
Mama Ismia baru saja tiba di rumah setelah semalaman lembur di kantor bersama Papa Rio. Pagi itu, Mama Ismia baru saja masuk ke dalam rumah dan tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan adanya sahabat dari putri kesayangannya di dalam rumah.
“Hallo, Tante!” Lia dan Rina kompak bangkit dari sofa untuk menyapa Mama Ismia.
“Loh, kalian sudah di sini?” tanya Mama Ismia terheran-heran dan mempersilakan keduanya untuk duduk kembali.
Lia dan Rina tersenyum lebar sembari kembali duduk di sofa empuk tersebut.
“Tante, Caca ada? Kami ingin bertemu,” tutur Lia.
Mama Ismia pada akhirnya memberitahu mereka kalau Caca sudah tidak tinggal di rumah mewah itu.
Lia dan Rina tentu saja terkejut, mereka bahkan mengira bahwa Caca telah di usir.
“Tante kenapa mengusir Caca?” tanya keduanya kompak dengan raut wajah sedih.
“Tante sama sekali tidak mengusir Caca. Sekarang ini Caca sudah tinggal bersama suaminya,” jawab Mama Ismia.
“Apa? Suami?” Lia dan Rina terkaget-kaget mendengar bahwa Caca telah bersuami.
“Kalian berdua belum tahu kalau Caca sudah menikah?” tanya Mama Ismia heran.
Lia dan Rina kompak menggelengkan kepala.
“Kalian mau bertemu dengan Caca?” tanya Mama Ismia yang berniat membawa keduanya bertemu dengan Caca.
“Mau banget, Tante!” seru mereka penuh semangat.
“Bagaimana kalau nanti siang kalian ke sini lagi? Tante ingin istirahat dulu,” ujar Mama Ismia yang sangat butuh untuk tidur.
Keduanya sangat bersemangat karena akan bertemu Caca dan penasaran dengan suami Caca yang dikatakan oleh Mama Ismia. Mereka berdua sama sekali tidak berpikir bahwa pria yang menikahi Caca adalah Guru olahraga mereka sendiri. Yang mereka tahu, Caca menyukai Adi dan bukan menjadi istri Adi Hidayatullah.
***
Siang hari.
Caca tengah sibuk menyusun bahan-bahan yang telah mereka beli untuk berjualan di rumah. Hari itu, Adi tidak bekerja karena tidak ada jam kelas.
Tentu saja itu suatu keberuntungan untuk mereka berdua yang sedang ingin merintis usaha kecil-kecilan di rumah.
“Alhamdulillah ya Mas, kita sudah bisa membuka usaha kecil-kecilan di rumah,” ujar Caca penuh syukur.
Uang yang mereka belanjakan adalah uang milik Adi. Karena keduanya belum sempat untuk pulang ke rumah orang tua Caca dan mereka akan ke sana ketika malam tiba.
“Caca, lihatlah bukankah itu mobil Mama?” tanya Adi sembari menepuk pundak istrinya agar istri kecilnya segera menoleh ke arah mobil yang baru saja datang.
Mama Ismia pun turun bersama dengan Lia dan juga Rina.
Adi maupun Caca terkejut melihat Mama Ismia datang bersama dengan Lia dan Rina.
“Caca!” Keduanya berlari menghampiri Caca.
Mereka berpelukan layaknya teletubbies.
“Pak Adi kok bisa di sini?” tanya Lia terheran-heran.
“Tunggu, Jangan-jangan Pak Adi suaminya Caca?” tanya Rina memastikan dengan yakin.
Adi tersenyum seraya merangkul pinggang Caca, memberi jawaban dengan cara romantis.
__ADS_1
Mulut mereka menganga lebar mengetahui bahwa Guru yang disukai oleh Caca telah menjadi suami kenyataan untuk sahabat mereka.
“Caca, kamu pakai pelet apa untuk mendapatkan Pak Adi?” tanya Lia menggoda Caca.
“Pasti pelet di kaki gunung berapi ya?” tanya Rina yang juga menggoda Caca.
Mereka semua tertawa lepas mendengar pertanyaan Lia dan juga Rina yang sengaja menggoda Caca.
“Sayang, kalian sedang apa?” tanya Mama Ismia seraya memeluk putri kesayangannya.
“Mas Adi dan Caca ingin membuka usaha kecil-kecilan di rumah,” jawab Caca.
“Cie.. cie... Sekarang bukan Pak Adi lagi, tapi Mas Adi,” celetuk Rina sembari menahan tawanya.
“Kalian ini ingin aku kubur hidup-hidup,” ucap Caca yang sangat geram dengan celetuk Lia dan Rina.
“Sudah-sudah, lebih baik kita masuk dulu,” ujar Adi mempersilakan mereka untuk segera masuk.
Adi izin ke dapur untuk membuatkan teh, sementara Mama Ismia, Caca, Lia dan Rina berbincang-bincang di ruang tamu.
“Caca, cepat ke belakang. Bantuin suamimu,” bisik Mama Ismia pada Caca yang sedang asik berbincang-bincang dengan kedua sahabatnya.
Caca yang sedang berbicara dengan Lia dan Rina. Seketika itu, memutuskan untuk ke dapur menyusul suaminya.
“Caca kok ke sini?” tanya Adi melihat Caca yang baru saja tiba di dapur.
“Caca mau bantuin, Mas. Sini biar Caca yang membuat tehnya,” balas Caca yang meletakkan kantong teh ke dalam gelas.
