
Banyaknya senjata yang di bawa Impian dari tempat persenjataan yang telah di sediakan di pinggir arena.
Keempat pisau di pegang Impian, sedangkan sisa senjata lain ditaruh di lantai dekat tubuhnya.
"apa yang dia lakukakan?"
Inilah pertanyaan yang terlontar dari setiap orang yang menyaksikan, yah, satu beastman yang sedang menonton saat ini.
Sembari berjongkok, Impian mengalirkan mana ke semua senjata yang ada, untuk memperkuat dan memberikan efek yang di inginkan Impian.
[The Great One's Who Control Mana] bekerja saat ini. Tidak hanya kepada tubuh Impian, tetapi juga pada senjata-senjata yang di bawanya.
Setelah di rasa 'ia cukup dengan hal itu, Impian berdiri dan menancapkan ke empat pedang, tiga dari yang baru di ambil dan satu yang di pegang sebelumnya serta tidak lupa satu tombak tertancam di sebelah kanan dekat dirinya.
"aku datang paman!"
Impian berkata dan berteriak ke arah Saron.
Wus!
Ngung...!
Satu..
Dua...
Tiga...
Empat...
Satu persatu pisau yang di pegang Impian saat ini di lempar ke arah Saron berdiri.
Tidak mengambil jeda, dua pedang di lempar setelah pisau, kemudian senjata terakhir, tombak yang tertancap di tanah Impian ambil dan lemparkan.
Konsep yang Impian lakukan adalah Impian mencoba mengikuti dari serangan yang di lancarkan oleh malaikat bersayap hitam di menara persidangan.
Hanya saja, apa yang di lakukan Impian, berjalan dengan cara manual.
Semua senjata di lempar dan Impian terjun kearah Saron. Semua di lakukan dengan sangat cepat.
Saron sendiri tidak tinggal diam.
Menangkis pisau, satu, dua, kemudian mencoba mengarahkan pisau yang terlempar kembali kepada Impian.
Salah satu pedang yang di lempar, terhalau dari pisau yang di balikan oleh Saron. Satu pisau bebas dan terbang ke arah Impian.
Impian yang telah berlari dengan kedua pedang di masing-masing tangannya, berpijak pada linkaran sihirnya untuk melompat beberapa centi agar kakinya sejajar dengan pisau yang mengarah padanya.
Bug!
Pisau kembali terlempar ke arah Saron karena tendangan Impian mengembalikan arah pisau tersebut. Tidak berhenti di sana, sembari mengembalikan pisau dengan tendangannya, salah satu kaki Impian berpijak di lingkaran sihir lain dan terbang menuju Saron.
Pisau memang mudah di tangkis, tetapi senjata lain seperti pedang dan terakhir tombak, butuh usah lebih untuk menangkisnya.
Trang!
Trang!
Prang!
Pedang dari arah kiri di tangkis, pedang arah kanan di tangkis.
Tombak datang dan Saron dengan pergerakan pedangnya mengubah arah tombak tersebut.
Pisau yang kembali datang bersamaan dengan tombak melaju ke arah kaki kanan Saron.
Saat tombak di halang, Saron hanya mengangkat kaki kanannya untuk menghindari pisau.
__ADS_1
Tiba-tiba Impian datang di samping bawah kiri Saron dan bersiap menyerang dengan kedua pedang yang di pegangnya.
Satu pedang mengarah pada satu-satunya kaki yang masih berpijak di tanah dan satu pedang lainnya mengarah ke belakang leher dari Saron.
Semua itu terjadi dengan sangat cepat.
Saron yang memiliki posisi sulit, berdiri dengan satu kaki dan pedang yang telah di ayunkan untuk menghalau tombak dari senjata-senjata terakhir yang tersisa, tidak dapat berbuat banyak.
Pertaruhannya adalah 'ia terkena salah satu dari dua pedang Impian atau terkena kedua serangan dan membunuh Impian di tempat dengan pedang yang di pegangnya.
Serangan Impian memang bisa di anggap 'tak berarti untuk orang seperti Saron.
Hanya saja, di sini Saron sebagai penguji yang akan mendesak Impian untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Tetapi, hanya dari satu trik yang di gunakan oleh Impian, 'ia sudah terdesak.
Tidak boleh terkena serangan begitu saja, karena sebagai penguji dan memiliki level yang jauh lebih tinggi juga tidak boleh membunuh Impian karena Impian merupakan orang yang lagi di uji.
Selain itu, tidak hanya pertandingan mereka di saksikan oleh bawahan-bawahannya, tetapi Saintess dan tamu kerajaan hadir saat ini.
Aura tebal muncul dan terpancar secara langsung dari tubuh Saron.
"ack!"
Akibat hal tersebut, tubuh Impian terpental beberapa meter bahkan sebelum 'ia berhasil melancarkan serangan terhadap Saron.
Bergulung beberapa kali hingga akhirnya berhenti.
-4231
[Anda terkena efek Fear]
[Pengaruh efek negatif telah berkurang oleh perlawanan tubuh anda]
[Efek Fear akan terjadi selama 0.5 detik]
Angka kerusakan keluar dari tubuh Impian. Terkena pancaran auranya saja sudah membuat kerusakan yang besar pada tubuh Impian.
Selain itu, aura tersebut telah memberikan efek Fear pada tubuh.
