sedangkan pemimpin pengawal menenteng kuda bersama nona mudanya.


Mereka tidak mengumpulkan tubuh teman-teman mereka yang telah gugur, tetapi membawa tag plakat yang di miliki. Apa yang mereka bilang adalah 'yang telah gugur akan kembali ke alam bersama pelukan dewi cahaya'.


Yah, itu yang mereka percayai. Dimana sebenarnya tubuh akan menghilang menjadi partikel-partikel data dalam program permainan.


Rombongan Impian tidak membawa kudanya dan mereka berjalan kaki dengan menenteng kuda yang sebelumnya di kendarai. Tentu saja akan sedikit sulit untuk Phelipe membawa tubuh pemimpin bandit yang sedang di seretnya.


Sang Saintess bersama rombongannya masih berada di tempat mereka. Pintu dari kereta kuda yang di tumpangi Saintess telah terbuka saat ini.


Melihat hal itu, kapten ksatria penjaga dan nona muda mereka mendekati gerbong kereta kuda. Sesampainya di sana, sekali lagi mereka berlutut.


"saya, Denila Ansiron, anak dari Monero Ansiron, berterima kasih atas bantuan yang telah di berikan oleh Yang Mulia Saintess agung atas hidup ini"


"terimakasih atas rahmat yang telah di berikan dari Yang Mulia"


"berdirilah, kalian bisa mengikuti kami hingga kota Timan"


"sekali lagi, saya berterima kasih atas belas kasih dan rahmat dari Yang Mulia"


Kapten ksatria penjaga undur diri dari hadapan Saintess dan berbaur dengan anggota prajurit dari rombongan lainnya.


"wow... apa tidak perlu penjelasan lebih lanjut dari apa yang terjadi?"


Melihat hal itu, Impian berbicara kepada dirinya sendiri.


"Yang Mulia dapat mengetahui apa yang terjadi di sekitar, tidak perlu penjelasan lebih lanjut"


Lara Posteir datang dan menjelaskan kepada Impian secara langsung. Mendengar hal itu, Impian hanya diam saja dan menerima jalannya keadaan yang terjadi.


Meski begitu, Impian merasa bahwa ada yang kurang saat ini. Pemimpin ksatria rombongan dan satu lagi calon ksatria suci lainnya tidak terlihat saat ini.


"dimana tuan Saron dan Ardan?"


"mereka sedang menjalankan tugas lain, kami menunggu mereka saat ini"


Jauh di sebelah barat, dapat terlihat asap yang mengepul. Melihat hal itu, Impian berusaha melihat dengan skill [The One Who's See The Truth] miliknya.


"ah, itu pasti ulah mereka"


Lara Posteir yang juga melihat asap tebal mengepul di kejauhan, berbicara seakan memberi tahu Impian.


Tempat tersebut terlihat seperti base kamp. Mungkin lebih tepatnya adalah base kamp para bandit. Beberapa bandit yang melarikan diri dari serangan Impian sebelumnya dapat terlihat di sana.


Hanya terlihat lima orang dari sisi Saron, termasuk Ardan Wales, tiga orang lainnya terlihat sangat kuat.


Mereka mendominasi keadaan pengepungan meski hanya memiliki jumlah yang sedikit.


Saron sendiri berada paling depan, melihat ia berjalan santai tanpa satupun musuh menyerangnya, kemungkinan besar para bandit mengetahui siapa sosok yang datang.


Siapa yang akan berani bertindak macam-macam di depan pemimpin ksatria khusus di bawah ke pemimpinan orang nomor satu di kerajaan langsung.


Sosoknya saja sudah terkenal, apalagi orang itu memakai perlengkapan penuh di tubuhnya. Kekalahan telak adalah apa yang akan menanti, dengan seperti itu, tidak ada satupun bandit yang terlihat di dekatnya, mereka hanya berusaha melarikan diri.


Berbeda dengan yang lain, Ardan bertarung penuh mendominasi setiap bandit yang ada.


Jika bandit yang lain bertarung dengan tiga kesatria sisanya, mereka bertarung untuk tujuan melarikan diri atau tertangkap hidup-hidup.


Tetapi bandit yang di hadapi Ardan, bertarung untuk hidup mereka. Ardan akan mengejar bandit yang berusaha melarikan diri di matanya.


Mau tidak mau, bandit yang menghadapi Ardan akan bertarung penuh untuk harapan hidup mereka sendiri.


Impian tidak kuat melihat jalannya penyergapan secara langsung di base kamp bandit dan menghentikan penglihatan apa yang terjadi.


"kamu dapat melihatnya secara langsung?"


Lara yang masih berada tepat di sebelah Impian, bertanya secara langsung.


calon ksatria suci memang hebat, hanya dari melihat, sudah tahu apa yang aku lakukan


Saat asap yang mengepul pertama kali terlihat, Lara memberitahu Impian tentang apa yang terjadi. Setelah Impian mendengar penjelasan Lara, Impian hanya terdiam dan pandangannya hanya tertuju ke arah asap itu.

__ADS_1


Lara yang menebak apa yang di lakukan Impian, Impian memuji tindakan calon ksatria suci itu di dalam hati.


__ADS_2