INK START FANTASY : Impian

INK START FANTASY : Impian
CHAPTER 76 : SIAPA IMPIAN?


__ADS_3

"sudah, tidak apa - apa, terimakasih banyak"


Impian berkata pada wanita pendeta di hadapannya. Pendeta tersebut sedang menyembuhkan Impian dari cedera - cedera yang di miliki.


Wanita pendeta itu, belum pernah di lihat sekalipun oleh Impian. Sepertinya, dia adalah salah satu yang berada di tempat ini sebelumnya.


Seperti hal-nya salah satu ksatria suci yang menyambut Sang Saintess. Beberapa orang sudah lebih dulu di kirim oleh kerajaan suci Lorena. Karena jalan buntu akibat perdebatan antar pemimpin yang tidak menemui titik temu, Sang Saintess datang ke tempat ini.


Impian berdiri dan berjalan menuju arah Saintess sedang berdiri. Terlihat saat ini, Gerald sedang dimarahi oleh raja elf.


"katakan apa yang sedang terjadi"


Bahkan sebelum Impian dapat menyapa, Sang Saintess berbicara terlebih dahulu kepada Impian. Seluruh mata penguasa tertuju kearah Impian.


Sebagai orang yang terlemah di antara mereka yang berada di tempat ini, apa yang di lakukan Gerald di anggap sebagai perilaku yang tidak terhormat. Apa yang terlihat oleh mereka yang baru saja keluar ruangan, adalah saat dimana Gerald memukul Impian hingga tembok salah satu bangunan hancur.


Dia yang memiliki posisi tinggi dan kemampuan yang mumpuni, bahkan menjadi salah satu dari delapan pilar Wildmanor, membully seorang remaja dengan kemampuan yang tidak seberapa. Sesuatu yang di anggap tabu bagi mereka yang telah memiliki posisi tinggi dalam benua ini.


"baik Yang Mulia"


Impian berkata pada Sang Saintess, kemudian menghadap pada raja elf yang sedang memarahi Sang singa besar, Gerald.


"Raja elf yang terhormat, apa yang tuan Gerald lakukan adalah bentuk pembelaan terhadap saya. Tuan Gerald memberi bantuan untuk-ku, agar kemampuan-ku di akui oleh yang lainnya"


Impian menjelaskan dan membela Gerald yang sedang di didik olehnya.


Apa yang mereka lihat, saat tepat keluar dari ruangan, adalah saat dimana Impian terkena pukulan langsung oleh Gerald. Impian yang masih memiliki level sangat rendah bagi mereka, di pukul hingga menghancurkan salah satu tembok bangunan yang ada.


Kesalah pahaman yang terjadi dari apa yang mereka lihat di waktu yang tidak tepat, adalah Sang singa besar, dengan gelar dan kemampuan hebat yang melekat padanya, membuli seseorang yang memiliki kemampuan jauh di bawah dirinya. Akan tetapi, Impian menjelaskan dan mengatakan bahwa Sang singa besar itu, membela dan membantu dirinya, hal yang berbanding terbalik dengan apa yang mereka lihat baru saja.

__ADS_1


Mendengar ucapan Impian, Raja elf terlihat terkejut dan menatap Impian dengan lebih intens. Perasaan yang akrab dapat dirasakan dari diri Impian. Hal yang sangat dekat bagi para elf.


Raja elf melangkah dan mendekat pada Impian.


Melihat hal ini, Impian cukup terkejut akan tindakan tiba - tiba raja elf tersebut. Impian melihat ke arah Saintess, tetapi balasan yang di berikan oleh Sang Saintess, hanya menganggukan kepalanya saja.


"kamu... aura dan pancaran kehadiran ini... suasana akrab yang dimiliki dari 'Tree Of Life'.... siapa kamu... apa hubunganmu dengan 'Tree Of Life'..."


Mendengar perkataan yang di utarakan oleh raja elf, seluruh orang yang berkumpul di sini tercengang akan perkataannya. Apa yang baru saja di ucapkan oleh raja elf, merupakan sesuatu yang telah di ketahui oleh seluruh orang di benua ini.


'Tree Of Life', adalah pohon sakral yang berdiri sebagai pusat dan pemujaan bagi para elf. Ditopang dan berdiri atas danau Insania, danau kehidupan dan sumber hidup bagi pohon tersebut.


Pria di depannya, Impian, yang berasal dari dunia lain, dunia para pemain, memiliki kehadiran dan suasana yang akrab raja elf, hal yang sama atas 'Tree Of Life'. Sesuatu yang tidak masuk akal, hal yang tidak dapat di mengerti sama sekali.


Kata - kata itu, sayangnya keluar langsung dari raja elf sendiri. Seseorang yang berdiri di atas bangsa elf, kerajaan Onteral. Apa yang tidak masuk akal dan tidak bisa di pahami sama sekali, tetapi siapa mereka, yang tidak bisa membantah kata - kata yang telah keluar dari Sang raja.


