
Monster jenis macan kumbang menyerang Impian dengan taring besarnya. Impian menghindari gigitan macan kumbang dengan mudah.
Banyaknya monste yang menyerbu, jadi tentu saja tidak mungkin serangan tidak akan datang dari monster lainnya dan Impian harus tetap waspada dari seluruh arah. Hanya saja, selain kepekaan sensenya tinggi karena kelas dan mana yang sedang melekat padanya, skil [The Great One Who's See The Truth] memperlihatkan arah serangan yang akan datang.
Critikal Hit!
-1891730
Impian langsung menusuk kepala macan kumbang dengan pedangnya. Karena tusukan itu mengarah pada titik vital, serangan itu menciptakan critikal hit dan memperlihatkan angka damage yang begitu besar.
Impian tidak bisa bahkan mendapatkan waktu untuk mengambil nafas sejenak, monster yang terlihat seperti rusa merah tiba-tiba menyerang. Sekali lagi, Impian menghindari serangan monster dengan mudah.
Melompat dan bergerak di udara dengan memanfaatkan lingkaran sihir yang diciptakannya, Impian menghindari serangan monster. Meski banyak dari jumlah monster yang ada dan akan ada banyak serangan monster yang datang di dekat dirinya, Impian dapat memanfaatkan medan untuk bergerak.
Mungkin akan sulit bagi beberapa orang karena mereka harus menahan sesaat untuk menyerang dan bertahan dari serangan yang datang karena arah untuk bergerak terbatas, tetapi Impian bahkan dapat memanfaatkan ruang kosong di udara untuk bergerak. Dengan begitu, gempuran yang dilakukan Impian sendiri terlihat tidak terhentikan dan terus-menerus mengeliminasi monster dengan pedang ditangannya.
Serangan yang dilancarkan Impian tidak hanya terfokus pada fisik pedangnya saja, bertemunya tubuh monster secara langsung dengan pedang saat Impian menebas, menusuk, ataupun menyayat, tetapi dengan pemanfaatan mana, beberapa serangan memiliki elemen dari inti mana yang disuntikan.
"Tornado blade"
*Wirl! Wirl! Wirl!
*Zrash! Zrash! Zrash!
Serangan badai seperti yang biasa dirinya lakukan menghempas di udara. Kali ini berbeda dengan serangan tornado sebelumnya, karena Impian menambahkan mana Ether pada serangan tersebut, setiap monster yang terjebak pada tornado horizontal itu tidak hanya tersayat, tetapi juga terkorosi oleh mana Ether.
Bukan berarti apa yang Impian ucapkan merupakan sebuah skil-nya, karena hal tersebut tidak terekam dalam sistem-nya. Hanya saja, Impian yang mengeluarkan tornado ungu dengan mana Ether sebagai bahan bakarnya saat berpijak di udara, adalah nama jurus yang disematkan oleh Impian sendiri.
"Mana Wave!"
"Needle Sword!"
"Crescent Moon Sword"
"Ether Trust!"
Setiap nama serangan yang diucapkan Impian sambil menyerang, adalah murni dari serangan kreasi dari serangan yang memanfaatkan mana. Warna dari serangan-serangan itu juga memiliki warna ungu kehitaman yang mewarnai setiap serangan Impian.
Mana alam yang memang menjadi pondasi Impian, meningkatkan sense dan kepekaan dalam lingkungan. Mana Faith yang merupakan mana yang didapat dari blessing dewi Lorena dimanfaatkan sebagai pondasi dalam penguatan tubuh, pemulihan tubuh, dan juga menjaga kesetabilan serta daya tahan tubuh dari kelelahan. Sedangkan mana Ether, Impian manfaatkan dalam menyerang karena sifatnya yang lebih merusak.
__ADS_1
Dengan memanfaatkan ketiga mana itu dan kombinasi dari setiap inti mana yang telah dimiliki, skil [The Great One Who Control Mana] memudahkan Impian dari setiap kreasi serangan yang memanfaatkan mana di dalamnya. Itulah mengapa setiap serangan Impian bervariasi yang sebenarnya tidak tercatat dalam sistem sekalipun.
"aku tidak tahu dia sekuat ini.."
Sambil menekan kepalan tangannya, IKILUA tersenyum saat melihat Impian yang sedang beraksi. IKILUA adalah pemain yang lebih dulu memainkan INK START FANTASI ketimbang Impian, tetapi dari yang dilihatnya saat ini, Impian sudah menjadi lebih kuat darinya dalam waktu yang singkat.
Tidak hanya IKILUA yang terpana, tetapi dua penatua elf yang mendampinginya juga sedang melebarkan matanya.
"gila.. apakah itu kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh orang selevel dirinya!?"
"aku tahu dirinya memang memiliki kedekatan dengan bunda alam, tapi aku tidak tahu bahwa dirinya sudah sekuat ini meski seorang penjelajah dunia"
Mereka berdua adalah penatua yang tinggal disekitar istana. Tentu saja mereka berdua mengetahui siapa Impian dan kedekatannya dengan Pine, tetapi mereka hanya mengira bahwa Impian hanyalah sosok yang spesial, bukan sosok yang memiliki kemampuan spesial dalam bertarung.
