
Sejak kedatangan Fatimah dan Pak Yahya beberapa hari yang lalu, Caca nampak sangat murung. Caca bahkan berpikir jika dirinya meninggal setelah melahirkan, Fatimah dengan sangat mudah merebut suaminya.
Pikiran yang membuatnya ketakutan setengah mati hingga kondisi kesehatannya perlahan menurun.
Adi serta para orang tua sudah mencoba untuk membuat Caca tersenyum, akan tetapi sangat sulit melihat wajah ceria Caca seperti beberapa hari yang lalu.
“Mas, tinggalkan Caca sendiri!” pinta Caca yang ingin di dalam kamar seorang diri, tanpa ada suaminya.
“Sayang, kamu kenapa kok banyak diam begini? Ke mana istriku yang lucu, imut dan juga centil ini?” tanya Adi sambil menyentuh pipi istri kecilnya.
“Mas, tolong pergi!” pinta Caca dengan tatapan memohon.
Adi menghela napas panjang dan sebelum meninggalkan istri kecilnya di dalam kamar, Adi memberikan kecupan manis di bibir Caca.
“Caca sayang, kalau ingin sesuatu panggil Mas ya! Mas ada di ruang tamu,” tutur Adi.
Ibu Puspita tengah menjahit baju Caca yang bagian lengannya sobek, wanita paruh baya itu berharap Caca bisa segera ceria seperti sebelumnya.
“Adi, bagaimana Caca? Apakah sudah mau diajak bicara?” tanya Ibu Puspita penasaran.
“Belum, Bu. Caca bahkan tidak ingin bila Adi berada di kamar bersamanya,” jawab Adi dengan terduduk lesu.
“Kamu ya sabar ya, Adi. Sebentar lagi istrimu akan melahirkan dan sebagai suami kamu harus memberikan perhatian lebih kepada istrimu,” terang Ibu Puspita.
Ibu Puspita sangat menyayangi Caca, bahkan rasa sayangnya melebihi rasa sayang terhadap putra kandungnya, Adi.
“Lihatlah, baju Caca sudah tidak bolong lagi. Ibu sekarang ingin ke kamar menemui istrimu,” ucap Ibu Puspita dan beranjak dari duduknya untuk segera memberikan pakaian yang sudah dijahit nya kepada Caca.
Caca di kamar sedang duduk termenung sambil menyentuh perutnya. Semakin mendekati hari kelahiran bayinya, semakin takut pula Caca untuk menghadapinya.
“Caca, Ibu boleh masuk?” tanya Ibu Puspita yang berdiri di depan pintu.
“Masuk saja, Bu.”
Ibu Puspita masuk dengan senyum penuh keibuan.
“Ibu sudah menjahit baju kamu, Caca. Lihatlah sudah tidak bolong lagi,” ucap Ibu Puspita seraya memperlihatkan hasil jahitan nya yang rapi.
Caca tersenyum kecil sambil mengucapkan terima kasih kepada Ibu mertua.
“Caca sayang, boleh Ibu tahu kenapa akhir-akhir ini kamu banyak diam?” tanya Ibu Puspita penasaran.
Caca memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Ibu mertua, kalau ia memberitahu alasannya pasti Ibu Puspita akan menganggapnya aneh.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa, Bu. Caca sedang tidak ingin bicara,” jawab Caca berbohong.
“Ya sudah kalau memang tidak mau cerita sama Ibu. Ibu, suamimu dan juga orang tua kamu sangat sayang sama kamu, Caca. Kami tidak ingin melihat kamu sedih,” terang Ibu Puspita.
Ibu Puspita akhirnya keluar dari kamar karena sepertinya Caca sedang tidak ingin diganggu.
Beberapa Saat Kemudian.
Adi duduk di teras depan rumah sambil terus memandangi arah jalan seperti tengah menantikan seseorang. Ibu Puspita yang penasaran memutuskan untuk bertanya kepada putranya.
“Adi, kamu seperti sedang menanti seseorang. Siapa memangnya?” tanya Ibu Puspita penasaran.
“Adi sedang menunggu Lia dan Rina, Ibu. Adi sengaja mengundang mereka berdua ke rumah untuk menghibur Caca,” jawab Adi.
Lia dan Rina akhirnya datang dengan mengendarai mobil.
“Assalamu'alaikum,” ucap Lia dan Rina.