Impian sendiri, mendengar kata - kata itu, teringat akan kelas-nya yang di terima dari Origin. Makhluk dengan penampilan pohon yang aneh. Sedangkan arti dari 'Tree Of Life' adalah pohon kehidupan. Bentuk yang sama dengan bentuk yang di miliki oleh Origin. Keduanya, adalah sesosok pohon.


"Tree Of Life? apa itu?... ah, saya minta maaf sebelumnya, saya Impian, saat ini memiliki posisi sebagai calon ksatria suci Saintess, kerajaan suci Lorena. Sekali lagi, permintaan maaf saya, karena tidak mengetahui apa yang Yang Mulia maksud. Saya merupakan salah satu orang yang penduduk dunia ini sebut sebagai orang dari dunia lain, pengetahuan saya tidak seluas seperti Yang Mulia pikirkan"


Mendengar jawaban dari Impian, raja elf terdiam cukup lama. Seperti memikirkan apa yang baru di dengarnya dengan apa yang baru di lihat dan di rasakan sendiri olehnya.


"hmm... kamu harus datang dan melihat sendiri untuk mengerti maksud yang baru saja aku katakan-"


"raja Ferendir dari Onteral. Orang yang berada di depan anda saat ini, adalah salah satu ksatria di bawah naunganku. Anda tidak bisa begitu saja memutuskan apa yang anda inginkan kepadanya"


Sebelum raja elf itu menyelesaikan kata - katanya kepada Impian, Sang Saintess memotong dan mengingatkan siapa Impian kepada raja elf yang telah disebut namanya sebagai Ferendir.


"ah, maaf-kan perkataan saya Saintess Iskanav Asterick dari Lorena. Pria ini, benar - benar terasa sangat familiar dengan kehadiran 'Tree Of Life'. Hal yang tidak biasa bagi orang dari dunia lain sepertinya. Apakah memungkinkan, bagiku untuk meminjam salah satu dari kehadiran orang anda di tempatku?"

__ADS_1


Sekali lagi, kata - kata dari raja elf, menggemparkan seisi tempat ini. Undangan langsung dari pemimpin di kerajaan Onteral dan pengakuan dari Sang Saintess sendiri.


"raja Ferendir dari Onteral. Bagaimana jika aku meminjamkan ksatria-ku untuk mengunjungi kerajaan-mu, tetapi dengan syarat bahwa kamu menyetujui apa yang telah di diskusikan sebelumnya"


Seperti tertimpa air dingin di atas bara api. Bom jatuh yang di lemparkan oleh Saintess, membuat raja elf jatuh kedalam keputusan tersulit.


Dari kata - kata Saintess barusan, menandakan bahwa diskusi yang di lakukan oleh seluruh pemimpin di sini, sekali lagi menemui jalan buntu. Hal yang menandakan bahwa raja elf belum menyetujui proposal yang telah ada.


Sang Saintess, memberikan penawaran yang bahkan tidak masuk akal untuk di dengar. Menukar keputusan peperangan yang ada dengan kehadiran seseorang yang tidak di ketahui asal - usul-nya oleh raja elf tersebut.


Pertaruhan yang di tawarkan oleh Saintess sangat besar dan cenderung tidak masuk akal. Bagaimana bisa raja elf akan menerima tawaran seperti itu. Hal yang di pikirkan oleh semua orang di tempat ini, sama dan menyimpulkan bahwa raja elf akan menolaknya.


Seakan membantah atas pemikiran semua orang yang berada di sini, perilaku raja elf termenung mendengar ucapan dari Saintess, seakan dirinya sedang jatuh dalam pemikiran yang mendalam dari pilihan yang di berikan.


Apa yang tidak mungkin di setujui oleh raja elf dari tawaran Sang Saintess, raja elf termenung dan memikirkan pilihan tersebut.


"Yang Mulia, saya mendukung apapun keputusan dari Yang Mulia"


"Saya akan menerima keputusan yang di berikan dari Yang Mulia"


"apapun keputusan yang di ambil, saya percaya, semua itu demi tempat tinggal kami, Yang Mulia"


Ketiga elf yang berdiri di belakang raja elf, menyuarakan pendapat mereka dan tidak akan mempertanyakan keputusan apa-pun yang akan di ambil oleh raja mereka.


Jika di lihat dari sosok dan tempat mereka berdiri, maka ketiga elf tersebut merupakan seseorang yang memiliki status tinggi di kerajaan Onteral. Jika mereka bertiga telah mengatakan seperti itu, maka, apapun keputusan yang di ambil oleh raja mereka, tidak akan merugikan kerajaan mereka sama sekali.


Mendengar seperti itu, maka siapa sebenarnya Impian?


Hal apa yang ada di belakangnya hingga menyamai keputusan perseteruan yang telah terjadi?

__ADS_1


Kenapa sosoknya begitu penting bagi para elf?


__ADS_2