Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Kami Suami Istri


__ADS_3

“Mas, sebaiknya kita pulang saja. Atau Mas tidak akan Caca beri jatah,” tutur Caca dengan suara cukup keras agar di dengar Intan.


Intan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Caca yang menggelikan.


“Pak Adi apa harus menggunakan cara murahan ini untuk membuat saya menjauh? Apa tidak ada cara yang lebih rasional lagi dari ini?” tanya Intan yang masih berpikir bahwa Adi dan Caca sedang bermain peran suami istri di hadapannya.


“Apakah saya harus menunjukkan hal yang biasanya dilakukan sepasang suami-istri?” tanya Adi dengan tenang.


“Coba saja!” seru Intan menantang Adi.


Intan sangat yakin bahwa Adi tidak akan berani melawati batas.


“Caca sayang,” tutur Adi seraya menyentuh pipi Caca dan mencium bibir Caca saat itu juga.


Intan terkaget-kaget hingga terjatuh lemas melihat Adi mencium Caca.


“Ka... kalian sungguh keterlaluan,” ucap Intan terbata-bata.


Intan syok bukan main melihat keduanya yang tiba-tiba saja berciuman di depannya. Dadanya sesak dan rasanya ingin mati saat itu juga.


“Saya rasa ini sudah cukup membuktikan kalau kami telah sah menjadi suami istri. Itu artinya, Bu Intan jangan pernah mengganggu suami saya ataupun mencoba mendekati suami saya,” tegas Caca.


Caca tersenyum sinis dan mengajak suaminya untuk segera pulang ke rumah.


Intan hanya bisa menangis bodoh melihat pria yang dicintainya pergi dengan salah satu murid mereka.


Satu-persatu orang berdatangan menghampiri Intan yang malang itu.


“Bu Guru kenapa menangis?” tanya salah seorang wanita pada Intan yang memang masih mengenakan seragamnya.


Intan yang malu terlanjur malu hanya diam membisu dengan air mata yang terus mengalir. Wanita itu tidak menyangka bahwa cintanya kepada Adi begitu dalam dan membuatnya terlihat bodoh di hadapan Adi serta Caca.


****


Caca tersenyum bahagia di kamarnya sembari mengingat tampang Intan yang sangat syok. Caca begitu puas melihat wajah Guru matematika yang menjengkelkan hatinya.


“Caca sangat senang melihat raut wajah Bu Intan. Lagian ya kalau dipikir-pikir Bu Intan itu cukup cantik, tapi sayangnya tidak pintar mengenai hati,” tutur Caca yang sedang rebahan sembari memeluk guling.


“Sudah jangan bahas lagi, sangat tidak penting,” sahut Adi yang sedang berkutat dengan laptop miliknya.

__ADS_1


“Caca ada pertanyaan serius buat Mas. Tapi, Mas harus jawab jujur ya!” pinta Caca penasaran.


“Sebentar lagi Mas selesai, Caca tunggu dulu ya!” pinta Adi.


“Oke deh, Caca tunggu!” seru Caca.


Sekitar 30 menit Caca menunggu dan akhirnya Sang suami menutup laptop tersebut.


Adi menghela napasnya dengan lega dan beranjak dari duduknya untuk segera bergabung bersama Sang istri di tempat tidur.


Caca tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya dengan posisi terlentang.


“Cepat sini!” pinta Caca dengan ekspresi genit.


Adi menelan salivanya ketika melihat istrinya berpose dengan genit. Istrinya itu memang pintar menggoda dirinya.


“Caca, jangan memancing hasrat Mas ya!” pinta Adi seraya berbaring di atas tubuh Caca.


Caca sama sekali tidak merasa sesak, karena suaminya tidak terlalu menekan tubuhnya.


“Ternyata Caca hebat juga dalam menaklukan hati Mas,” ucap Caca memuji dirinya sendiri.


Caca menggeliat merasakan kenikmatan yang suaminya mainkan di area lehernya dan tiba-tiba saja gangguan muncul.


Adi terpaksa menghentikan kenikmatan tersebut untuk melihat siapa orang yang menghubungi di jam malam seperti itu.


