Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Menangis Bersama


__ADS_3

Caca mencium pipi chubby Yusuf dengan rasa bersalah, karena ketakutannya ia bahkan mengabaikan bayi kecilnya.


“Maafkan Bunda ya sayang, Bunda tidak bermaksud mengabaikan Yusuf. Yusuf minum susu ya,” ucap Caca menyusui buah hatinya.


Caca menyusui bayinya dengan tenang dan tak butuh waktu lama Yusuf pun terlelap.


Caca mencoba tetap tenang sambil menoleh ke arah luar sambil terus beristiqhfar memohon perlindungan dari Allah SWT.


“Sayang, kunyah permen karet ini. Permen karet ini bisa sedikit mengurangi stres,” tutur Mama Ismia sambil memberikan permen rasa stoberi.


Ponsel Ibu Puspita berbunyi dan buru-buru Ibu dari Adi membaca pesan tersebut.


“Ada apa, Mbak?” tanya Mama Ismia penasaran ketika melihat ekspresi terkejut besannya.


“Bukan apa-apa, Mbak,” jawab Ibu Puspita sambil menahan diri untuk tidak menangis.


Pesan yang baru saja Ibu Puspita baca adalah pesan dari suaminya yang memberitahu kondisi kritis Adi. Bahkan, kemungkinan besar putra kandungnya itu tidak selamat karena kehilangan banyak darah dan mengalami patah tulang di kedua tangan serta kaki kiri.


Ibu Puspita sengaja tidak memberitahu keadaan Adi sebenarnya kepada mereka. Lebih baik, mereka mengetahuinya ketika sudah sampai di rumah sakit.


“Ibu tidak apa-apa?” tanya Caca penasaran.


“Tidak apa-apa, Nak Caca. Kamu tidak perlu khawatir,” jawab Ibu Puspita seraya tersenyum.


****


Rumah Sakit.


Papa Rio, Mama Ismia, Ibu Puspita dan juga Caca telah sampai di depan ruang ICU.


“Apa ini? Kenapa ruang ICU? Apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Adi!” Caca berteriak histeris setelah baru saja tahu bahwa suaminya dirawat di ruang ICU.


Saat itu Yusuf berada digendongan Nenek tercinta dan bukan digendongan Caca.


“Mas, apa ini sebenarnya? Kenapa Adi dirawat di ruang ICU? Bukankah ruangan ini merawat pasien kritis?” tanya Papa Rio pada Ayah Faizal.


Pak Fattah yang berada di antara mereka memilih untuk pulang. Lagipula, semuanya sudah berkumpul untuk menanti kabar selanjutnya dari Adi.


“Maaf semuanya, saya harus permisi. Semuanya, tolong yang sabar ya. Saya dan keluarga di rumah akan mendo'akan Mas Adi agar bisa segera sembuh,” tutur Pak Fattah.


Pak Fattah pun mengucapkan salam sebelum pergi dan bergegas pergi dari rumah sakit.


“Mas, jangan sembunyikan perihal Adi. Kami juga perlu tahu!” pinta Ayah Faizal.


Perlahan air mata Ayah Faizal membasahi pipinya dan terduduk lemas dikursi rumah sakit.


Melihat Ayah mertua menangis, membuat Caca tiba-tiba saja berpikir negatif tentang kondisi suaminya.


“Ayah, ada apa dengan Mas Adi?” tanya Caca.


“Adi, sekarang kondisinya sangat kritis. Kedua tangannya patah dan juga kaki kirinya patah. Selain itu, Adi kehilangan banyak darah akibat dari kecelakaan,” ungkap Ayah Faizal.


Caca yang berdiri, seketika itu terkulai lemas. Mama Ismia dengan cepat meraih tubuh putri kandungnya dan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


“Mas, tolong ceritakan kronologi kejadiannya. Apakah Mas tahu?” tanya Papa Rio penasaran. Tentu saja dengan hati yang sedih.


