INK START FANTASY : Impian

INK START FANTASY : Impian
CHAPTER 160 : KEPERCAYAAN ITU


__ADS_3

"tuan Impian"


Astaresee datang bersama ksatria Ranting Borneo lain.


Setelah pertempuran melawan makhluk Chaos usai, setiap pasukan bergerak ke wilayah ini untuk kembali bertempur melawan penyihir hitam dan para undead-nya. Melihat Astaresee yang sudah ada disini, berarti setiap prajurit telah tiba dan membantu pasukan lainnya.


"ah, paman Astaresee"


"kami akan membantu"


"pergilah ke dua pilar cahaya disana paman. Kekuatan kalian lebih dibutuhkan disana"


"serahkan yang disini pada kami! Dengan kemampuan bocah ini, menghadapi keroco-keroco disini hal yang mudah!"


Doranda memotong pembicaraan setelah melihat para ksatria Ranting Borneo yang datang dan mendekati Impian.


"tunggu"


Ketika para ksatria Ranting Borneo telah bersiap untuk segera pergi, Tannivh menghentikan mereka. Drinya memandang Doranda-


"kami memang akan segra pergi bukan karena kami tidak perlu membantu disini dan menyerahkan yang ada disini pada kalian, tetapi kami mendengarkan kata-kata tuan Impian"


Kemudian Tannivh memandang Astaresee karena dirinyalah pemegang posisi pertama Ranting Borneo. Posisi yang lebih tinggi dari Tannivh sendiri sebelum mulai mengucapkan pendapatnya.


Mendapat persetujuan atas anggukan jawaban dari Astaresee, Tannivh memandang kearah Impian-


"dan tuan Impian, berhenti menyarankan kami tanpa penjelasan terlebih dahulu dan membiarkan kami yang memikirkan kedepannya sendiri. Setidaknya, tolong beritahu pada kami situasi disana saat ini"


Tannivh mencurahkan semuanya. Para ksatria elf memang sangat mendengarkan Impian bahkan tanpa pertanyaan sedikitpun, itulah sebabnya, begitu Impian mengatakan untuk mengurus sisi dimana kedua pilar cahaya berada, mereka langsung segera ingin pergi kesana.


Berbeda dengan Tannivh, yang memiliki kecerdasan lebih tinggi diantara seluruh ksatria Ranting Borneo yang bertanya lebih lanjut. Itu juga mengapa Astaresee memberikan persetujuan kepada Tannivh untuk mengutarakan pendapatnya.

__ADS_1


"hahaha, bukannya aku tidak mau paman, tetapi aku tidak memiliki kesimpulan lebih dari situasi yang ada. Akan lebih baik jika kalian melihat sendiri dan menyimpulkan tindakan apa yang harus kalian ambil, karena pengalaman kalian lebih banyak ketimbang aku"


"kalau begitu, tolong utarakan apa saja yang anda ketahui"


Doranda bingung dengan pertanyaan Tannivh saat ini. Impian selalu ada ditempat ini dan tidak pernah sekalipun ketempat dibawah pilar-pilar cahaya yang ada.


Akan tetapi, kenapa Tannivh meminta penjelasan situasi disana seakan Impian lebih tahu ketimbang bertanya langsung orang-orang yang ada di tempat itu langsung. Para elf lainnya juga diam saja dan seakan pertanyaan itu memanglah pertanyaan yang tepat untuk diajukan.


"hmm... pertama adalah lawan-lawan yang ada. Sisi sebelah kiri, penyihir tengkorak yang sedari tadi menggunakan sihir elemen es lebih sering, terdapat 22 ksatria tengkorak panggilannya yang memakai armor penuh dan 8 ksatria berkuda tanpa kepala. Saat ini penyihir tengkorak itu melawan dua ksatria beastman yang salah satunya adalah paman Gerald. Lalu sisi sebelah kanan, terdapat 8 penyihir gelap dengan 72 makhluk panggilannya. Hanya saja, dua penyihir gelap dari delapan yang ada, memiliki jumlah mana 2x lipat dari penyihir tengkorak yang sedang dihadapi paman Gerald. Mereka berdua seakan menahan diri dan bersikap sama dengan keenam penyihir gelap lainnya. Kemudian ada masalah dengan pe-non-aktif-an pilar cahaya itu, berbeda dengan empat pilar cahaya yang telah berhasil di hilangkan, kedua pilar cahaya itu memiliki metode aneh. Setiap kali 16 orang yang sedang berusaha menonaktifkannya terganggu, prosesnya akan kembali ke awal. Itu menjadi kemungkinan kedua pilar cahaya masih aktif hingga sekarang. Kesimpulan? aku juga tidak tahu.. hehe"


Impian memuntahkan seluruh situasi apa yang dia tahu tanpa melewatkan satu-pun.


Tentu saja, Impian tidak pernah berada di tempat itu sekalipun, tetapi skil [The Great One Who's See The Truth], selain dapat melihat jarak yang sangat jauh, juga dapat melihat status orang lain. Itulah sebabnya Impian mengatakan 2 orang dari delapan penyihir hitam disimpulkan olehnya memiliki mana lebih tinggi dari penyihir tengkorak.


Impian mencurigai ketidak beresan itu, tetapi tidak dapat menyimpulkan apa yang terjadi. Kemampuannya hanya bisa melihat apa yang ada di depan mata, bukan kebenaran dibalik itu semua.