Tertera jelas nama Bu Intan, wanita yang tidak henti-hentinya mengganggu dirinya.


“Siapa, Mas?” tanya Caca penasaran.


“Bu Intan,” jawab Adi seraya memperlihatkan panggilan tersebut.


Caca yang kesal seketika itu bangkit dari tempat tidur.


“Biar Caca saja yang menerimanya,” tutur Caca sembari mengambil ponsel tersebut dari tangan Adi.


Caca menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.


“Hallo, assalamu'alaikum. Pak Adi, tolong jangan bohongi saya. Saya tahu bahwa kejadian tadi itu hanyalah kebohongan belaka. Kalau Pak Adi mau mengetes perasaan saya, tolonglah jangan pakai cara murahan yang seperti tadi. Apalagi melakukannya dengan murid kita sendiri,” ucap Intan panjang lebar seraya menangis.

__ADS_1


“Astaghfirullahaladzim, Bu Intan. Sebenarnya Ibu ini punya akal sehat atau tidak? Apakah saya perlu mengirim video intim kami agar Ibu percaya? Kalau sekali lagi Ibu Intan mengganggu suami saya, jangan salahkan saya melaporkan tindakan ini ke pihak berwajib,” tegas Caca dan mematikan sambungan telepon saat itu juga.


Adi melongo melihat betapa seramnya Sang istri ketika sedang marah. Hal itu, tentu saja membuat Adi cukup lega karena artinya Istri kecilnya itu tidak mudah di tindas oleh orang lain.


Prok! Prok! Prok! Suara tepuk tangan Adi seraya tersenyum lega.


“Kenapa?” tanya Caca kebingungan.


“Ada sisi lain dari Caca yang baru Mas lihat. Sepertinya, kalau di asah dikit lagi akan menjadi preman kampung,” jawab Adi menggoda istrinya.


“Preman kampung? Caca tidak mau menjadi preman kampung. Caca mau jadi penguasa hati Mas Adi,” pungkas Caca.


“Sini peluk!” Adi dengan semangat menarik istri kecilnya ke dalam pelukannya.


Sekarang Bu Intan pasti menangis di rumahnya. Salah siapa mengganggu suami orang. (Batin Caca)


“Sekarang jawab pertanyaan Caca dengan jujur! Apakah Mas pernah tertarik dengan Bu Intan walaupun hanya sedikit?” tanya Caca penasaran.


“Harus berapa kali Mas katakan kalau dari dulu Mas tidak ada perasaan sedikitpun untuk Bu Intan ataupun wanita lain. Hanya Caca yang bisa meluluhkan serta menaklukkan hati Mas,” pungkas Adi jujur.


Caca tersenyum lega mendengar jawaban suaminya. Hatinya berbunga-bunga dengan apa yang di dengarnya.


“Apa ada yang ingin Caca tanyakan lagi?” tanya Adi yang siap menjawab semua pertanyaan istrinya, apapun itu.


“Pertanyaan malam ini cukup sampai di sini,” sahut Caca dan semakin mempererat pelukannya.


Di sisi lain.


Intan menangis seraya menatap foto miliknya sedang tersenyum bahagia bersama Adi beberapa tahun yang lalu. Foto yang memiliki banyak kenangan ketika mereka masih menjadi guru honorer di sekolah.


“Intan, kamu kenapa menangis?” tanya Ibu dari Intan.


“Pria yang Intan sukai ternyata sudah menikah, Bu. Intan bingung Bu bagaimana menghadapi kenyataan ini,” terang Intan yang kini menangis seraya memeluk Ibunya.


Intan sering membicarakan Adi pada keluarganya dan bahkan Intan telah memberitahukan ke seluruh keluarganya mengenai pernikahannya bersama Adi.


“Intan, kamu tidak perlu menangisi pria tak bertanggungjawab itu. Masih ada pria di luar sana yang lebih baik dari pria itu.”


Orang tua Intan hanya tahu kalau Intan dan Adi memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman. Tentu saja mereka tahu dari mulut Intan dan bukan langsung dari mulut Adi.

__ADS_1


“Apa yang harus Intan lakukan, Bu? Intan sakit hati karenanya,” ucap Intan.


__ADS_2