“Saya tidak tahu pasti kronologinya, karena Pak Fattah juga hanya mendengar dari salah satu saksi yang melihat kejadian tersebut. Intinya, Adi ditabrak oleh truk yang melaju kencang dan sopir truk kabur begitu saja,” jawab Ayah Faizal.


Dengan kekuasaan yang Papa Rio miliki, tentu saja ia bisa menggunakan kenalannya untuk menangkap sopir truk tersebut. Papa Rio tentu saja akan memberikan ganjaran setimpal atas apa yang telah sopir truk itu perbuat.


“Mas Faizal tidak perlu memikirkan sopir truk tak bertanggungjawab itu. Malam ini juga sopir itu akan tertangkap dan tidak bisa kabur,” tegas Papa Rio sambil mengeluarkan ponsel miliknya untuk menghubungi pihak kepolisian.


Papa Rio bergeser menjauh dan terlihat jelas sedang mengobrolkan masalah kecelakaan yang dialami menantu kesayangannya.


“Mama, Mas Adi di dalam sana baik-baik saja, 'kan?” tanya Caca kebingungan.


“Lihat Mama sekarang! Caca, cepat lihat Mama sekarang!” perintah Mama Ismia agar Caca menatapnya.


Dengan sesegukan Caca menatap lurus Mama Ismia.


“Caca yang lebih tahu Adi. Apakah suami Caca adalah pria yang lemah? Guru olahraga tentu saja harus kuat dan tidak boleh lemah. Kalau Caca terus seperti ini, bagaimana dengan Adi dan juga Yusuf?” tanya Mama Ismia dengan lantang.


Caca kembali tenang dan cukup yakin bahwa suaminya adalah pria yang kuat.


“Sebentar lagi Maghrib, ayo kita cari masjid!” ajak Papa Rio.


Caca yang memang sedang datang bulan, hanya bisa mengikuti kemana para orang tua pergi.


Setibanya di Masjid, ada sebuah ruangan yang bertuliskan khusus Ibu dan anak.


“Caca sayang, kamu tunggu di dalam ruangan itu ya. Kami mau sholat maghrib dulu,” tutur Mama Ismia.


Perlahan Caca masuk ke dalam ruangan itu dan ternyata ada beberapa Ibu hamil beserta anak kecil.


Caca memutuskan untuk bersandar di ujung tembok sambil menyusui bayi Yusuf.


Pikiran Caca tiba-tiba saja teringat dengan keadaan suaminya, ia pun menangis sambil terus menyusui Yusuf.


“Mbak, ini saya ada tisu,” ucap seorang wanita sambil memberikan sebungkus tisu berukuran sedang.


“Terima kasih, Mbak.” Caca mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tipis.


Wanita yang memberikan tisu itu mengiyakan dan kembali ke tempat semula, tanpa ingin bertanya alasan mengapa Caca menangis.


Beberapa Saat Kemudian.


Para orang tua melaksanakan sholat maghrib dan juga sholat isya di Masjid. Mereka tentu saja. tidak ingin wara-wiri mengingat Caca yang memiliki seorang bayi.


Usai melaksanakan sholat isya, Mama Ismia menjemput Caca di ruang Ibu dan anak.


“Cac sayang,” ucap Mama Ismia ketika melihat Caca yang tengah menangis di pojok tembok.


Mama Ismia berlari kecil untuk segera memeluk putri kesayangannya.


“Mama, kenapa berat sekali untuk terlihat tenang? Yusuf masih sangat kecil, Ma. Caca takut kalau Allah lebih sayang Mas Adi dan membawa Mas Adi pergi. Bagaimana nasib kami, Ma?” tanya Caca tersedu-sedu.


Mama Ismia akhirnya ikut menangis, masa bodo' dengan tatapan orang-orang yang di dalam ruangan itu. Ibu dan Anak itu menangis bersama karena kondisi Adi yang sangat kritis.

__ADS_1


Ibu Puspita menyusul keduanya karena tak kunjung keluar dari ruangan Ibu dan Anak.


