
"Segera pergi dari sana bocah!"
Teriakan keras Origin bergema di kepala Impian. Sayangnya peringatan keras itu tidak memberi waktu Impian bahkan untuk bergerak sedikitpun.
Bayangan dari sosok besar menutupi pandangan cahaya lingkungan disampingnya.
*Bang!!!
"Ack"
Sosok besar itu adalah Asmodius yang meninggalkan portal di hadapannya dan menyerang Impian secara langsung!
Hanya suara kecil dari rasa sakit dan darah segar yang keluar dari mulut Impian. Pukulan itu memberi dampak kerusakan parah pada tubuh roh-nya.
Impian memantul dan terlempar keras dari dampak serangan itu. Untung saja, Impian yang berlari ke arah portal sebelumnya, terkena serangan Asmodius dan terlempar masuk ke portal di hadapannya.
Meski terkena serangan keras dari Asmodius, Impian berhasil keluar dari dunia Chaos di balik portal yang terbuka.
*Sung
*Buk Bak Brak!
Melewati portal yang ada, tubuh Impian memantul beberapa kali di tanah dan kembali ke sarang dark elf, hutan Beast Glaide.
[[Unbreakable Dead] telah aktif]
[selama 300 detik, tubuh anda akan bertahan dengan sisa HP : 1]
[299 detik tersisa]
Skil pasif kelas Avatar of Origin Impian terpicu begitu saja. Hasil dari satu serangan Asmodius telah membunuh Impian jika tidak terdapat skil pasif kelasnya.
[Quest dadakan diselesaikan!]
[Anda memiliki kontribusi terbesar dalam penyelesaian]
[Mendapatkan Title 'Pelindung Dunia Utama']
[Mendapatkan Ketenaran Dunia +100000]
[Mendapatkan Exp +1000000]
[Anda merupakan Avatar dari makhluk pertama, Berkah dari Makhluk Pertama tidak bisa didapatkan]
[Item Box Legendari x1]
Selain itu, pengumuman quest clear didapan dengan Asmodius yang mengabaikan portalnya. Sepertinya kerusakan sebelumnya yang dilihat Impian pada portal di hadapan Asmodius telah membuatnya marah dan langsung menyerang Impian.
Akibatnya, Asmodius yang telah mengabaikan portal di hadapannya membuat sistem menyatakan kesuksesan dalam misi pencegahan datangnya Asmodius.
"woah... kita berhasil!!"
"yeah!"
"jangan terlalu senang dulu! masih ada monster-monster yang muncul"
"kenapa? tidak bisakah kita bergembira meski sesaat!?"
"sayang sekali hadiahnya tidak penuh, tetapi yang di dapat cukup bagus!"
Teriakan keberhasilan dari para pemain juga dapat didengar. Quest dadakan yang muncul itu tidak hanya didapat oleh Impian, tetapi juga seluruh pemain yang ada di tempat ini.
[Tubuh kesadaran anda terluka parah]
[Seluruh stat anda berkurang 50% selama 168 jam kedepan]
"Bukankah serangan fisik tidak bekerja pada tubuh roh ini!? aku melihat dia menyerangku dengan pukulan! kenapa jadi seperti ini!?"
Tidak hanya skil pasif kelasnya langsung bekerja yang menyebabkan tubuhnya saat ini merasakan sakit dari dampak serangan, penglihatan yang sudah buram seakan kematian datang menghampiri, dan tubuh yang tidak bisa digerakan sama sekali karena poin kesehatan hanya tersisa 1, tetapi juga dampak yang ditimbulkan karena tubuh kesadarannya terluka berat terhadap tubuh fisiknya.
Pengurangan stat sebanyak 50% bagi pemain, merupakan bencana besar yang bisa didapat. Apalagi hal itu bertahan selama seminggu penuh.
Mendapat timbal balik akan cedera yang didapat dari pengurang stat dalam tubuh kesadarannya, hype akan hadiah quest langsung lenyap. Keberhasilan itu langsung terlupakan dan digantikan dengan rasa frustasi.
"kau memang masih lemah sehingga tidak bisa melihat serangan berlapis sihir itu"
__ADS_1
"hah? itu bisa dilakukan!?"
"tentu saja mudah bagi makhluk-makhluk kuat"
Pemahaman Impian yang membagi dua tipe serangan umum yang ada, yaitu serangan fisik dan serangan sihir, adalah apa yang dirinya tahu hingga sekarang. Hal itulah yang membuatnya tenang saat dalam keadaan tubuh roh saat ini meskipun digempur oleh serangan sihir dan dikelilingi oleh ribuan monster.
