Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Kontraksi Palsu


__ADS_3

Beberapa Hari Kemudian.


Caca meminta Sang suami untuk membawanya pulang ke rumah kontrakan. Caca merindukan suasana di rumah kontrakan mereka dan Adi mengiyakan permintaan Sang istri.


Para orang tua sebenarnya tak setuju dengan keinginan Caca, akan tetapi mereka juga tidak bisa memaksa Caca untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya.


“Caca sayang, coba kamu pikirkan lagi ya!” pinta Mama Ismia yang sangat berat berpisah dengan Caca yang tengah hamil tua.


“Mama, Caca sudah sangat lama tinggal di sini. Caca juga begitu merindukan suasana di rumah kontrakan kami, di sini terlalu besar,” pungkas Caca.


“Baiklah, kalau memang itu sudah keputusan kamu. Mama juga tidak bisa memaksa,” balas Mama Ismia dengan terpaksa.


Caca tersenyum lebar dan meminta Sang suami untuk membawanya ke kamar. Mereka harus bergegas mengemas barang-barang untuk dibawa pulang ke rumah kontrakan mereka.


“Maaf semuanya, kami permisi ke kamar,” ujar Adi sembari menuntun istri kecilnya menuju kamar mereka yang terletak di lantai atas.


Mama Ismia dan Ibu Puspita terlihat sangat khawatir dengan kondisi Caca yang tengah hamil tua. Mereka berdua berharap agar Caca tidak mengalami kesulitan selama berada di rumah kontrakan.


“Papa, apakah putri kita akan baik-baik saja?” tanya Mama Ismia.


“Mama jangan berpikiran berlebihan seperti ini, tidak baik juga untuk Caca dan calon cucu kita. Lagipula, ada menantu kita yang selalu siap siaga menjaga putri kita,” pungkas Papa Rio.


“Maaf kalau saya lancang, bagaimana kalau kita bergantian menginap di rumah kontrakan Adi dan Caca? Sembari berjaga-jaga kalau nantinya Nak Caca hendak melahirkan,” terang Ibu Puspita.


“Malam ini, biar kami yang menginap,” sahut Mama Ismia.


Papa Rio mengiyakan apa yang istrinya katakan dan disetujui oleh Ibu Puspita serta Ayah Faizal.


“Berarti, setelah itu esok harinya kami yang akan menginap,” ucap Ibu Puspita.


Begitulah kesepakatan para orang tua untuk menjaga Caca yang tengah hamil tua.


Di kamar.


Adi mulai mengemasi pakaian mereka ke dalam koper dan tak lupa memasukkan alat kosmetik Sang istri ke dalam tas ransel milik Adi.


“Mas, tolong sisakan lipstick dan bedak padat di atas meja rias untuk nanti siang,” ujar Caca.


Pagi itu cuaca cukup mendung dan Adi berharap siang hari tidak panas maupun tidak hujan. Karena, ia dan Sang istri akan kembali ke rumah kontrakan setelah sholat dzuhur.


“Mas, nanti pulang berkendara motor saja ya! Caca tidak ingin naik mobil,” ujar Caca yang lebih senang naik motor daripada mobil.


“Iya sayang, nanti koper kita taruh di depan,” balas Adi yang tengah sibuk memasuki alat kosmetik milik istri kecilnya ke dalam tas.


Caca hanya duduk sembari memperhatikan Sang suami yang tengah sibuk. Sebenarnya Caca ingin membantu suaminya, namun untuk duduk saja Caca sudah merasa tidak nyaman.


“Mas, tidak lelah karena Caca lagi-lagi tidak membantu?”


“Sayang, kamu ini bicara apa? Ini sama sekali tidak membuang tenaga. Sekarang lebih baik kamu beristirahat saja, lihat itu kaki kamu sudah bengkak,” balas Adi.


***


Siang Hari.

__ADS_1


Adi bersyukur karena cuaca siang hari itu tidak panas maupun tidak hujan. Dengan begitu, ia tenang membawa istri kecilnya pulang dengan mengendarai motor.


“Caca sayang, nanti malam Mama dan Papa akan menginap di tempat kalian. Mama harap kalian berdua tetap nyaman dengan kehadiran kami,” ujar Mama Ismia pada putri kesayangannya.


“Mama kok bicara seperti itu? Caca dan Mas Adi pasti senang karena ada Mama dan Papa di rumah kami,” balas Caca.


Caca kemudian pamit kepada orangtuanya dan juga mertuanya.


“Mama, Papa! Ibu, Ayah! Kami pulang ya,” ujar Adi.


Adi dan Caca kompak mengucapkan salam sebelum berpisah dengan para orang tua.


“Nak Adi, pelan-pelan ya membawa Caca!” pinta Papa Rio.


“Adi pasti akan membawa motor dengan hati-hati,” balas Adi.


Beberapa saat kemudian.


Adi dan Caca akhirnya tiba di rumah kontrakan mereka. Melihat keduanya yang baru saja pulang, Pak Fattah selaku pemilik rumah kontrakan itu bergegas menghampiri keduanya yang baru saja tiba.


“Assalamu'alaikum,” ucap Pak Fattah menyapa sepasang suami-istri yang baru saja tiba.


“Wa'alaikumsalam,” balas Adi dan Caca kompak.


Alasan Pak Fattah menghampiri pasangan suami istri itu hanyalah untuk menyapa dan berharap kejadian pembakaran warung tidak membuat keduanya merasa tak nyaman tinggal di rumah kontrakan itu.


