INK START FANTASY : Impian

INK START FANTASY : Impian
CHAPTER 128 : TERJANG!


__ADS_3

"amukan mana Ether mulai menghilang, bersiap untuk maju"


Seiring dengan ucapan Impian, pandangan di balik perisai memperlihatkan asap hitam yang mulai menipis.


Galadriel melihat kearah Impian-


"belum!"


Masih mempertahankan keahliannya, seluruh orang menjadi tegang.


"kalian tetap disini, jaga kakak Nowe dari kelelahannya"


Kata-kata itu ditujukan kepada IKILUA, Alice, dan Togay. Level mereka yang masih rendah menjadi lebih baik untuk menjaga di lini belakang.


Setiap detik serasa mencekam. Menunggu dan menunggu hingga perintah diberikan.


Entah apa yang akan terjadi dibalik tabir asap hitam ini. Apa yang akan menanti mereka dan apa yang dilakukan orang dibalik peristiwa ini.


Mereka semua memandang Impian untuk memberi tahu mereka. Kapan waktunya perisai sihir Gaaladriel dilepas dan kapan mereka akan bergerak.


Semua itu tergantung oleh Impian.


....


....


...


"sekarang!"


Begitu perintah Impian terdengar, Galadriel melepas skil sihir perisainya. Astaresee dan penatua Feanor langsung berlari paling depan, diikuti dengan para dark elf dan para guardian kemudian Impian dan Istina.


Galadriel mengikuti setelah sihir perisai dilepaskan sepenuhnya. Dirinya berlari bersama Alanea yang menempatkan diri pada lini belakang bagi mereka yang berlari menyerbu.


Seperti yang dikatakan Impian, dinding-dinding sarang yang membatasi setiap ruangan telah hilang dibanyak tempat. Didepan mereka, terlihat benda hitam yang melayang di udara diantara mayat-mayat orang yang mengenakan pakaian hitam penuh.


Suasana mencekam seakan reruntuhan telah ada didepan mereka. Padahal beberapa waktu lalu, tempat ini masih tertutupi oleh dinding-dinding yang membentuk sarang.


Setiap mata dari seluruh orang terpana karenanya. Kaget dan kebingungan dapat menggambarkan ekpresi mereka saat ini.


Hal apa yang lebih mengejutkan lagi, adalah satu sosok orang yang masih berdiri di depan benda yang melayang dengan balutan mana Ether. Satu orang masih berdiri dengan kaki gemetar menghadap Impian dan yang lainnya.


"HAHAHAHA KALIAN TELAT! RASAKANLAH DAN SAKSIKAN KEDATANGAN YANG TERTINGGI MENAPAKAN KAKINYA DIDUNIA INI!"


Orang itu berteriak kearah kelompok seperti orang gila yang telah putus asa dan kemarahan terhadap kelompok pengganggu didepannya. Seakan memberi sambutan dan perpisahan terakhir kepada para elf yang datang dan menyerbu tempat ini.


Setelah berteriak dengan sambutan gilanya, tubuhnya jatuh ketanah seperti boneka yang benangnya terputus. Terkulai 'tak berdaya.


Tubuhnya yang telah jatuh terkulai ditanah 'tak bernyawa mengeluarkan asap hitam yang dapat disebut dengan mana Ether. Seperti tertarik oleh benda yang melayang itu, apa yang keluar dari tubuh orang tersebut diserap benda itu.


Setelahnya, terjadi fenomena distorsi ruang yang menyebar dari benda tersebut. Kegelapan hitam pekat memotong ruang dan membentuk lingkaran cacing hitam.


[Ritual Pemanggilan Makhluk Tinggi Dari Dunia Chaos Telah Dilakukan]


[Sebuah organisasi mencoba untuk melakukan pemanggilan kebangkitan Asmodeus]


[Quest Dadakan]


[Hentikan dan gagalkan ritual pemanggilan Asmodius ke dunia ini. Makhluk dunia lain tidak boleh sampai menginjakan kakinya didalam pelindung yang telah diciptakan oleh makhluk pertama Dunia Utama.