Serangan sihir Asmodius memang kuat dan begitu cepat, tetapi apa yang terlihat bagi Impian, itu adalah serangan sihir sederhana dengan daya kuat dan kecepatan tinggi. Hanya itu yang dapat membahayakan sehingga dapat dihindari dengan kemampuan skil-nya.
Hal itu juga yang di pertontonkan jari Asmodius saat melawan Asteresee, Asmodius hanya menyerang dengan peluru-peluru sihir hitam. Dengan hanya jarinya saja yang keluar dari portal, kemampuan fisik super gila tidak dapat dikeluarkan secara penuh olehnya.
Kemampuan fisik yang begitu tinggi itu akhirnya terlihat hanya dari satu serangan Asmodius kepada Impian, sehingga dengan serangan pukulan yang dilapisi sihir sederhana saja sudah membuat Impian memasuki keadaan sekarang. Membuat skil pasif kelasnya aktif dan jatuh tidak berdaya ditempat.
"tuan Impian! apa yang terjadi padamu!?"
"suara ini... Kakek Feanor?"
Suara jelas yang terdengar familiar terdengar memanggil Impian disisinya. Dikarenakan [Unbreakable Dead] telah aktif, penglihatan Impian telah menjadi buram penuh dan tidak dapat melihat siapa yang memanggilnya.
"ini aku, apa yang terjadi padamu?"
Penatua Feanor yang menjadi satu-satunya orang yang dapat melihat tubuh Impian dalam keadaan roh-nya saat ini, mendekat dan bertanya. Meski Impian yang terpontang-panting keluar dari salah satu portal, tidak ada satupun yang memperhatikan bahkan berusaha menolongnya.
"hahaha aku terpukul oleh makhluk kuat disana. Bagaimana dengan keadaan saat ini?"
"anda masih bisa tertawa bahkan dalam keadaan tubuh saat ini..."
Penatua Feanor hanya tersenyum kecut saat mendengar balasan dari Impian yang tertawa seakan bukan apa-apa. Padahal dirinya sedang menghawatirkan keadaan Impian sekarang yang tersungkur ditanah dan tidak bergerak.
Mendengar suara penatua Feanor yang datang dan memanggilnya dalam suara khawatir, rasa kesal Impian yang frustasi dengan pengurangan stat langsung berubah. Dirinya tidak ingin terlihat lebih menghawatirkan seseorang yang tidak tahu apa-apa dihadapannya ini.
"jari makhluk yang keluar dari lubang cacing sudah menghilang. Aku diberitahu bahwa anda membuka portal-portal lain untuk menghancurkan portal jari makhluk itu, sepertinya anda sudah berhasil"
"syukurlah"
"satu-persatu bantuan sudah mulai berdatangan, saat ini kami masih bertempur melawan monster-monster yang keluar dari portal bahkan portal yang baru terbentuk"
"yah, sepertinya kita tidak sepenuhnya gagal... Kakek Feanor, bisakah kamu membawaku ketubuh fisik-ku?"
"yang masih berada di gumpalan mana Erher itu?"
"akan aku usahakan"
Tubuh kesadaran Impian yang berbentuk roh saat ini tidak dapat bergerak. Hanya menyisakan 1 poin kesehatan saja yang tersisa, entah apa yang akan terjadi jika waktu skil yang berjalan telah habis.
Di tengah tempat pertempuran yang masih berlangsung, dengan tubuh yang masih tidak dapat digerakan, hanya menyisakan 1 poin HP yang tersisa, meski tubuh Impian tidak dapat disentuh oleh tubuh fisik, sihir yang nyasar dapat saja mengenai tubuh kesadaran Impian saat ini.
Jika luka parah dan menyisakan 1 poin HP sudah membuat dampak pengurangan stat sebanyak 50%, siapa yang tahu apa yang terjadi jika poin kesehatan sudah mencapai angka 0. Maka dari itu, Impian ingin cepat-cepat kembali ke tubuh fisiknya dan meminta penatua Feanor membawanya.
Dengan kemampuan penatua Feanor yang dapat mengendalikan makhluk spiritnya dan yang menjadi satu-satunya orang yang dapat melihat Impian, Impian berpikir bahwa penatua Feanor dapat membawanya.
