INK START FANTASY : Impian

INK START FANTASY : Impian
CHAPTER 89 : KEPUTUSAN SANG JENDRAL


__ADS_3

woah... kota ini menjadi lebih sibuk dari sevelumnya...


Perjalanan sangat lancar. Tidak ada apapun yang terjadi, baik itu gangguan dari bandit ataupun monster. Perjalanan cukup aman untuk di lalui maju terus menerus.


Rombongan tiba sekali lagi di kota paling ujung barat dari kerajaan suci Lorena, kota Timan. Berbagai prajurit dan ksatria bolak - balik dari satu tempat ke tempat lainnya. Begitu pula dengan para pemain, setiap orang yang ada seperti terburu - buru di kejar oleh sesuatu.


Kegiatan dari orang - orang ini seperti tombol on-of yang telah berpindah setelah penyambutan kedatangan rombongan Saintess. Meski penyambutan formal seperti sebelumnya, kegiatan dari kesibukan yang terlihat mulai bekerja setelah sesi penyambutan.


"apa ada sesuatu yang sedang terjadi?"


Togay bertanya kepada kelompok. Apa yang di lihatnya cukup berbeda dari sebelumnya, orang - orang lebih terlihat sibuk atas kegiatan mereka.


"entahlah, sebelumnya tidak seperti ini"


Bahkan Impian saja, yang memiliki posisi tertinggi di antara NPC telah mengatakan ketidak tahuannya. Memang ada yang aneh terjadi di kota ini.


"Impian! kesini sebentar"


Lara memanggil Impian yang berdiri di tempat lain. Melihat Lara memanggil, Impian pergi ke arahnya.


"ada apa?"


"ikut aku, tuan Saron dan kapten penjaga kota ingin membahas sesuatu denganmu"


"ok, pimpin jalannya"


Sebenarnya itu hanya di gedung sebelah tempat Impian dan yang lainnya berkumpul. Hanya saja, Impian berkata untuk Lara memimpin jalan.


Saat mendengar alasan Lara memanggil Impian, artinya terdapat masalah penting yang akan di bicarakan. Bukan orang lain atau prajurit suruhan untuk menjemput Impian, tetapi Lara sendiri yang memiliki posisi cukup tinggi di kerajaan sebagai ksatria.


Di tempat itu, di dalam ruangan gedung, terlihat beberapa orang di sana. Sang kapten dan beberapa berkas yang ada di hadapannya, dua ksatria suci Saron dan Harnm, dan pemimpin kota Timan Baron Ansilon.


"ah, tuan ksatria suci termuda"


Melihat Impian datang memasuki ruangan, sang baron menyambutnya dengan penuh hangat. Dapat bertemu kembali dengan penyelamat putrinya, perasaan yang di tunjukan baron Ansilon sangat ramah.


"tuan baron"

__ADS_1


Impian-pun menyambut kembali sambutan baron dengan sedikit membungkuk dan menundukan kepala.


"kemarilah Impian"


Saron memanggil Impian untuk menyuruhnya mendekat dan melihat berbagai hasil laporan yang di tunjukan berkas - berkas di depannya.


"ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan"


"baiklah, apa itu paman?"


Melihat Impian yang menjawab dan memanggil Saron dengan santai bahkan hingga menyebutnya dengan sebutan 'paman', orang - orang yang ada cukup terkejut. Masalahnya, mereka tahu bahwa Saron merupakan ksatria suci Saintess nomer satu dan Impian masih memegang jabatan calon ksatria suci saat ini, tetapi menanggapi Saron dengan santainya, hal itu membuat mereka cukup terkejut karenanya.


Bahkan Harnm yang menjadi salah satu dari ksatria suci Saintess, dimana memegang jabatan yang sama dengan Saron, masih berusaha untuk menghormatinya. Wajahnya terlihat cukup terkejut dengan sikap santai Impian.


Sayangnya, Saron sendiri yang di sikapi seperti itu, terlihat biasa saja. Bahkan Saron sendiri mulai menjelaskan kepada Impian-


"ada beberapa laporan yang mengatakan bahwa banyaknya para pengembara dunia lain, orang - orang seperti-mu, membantu dalam penyelidikan. Lara melaporkan bahwa itu semua akibat dari perbuatanmu"


"a... apakah ada masalah paman?"


Mendengar apa yang di katakan Saron, Impian mulai merasa tegang. Impian meresa takut bahwa yang di lakukannya salah atau malah menambah kacau pekerjaan yang ada.


Interaksi dengan orang di lapangan secara langsung belum pernah Impian alami dan membuatnya gugup jika terjadi kesalahan. Sehingga perasaan takut karena mengambil inisiatif tanpa arahan lebih dulu dab perasaan ketakutan akan membuat masalah lebih jauh atas tindakannya.


"tidak, dari laporan yang di dapatkan, banyak pekerjaan lebih mudah. Kami berhasil menangkap seseorang yang di duga mencurigakan atas penyerangan monster. Orang tersebut berusaha menghapus bukti. Sayangnya orang tersebut di bawah pengaruh sihir pikiran dan berakhir bunuh diri karena kontrak kutukan. Tidak hanya itu, banyak bandit dan base kamp yang mereka dirikan di sekitar kota Timan dapat di temukan berkat campur tangan para pengembara"


"ah, syukurlah kalau begitu. Kukira akan membuat banyak masalah"


"ya, meskipun ada beberapa masalah, tetapi hasil yang di berikan 90-10. Lebih bagus dari yang di hasilkan"


Saat mendengar kata 'beberapa masalah', muka Impian kembali tegang. Untungnya Saron mengucapkan kelanjutan kata - katanya yang meyakinkan bahwa hasil dari apa yang di lakukan para pemain lebih bagus.