Melihat Impian yang bertarung di hadapan mereka, membuat kedua penatua terpana. Seorang penjelajah dunia atau yang biasa disebut pemain, sudah memiliki kemampuan bertarung seperti itu meski mereka belum lama meninjakkan kaki di dunia ini.
"apa tuan Impian memang sekuat itu, Aderai?"
"seperti yang diharapkan dengan ksatria suci"
"tidak, dirinya bahkan sudah jauh bertambah kuat sejak aku melihatnya dulu"
Disisi Impian sendiri, terlihat lekukan bibir yang tersenyum dari wajahnya. Impian seperti menikmati situasinya sekarang.
Energi yang meluap dan kemampuan untuk menglahkan musuh yang memiliki level jauh di atasnya, membuat Impian sendiri merasa dapat melakukan apa saja.
Memang, serangan Impian tidak sertamerta dapat mengalahkan semua monster dengan serangan satu hit. Beberapa monster harus diserang beberapa kali oleh Impian, tetapi semua itu dapat terlihat dilakukan oleh Impian dengan mudah.
Apalagi Impian yang menyerang monster secara tidak sembarangan. Dapat melihat setiap level monster di dekatnya begitu saja, Impian menargetkat monster dengan level terkecil yang ada di sekitarnya.
Dengan begitu, mengeliminasi monster akan lebih efisien dilakukan. Pertandingan antara dirinya dan Gerald hanyalah membandingkan jumlah monster yang dieliminasi, bukan dengan syarat monster kuat saja di dalamnya, tetapi seluruh monster yang ada di tempat ini sebagai tujuan mengeliminasi.
Meski kehebatan yang dilakukan Impian di depan umum, tidak ada satu tanggapan-pun dari seluruh pemain yang ada.
wajar saja, kecepatan Impian dalam bergerak jauh lebih lincah ketimbang pemain yang terfokus pada agility. Selain itu pergerakan Impian yang bergerak bebas di udara, menyangkal pikiran pemain bahwa dirinya adalah seorang player.
Kecepatan gerak itu tidak dapat di ikuti oleh sebagian besar pemain yang ada, bagaimana mereka bisa fokus melihat 'pin hijau' yang ada di atas kepalanya sebagai bukti dirinya adalah seorang pemain. Apalagi Impian bergerak seorang diri, hal yang dihindari oleh pemain manapun saat menghadapi gerombolan monster dalam jumlah besar dan terdapat banyak monster berlevel sangat tinggi bagi pemain saat ini.
Para pemain hanya menganggap Impian adalah salah satu NPC yang bertarung saat ini disekitar mereka, sama seperti NPC-NPC kuat lainnya. Hal itu menyebabkan tidak ada satupun pemain yang memandang hal spesial itu dari Impian.
__ADS_1
Hanya IKILUA, dua penatua elf, dan empat pendeta Lorena saja yang menyadari akan keberadaan Impian sebagai seorang player dan bertarung dengan hebat seperti itu.
Fluktuasi mana tercipta pada lingkaran sihir yang dibuat di depan para pendeta Lorena. Setengah jam waktu telah berlalu sejak Impian melepaskan skil [Mengabaikan Pertahanan] dari skil aksesorisnya.
Melihat hal itu, dua pendeta Lorena langsung mempersiapkan diri dan merapal mantra agar segera dapat melakukan kemampuan pemulihan mereka. Tidak lama kemudian, Impian muncul tepat di atas lingkaran sihir yang telah dirinya persiapkan.
"tolong bantuannya paman!"
"serahkan pada kami!"
"serahkan pada kami tuan!"
Pendeta Lorena segera merapalkan sihir pemulihan kepada Impian. Kata-kata seperti rune terbentuk dan melayang di sekitar tubuh Impian, kemudian tubuh Impian terbalit mana putih keemasan yang terasa hangat di sekujur tubuh.
[Jumlah Monster Yang Dieliminasi : 148]
Apa yang terlihat dari layar transparan saat Impian memeriksa [Kristal Perekam Kebenaran] adalah jumlah monster yang telah dikalahkan seorang diri hanya dalam waktu 30 menit. Pencapaian yang luar biasa bahkan saat terdapat monster-monster berlevel tinggi yang tercampur dalam kerumunan.
"apa benar kau hanya level 97?"
IKILUA bertanya kepada Impian yang telah kembali ke tempat ini.
"hihihi, hebat bukan? aku sudah jauh bertambah kuat!"
"mulai keluarkah kesombongannya?"
"hahaha! itu wajib! ah, aku akan bertarung kembali. Ada kemampuan-ku yang lain yang dapat aku lakukan. Tubuhku akan tetap disini dan dipulihkan, hanya saja kemungkinan besar aku tidak bisa menanggapi apapun"
"serahkan penjagaan disini pada kami tuan Impian"
"anda bisa mengandalkan kami"
"bersenang-senanglah!"
"terimakasi kakek-kakek penatua! aku pergi dulu ki!"
Meski mengatakan itu, tubuh Impian tidak berpindah sedikit-pun dari tempatnya. Justru sebaliknya, roh Impian telah keluar dari tubuhnya dan meninggalkan tempat ini menuju kerumunan monster yang ada di depan.
Sekali lagi Impian bertarung melawan para monster yang ada. Kali ini tidak dengan tubuh fisiknya!
__ADS_1