Dan benar saja apa yang dipikirkan oleh Impian. Makhluk spirit penatua Feanor muncul di belakang punggungnya dan membawa tubuh roh Impian mendekati lempengan batu.
"woah, apa itu?"
"bukankah itu makhluk spirit?"
"jadi itu salah satu kemampuan elf, pengendali spirit"
Pemain-pemain yang melihat makhluk spirit penatua Feanor teralihkan oleh makhluk spirit besar di balakang punggung penatua Feanor. Mereka saling berbicara akan kemampuan itu yang muncul dari seorang elf.
"penatua Feanor"
Istina dan Alanea datang mendekati penatua Feanor. Dirinya yang mengelurkan spirit dalam bentuk penuhnya dan berjalan dengan hati-hati, membuat Istina dan Alanea penasaran.
"aku sedang membawah tubuh roh tuan Impian kembali ke tubuh fisiknya. Bantu aku membuka jalan"
Istina dan Alanea melihat tangan spirit penatua yang mengatup keatas seperti membawa sesuatu. Disana, pada pemandangan mereka berdua, tidak ada apa-apa di kedua tangan spirit penatua Feanor yang dikatupkan.
Hanya saja, mereka berdua tidak membantah dan menganggukan kepala mereka. Mereka berdua berjalan kedepan dan bersiap kapanpun untuk menghalau monster jika tiba-tiba datang dan akan menghalau jalan.
Meski tidak mengerti dengan apa yang ketiga elf berpangkat tinggi ini sedang dilakukan, beberapa elf datang dan ikut serta menjaga penatua Feanor dalam setiap langkahnya mendekati lempengan batu.
"urgh.. tuan Impian... aku tidak bisa.. mendekat lebih.. jauh"
Tekanan kuat dari energi lempengan batu masih ada. Proses pembukaan portal oleh lempengan batu masih bekerja, meskipun portal Asmodius telah menghilang.
__ADS_1
Akibatnya para elf yang menjaga lajur jalan penatua Feanor telah beberapa langkah jauh dari penatua Feanor saat ini. Hanya ada penatua Feanor di tempatnya saat ini yang berada lebih dekat dengan lempengan batu.
Tetap saja, penatua Feanor masih kesulitan dan terengah-engah untuk mendekat lebih jauh. Energi lempengan batu masih menolak siapapun yang mendekatinya lebih jauh.
"tidak masalah kakek, lemparkan saja aku!"
Mendengar itu, penatua Feanor mempercayai perkataan Impian dan melemparkan tubuh roh-nya kearah pusat lempengan batu.
*Wush!
Tubuh roh Impian terlempar dan terbang kearah pusat lempengan batu. Tidak ada penolakan dari energi lempengan batu yang dapat dirasa, tubuh roh Impian dengan lancar terbang melesat.
"fokus kembali, fokus kembali, fokus kembali, fokus kembali!!!"
Karena tubuh roh-nya masih tidak dapat digerakan dan penglihatan masih buram, Impian hanya berusaha fokus untuk kembali ketubuh fisiknya saja dalam penerbangan.
Berbeda dengan tubuh fisik dimana skil [Unbreakable Dead] aktif, perlahan-lahan kembali pulih meski dengan waktu yang harus dilalui, tubuh kesadaran Impian tidak kunjung pulih meski waktu sudah berlalu dari tadi. Makanya, yang bisa dilakukan oleh Impian saat ini hanya berharap tubuh kesadarannya kembali ketubuh fisiknya.
Entah karena keberuntungan atau keajaiban, tubuh kesadaran Impian perlahan-lahan kembali memasuki tubuh fisiknya saat terbang mendekat. Kesadaran dan penglihatan Impian kembali pulih dalam tubuh fisiknya dan memperlihatkan pemandangan saat ini.
"bag- Aaaaccccckkkkkkk!!!!!"
Saat kegembiraan dari keberhasilan itu tercapai dan ingin merayakan dengan teriakannya, rasa sakit yang begitu dasyat tiba-tiba memasuki tubuh dan dapat dirasakan begitu saja. Rasa sakit itu seperti mengoyak dan merobek seluruh tubuh dari dalam.
"Tuan Impian!"
Pada penglihatan para elf sendiri, gumpalan hitam pada lempengan batu mulai muncul percikan-percikan listrik hitam. Ditambah dengan teriakan Impian yang sangat keras dan tiba-tiab, seluruh elf yang berada disekitar lempengan batu menjadi khawatir.