Hadiah Quest :


Title 'Pelindung Dunia Utama'


Ketenaran Dunia +100000


Exp +1000000


Berkah dari Makhluk Pertama


Item Box Legendari x1


Hadiah Kegagalan :


Kehancuran Wilayah Sekitar

__ADS_1


Kematian


Kutukan Dari Asmodeus]


Begitupula dengan pemberitahuan sistem dan Quest dadakan yang muncul karenanya. Hadiahnya sangat besar, tidak hanya itu, tetapi apa yang didapat dari kegagalan juga sangat tidak menguntungkan.


Apa yang terjadi setelah itu adalah sihir area luas yang muncul setelahnya. Menyebar hingga seluruh kelompok hingga mencapai Nowe yang berada paling belakang.


"FU*K!!!"


Melihat apa yang tengah terjadi, Impian mengutuk keras. Hanya tinggal beberapa meter lagi sebelum mereka mencapai benda yang melayang dan terbalit mana Ether pekat di udara.


Benda tersebut, benda itu terlihat seperti lempengan batu yang melayang dengan gumpalan mana Ether dan berbagai lingkaran sihir hitam disekitarnya. Mengeluarkan perasaan mencekam hanya berdiri disekitarnya yang bahkan dapat terasa meski jarak kelompok masih beberapa puluh meter jauhnya.


Seluruh elf, dark elf, guardian, dan Impian yang berlari tiba-tiba jatuh ketanah. Banyak lantai disekitar hancur seakan mendapat tekanan besar.


Ini adalah sihir yang mirip dengan apa yang digunakan oleh salah satu monster di menara pengadilan saat Impian di desa pemula. Sihir gravitasi yang memaksa seluruh makhluk hidup yang ada disekitarnya ambruk ketanah.


Hanya saja, tekanan ini begitu kuat dan lebih besar dari yang pernah dialami Impian saat itu. Bahkan para elf yang memiliki level tinggi tidak dapat berkutik karenanya.


Tidak hanya itu, lubang cacing hitam yang berjumlah 6 muncul. Satu lubang cacing hitam diatas lempengan batu sangat besar dan memperlihatkan satu jari makhluk besar keluar dari sana.


[Sosok Asmodeus mulai memunculkan kehadirannya]


"IKI!!! GUNAKAN KEMAMPUANMU DARI DIAVAL KEARAH BENDA ITU!!"


Impian berteriak saat seluruh kelompok tidak dapat melakukan apa-apa selain meratap benda yang melayang itu sedang bekerja.


"Aku tahu!"


Lingkaran sihir biru terbentuk disekitar IKILUA dan mana berwarna emas menyelimuti dirinya. Dengan skil yang telah aktif, dirinya terlihat bersusah payah hanya untuk berdiri di tempatnya.


Lingkaran sihir yang dibentuknya, menahan sihir gravitasi yang ada. Meski masih kesulitan hanya untuk berdiri, IKILUA berhasil berdiri tegak untuk melakukan skil-nya.


"Ultimate Skill, Diaval Version [Shooting Star Stream]!"


Apa dia seorang chuni? meneriakan seluruh nama jurusnya...


IKILUA menembakkan busur panah yang terselimuti penuh oleh mana berwarna emas. Mendengar IKILUA meneriakan nama jurusnya, Impian berkomentar didalam hati.


*Siung!


*Burst! Shing! Shing! Shing! Shing!


*Wong! Wong!


Menerjang kearah lempengan batu dengan kecepatan tinggi dan bersuara kencang. Tembakan itu mirip dengan apa yang dilakukan Impian sewaktu mengawal Saintess, hanya saja apa yang dilakukan IKILUA lebih hebat dengan setiap anak panah yang terselimuti mana emas dan percikan bintang saat anak panah itu melesat.


*Duar! Buar! Duar! Duar!


