INK START FANTASY : Impian

INK START FANTASY : Impian
CHAPTER 47 : PUSAT LAPANGAN LATIHAN KERAJAAN


__ADS_3

Impian melewati setiap jalan yang ada di ibu kota dengan kereta kuda milik tuan Dendilf. Tidak ada penjelasan lebih lanjut yang di terima Impian dari tuan Dendilf.


Hingga akhirnya Impian membuka keheningan yang ada dengan bertanya.


"kemana kita akan pergi?"


"kita akan menemui tuan Saron, dia adalah pimpinan kesatria sanintess"


"untuk....?"


"perijinan untukmu sebagai 'Chosen One', aku tidak memiliki kuasa lebih untuk memutuskan secara langsung"


"ijin untuk...?"


Dendilf mengerutkan keningnya terhadap pertanyaan Impian, ia merasa Impian bodoh atau pura-pura bodoh.


"menentukan kelass yang lebih tinggi untuk-mu ambil, sebagai seorang 'penerus tiga pelindung' kelass yang dapat di ambil memiliki pilihan lebih tinggi dari pada kelass biasa yang bisa di ambil dari yang lainnya"


"..."


"tetapi kamu adalah 'Chosen One', gelar-mu lebih tinggi dari 'penerus', kapasitas keputusan yang ku miliki sudah tidak ada untuk menentukan kelas yang dapat kamu pilih"


"jadi semua tentang kelas ya..."


Meski sudah memiliki kelas-nya sendiri, Impian tetap diam dan mengikuti alur.


Impian masih memiliki tiga sub kelass yang ada, jika dapat di isi dari pilihan kelas yang dapat di ambil, kenapa tidak?


Semakin banyak kelas yang di miliki, semakin kuat seorang pemain, jadi Impian hanya mengikuti arus yang ada.


...----------------....


"apa tuan Saron berada di dalam?"


Dendilf bertanya pada salah satu penjaga setelah turun dari kereta kudanya bersama Impian.


Tempat itu cukup besar. Bagian luar tempat itu seperti gelanggang olah raga.


Beberapa penjaga di taruh pada pintu masuk.


"selamat siang tuan Dendilf, tuan Saron berada di section IV, Yang Mulia Saintess juga bersamanya. ah! tamu kenegaraan juga bersama mereka"


"tamu kenegaraan? kenapa mereka membawa tuan Gerald ke tempat ini?"


"saya tidak tahu tuan"


"baiklah kalau begitu"


Impian mengikuti Dendilf masuk ke dalam pusat latihan tentara kerajaan.


Pada bagian depan, meski besar dan terlihat seperti gelanggang olah raga, setelah memasuki bangunan lebih dalam, Impian melihat bahwa bangunan lebih besar dan luas dari yang dia kira.


Impian tidak bisa melihat seluruh isi bangunan, karena tempat itu sendiri memiliki area-area khusus mereka.


Tempat itu terdiri dari banyak bagian di dalamnya.


Impian yang mengikuti Dendilf, sampai di section IV.


Tempat itu seperti area pelatihan pertarungan, banyak dari arena yang terbuat dari batu khusus menyusun tempat itu.


Di salah satu bagian pinggir area tersebut, beberapa orang berkumpul di sana. Dendilf menuju orang-orang yang berkumpul.


"yang mulia"


Setelah sesampainya Dendilf di hadapan orang-orang yang berkumpul di sana, Dendilf memberi penghormatan dengan menundukkan kepala dan menaruh satu lengan pada dadanya.


Penghormatan tersebut biasa di lakukan oleh orang-orang di kerajaan ini kepada pemimpin mereka, sang Saintess.


Wanita itu tidak kalah cantiknya dengan AI pemandu. Wajah cantiknya bisa di perkirakan seumuran wanita berumur 20 tahunan.


Tetapi semua orang tahu, bahwa sang Saintess telah memiliki umur di atas 40, meski begitu, sang Saintess masih terlihat sangat muda dan cantik.


"sir Dendilf. Apa yang membawamu ke tempat ini?"


"saya membaw-"

__ADS_1


"oh, 'Chosen One'..."


Bahkan sebelum Dendilf memperkenalkan Impian kepadanya, sang Saintess telah mengenali Impian dari hanya sekali pandang saja.


"Yang Mulia"


Impian mengikuti salam yang di tunjukan oleh Dendilf sebelumnya.


"apa ini? sepertinya hal menarik terjadi di sini"


Singa yang berdiri dengan dua kaki dan berpakaian layaknya manusia bahkan berbicara menghampiri di mana tempat Dendilf dan Impian berada.


"jaga sikapmu di hadapan Yang Mulia, Gerald!"


Seorang lelaki gagah berumur sekitar 30-an memotong dan memperingati singa itu yang di sebutnya Gerald.


"ah, maafkan saya"


Manusia Singa itu 'pun meminta maaf kepada sang Saintess.


"kebiasaan saya karena melihat sesuatu yang menarik, ada hal tidak biasa terpancar dari orang itu, aku menjadi tertarik karenanya"


"dia adalah salah satu 'Chosen One' dari Lorena"


"...ah! jadi begitu! sepertinya masa depan Lorena akan lebih hebat"


Gerald merasa bahwa bukan hanya itu yang ada pada Impian, tetapi karena Saintess memperkenalkannya seperti itu, Gerald menerimanya.


"baiklah Dendilf, aku yang akan mengbil alih dari sini"


"baik, tuan Saron"


Setelah mengucapkan itu, Dendilf berbalik ke arah Impian.


"tuan Saron yang akan membimbingmu ke depannya"


Dendilf menjelaskan kepada Impian dan Impian menjawab Dendilf dengan anggukan.


