
Adi mencoba membuka pintu gudang untuk segera keluar, akan tetapi pintu tak bisa di buka.
“Kenapa tidak bisa di buka?” tanya Adi dengan terus berupaya membuka pintu tersebut.
Caca tertawa kecil menganggap bahwa Adi sedang bercanda dengannya.
“Pak Adi, memangnya Caca anak kecil apa yang bisa dibohongi?” tanya Caca dengan santai.
“Bapak tidak bercanda, ini pintunya tidak bisa di buka,” jawab Adi yang mulai panik.
“Sini biar Caca saja,” balas Caca dan mencoba membuka pintu tersebut, namun tidak berhasil.
Caca terlihat masih tenang karena ada Adi di dekat.
“Lucu kali ya kalau kita terkunci di sini,” ucap Caca yang tentu saja hanya untuk mencairkan suasana.
Gadis itu yakin bahwa pintu sebentar lagi bisa di buka.
“Kita tunggu saja 5 menit lagi, mungkin sekarang sedang macet,” tutur Caca dan duduk di salah satu kursi kosong dengan santai.
Baru saja Caca selesai berbicara, suara kilatan petir kembali terdengar dan kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Duaaaarrrrr!!!!
Caca seketika berlari mendekat ke arah Adi yang masih berusaha membuka pintu.
“Pak Adi, kenapa suara petirnya makin menakutkan?” Caca memeluk lengan Guru olahraganya dengan sangat erat.
“Caca, lepaskan lengan Bapak. Kamu perempuan dan Bapak laki-laki,” ucap Adi.
Dengan terpaksa Caca melepaskan lengan Adi dan mengambil jarak beberapa meter.
“Bagaimana, sudah puas sekarang?” tanya Caca ketus.
“Kamu diam di situ dan jangan sedikitpun maju mendekat,” tegas Adi.
Adi memeriksa saku celananya untuk mencari ponsel miliknya yang ternyata tidak ada di saku celananya.
“Astaghfirullah,” ucap Adi yang baru ingat bahwa ia tidak membawa ponsel.
“Astaghfirullah kenapa, Pak Adi?” tanya Caca yang mulai panik.
“Ponsel Bapak tertinggal di ruang Guru. Kamu bawa ponsel?” tanya Adi.
Caca seketika itu juga mengambil ponsel di ranselnya dan ternyata kehabisan daya baterai.
__ADS_1
“Astaghfirullah, ponsel Caca habis baterai. Mana tidak bawa charger,” tutur Caca.
Posisi gudang sekolah paling belakang dan tidak mungkin ada murid pergi ke area gudang dengan kondisi hujan deras. Dan kemungkinan, para murid telah meninggalkan sekolah karena saat itu sudah hampir mendekati sore.
Caca mulai panik dan berusaha untuk mendekati pintu.
“Berhenti, jangan dekati Bapak!” perintah Adi yang cukup keras menjaga jarak dengan Caca.
“Siapa juga yang mau dekat dengan Pak Adi? Caca itu mau membuka pintu,” balas Caca dan maju mendekati pintu.
Sekuat dan sekeras apapun mereka mencoba, pintu itu tidak bisa di buka.
Plap! Lampu ruangan itu mendadak mati dan semuanya menjadi gelap.
Caca yang panik berteriak histeris karena ia memiliki trauma dengan kegelapan.
“Caca, ini Bapak. Kamu yang tenang,” ucap Adi di dalam kegelapan sembari menyentuh kedua pundak Caca agar muridnya itu tidak panik ketakutan.
“Pak, ini kenapa gelap semua? Kenapa juga gudang ini tidak memiliki jendela dan hanya memiliki ventilasi kecil?” tanya Caca dengan suara gemetaran.
Adi tak bisa membiarkan Caca ketakutan hingga suaranya gemetaran seperti itu, saat itu juga Adi menarik Caca ke pelukannya. Layaknya Guru yang menjaga muridnya agar tetap aman.
“Caca, ada Bapak di sini. Jangan takut, sebentar lagi lampunya akan hidup,” ucap Adi mencoba menenangkan Caca.
“Pak Adi, Caca mau segera keluar dari gudang ini. Caca sangat takut, tolong keluarkan Caca dari sini!” pinta Caca.
Caca menangis di pelukan Adi karena hanya Adi yang menurut Caca bisa melindunginya.