"maka dari itu, kami memanggilmu untuk penjelasan dan saran atas yang kamu lakukan"


Para NPC dari pihak ksatria maupun anggota kerajaan, biasanya jarang memberikan tugas yang penting kepada pemain. Kepercayaan dan rasa superior yang di miliki, menghalangi mereka untuk mempergunakan jasa dari para pemain.


Mendapat hasil yang lebih bagus akibat tindakan independen Impian, Saron dan yang lainnya ingin mengetahui latar belakang dari ide tersebut. Kepercayaan yang ada mulai di bangun untuk para ksatria dan bangsawan.

__ADS_1


...----------------....


Di dalam gua yang sunyi dan pekat, beberapa orang duduk bersamaan di depan meja bundar. Mereka adalah Jendral dan bawahan yang masih setia mengikutinya hingga saat ini.


Kekalahan mereka sebelumnya, dimana tidak hanya gagal menyelamatkan teman mereka yang di tawan, tetapi juga beberapa orang mereka telah tiada dalam prosesnya. Akibat hal tersebut, banyak dari bawahan Jendral yang mulai menunjukan rasa ketidak percayaan terhadapnya.


Rasa kesetiaan itu mulai menghilang. Harapan yang di berikan atas ide Jendral yang telah di gembor - gemborkan, sedikit demi sedikit telah sirna.


Meski kerjasama antara kelompok Jendral dan pedagang yang bernama Hidjack telah terputus, informasi dari kota Timan yang di dapat oleh Jendral dan kelompoknya masih di dapat meski dengan berbagai cara.


Informasi akan kepulangan Saintess dari pertemuan antar pemimpin telah mereka dapatkan. Mendengar informasi ini, mereka yang terpercaya dan memiliki posisi tinggi di dalam kelompok sedang berkumpul.


"apa yang harus kita lakukan Jendral?"


"banyak dari markas yang telah kita dirikan di serbu oleh para prajurit Lorena"


"bahkan beberapa pengelana dunia lain mulai memburu kami"


Beberapa masalah yang di timbulkan, hasil dari quest Impian, membuat banyak dari para bandit di buru oleh para pemain. Pemain yang memburu mereka bukanlah pemain biasa, kebanyakan dari mereka adalah pemain yang memiliki level di atas 100.


Jendral dan beberapa anggota bawahannya memang memiliki level yang melebihi para pemain, jauh di atas para pemain yang ada, masalahnya, kebanyakan anggota dari mereka memiliki level di bawah seratus. Anggota yang di luar dan menempati beberapa markas yang telah mereka dirikan, tidak dapat menahan gempuran para pemain dan prajurit yang saling bekerja sama.


"sudah 12 hari semenjak Saintess meninggalkan kota Timan, artinya pertemuan itu berjalan lancar. Karena informasi dari luar tidak dapat kita dapatkan, jadi kita dapat menyimpukan bahwa Yang Mulia raja Boremo telah merelakan kota H'rden. Artinya kita terjebak dalam situasi saat ini"


Mendengar ucapan Jendral, wajah anggota yang lain menjadi semakin pucat. Terjebak dalam keadaan mereka saat ini, artinya mereka tidak memiliki tempat untuk kembali lagi.


Di sini, di kerajaan suci Lorena, mereka telah di anggap sebagai penjahat, sedangkan di kerajaan kelahiran mereka, mereka telah di anggap sebagai penghianat. Apapun pilihan yang harus mereka ambil, tidak ada pilihan baik bagi mereka.


"Setidaknya di sini, kelangsungan bertahan hidup kita lebih tinggi"


Salah satu dari anggota yang berkumpul membuka suara atas ke heningan yang ada. Mendengar kata - kata itu, wajah mereka kembali terisi dengan daya hidup.


Jika memang tidak ada lagi jalan keluar yang bisa mereka ambil, maka jalan teraman yang bisa mereka pilih dari berbagai pilihan lebih baik dari pada putus asa.


"HaHaHa...Ha.. haha, ketidak adilan atas perlakuan kerajaan memang tidak memihak kita. Amankan setiap anggota saat ini, kita harus mencari sumber daya dari tempat lain, kota Carix dari Kerajaan Vestia yang ada di selatan atau bahkan kota Malopi dari kerajaan Moscard sendiri. Wilayah itu yang terdekat dari kita saat ini. Tidak aman untuk sekarang berada di kota Timan, jika perlakuan kerajaan membuat kita memilih sebagai penjahat, maka biarkanlah, kita yang akan memutuskan seperti apa kita akan menjalaninya!"


Wajah para anggota yang berkumpul menjadi cerah. Pemimpin mereka, Sang Jendral, tidak berputus asa dan masih akan memimpin mereka.

__ADS_1


Sang Jendral tidak membuang mereka dan memberikan arahan lebih lanjut. Jika memang ini yang menjadi nasib atas apa yang harus mereka jalani, maka mereka akan menjalaninya bersama Jendral mereka.


__ADS_2