INK START FANTASY : Impian

INK START FANTASY : Impian
CHAPTER 55 : KOTA YOILKA


__ADS_3

Perjalanan cukup panjang. Dadi ibu kota kerajaan suci Lorena hingga kota H'rden membutuhkan waktu beberapa hari dalam perjalanan.


Impian sempat berpikir, portal teleportasi di sediakan di seluruh kota, bahkan desa awal seperti Keoropi memilikinya, tetapi mengapa harus berjalan kaki menuju tempat itu.


Bukahkan akan memakan banyak waktu yang di butuhkan hanya untuk perjalanan saja?


Tetapi Impian tidak menyuarakannya, mungkin itu seperti kebiasaan pemimpin atau orang-orang yang memiliki jabatan tinggi untuk berjalan kaki dari kota ke kota.


Meski misi yang ada mengharuskan untuk Sang Saintess tetap aman, dari rombongan yang di bawa saja, Impian sangat yakin bahwa perjalanan tidak akan terkena situasi yang tidak di inginkan.


Rombongan telah sampai di kota Yoilka, kota pertama perhentian rombongan menuju kota H'eden.


Kota Yoilka merupakan salah satu kota di bawah kekuasaan kerajaan suci Lorena.


Bangunan di sini lebih mewah dari pada desa Keoropi, tetapi tidak begitu besar jika di bandingkan dengan ibu kota kerajaan.


"Yang mulia terhormat dan berbudi luhur Saintess Iskanav Asterick Lorena, selamat datang di kota Yoilka kami yang sederhana ini"


Sang Saintess di sambut hangat oleh seorang pria yang berkisar 40an, sepertinya 'ia penguasa dari kota Yoilka ini.


"Terimakasi atas sambutannya Viscount Barbeli Manelion. Bisakah kita langsung menuju tempat istirahat? aku cukup lelah"


"ah, maafkan saya, silahkan saya antar Yang mulia"


Mendengar nama yang di sebutkan oleh Saintess terhadap pria tersebut, Impian merasa bahwa 'ia pernah mendengarnya di suatu tempat.


"ada apa itu?"


"apakah ada acara khusus?"


"lihat! bukankah itu Saintess Lorena"


"ah benar! Sang Saintess terlihat cantik seperti biasanya"


Banyak dari warga penduduk asli yang memuji pemimpin kerajaan mereka. Di sela-sela penduduk yang menyambut Saintess, ada banyak pemain yang ingin melihat apa yang terjadi.


Melihat Saintess berdiri di depan yang di sambut oleh Viscount kota ini, mereka juga ikut memuji pemimpin kerajaan Lorena itu.


Yah, meskipun apa yang mereka puji berbeda dengan warga biasa, tetapi warga yang berkumpul dan mendengarnya ikut merasa bahagia saat pemimpin kerajaan mereka di elu-elukan.


Mengikuti Saintess menuju mansion yang telah di persiapkan oleh Viscoun Barbeli, Impian bersama rombongan mengawal Sang Saintess.


"lihat! bukankah itu seorang pemain!?"


"ah! kau benar! ada dot hijau di atasnya!"


"aku belum pernah melihat mereka sebelumnya, apakah mereka ranker tersembunyi?"


Melihat dot hijau di atas kepala Impian dan Togay, mereka meyakini bahwa Impian dan Togay merupakan seorang pemain seperti mereka.


Hingga saat ini, memang telah ada beberapa pemain yang memiliki pencapaian besar di kerajaan suci Lorena.

__ADS_1


Salah satu dari pemain-pemain itu bahkan telah mendapatkan gelar kebangsawanan-nya sendiri atas pencapaian orang tersebut. Gelar yang di miliki oleh orang itu masih menjabat sebagai baron.


Belum ada yang memiliki jabatan sampai dapat berdampingan dengan Saintess secara langsung.


Melihat Impian dan Togay yang berada dalam rombongan, para pemain di sekitar heboh karenanya.


Impian dan Togay tidak terkenal sebelumnya, maka dari itu, pemain yang melihat hal tersebut mengangap bahwa mereka salah satu ranker tersembunyi yang tidak mencantumkan nama mereka pada papan peringkat pemain.


Hingga akhirnya rombongan Saintess tiba di depan mansion. Sangat besar jika bangunan itu hanya di anggap sebagai mansion biasa.


Setelah sampai pada tujuan, Saron mengatur penjagaan dari setiap unit prajurit yang ada.


"kalian di bebas tugaskan hingga esok pagi, bersenang-senanglah di waktu luang kalian"


Saron memberitahu kepada ke empat calon ksatria suci. Setelah selesai memberikan instruksi kepada rombongan yang ada, Saron pergi ke dalam mansion.


"apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


Togay bertanya kepada Impian yang selama ini selalu berada tidak jauh dari sisi Impian.


"aku tahu tempat restoran bagus di kota ini, apa kalian ingin ikut?"


Lara berbicara terlebih dahulu setelah mendengarkan kata-kata Togay.


"aku pass, aku ingin ketempat latihan"


"sama di sini, aku ingin beristirahat"


Ardan dan satu lagi calon ksatria suci yang selalu diam setiap saat menolak ajakan Lara.


"baiklah"


"ayo! kami akan menemanimu nona"


Sembari menunjukan senyum penuhnya, Togay menjawab dengan penuh semangat ajakan Lara.


Mendengar hal itu, Lara sepertinya cukup senang dengan teman barunya. Dia memimpin perjalanan menuju restoran yang ia rekomendasikan.


Tempat itu cukup ramai untuk restoran yang sangat besar. Banyak dari mereka yang menikmati makanan di tempat ini tidak hanya terdiri dari NPC saja, tetapi beberapa pemain biasa dapat di temukan di sini.


"apakah ada tempat kosong di lantai dua?"


Lara berbicara kepada pramusaji restoran itu.


"maaf nona, apa anda sudah membuat reservasi sebelumnya?"


"ah, aku belum"


"akan saya lihat terlebih dahulu"


"tidak perlu! haha maafkan pegawai saya, mari saya antar anda ke meja yang telah di persiapkan"

__ADS_1


Orang yang tiba-tiba datang, memotong pembicaraan pramusaji itu dan langsung mengambil kendali mengantarkan Lara 'cs ke lantai dua.


Berbeda dengan lantai satu, suasana lantai dua dan meja restoran yang ada berbeda. Tempat ini serasa lebih mewah jika di lihat.


"woah, apa kamu terkenal? mereka langsung memberikan tempat begitu saja"


Impian berbica terlebih dahulu sesaat mereka duduk di tempat makan dekat jendela.


Setelah orang itu mengurus tempat duduk dan menu yang di pilih, ia pergi dan mengatakan untuk kami menikmati suasana yang ada.


"tentu saja, tidak ada yang tidak tahu calon kesatria suci, kurasa mereka bersikap seperti itu karena melihat tidak hanya ada satu orang calon kesatria suci di sini"


"ah, benar, Impian juga salah satu dari kalian"


"benar~?"


Yah, percakap berlangsung cukup akrab di antara mereka. Meski percakapan yang ada di dominasi oleh Togay yang bertanya ini itu terhadap Lara, Impian seperti memiliki pemikiran lain di ruangan itu.


Entah apa yang di pikirkan Impian, ia lebih sering mengamati ke adaan sekitar.


Dengan skill [The One Who's See The Truth] banyak dari informasi-informasi yang di dapatkan Impian di restoran itu.


Seperti salah satu rombongan yang berada dua meja dari mereka. Rombongan tersebut merupakan seorang pemain yang memiliki level di atas seratus.


Untuk pemain yang telah mencapai level 100 dan pengumuman bahwa pembatasan level telah di buka, pemain masih di haruskan untuk melewati unian awekening mereka agar dapat menaikan level.


Akhirnya, masih banyak pemain yang macet di level seratus mereka.


Jika di lihat dari level rombongan tersebut telah melewati level seratus, berarti orang-orang ini merupakan bukan pemain biasa.


Tidak hanya itu, di lantai satu, Impian memperhatikan bahwa terdapat beberapa pelanggang yang menggunakan jubah tertutup di tubuh mereka.


Meski orang-orang di dunia ini terbiasa akan hal tersebut, bagi Impian yang hidup di zaman modern akan sedikit terganggu.


"Giok telah tiba di kota"


"Perkiraan waktu yang di butuhkan sesuai dengan rencana"


"selanjutnya hanya dari 'owl' yang bertindak"


"kita juga harus menunggu 'bulldog' untuk informasi lebih lanjut"


Orang-orang itu yang di perhatikan Impian berbicara dengan berbisik dan sangat pelan, hingga orang-orang di sekitar akan sangat-sangat kesulitan untuk mendengarnya.


"organisasi itu telah bergerak"


"quest yang di berikan sepertinya terkait dengan mereka"


"bagaimana selanjutnya?"


Tidak hanya dari orang-orang berjubah yang dapat di dengar, Impian juga mendengar percakapan dari pemain-pemain berlevel tinggi di sebelah meja.

__ADS_1


"cukup untuk memperhatikan mereka! ayo kita nikmati makanan disini! aku tidak berbohong bahwa tempat ini bagus!"


Lara yang memperhatikan Impian dan melihat bahwa makanan sudah datang, berteriak dan menyuruh Impian untuk lebih bersantai.


__ADS_2