Ketika Adi mencoba berpikir keras, ia baru teringat kalau lampu di sekolah akan setelah para murid pulang ke rumah mereka masing-masing.
“Caca yang tenang, Bapak baru ingat kalau lampu di sekolah tidak akan hidup sampai besok,” ujar Adi.
“Lalu, bagaimana dengan lampu di area depan? Kenapa di area depan tidak mati?” tanya Caca yang pernah melewati sekolah ketika malam hari.
“Untuk khusus area depan, lampu akan terus menyala. Masalahnya ini kita berada di area paling belakang yaitu, Gudang sekolah,” pungkas Adi.
Caca semakin panik dan berharap kedua orangtuanya segera menemukan dirinya.
Di saat yang bersamaan, Mama Ismia dan Papa Rio mencoba menghubungi nomor telepon Caca yang saat itu sedang berada di luar jangkauan.
“Papa, bagaimana anak kita Caca? Bagaimana kalau ternyata di culik dan organ tubuhnya di jual?” tanya Mama Ismia yang sudah lebih dulu berpikiran yang tidak-tidak.
“Mama ini bicara apa sih? Kenapa bicara ngelantur tak berbobot seperti itu?” tanya Papa Rio yang kesal dengan ucapan Mama Ismia.
***
__ADS_1
Malam hari.
Hujan pada malam itu belum juga berhenti dan suasana malam semakin dingin. Berulang kali Caca bersin karena debu yang semakin banyak menempel padanya.
Meskipun dalam keadaan gelap, Adi masih bisa menjalankan kewajibannya sebagai umat islam. Yaitu, sholat dengan bertayamamum. Sementara Caca, kebetulan sedang datang bulan sehingga ia tidak sholat.
“Pak Adi! Pak Adi!” panggil Caca yang saat itu tengah bersandar di dinding.
Adi yang sudah selesai sholat, perlahan merangkak menuju dinding yang dekat dengan muridnya.
“Pak Adi!” panggil Caca yang mulai panik.
“Ada apa Caca?” tanya Pak Adi.
Dalam keadaan gelap, Caca masih sempat untuk mengomeli Adi Hidayatullah.
“Pak Adi kalau di panggil Caca itu yang langsung jawab. Caca kira Bapak pingsan, kalau pingsan bagaimana dengan Caca?” tanya Caca sembari meraba-raba tembok untuk bisa menempel dengan Guru olahraga itu.
“Caca, mau diapakan wajah Bapak?” tanya Pak Adi karena Caca sibuk meraba-raba wajahnya.
“Sorry Pak, Caca kira itu bukan wajah Bapak,” jawab Caca.
Caca tiba-tiba tersenyum dalam kegelapan karena ia baru ingat kalau malam itu, adalah malam minggu. Malam yang cukup spesial untuk menikmati waktu bersama pasangan.
“Pak Adi, boleh ya?” tanya Caca sambil memeluk lengan Adi.
Adi diam tak menjawab, yang artinya bahwa Adi menyetujui untuk Caca memeluk lengannya.
“Terima kasih,” ucap Caca yang terdengar malu-malu.
Caca mempererat pelukannya dan menyandarkan kepalanya di lengan Adi.
“Pak Adi, Caca mengantuk. Boleh ya tidur sebentar? Oya, malam ini adalah malam minggu. Sangat pas untuk kita berduaan di sini,” ucap Caca.
Adi merasa bahwa kedekatannya dengan Caca sudah tidak benar. Saat itu juga Adi mencoba melepaskan diri dari muridnya.
“Caca, lebih baik kita jaga jarak. Bapak Guru dan kamu murid,” ucap Adi dan tak sengaja tangannya menyentuh gunung kembar milik Caca.
Caca sama sekali tak menyadari hal itu karena ia terlalu fokus untuk memeluk erat lengan Adi.
Caca yang terlalu bersemangat menarik tubuh Adi hingga jatuh menimpa tubuhnya yang kecil.
Posisi mereka berdua saat itu benar-benar intim dan di saat itu juga Mama Ismia, Papa Rio, Penjaga sekolah dan Kepala sekolah melihat adegan intim itu.
“Astaghfirullah, Caca!!!!” Mama Ismia dan Papa Rio berteriak histeris melihat adegan intim antara Guru dengan seorang Siswi SMA.
__ADS_1