Setiap anak panah melesat dan menabrak lempengan batu hitam dengan begitu dasyat. Ledakan demi ledakan yang terpicu beruntun terjadi setelah anak panah mengenai lempengan batu.


Itu adalah skil ultimate yang dimiliki IKILUA yang dipelajari dari Diaval. Meski sangat dasyat, skil itu sendiri memerlukan pengorbanan besar untuk mengaktifkannya.


Seluruh mana yang dimiliki menjadi daya untuk skil tersebut, yang menyebabkan IKILUA langsung jatuh terkulai ditempatnya. Tidak hanya seluruh mana yang menjadi bahan bakarnya, tetapi pengorbanan satu level juga menjadi salah satunya.


Hanya dengan mengerahkan satu skil saja, level IKILUA telah berkurang satu begitu saja. Dia yang memiliki level 109 pada awalnya dan sudah menjadi pemain berlevel tinggi diserver ini, pengorbanan satu level merupakan harga yang tinggi hanya untuk melepaskan satu jurus saja.


Berkat panggilan Impian kepada dirinya dan bergabung melindungi Impian dengan mengalahkan monster-monster berlevel sangat tinggi bersama para elf dan dark elf, level IKILUA memang sempat naik beberapa kali. Kehilangan satu level saat ini dengan keadaan genting seperti sekarang tidak terlalu membebani hatinya.


Berkat itu, sihir gravitasi super besar yang menjatuhkan setiap orang menjadi berkurang drastis. Semua berusaha bangkit meski itu masih sedikit sulit.


*NGIIIINNNNNGGGGG!


Suara bising yang memekakan telinga tiba-tiba terdengar keras dari jari yang keluar di lubang cacing hitam itu. Aura ganas yang mendominasi dan mencekam terpancar dari jari itu.


"apa lagi sekarang!?"


"Aarrrgggghhhh"


"Kuuuaaarrrrrhhhhh"


Setiap orang berteriak kesakitan dan menjambak-jambak rambut mereka. Seakan kutukan kesakitan memancar dari jari tersebut.


Hanya ada 3 orang yang masih berdiri dan bertahan ditempatnya.

__ADS_1


Asteresee dan penatua Feanor yang sedari awal telah bersiap dan melepaskan kekuatan penuh mereka, berdiri dan bertahan dari pancaran energi yang tidak menyenangkan ini. Meski mereka berdua masih berdiri ditempatnya, wajah mereka menunjukan ketidak nyaman dan kesakitan hanya untuk bertahan.


Seorang lagi yang tidak terpengaruh sama sekali dari pancaran energi ini adalah Impian!


Sayangnya, sihir gravitasi yang masih ada meski telah dikurangi dayanya oleh skil IKILUA. Stat daya tahan tubuh Impian masih lebih rendah jika dibandingkan setiap anggota elf dan dark elf ditempat ini yang mereka saja masih bersusah payah untuk berdiri.


Meski tidak terpengaruh oleh pancaran aura mencekam, tubuh Impian masih tidak bisa apa-apa dan hanya bisa meringkuk ditempatnya.


"KAKEK! KAKAK ASTARESEE, LEMPAR AKU KESANA!"


Impian menunjuk lempengan batu dan berteriak kearah penatua Feanor dan Astaresee yang berdiri. Mendengar itu, Astaresee melihat kearah penatua Feanor seakan memberi tahu apa yang akan mereka rencanakan.


Mendapat balasan dari penatua Feanor yang mengangguk, Astaresee berdiri tegak ditempatnya.


"Dengan Izin dan kasih dari bunda yang merawat dan melindungi alam tempat kami bernaung. Aku meminta izin untuk melepas segel yang mengekang kekuatanku. [Eternal Stream]!"


Dengan pemanjatan do'a yang dilakukannya, tubuh Astaresee melepaskan aura hijau dan biru yang mengelilingi dirinya saat ini. Rambut kuningnya berubah menjadi hijau dan tumbuh lebih panjang. Armor transparan yang terbuat dari aura hijau dan biru yang dilepaskannya terbentuk disetiap sudut tubuhnya.


