
Caca duduk bersama Mama Ismia dan juga Ibu Puspita di ruang keluarga. Mereka bertiga sedang berbincang-bincang membahas perihal Caca yang kurang dari 3 Minggu akan melahirkan buah hati pertamanya bersama Adi Hidayatullah.
Sebagai calon Ibu, Caca cukup merasakan ketegangan karena yang ia tahu bahwa rasanya melahirkan sakitnya bukan main. Bahkan, ada beberapa Ibu meninggal dunia setelah melahirkan bayinya karena harus mempertaruhkan nyawa demi untuk melahirkan malaikat kecil ke dunia yang Fana ini.
“Mama, Ibu. Do'akan Caca ya agar proses melahirkan nanti lancar. Kalau sesuatu terjadi pada Caca tolong...”
“Hussssttt... Tidak baik bicara yang aneh-aneh. Sayang, kamu itu harus berpikir positif. Mama dan Ibu yakin kalau kamu akan baik-baik saja,” ucap Mama Ismia memotong ucapan Caca yang tidak enak di dengar.
Adi datang dengan membawa jus wortel untuk istri kecilnya.
“Sayang, ini jus wortel yang kamu mau,” tutur Adi dan memberikannya kepada Caca.
“Terima kasih, ya Mas,” ucap Caca dan meminta Adi duduk di sampingnya sebelum ia menikmati jus wortel tersebut.
Mama Ismia memberi isyarat mata agar mereka berdua segera meninggalkan Caca dan Adi berduaan di ruang keluarga.
“Bagaimana, Caca suka? Apa kurang manis?” tanya Adi setelah Caca berhasil menghabiskan segelas jus wortel.
“Manisnya cukup kok Mas,” jawab Caca dan meminta Sang suami untuk mengelus-elus buah hati mereka.
Adi tersenyum lebar dan melakukan apa yang diinginkan oleh Sang istri.
“Mas, kira-kira warung kita sudah jadi belum ya? Kok lama sekali pengerjaannya?” tanya Caca penasaran.
“Caca sayang, membuat sebuah bangunan juga butuh proses tidak langsung jadi. Mungkin tidak sampai seminggu warung kita sudah jadi,” jawab Adi.
“Caca belum mau pulang, kalau warung kita belum jadi,” tegas Caca yang sudah hampir 1 bulan tidak tinggal di rumah kontrakan.
Semenjak warung di bangun, Caca tinggal di rumah mertuanya selama 2 Minggu dan di rumah orang tuanya selama 2 Minggu juga. Jika warung belum juga jadi, Caca akan tinggal di rumah orang tuanya sampai warung itu juga.
Warung yang di bangun cukup besar dan letaknya terpisah dengan rumah. Dikarenakan keinginan Caca agar rumah kontrakan tidak menyatu dengan warung.
“Mas, selanjutnya warung kita di isi apa ya selain kebutuhan dapur? Coba Mas pikir-pikir, di sekitar tempat kita tinggal ada proyek. Lalu, 2 Km dari tempat kita ada perumahan yang sedang dalam pembangunan. Bagaimana kalau kita memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual makanan jadi?” tanya Caca yang jiwa bisnisnya begitu bersemangat untuk menambah pundi-pundi kekayaan mereka.
“Menurut Caca bagusnya kita usaha apa?” tanya Adi.
“Bagaimana kalau usaha laundry? Di samping rumah kita masih ada lahan untuk menjemur pakaian, Mas. Lagipula, untuk membuka usaha laundry cukup menguntungkan,” jawab Caca.
Adi tersenyum bangga dengan pemikiran istrinya dan mengiyakan apa yang istri kecilnya katakan.
“Semangat untuk kita ya sayang, masih banyak impian kita yang harus kita wujudkan,” ujar Adi dan kembali mengelus perut Sang istri.
__ADS_1
Bayi di dalam perut Caca bergerak dengan cukup aktif, hal itu membuat Adi dan Caca senang karena calon bayi mereka pasti setuju dengan perbincangan mereka berdua.
“Caca sayang, ayo ke kamar. Ada yang ingin Mas tunjukkan!”
“Apa Mas?” tanya Caca penasaran.
“Rahasia. Nanti juga Caca tahu sendiri,” jawab Adi dan membantu istri kecilnya untuk bangkit dari sofa mengingat Caca yang tengah hamil besar.
Adi dan Caca pun sama-sama melangkah menuju kamar. Ketika sedang menaiki anak tangga, Caca. berhenti sejenak karena cukup membuat napasnya terengah-engah.
“Mas, kalau dulu Caca bisa naik tangga sambil berlarian. Sekarang untuk jalan pelan saja sudah membuat napas Caca terengah-engah,” terang Caca sambil menyentuh dadanya sendiri yang cukup sesak.
“Sayang, itu efek dari mengandung. InsyaAllah setelah melahirkan nanti Caca tidak akan mengalami hal seperti ini lagi,” balas Adi.
Caca kembali melanjutkan langkahnya dengan terus dipegangi oleh Sang suami tercinta.