Air mendidih dan dengan hati-hati Adi menuangkannya ke dalam cangkir.
“Caca bagian yang mengaduk!” pinta Adi.
“Wah, cocok nih jadi istri sholehah,” celetuk Rina menggoda Caca.
Wajah Caca seketika itu merah merona karena celetuk Rina.
“Caca, wajahmu kenapa memerah seperti itu? Cie... Yang salah tingkah karena di bilang istri sholehah,” celetuk Lia dan tertawa kecil.
Caca reflek menyembunyikan wajahnya di bahu suaminya dan seketika itu kedua sahabatnya terdiam seraya tersenyum lebar.
Mama Ismia pun ikut tersenyum lebar melihat bagaimana Lia dan Rina sangat senang menggoda putri tunggal kesayangannya.
“Caca, kedatangan kami ke sini selain karena kangen sama kamu, kami juga ingin menanyakan universitas mana yang akan kamu tempuh untuk melanjutkan pendidikan,” terang Lia.
“Memangnya kalian sudah menentukan jurusan apa yang akan kalian ambil?” tanya Caca penasaran.
“Sudah dong, kami berdua memutuskan mengambil jurusan ekonomi manajemen,” terang Lia.
Caca terkejut mengetahui bahwa kedua sahabatnya mengambil jurusan manajemen seperti dirinya.
“Ca, kamu kenapa kaget begitu?” tanya Rina terheran-heran.
“Aku kaget karena jurusan yang ingin aku ambil sama seperti kalian. Bagaimana kalau kita kuliah di kampus yang sama?”
“Wah, memang itu yang kami inginkan. Ayo, kapan kita berangkat mendaftar bersama?” tanya Lia.
“Soal itu, aku akan membahasnya bersama suamiku. Setelah semuanya berhasil dirundingkan, aku akan memberitahu kalian,” jawab Caca seraya menoleh ke arah suaminya yang ternyata sedang menatapnya dengan lekat.
Ketika mereka sedang berbincang-bincang, seorang wanita datang untuk membeli beras.
__ADS_1
“Assalamu'alaikum, Neng cantik jual beras?” tanya wanita itu kepada Caca.
Adi menyentuh pundak istrinya, memberi isyarat agar Sang istri tetap berada di ruang tamu. Sementara Adi melayani pembeli yang ingin membeli beras.
“Ada, Bu. Butuh berapa kilo?” tanya Adi.
“2 kilo saja,” jawab wanita itu kepada Adi.
Mama Ismia tersenyum bangga melihat bagaimana Sang menantu berusaha keras untuk menghidupi istrinya.
“Sorry ya teman-teman, aku tinggal sebentar ke samping,” ucap Caca yang ingin melihat bagaimana Sang suami melayani pembeli.
Warung mereka masih sederhana, yaitu mash dengan menggunakan meja panjang dan juga terpal.
Adi akan membuatkan sebuah ruangan khusus untuk dagangan mereka, ketika uangnya sudah cukup untuk menambah ruangan baru.
“Berapa, Mas?” tanya wanita seraya mengeluarkan uang kertas bernilai 50 ribu.
“Jadinya 24 ribu,” jawab Adi.
Caca pun memberikan kembalikan 26 ribu kepada wanita itu seraya mengucapkan terima kasih.
Setelah wanita itu pergi, Caca langsung memeluk suaminya dengan sangat senang.
“Alhamdulillah, hari ini yang beli cukup banyak ya Mas. Itu artinya, besok pagi kita belanja lagi,” tutur Caca.
“Iya, Alhamdulillah. Caca senang?”
“Tentu saja Caca sangat senang, Mas. Kalau begini terus, kita bisa cepat mengumpulkan uang!” seru Caca.
“Aamin, semoga Allah melimpahkan rezeki-Nya kepada kita,” balas Adi dan mengajak Sang istri untuk kembali ke ruang tamu.
Lia dan juga Rina tersenyum lebar melihat Caca menggandeng tangan Guru olahraga mereka.
“Ca, kapan kalian menikah?” tanya Lia penasaran.
“Beberapa bulan yang lalu,” jawab Caca seraya tersenyum malu-malu.
“Caca, Mama mau ke toilet dulu. Kalian lanjutkan obrolan kalian,” ujar Mama dan buru-buru ke kamar mandi.
Saat Mama Ismia melewati dapur, Mama Ismia penasaran dengan lauk makan mereka berdua. Karena penasaran, Mama Ismia mengangkat tudung saji dan melihat lauk makan Adi dan Caca yang hanya ada telur balado di atas meja makan.
Ditutupnya tudung saji tersebut dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
“Caca, bagaimana rasanya memiliki suami tampan seperti Pak Adi?” tanya Lia dengan berbisik.
“Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?” tanya Caca.
Lia reflek menepuk pundak Caca yang tak kunjung memberikan jawaban.
“Ca, aku tuh penasaran,” tutur Lia yang tak sabar ingin mendengar jawaban Caca.
“Intinya, aku sangat bahagia. Akhirnya, aku menikah dengan cinta pertama ku,” jawab Caca dengan berbisik.
“'Caca, kalian sedang membicarakan Mas ya?” tanya Adi.
“Iya, Pak Adi. Tadi Lia bertanya...” Lia tak bisa melanjutkan ucapannya karena Caca telah membekap mulutnya dengan tangan Caca.
“Bukan apa-apa, Mas. Hanya obrolan tidak penting,” ujar Caca yang terus membekap mulut Lia agar tidak banyak bicara.
__ADS_1