“Ayah, Mas Rio. Saya permisi untuk menyusul Mbak Ismia dan juga Caca,” ucap Ibu Puspita menyusul besan dan juga menantunya.


Saat Ibu Puspita membuka pintu tersebut, hatinya sangat teriris melihat bagaimana besan dan juga menantunya menangis bersama serta saling berpelukan.


Ibu Puspita mengurungkan langkahnya untuk mendekati keduanya dan justru menangis di depan pintu.


Ibu Puspita menangis dengan terduduk tepat di depan pintu, ia menangis tersedu-sedu dan berharap Adi bisa segera sembuh.


Sekitar 30 menit, Caca dan Mama Ismia keluar dari ruangan itu.


“Mbak Puspita, kenapa duduk di sini?” tanya Mama Ismia yang kala itu sedang menggendong cucu pertamanya.


Mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain dengan mata yang sembab efek samping dari menangis.


Papa Rio dan Ayah Faizal dari kejauhan sebelumnya telah melihat bahwa Ibu Puspita menangis di depan pintu. Akan tetapi, mereka berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja. Padahal, dalam hati mereka terdapat kesedihan yang mendalam.


“Maaf, kami datang lama,” ucap Ibu Puspita.


“Tidak apa-apa, mari kita ke rumah sakit lagi,” sahut Ayah Faizal.


Mama Ismia dan Ibu Puspita berjalan diantara Caca. Mereka berusaha saling menguatkan satu sama lain untuk menghadapi ujian yang benar-benar menguras air mata serta pikiran.


“Dok, bagaimana dengan menantu saya?” tanya Papa Rio yang baru saja tiba di depan ruang ICU dan kebetulan seorang Dokter pria keluar dari ruangan tersebut.


“Maaf, kami belum bisa memastikan mengenai kondisi Tuan Adi. Akan tetapi, untuk sekarang ini Tuan Adi masih dalam keadaan kritis. Kami juga kekurangan stok darah, apakah diantara keluarga ada yang golongan darahnya B?” tanya Dokter bernama Jefry.


“Golongan darah saya B, Dok. Golongan saya dan Adi sama,” ucap Ibu Puspita.


“Kalau begitu, Ibu ikut saya sekarang juga!” pinta Dokter Jefry.


Ibu Puspita dengan langkah besar berjalan mengikuti Dokter tersebut untuk melakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu.


“Papa mau kemana?” tanya Mama Ismia.


“Darah Papa juga B, mungkin Papa bisa membantu,” jawab Papa Rio dan berlari kecil mengejar Dokter Jefry serta Ibu Puspita.


Caca tak banyak bicara, tenaganya benar-benar terkuras dan tidak sanggup lagi untuk bangkit dari duduknya.


Ayah Faizal beranjak dari duduknya dan permisi untuk membeli makanan. Karena dari siang mereka belum makan apapun.


Caca tentu saja tidak boleh egois, meskipun ia tidak lapar. Akan tetapi, bayi Yusuf butuh asi sehingga Caca harus mengisi perutnya dengan makanan.


“Ayah, tolong belikan Caca makanan,” tutur Caca dengan suara yang sangat lirih tak bertenaga.


“Iya Caca, Ayah akan belikan makanan untuk kita semua,” balas Ayah Faizal.


Caca maupun Mama Ismia berterima kasih kepada Ayah Faizal. Ayah Faizal mengiyakan dan bergegas mencari makanan untuk mengisi perut mereka.


“Caca sekarang duduk tenang, tadi ketika kami semua sholat. Kami meminta kepada Allah agar Adi diberikan kesempatan untuk hidup. InsyaAllah suami Caca sembuh. Man jadda wajada,” pungkas Mama Ismia.


“Bahwa siapa yang bersungguh-sungguh, pasti ia akan mendapatkannya. Dan semoga saja Allah mengabulkan kesungguhan do'a kita untuk kesembuhan Mas Adi,” sahut Caca.

__ADS_1


“Aamiin Allahumma aamiin,” balas Mama Ismia.


__ADS_2