Listrik-listrik hitam yang muncul dari gumpalan energi hitam lempengan batu dan perlahan-lahan menjadi tambah besar. Arusnya menyebar dan menghancurkan area-area disekitarnya.
Ditambahnya dengan teriakan keras menyakitkan yang terdengar, seluruh orang yang sedang bertempur langsung memandang kearah lempengan batu. Mereka berhenti sejenak seakan waktu seperti berhenti beberapa saat teralihkan dan penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Penatua Feanor dan para elf disekitar menjadi lebih khawatir dengan keadaan Impian saat ini. Mereka memandang kenarah lempengan batu tempat Impian berada.
"apa yang terjadi dengan bocah itu!?"
"kita tidak bisa lebih mendekat dengan tekanan besar dan listrik-listrik hitam yang menghantam"
Alanea berkata dengan penuh khawatir dan penatua Feanor yang berusaha mendekat sepenuh tenaga hanya bisa pasrah mengucapkan kata-katanya.
"apa yang sedang terjadi? apa bocah itu masih disana?"
Asteresee yang datang setelah lawan bertarungnya menghilang, bertanya kepada yang lain. Dirinya masih di dalam mode pelepasan segel dari apa yang terlihat saat ini.
"satu orang saja tidak akan cukup, penatua Feanor!"
Istina memanggil penatua Feanor yang ingin melakukan sesuatu dan meminta persetujuan darinya. Melihat Asteresee datang dan masih dalam mode pelepasan segelnya, untuk menolong Impian dan menerjang kedalam wilayah lempengan batu yang mengamuk, dirasa kurang jika hanya satu orang saja menurut Istina.
"makhluk kuat itu sudah tidak ada, aku ijinkan jika kamu ingin melepas segelmu"
Penatua Feanor mengerti dengan apa yang ingin dilakukan oleh Istina. Melepas segel yang hanya dimiliki oleh setiap anggota Ranting Borneo untuk meningkatkan kemampuan mereka secara instan.
Istina ingin melepaskan segel dan berubah kemode yang lebih tinggi untuk menyelamatkan Impian. Mendapatkan persetujuan dari penatua Feanor, Istina mengumpulkan mana diseluruh tubuhnya dan bersiap melepaskan segel.
Mendengar pembicaraan mereka berdua, Astaresee telah mendapatkan kesimpulan dan bersiap untuk menerjang sesaat setelah Istina siap.
"MENJAUH SEPULURUH METER DARI SINI!!!"
Namun tiba-tiba teriakan lain terdengar dari arah Impian. Mendengar itu, seluruh elf yang berada disekitar lempengan batu langsung sigap menjauh dari area itu.
Seakan mereka sangat mempercayai dan mendapat sebuah ilham tanpa pertanyaan ataupun keraguan dalam tindakannya. Sesigap mungkin seluruh elf langsung menjauh begitu mendengar perintah tersebut.
Sesaat setelah teriakan itu terdengar, bola energi super besar tiba-tiba tercipta seluas sepuluh meter dari lempengan batu. Sangat besar dengan aliran percikan listrik hitam yang menghiasi itu.
Untung saja Istina dan Asteresee yang ingin menerjang ke arah lempengan batu tidak jadi melakukannya. Entah apa yang yang akan terjadi kepada mereka berdua jika tetap melakukan hal itu dan tidak mendengarkan peruntah teriakan yang terdengar sebelumnya.
Energi itu terlihat sangat dasyat. Seluruh tanah yang dilalui energi bola hitam itu menghilang dalam keketiadaan.
Bahkan udara yang berada disekitar bola energi super besar itu lenyap. Tekanan super kuat dan daya penghancur itu bahkan dapat dirasakan hanya dari merasakan dan melihat area sekitarnya saja.
Bahkan, saat melebarnya bola energi hitam, seluruh monster yang berusaha dihadang agar tidak mengganggu Impian oleh para elf, tubuh mereka musnah begitu mengenai bola energi hitam itu.
"apa yang terjadi?"
"apa ada monster kuat lain yang muncul!?"
__ADS_1
Para pemain yang melihat kejadian dan tidak tahu apa yang sedang terjadi di tengah pertarungan mereka, bertanya-tanya. Mereka semua menjadi khawatir dengan peristiwa yang sedang berlangsung.