Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Pelaku Pembakaran Warung Akhirnya Tertangkap


__ADS_3

Keesokan Pagi.


Adi maupun Caca melewati pagi itu seperti biasanya. Mereka tidak terlalu memusingkan apa yang terjadi dengan warung mereka. Yang terpenting, pelaku dari pembakaran warung milik mereka segera tertangkap dan mendapatkan ganjarannya.


Adi, Caca serta para orang tua tengah menikmati sarapan mereka. Pagi sekali, Ayah Faizal dan Ibu Puspita datang untuk menyemangati keduanya.


“Mas, Caca sudah kenyang. Mas habiskan ya!” pinta Caca yang sudah kenyang menikmati nasi goreng yang Mama Ismia buat dengan tangannya sendiri.


“Baiklah, biar Mas yang menghabiskannya,” balas Adi dan kembali mengunyah nasi goreng tersebut sampai habis.


Caca tersenyum lebar seraya mengelus perutnya yang membuncit karena ada bayi mungil di dalamnya.


Selesai sarapan, Adi pamit untuk pergi mengajar kepada istri dan para orang tua.


"Mas, jangan lupa buah srikaya ya!” pinta Caca mengingatkan suaminya kembali tentang buah yang ingin ia nikmati.


“Tenang, sayang. Mas tidak akan lupa. Caca mau seberapa banyak?” tanya Adi.


“1 Kg saja, Mas,” jawab Caca.


Adi mengiyakan dan bergegas berangkat ke sekolah untuk mengajar.


Caca tersenyum lepas seraya melambaikan tangannya kepada Adi yang perlahan meninggalkan dirinya.


Senyum Caca seketika itu hilang manakala Sang suami sudah benar-benar pergi.


“Kok langsung murung, Sayang? Jangan sedih dong!” pinta Mama Ismia.


Caca hanya menganggukkan kepalanya sembari berjalan menuju ruang keluarga. Mama Ismia dan Ibu Puspita dengan kompak memegang tangan Caca sembari menemani Caca pergi ke ruang keluarga.


“Mama hari ini tidak bekerja?” tanya Caca karena Mama Ismia belum juga mengganti pakaian.


“Mama berangkat jam 10, masih ada waktu. untuk pergi ke kantor,” jawab Mama Ismia.


Mereka bertiga duduk di sofa dan Caca menyalakan televisi.


“Mama, Ibu. Sepertinya acara memasak seperti ini cukup bagus untuk di tonton,” ujar Caca yang belum pandai dalam hal memasak.


“Caca mau Ibu buatkan rica-rica ayam seperti di TV?” tanya Ibu Puspita.


Caca tanpa pikir panjang mengiyakan dan ingin sekali merasakan enaknya rica-rica ayam buatan Ibu Mertua.


“Karena sudah ada yang ingin membuat rica-rica ayam, Mama buatkan juga minuman dinginnya ya Caca sayang?”


“Boleh. Pasti sangat enak makan rica-rica ayam ditambah minuman segar,” balas Caca.


Papa Rio menghampiri mereka di ruang keluarga untuk pamit bekerja.


****

__ADS_1


Sore Hari.


Adi yang sedang duduk di ruang keluarga bersama istri kecilnya, Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Adi pun menerima telepon tersebut dengan sangat antusias.


“Hallo, assalamu'alaikum!”


Adi nampak serius menerima telepon dari pihak kepolisian dan setelah mengakhiri panggilan itu Adi bergegas menuju rumah kontrakan untuk menangkap pelaku pembakaran warung.


“Mas, apakah pelaku pembakaran warung kita sudah ditangkap?” tanya Caca penasaran.


“Belum sayang, tapi polisi telah mengantongi identitas pelaku. Mas pergi sekarang ya, kamu diam di sini sama Mama dan Ibu!” perintah Adi agar Caca tak ikut.


Caca mengiyakan dan sebelum suaminya pergi, Caca memberikan pelukan hangat dan tak lupa memberikan kecupan di pipi Sang suami.


Adi tersenyum sembari membalas pelukan hangat istri kecilnya dan tak lupa memberikan kecupan kecil di bibir manis istri kecilnya.


Adi akhirnya pergi dan Caca hanya bisa mendo'akan agar semuanya lancar.


“Caca sayang, suamimu mau kemana? Kok buru-buru sekali?” tanya Mama Ismia yang sekilas melihat Adi berlari.


“Mas Adi tadi mendapatkan kabar dari pihak kepolisian, bahwa identitas pelaku pembakaran warung sudah dikantongi. InsyaAllah sore hari ini pelaku itu tertangkap,” jawab Caca.


Mama Ismia memeluk Caca sembari berdo'a agar semuanya baik-baik saja.


“Sekarang kita ke ruang makan. Ibu Puspita sudah memasak makanan untuk kamu,” ujar Mama Ismia mengajak Caca untuk bersama-sama pergi ke dapur.