Setelah cukup menyapa Adi dan Caca, Pak Fattah memutuskan untuk pamit.


Adi dan Caca tersenyum ramah melihat Pak Fattah yang perlahan pergi.


Adi mengiyakan dan membuka pintu rumah dengan tergesa-gesa.


“Akkhh... Sakit,” ujar Caca merintih kesakitan.


Adi yang panik seketika itu menggendong istrinya dan meletakkan istri kecilnya di kursi ruang tamu.


“Caca tunggu di sini sebentar, Mas akan membuka pintu kamar terlebih dulu,” ujar Adi yang terlihat panik.


Adi pun bergegas membuka pintu kamar dan cepat-cepat mengganti seprai kasur agar bisa ditiduri oleh Sang istri.


“Mas!” panggil Caca.


Caca dengan perlahan bangkit dari kursi dan berjalan dengan langkah berat menuju kamar.


“Mas, sakit sekali,” ujar Caca yang telah mengeluarkan keringat dingin.


Adi semakin panik dan memutuskan untuk membawa istri kecilnya ke rumah sakit.


“Sayang, ayo kita ke rumah sakit!” Adi menggendong istri kecilnya menuju depan.


“Mas, tolong turunkan Caca!” pinta Caca yang sudah tidak merasakan sakit di perutnya.


“Kita harus ke rumah sakit sekarang,” tegas Adi semakin panik.

__ADS_1


“Mas, Caca sudah tidak apa-apa. Mungkin ini yang dinamakan kontraksi palsu,” ungkap Caca yang masih berada di gendongan Sang suami.


“Benarkah begitu?” tanya Adi sembari menurunkan istrinya dengan hati-hati.


“Tolong antarkan Caca ke kamar!” pinta Caca yang ingin beristirahat.


Adi kembali menggendong istri kecilnya dan membawa Sang istri masuk ke dalam kamar.


“Terima kasih, suami terbaik Caca,” ucap Caca yang sudah berada di tempat tidur dengan posisi miring menghadap ke kanan.


“Syukurlah kalau sudah tidak apa-apa, Mas hampir saja mengalami serangan panik,” ujar Adi bernapas lega.


“Waktu persalinan tinggal hitungan hari, Mas. Jujur, Caca takut kalau....” Caca tidak sanggup meneruskan ucapannya.


“Sssuutt... Mas tidak ingin mendengar ucapan buruk. Mas yakin Allah akan menyelamatkan kalian berdua,” ujar Adi.


Adi meminta istri kecilnya tetap berbaring di tempat tidur, sementara dirinya membersihkan rumah yang sudah cukup lama tidak mereka tempati.


Caca sangat ingin membantu Sang suami, namun suaminya itu melarangnya dan meminta dirinya untuk tetap berada di atas tempat tidur.


“Mas, apakah adil kalau Caca hanya diam di tempat tidur? Sedangkan Mas sibuk membersihkan rumah,” ucap Caca.


“Sayang, ini sudah menjadi tanggungjawab Mas sebagai seorang suami. Sekarang, Caca lebih baik beristirahat,” balas Adi dan mengecup kening Sang istri sebelum melakukan pekerjaan rumah.


“Kalau capek, langsung istirahat ya Mas!” pinta Caca.


“Iya sayang, oya Caca mau dimasakin apa?” tanya Adi yang ingin memasak sesuatu untuk istri kecilnya.


“Terserah Mas saja, apapun yang Mas masak pasti Caca makan,” balas Caca.


“Baiklah. Sekarang, Caca mau minum teh hangat?” tanya Adi menawarkan teh hangat untuk istri kecilnya.


“Boleh. Gulanya sedikit saja ya Mas!” pinta Caca.


Adi mengiyakan dan bergegas membersihkan rumah. Hal pertama yang Adi lakukan ada menyapu lantai dan setelah itu mengepel lantai.


Tidak ada pekerjaan rumah yang tidak bisa ditangani oleh Adi. Semuanya dapat Adi lakukan dan sedikitpun tidak ada rasa bosan atau jenuh ketika membersihkan rumah. Justru, bagi seorang Guru olahraga itu adalah olahraga yang menyenangkan baginya.


Di dalam kamar, Caca kembali merasakan kontraksi palsu. Meskipun, tidak sesakit sebelumnya.


“Sayang, sudah tidak nyaman ya di perut Bunda?” tanya Caca sembari menyentuh perutnya.


Caca perlahan bangkit dari posisi berbaring dan mengubah posisinya menjadi posisi duduk bersandar di kepala ranjang.


“Sebentar lagi kita akan bertemu, sayang.” Caca nampak senang ketika berbicara dengan bayi di perutnya.


Adi masuk dengan membawa secangkir teh hangat untuk istri kecilnya.


“Kenapa duduk, sayang? Apakah kontraksi palsu lagi?” tanya Adi sambil meletakkan secangkir teh di atas meja.


Caca mengiyakan dan menjelaskan bahwa kontraksi palsu yang ia rasakan tidak sesakit sebelumnya.


Adi bernapas lega dan meminta istri kecilnya untuk memberitahunya jika kontraksi tersebut semakin sakit.

__ADS_1


“Caca pasti akan mengatakannya, Mas. Pokoknya Mas tidak perlu mengkhawatirkan Caca berlebihan seperti ini,” balas Caca.


“Iya, Mas percaya sama Caca. Sekarang, Mas kembali melanjutkan pekerjaan di dapur,” tutur Adi dan melenggang pergi menuju dapur.


__ADS_2