Gerald "jika tuan Saron sendiri yang membimbingnya, calon masa depan Lorena akan berkembang sangat baik"


Saintess "itu sudah merupakan tradisi bagi seseorang sebagai 'Chosen One' di bimbing oleh yang terbaik"


Saron "tetap di sini bersamaku, setelah urusan di sini selesai, aku akan melihat kemampuanmu. Setelah itu, kita akan menentukan yang terbaik untukmu kedepannya"


Saron menjelaskan kepada Impian untuk langkah selanjutnya.


"hey! tidak adil jika hanya kamu yang melihat kemampuannya"


Gerald berkomentar setelah mendengar penjelasan dari Saron.


"kami di sini masih memandumu Gerald"


"ya, kamu sendiri tahu aku bukan, tuan Saron? meski di sini aku sebagai utusan politik, aku lebih menyukai hal-hal semacam ini. Kalian bahkan membawaku untuk melihat-lihat pusat latihan kalian, jika aku bisa melihat kemampuannya secara langsung, itu lebih dari cukup untukku"


Setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Gerald, Saron memandang Saintess. Sang Saintess menganggukan kepalanya menyetujui saran dari Gerald.


"huh~ baiklah 'nak, sepertinya penilaian kemampuanmu harus di jadwalkan lebih maju. Kamu dapat mengambil senjata-mu di sana"


Saron pergi ke arah arena dan menunggu Impian.


Impian sendiri pergi ke tempat persenjataan yang telah di siapkan di sekitar arena dan mengambil satu pedang dari sana.


Setelah itu, Impian menaiki arena dan melihat kearan Saron berdiri.


"majulah 'nak, keluarkan semua yang kamu miliki"


Impian melihat saron yang memegang satu pedang panjang besar di tangannya.


Saron Arterick Lorena


Kesatria Paladin Saintess


Lvl 416


Perbedaan lvl sangat besar, lebih dari 400 level jika di bandingkan dengan Impian.

__ADS_1


menggunakan pedang besar ya, apa karena seorang paladin?


Impian berpikir bahwa Paladin akan menggunakan perisai dan senjata di masing-masig tangannya.


Tetapi Saron yang tidak menggunakan perisai dan sebaliknya menggunakan pedang besar, Impian berpikir bahwa tujuan dari pedang besar tersebut di pergunakan sebagai senjata bertahan selain untuk menyerang.


Ini adalah test kemampuan, sangat kecil kemungkinan Saron akan menyerang. Lebih memilih pedang di banding perisai yang dia kuasai untuk bertahan, berarti Saron tidak ingin Impian terlihat seperti tidak bisa apa-apa dalam menyerang Saron.


masih mengalah dan memberikan kesempatan ya... yah wajar saja dari perbedaan level yang jauh


"ada apa 'nak?"


"ah, maaf, aku datang"


Setelah mengatakan itu, Impian melesat menuju Saron berdiri.


"oh!"


Gerald yang melihat Impian maju dan menyerang Saron mengeluarkan suara kekaguman.


Kecepatan dan berat serangan yang di lancarkan Impian, jauh di atas seseorang yang memiliki level sama dengannya.


"woah..."


Tidak hanya Gerald yang bersuara, beberapa prajurit yang berada di sekitar arena juga melihat Impian di sana.


Saat melihat pemimpin mereka, Saron, menaiki arena dan seorang pemula yang di hadapinya, banyak dari mereka ikut melihat pertandingan itu.


Bahkan, empat orang yang berdiri di sisi Saintess, terkejut dengan hal itu. Meski tidak ada kata-kata kekaguman yang keluar dari mulut mereka, ekspresi wajah yang di tunjukan sudah cukup menggambarkan emosi darinya.


Sang Saintess sendiri tersenyum indah melihat yang terjadi di arena.


Disisi lain, Impian yang menyerang bertubi-tubi, merasa kesalndengan apa yang terjadi saat ini.


Tidak ada satu seranganpun yang berarti, sial!


Impian mengutuk dirinya sendiri karena meski kecepatan dan berat serangan yang di tampilkan jauh di atas orang-orang yang berlevel sama dengannya, seluruh serangan Impian di tangkis seakan tidak berarti di hadapan Saron.


Impian menghentikan serangan tiba-tiba dan pergi ke tempat persenjataan kembali.


"hah?"


Seluruh orang yang menyaksikan terkejut dengan sikap Impian.


"apa yang kau lakukan 'nak? apa hanya itu?"


Bahkan Saron sendiri bingung dengan perilaku Impian.


"hey paman! apa aku boleh menggunakan lebih dari satu senjata?"


Impian berteriak dan bertanya kepada Saron yang masih di arena.


"apa!? paman!?"


Tidak hanya satu dua prajurit yang melihat pertandingan berkata ketidak sukaan mereka karena Impian memanggil pemimpin mereka dengan sebutan 'paman' di banding 'tuan'.


Hal tersebut di artikan oleh prajurit di sana, bahwa Impian tidak menghormati pemimpin mereka.


"buahaha paman! dia memang sudah cukup umur untuk di sebut paman!"


Bahkan Gerald berkomentar dengan hal tersebut.


"sudah lama Saron tidak di panggil seperti itu..."


Saintess berkata seakan mengingat kenangan indah masa lalunya.


"gunakan apapun yang kamu kuasai 'nak!"


Seakan tidak masalah dengan ucapan yang di lontarkan Impian, Saron menjawab pertanyaan Impian dengan santai.


Impian mengambil empat pisau, tiga pedang dan satu tombak bersamanya.


"apa!?"


"apa yang akan dia lakukan?"

__ADS_1


"memangnya semakin banyak senjata yang di gunakan akan semakin kuat seseorang!?"


Banyak komentar dari para prajurit yang di utarakan atas tindakan Impian.


__ADS_2