Setibanya di dalam kamar, Caca terkejut sekaligus senang melihat tumpukan pakaian bayi untuk calon buah hati mereka.
“Mas kapan membeli pakaian bayi ini? Banyak sekali,” ucap Caca.
Sebelumnya mereka sudah membeli pakaian bayi, hanya saja cuma beberapa setelan saja. Karena hampir semua yang membeli pakaian bayi serta peralatan bayi adalah Mama Ismia dan juga Ibu Puspita.
“Lucu sekali, Mas. Pasti bayi kita sangat senang, Terima kasih suamiku sayang,” tutur Caca dan mencium pipi kanan suaminya sebagai tanda terima kasih.
“Yang kiri juga dong!” pinta Adi.
Caca mencubit gemas hidung suaminya dan mencium pipi bagian kiri Sang suami.
“Sudah, 'kan?” tanya Caca.
“Sudah, dong!” seru Adi.
Adi menoleh ke arah jam di dinding yang ternyata bagus untuk beristirahat. Tanpa pikir panjang, Adi langsung mengajak Caca untuk tidur.
Caca mengiyakan ajakan Adi, bagaimanapun juga ia harus banyak istirahat karena setelah bayi mereka lahir, akan sangat sulit untuk beristirahat. Itu yang Mama Ismia dan Ibu Puspita katakan kepada Caca.
“Mas, sebelum tidur Caca mau mendengarkan Mas mendongeng!” pinta Caca yang ingin mendengar Sang suami mendongeng.
“Caca mau Mas mendongeng 'kan, cerita apa?” tanya Adi sambil mengambil buku dongeng milik Sang istri di rak buku.
“Dongeng cerita tangkuban perahu, Mas!” pinta Caca sembari menunjuk ke arah buku dongeng miliknya.
__ADS_1
Adi berhasil mengambil buku cerita dongeng dan bergegas naik ke tempat tidur. Tanpa pikir panjang dan tak ingin membuang-buang waktu, Adi memutuskan untuk segera membacakan dongeng untuk istri kecilnya.
Caca tersenyum kecil mendengarkan bagaimana Sang suami membacakan dongeng untuknya.
“Caca kok malah senyum-senyum? Tutup mata biar cepat tertidur!” perintah Adi.
Caca menggelengkan kepalanya dan meminta Sang suami untuk mencium keningnya terlebih dahulu.
Setelah mendapatkan kecupan dari Sang suami, Caca perlahan memejamkan matanya dan pada akhirnya ia tertidur.
Mengetahui Caca yang sudah terlelap, Adi pun memutuskan untuk segera tidur di samping istri kecilnya. Namun sebelum itu, Adi mengembalikan terlebih dulu buku dongeng ke tempat sebelumnya.
Beberapa jam Kemudian.
Caca baru saja menikmati es campur yang dibuat oleh Ibu mertuanya dan memuji es campur buatan Sang Ibu mertua.
Setelah menghabiskan semangkuk es campur, Caca meminta Ibu mertuanya untuk menemaninya pergi ke kamar. Dikarenakan, yang ada di rumah itu hanya Caca, Ibu Puspita dan asisten rumah tangga yang sebentar lagi akan pulang.
“Ibu, nanti setelah Caca melahirkan sering-sering main ke rumah kontrakan kami ya!” pinta Caca yang sudah berbaring di tempat tidur.
“Nak Caca tenang saja, Ibu pasti akan main ke rumah kontrakan. Kalau boleh ya Ibu mau sekalian menginap,” tutur Ibu Puspita.
“Benarkah? Kalau Ibu mau dan tidak merasa direpotkan Caca setuju saja. Mas Adi pun pasti senang,” balas Caca.
Ibu Puspita banyak waktu untuk ada di sisi Caca, lain halnya dengan Mama Ismia yang sangat repot dengan pekerjaan. Caca juga memaklumi hal itu, kalau tidak bekerja ya tentu saja tidak akan dapat penghasilan.
“Caca sedang melamunkan sesuatu?” tanya Ibu Puspita melihat menantunya yang sedang melamun.
“Tidak, Ibu. Caca tidak melamun,” jawab Caca.
“Nak Caca Ibu tinggal ke bawah dulu ya. Ingat, sudah jam segini Nak Caca tidak boleh tidur. Kalau untuk rebahan seperti ini tidak masalah, asal jangan tidur!” pinta Ibu Puspita.
“Ibu tenang saja, Caca pasti akan mengingatnya,” balas Caca.
Ibu Puspita tersenyum dan melenggang pergi meninggalkan Caca seorang diri di dalam kamarnya.
Caca menggigit bibirnya ketika merasakan tendangan dari bayi di dalam perutnya yang cukup keras.
“Sayang, kamu kenapa sih? Sabar ya, jangan terlalu bersemangat menendang perut Bunda ya!” pinta Caca dan mengelus-elus perutnya.
Caca menghela napasnya yang berat dan berharap Sang suami segera pulang karena dirinya begitu merindukan Sang suami tercinta. Padahal Adi belum genap 2 jam meninggalkan Caca di rumah.
__ADS_1