Meski begitu, efek negatif yang di terima Impian telah berkurang secara drastis akibat Title, Kelass, dan blessing yang Impian punya.
"GILA..."
Gerald mengepalkan tangannya dan merinding menyaksikan pergerakan Impian yang terjadi hanya beberapa detik saja.
Selain itu, dapat terlihat di samping, Saintess yang duduk setiap saat di tempatnya telah berdiri saat ini.
"apa yang terjadi?"
Meski banya penonton dari prajurit yang ada terperangah dari tindakan Impian, tetapi Gerald dan Saintess sampai berekspresi seperti itu.
Gerakan Impian memang bagus dan wajar jika para prajurit memiliki ekspresi kekaguman, tetapi Gerald dan Saintess?
Salah seorang penjaga Saintess yang merupakan seorang High Priest berkata dan berpikir atas apa yang terjadi.
"tidak hanya melempar secara akurat, tetapi semua senjata yang di lempar di lapisi mana dengan cara berbeda"
Penjaga lain yang memiliki kelass petarung menjelaskan kepada penjaga high priest tersebut.
"melapisi senjata dengan cara berbeda?"
"keempat pisau di lempar dengan lapisan mana pemberat, sehingga meski di lempar pertama kali, kecepatan dengan senjata berikutnya tidak terlalu jauh. Kemungkinan dia berpikir bahwa pisau dapat di halau dengan mudah dan bahkan dapat berbalik arah ke arahnya langsung"
"...."
"dari ekspresi yang di tunjukan oleh tuan Saron, sepertinya 'ia berpikir hal tersebut saat mengembalikannya"
__ADS_1
"ah!"
Seakan high priest tersebut tersadar dengan apa yang di ucapkan sesama teman penjaganya dan menyadari bahwa ekspresi tuan Saron sedikit berbeda saat itu.
"kemudian kedua pedang di aliri dengan mana yang memiliki perluasan dampak serangan, itu terlihat saat salah satu pisau yang berbalik arah mengenai salah satu pedang yang terbang"
"..."
"akibatnya tuan Saron memilih menangkis pedang tersebut dan tidak menghindarinya. Mengetahui senjata-senjata tersebut di aliri mana dengan cara yang berbeda, tombak dari senjata terakhir datang lebih cepat, padahal di lempar paling terakhir"
"ya..."
"itu menunjukan bahwa tombak di aliri dengan mana percepatan. Saat menghalau pedang dan tombak datang lebih cepat, tubuh akan berfokus untuk menghalau kembali tombak tersebut, tetapi pisau juga datang ke arah kaki tuan Saron"
"meski memiliki posisi sulit, tuan Saron harus menangkis tombak karena reflek?"
"benar, tetapi semua itu ternyata hanya pengalihan dari serangan sesungguhnya"
"serangan yang di arahkan ke kedua titik yang berbeda dalam posisi yang sulit"
"ya, jika kekuatan mereka seimbang, tuan Saron pasti kalah. Sayangnya orang tersebut masihlah seorang pemula"
Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari teman pejaganya, high priest tersebut mau tidak mau ikut merinding dengan apa yang telah terjadi.
Seorang pemula dapat mengalahkan tuan Saron? bagaimana jika 'ia telah mencapai level yang sama?
Siapa itu Saron?
Apakah hanya kesatria paladin biasa?
Seorang NPC yang memiliki level sangat tinggi?
Bahkan saat Impian menyebut dia dengan sebutan 'paman', banyak dari prajurit yang ada merasa marah dan dianggap Impian tidak menghormatinya.
Meski begitu, dalam beberapa gerakan yang baru di tunjukan Impian, Impian telah memojokan Saron tersebut.
Disisi lain, Impian telah berdiri kembali.
aku tidak bisa lagi menggunakan trik, sepertinya harus habis-habisan.
Senjata-senjata yang di kumpulkannya sudah tidak ada, mereka terbang karena tangkisan yang di lakukan Saron.
Senjata-senjata itu telah berada di berbagai tempat di sekitar arena.
"hu... hu..."
Setelah berpikir seperti itu, Impian menghembuskan nafas perlahan-lahan dan mengaliri dirinya dan kedua pedang di tangannya lebih besar dan lebih tajam.
"ronde dua paman!"
"majulah!"
Impian berlari ke arah Saron.
Tebasan jarak jauh yang menciptakan aura potongan melesat ke arah Saron. Sembari berlari, Impian melakukan hal tersebut beberapa kali.
Saron menangkis semua serangan yang melesat kepadanya.
Tiba-tiba, tanah di bawahnya terangkat tinggi dan membawa Saron menuju ke atas. Impian menggunakan hal yang sama kepada dirinya sendiri dengan tanah yang terangkat miring ke arah Saron berada.
Dengan momentum, Impian sampai di hadapan Saron dan mengangkat pedangnya. Seluruh mana terfokus pada pedang tersebut.
Saat pedang Impian terangkat, pijakan tanah yang mengangkat Saron ke atas tiba-tiba runtuh dan mengganggu keseimbangan Saron.
Melihat serangan datang, Saron hanya bertahan dengan pedang besarnya menghalau serangan Impian.
BANGG!
__ADS_1
BRUUUKKK!
Saron terlempar jatuh ke tanah dengan keras atas serangan Impian.