Impian tidak pernah memeriksa ataupun mencari kebenaran itu, karena dirinya selalu berada di tempat ini dan tidak mencari kebenaran dengan menuju tempat para penyihir-penyihir hitam berada. Itulah sebabnya Impian hanya mengatakan untuk menyerahkan masalah disini kepada para ksatria elf ini dan menyerahkan kepada mereka untuk penyelidikan lebih lanjut.


Bukan berarti Tannivh tidak mampu maupun berguna untuk membedakan kemampuan dan jumlah mana yang dimiliki setiap orang di hadapannya meski dirinya salah satu penyihir hebat di kerajaan Onteral. Tannivh hanya bertanya agar menghindari ketidak pastian lawan memiliki alat atau perlengkapan yang mencegah seseorang melihat melalui dirinya.


Jika sudah terjadi hal itu, maka akan sangat wajar bahwa sampai saat ini tidak ada seorangpun yang mencurigai kedua penyihir hitam itu meski dikerubungi oleh banyak orang. Tannivh berbicara untuk memastikan tidak terjadi salah terka dan mengurus orang yang salah.


"pakaian mereka sama persis..., kurasa tidak ada ciri khusus pembeda antara delapan dari mereka..., ah! mungkin anda bisa mencurigai kedua penyihir itu, karena mereka berdua hampir selalu berada di posisi paling belakang"


Mendengar itu, penjelasan yang telah diberikan oleh Impian, seluruh ksatria Ranting Borneo melihat kearah Astaresee untuk meminta perintah lebih lanjut. Astaresee yang merupakan pemegang posisi pertama dari ksatria Ranting Borneo, merupakan kewajibannya untuk memberi keputusan akhir bagi mereka.


"aku sendiri yang akan menghadapi penyihir tengkorak, kalian pergilah ketempat delapan penyihir hitam. Tangkap kedua penyihir yang mencurigakan menjadi prioritas utama. Jangan biarkan mereka lolos"


""atas kehendak-mu""


"kita bergerak!"

__ADS_1


Mendengar itu, seluruh elf langsung bergerak sesuai yang diperintahkan Astaresee. Prioritas telah ditetapkan dan tujuan telah jelas.


"aneh rasanya... mereka begitu mempercayaimu. Siapa sebenarnya kamu bocah?"


Setelah ditinggal oleh ksatria elf kembali, Doranda bertanya kepada Impian. Keheranannya akan sosok seseorang yang bahkan tidak memiliki ras yang sama oleh mereka, begitu dipercaya.


Tidak hanya mendengarkan dengan penuh seksama, tetapi juga mempercayai seluruh informasi yang dikatakan langsung oleh Impian. Jika itu Doranda sendiri, dirinya akan memastikan terlebih dahulu dengan melihat melalui matanya sendiri, kemudian baru setelah itu memutuskan tindakan apa yang akan diambil.


Astaresee yang segera memerintah berdasarkan hanya dari informasi yang diungkapkan Impian, terlihat jelas bahwa dia mempercayai Impian seratus persen. Bahkan ksatria Ranting Borneo lainnya tidak menuntut kejelasan lebih lanjut, yang juga menjelaskan bahwa mereka juga mempercayai bocah baru yang tidak begitu lama mereka kenal.


"mana kutahu paman. Kenapa tidak anda tanyakan sendiri kepada mereka?"


"bukankah itu sudah jelas? Itu karena tuan Impian adalah ksatria suci Saintess kami!"


Aderai yang ikut berbicara dengan memotong pembicaraan mereka berdua dipandang sinis oleh Doranda. Jawaban yang tidak masuk akal seperti itu bukanlah jawaban yang dibutuhkan olehnya.


Tentu saja, setiap ksatria hebat dari berbagai kerajaan akan dihormati dan dipandang tinggi oleh yang lainnya, tetapi hanya itu saja. Tidak berarti mereka yang memiliki posisi tinggi seperti itu akan begitu dipercaya di tempat lain, apalagi kerajaan yang berbeda.


Jika seperti itu, sama dengan yang diucapkan Aderai, maka posisi Saintess yang memiliki ras dan kewarganegaraan lain akan menjadi lebih tinggi diantara para elf. Jika seperti itu, kerajaan Onteral hanya akan menjadi kerajaan bawahan Lorena dan dewa yang mereka sembah bukan dewa yang disembah oleh elf selama ini, tetapi dewa yang sama dengan dewa yang di puja oleh warga kerajaan Lorena.


"kesampingkan tentang itu. Kita lanjutkan mengeliminasi para undead?"


"..yah, mereka sudah menunggu-mu untuk bertindak"


Ini ditengah perang, tidak mungkin seluruh aktivitas terhenti begitu saja untuk menunggu petinggi-petinggi mereka yang sedang berbicara. Para undead tetap ditahan dan diurus oleh seluruh prajurit tanpa menunggu hanya untuk mendengarkan petinggi mereka saling berbicara.


Para prajurit tetap bergerak dan hanya menunggu untuk Impian melancarkan serangan terakhir. Tidak ada satu-pun aktivitas yang terhenti.


"kalau begitu-"


Exp gratis-ku! aku datang!

__ADS_1


__ADS_2