“Wa’alaikumsalam,” balas Adi dan Ibu Puspita.
Ibu Puspita sangat antusias menyambut kedatangan sahabat dari menantunya.
“Ya ampun, kalian berdua sama cantiknya dengan Caca,” puji Ibu Puspita.
Lia dan Rina tertawa lepas mendengar Ibu Puspita memuji kecantikan mereka berdua.
Jika Ibu Puspita sibuk membuat teh, kini giliran Adi yang menghampiri istri kecilnya.
“Caca sayang, keluarlah! Adi Lia dan Rina di depan,” ucap Adi sambil membelai rambut panjang Caca.
“Mas mengundang mereka ke sini?” tanya Caca.
“Iya sayang, Mas mengundang Lia dan Rina agar bisa menghibur Caca,” jawab Adi.
Caca tersenyum lega karena ternyata Sang suami begitu memperhatikan dirinya.
“Mas, apakah bantu Caca ke depan!” pinta Caca.
Adi membantu istrinya bangkit dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju ruang tamu.
“Caca!” Lia dan Rina dengan kompak mendekati Caca.
“Kalian berdua tidak masuk kuliah?” tanya Caca seraya tersenyum kecil.
__ADS_1
“Kebetulan tidak ada kelas hari ini,” jawab Lia dan Rina.
“Asik dong!” seru Caca seraya tersenyum lebar.
Adib tertegun melihat senyum istri kecilnya yang akhirnya kembali ia lihat.
“Caca, kamu kenapa terlihat sangat pucat? Oya, ini aku bawakan vitamin khusus Ibu hamil,” ucap Lia memberikan vitamin dari pamannya yang seorang dokter.
Caca menerima vitamin pemberian Lia dengan senang dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
“Caca, lihatlah wajahku! Apakah aku mirip dengan monyet?” tanya Rina sambil memasang ekspresi wajah seperti monyet.
Caca tertawa lepas begitu juga yang lainnya ketika melihat wajah Rina yang sangat mirip dengan monyet.
“Oh no, kalian tertawa itu artinya wajahku terlihat seperti monyet,” tutur Rina buru-buru menutup wajahnya.
Lia dan Rina bergantian menghibur Caca. Upaya mereka berdua ternyata berhasil tanpa ada kendala sedikitpun.
“Kalian banyak bicara, ayo minum teh yang dibuat oleh Ibuku,” ucap Caca mempersilakan kedua sahabatnya untuk menikmati teh sebelum melanjutkan perbincangan mereka.
Adi dan Ibu Puspita melempar senyum karena akhirnya Caca kembali ceria.
“Lia, Rina! Thank's ya sudah datang menghibur ku. Karena kalian berdua aku sudah sangat tenang,” terang Caca.
“Benarkah? Kamu seharusnya berterima kepada Pak Adi. Kalau saja Pak Adi tidak menghubungi kami, kami pasti tidak akan datang kemari,” jelas Lia.
Caca menoleh ke arah suaminya dan mengucapkan terima kasih karena telah mengundang kedua temannya untuk datang menghibur dirinya.
Adi mengiyakan seraya membelai rambut panjang istrinya yang dibiarkan terurai.
“Caca sayang, jangan sedih lagi ya. Mas ikut sedih dan juga bingung kalau Caca banyak diam,” pinta Adi.
Lia dan Rina menatap iri Caca yang mendapatkan suami setampan dan juga sebaik Adi.
“Pak Adi, kalau ada teman yang baik, tidak pelit, sopan dan setia tolong kasih tahu kami ya! Kami juga ingin memiliki suami yang spesifikasinya seperti Pak Adi,” ucap Lia serius.
Adi tertegun sejenak dan beberapa detik berikutnya ia tertawa setelah mendengar permintaan Lia.
“Lia, apakah kamu mau menikah muda?” tanya Caca penasaran.
“Bukan itu maksudku,” celetuk Lia sambil menunduk malu.
Rina menepuk punggung Lia untuk menyadarkan Lia agar tidak menikah muda.
__ADS_1
“Lia, kamu tidak boleh menikah muda. Kalau kamu menikah di usia muda, bagaimana denganku?” tanya Rina menunjuk dirinya sendiri.
“Itu artinya kamu juga harus menikah muda!” seru Lia dengan sangat santai.