Caca mengiyakan seraya tersenyum lebar, meskipun dalam hatinya sedang gelisah memikirkan keselamatan Sang suami tercinta.


“Ibu, terima kasih untuk masakannya. Caca sangat senang sekaligus terharu atas masakan yang Ibu masak ini,” tutur Caca berterima kasih.


“Iya sama-sama, sekarang duduklah dan nikmati semua masakan Ibu. Ibu harap kalian berdua mendapatkan gizi yang cukup,” balas Ibu Puspita.


Caca tersenyum manis sembari mengelus perutnya.


“Sayang, kamu belum lahir saja sudah diperhatikan oleh Nenek Puspita. Bagaimana jika kamu lahir nanti? Pasti Bunda tidak di sayang lagi sama Nenek Puspita,” ujar Caca pada calon buah hatinya.


Ibu Puspita dan Mama Ismia terkekeh mendengar apa yang Caca katakan pada calon cucu merek yang masih berada di dalam perut.


“Ibu dan Mama kenapa hanya berdiri? Ayo duduk, temani Caca menghabiskan makanan ini!” pinta Caca.


****


Adi telah sampai di rumah kontrakannya dan melihat sudah ada beberapa polisi yang menunggu kedatangannya.


“Assalamu'alaikum, maaf membuat Bapak-bapak menunggu saya,” ucap Adi sungkan.


“Wa’alaikumsalam, Pak Adi tidak usah sungkan dengan kami. Kami juga belum ada setengah jam di sini,” jawab salah satu polisi bernama Wiranto.


Adi buru-buru membuka kunci pintu rumah untuk mempersilakan mereka untuk segera masuk ke dalam sembari membicarakan masalah pelaku pembakaran warung miliknya dan istri.

__ADS_1


“Mari, silakan masuk!” Adi dengan ramah mempersilakan mereka berempat untuk masuk ke dalam.


Setelah semuanya masuk dan duduk di kursi, Adi izin ke belakang untuk membuatkan minuman.


Tak berselang lama, Adi datang dengan membawa nampan berisi kopi untuk empat polisi yang akan membantunya menangkap pelaku pembakaran warung.


“Silakan, kopinya di minum,” tutur Adi.


Sembari menikmati minum kopi, mereka mendiskusikan soal penangkapan yang sebentar lagi akan mereka kerjakan.


30 Menit Kemudian.


Adi serta empat polisi bersiap-siap mendatangi rumah salah satu tetangga yang jaraknya sekitar 100 Meter dari rumah kontrakan.


“Pak Adi, kami angkat meringkus pelaku dan Pak Adi berpura-pura sebagai tamu,” ucap salah satu polisi kepada Adi.


Adi mengiyakan dengan antusias dan tidak mau jika penangkapan itu gagal total.


Empat polisi memberi aba-aba dan merekapun bergegas dengan berjalan kaki.


Adi maupun empat polisi berjalan dengan berpencar agar tidak menarik perhatian para tetangga yang lain.


Huffttt.... Adi mencoba mengatur napasnya sebelum mengetuk pintu pelaku pembakaran warung.


“Assalamu'alaikum,” ucap Adi seraya mengetuk pintu.


Seorang wanita tua perlahan membuka pintu untuk Adi dan menatap Adi dengan penuh tanda tanya.


“Wa'alaikumsalam, Mas ini siapa ya?“ tanya seorang wanita yang tak lain Ibu dari si Pelaku.


“Mas Wawan ada, Bu?” tanya Adi.


“Oh, teman Wawan ya? Kebetulan Wawan sedang tidur dan tidak bisa di ganggu.”


“Boleh saya bertemu Mas Wawan, Bu? Ada hal penting yang mau kami bicarakan!” pintar Adi.


Ibu paruh baya itu mengangguk setuju dan mempersilakan Adi untuk masuk ke dalam rumah.


Ibu itu menuntun Adi menuju kamar Wawan dan memang benar. Wawan saat itu sedang tertidur pulas.


“Kalau memang penting tidak masalah. Tolong, bangunkan Wawan dengan pelan. Kalau tidak, dia akan marah sama Ibu.”


Adi perlahan masuk dan tak butuh waktu lama, polisi berhasil mengepung kediaman Wawan. Salah satu polisi masuk untuk menangkap Wawan yang ternyata tengah terlelap.


“Hei, siapa kamu?” Wawan tiba-tiba saja terbangun ketika melihat sudah ada Adi di hadapannya.


Wawan panik dan bergegas berlari menjauh, akan tetapi usahanya gagal. Ia sudah di tangkap dan tangannya sudah diborgol.


“Saudara Wawan, anda di tangkap atas dalang dari pembakaran warung milik Pak Adi,” ucap salah satu polisi sambil memperlihatkan surat penangkapan.

__ADS_1


Ibu dari Wawan hanya bisa menangis menyaksikan putranya dibawa paksa oleh polisi.


__ADS_2