Astaresee berlari kearah tubuh Impian yang tergeletak ditanah dan mengangkatnya. Menggendong Impian dan membawanya sambil berlari kembali kearah lempengan batu.


"What!? apa yang kakak lakukan?"


Saat Astaresee berlari membawa dirinya, Impian berteriak mempertanyakan apa yang mereka lakukan. Melihat kearah depan, penatua Feanor tidak diam begitu saja dan terlihat makhluk besar dari elementalnya dibelakang dirinya.


Ternyata Astaresee yang membawa Impian tidak sepenuhnya berlari ke arah lempengan batu, tetapi kearah penatua Feanor yang telah bersiap ditempatnya.


"Aku percayakan kepada kalian berdua"


Dengan tangan besar makhluk elementalnya, penatua Feanor memegang tubuh Astaresee lalu melemparkannya kearah lempengan batu.


*Wush!


Impian sempat melihat wajah mereka berdua dan menjadi serius karenanya. Kedua orang itu, baik Astaresee dan penatua Feanor memasang wajah jelek seakan menahan rasa sakit saat ini.


Tubuh Astaresee yang memegang tubuh Impian terbang langsung kearah lempengan batu dengan kecepatan tinggi.


Jari dari makhluk itu yang keluar dari lubang cacing tidak tinggal diam. Jari tersebut menunjuk kearah Astaresee dan memancarkan tembakan hitam.


*Beam! *Beam! *Beam!


Seperti solar beam yang mengandung mana Ether, menerjang kearah Astaresee. Tidak hanya satu atau dua tembakan saja, tetapi total 8 tembakan yang menerjang Astaresee.


*Sing! Sing! Sing!


Astaresee menghindari dengan berputar 180 derajat dan membelah tembakan itu dengan satu pedang yang bercahaya ditangannya.


*Boommm!


Meski begitu, satu peluruh mana mengenai tubuhnya demi melindungi Impian yang dibawanya.


"Kuserahkan padamu"


Astaresee melempar tubuh Impian kearah lempengan batu dan langsung menerjang jari makhluk besar itu. Mencoba melawan jari makhluk besar itu seorang diri demi melindungi Impian.


Meski sosok Asmadeus saat ini hanyalah sebuah jari yang keluar dari lubang cacing, tetapi daya serangan yang diberikan begitu besar. Sehingga Astaresee memutuskan untuk berdiri menghadapi jari itu demi Impian tidak terganggu olehnya.


"serahkan padaku kakak!"


Tubuh Impian terbang lurus kearah lempengan batu dengan kecepatan tinggi. Hanya saja kecepatan itu terlalu cepat dan dapat menyebabkan Impian melewati posisi lempengan batu.


"tidak masalah!"


Bukannya Impian tidak bisa berbuat apa-apa diawal. Dirinya tidak terpengaruh aura ganas jari makhluk itu, tetapi sihir gravitasi yang membatasi dirinya.


Maka dari itu, Impian memunculkan banyak linkaran sihir yang biasa dia gunakan sebagai pijakan diudara menjadi penahan tubuhnya di tempat lempengan batu.


*Buk!


-216700


Kecepatan yang sangat tinggi dan daya tekan sihir gravitasi membuat pendaratan Impian sangat buruk. Angka merah pengurang kesehatannya muncul sangat tinggi meski hanya mendarat ditempat saja.


Paling tidak, apa yang dilakukan Impian membuatnya berada tepat sisamping lempengan batu.


"[Pelahap Ether]!"

__ADS_1


Dengan senyum ganas, Impian meneriakan skil-nya terhadap lempengan batu. Seakan apa yang diejeknya kepada IKILUA dengan menyebutkan nama skil-nya, juga dilakukan oleh Impian saat ini.


__ADS_2