Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Ngambek Dan Pulang Ke Rumah Mertua


__ADS_3

Caca ingin menempuh pendidikan kuliahnya di kampus yang dekat dengan rumah. Bukan apa-apa, Caca ingin setelah pulang kuliah ia bisa langsung istirahat sekaligus melanjutkan tugasnya berjualan di rumah.


Pagi itu, Caca terlihat sangat sibuk memilih pakaian mana yang akan ia kenakan untuk pergi mendaftar kuliah bersama kedua sahabatnya, yaitu Lia dan Rina.


Adi menyusul istri kecilnya yang masih di dalam kamar dan rupanya belum juga mengganti pakaian.


“Mas, tolong pilihkan baju yang cocok untuk Caca pergi ke kampus!” pinta Caca yang sudah bingung dan tidak bisa memilih pakaian mana yang akan ia kenakan.


Adi dengan tenang membantu Sang istri memilihkan setelan pakaian yang pas untuk Sang istri.


“Bagaimana kalau yang ini? Kemeja biru dan berwarna abu? Sepertinya cocok untuk Caca,” ucap Adi yang telah memilihkan setelan untuk istri kecilnya.


“Mas memang yang terbaik,” puji Caca dan tanpa pikir panjang segera mengenakan setelan tersebut.


Adi tersenyum bahagia melihat Caca yang puas dengan setelan yang ia pilihkan.


“Mas, Caca pakai bedak dan lipstick ya?” tanya Caca.


“Boleh, tidak apa-apa. Biar kelihatan segar di wajah,” jawab Adi.


“Mas memang yang paling pengertian,” ucap Caca dan mengoleskan bedak padat ke wajahnya, kemudian tak lupa menggunakan lipstick berwarna pink agar bibir tak terlihat pucat.


Setelah semuanya sudah dipastikan rapi, Adi pun bergegas mengantarkan istri kecilnya menuju kampus yang dimaksud oleh Sang istri.


15 Menit Kemudian.


Mereka akhirnya tiba di area kampus dan ternyata sudah ada Lia serta Rina yang menunggu Caca.


“Caca!” Lia dan Rina berlari menghampiri Caca yang masih berada di atas motor.


Caca tersenyum lebar seraya turun dari motor.


“Ya ampun, Caca. Kami hampir saja masuk ke dalam mengira kamu tidak datang hari ini,” terang Lia.


“Kalian gila ya? Kita sebelumnya sudah jadi kalau hari ini mau daftar bersama. Ayo tunggu apalagi!” Caca berdiri diantara Lia dan Caca, kemudian menggandeng tangan kedua sahabatnya.


Adi hanya diam tak bersuara dan hanya mengikuti ketiganya yang berjalan tepat di depannya.


“Adi!” Seorang wanita tiba-tiba saja memanggil Adi.


Adi menoleh, begitu juga dengan mereka bertiga.


“Adi? Ternyata benar kamu Adi, apa kabar kamu sekarang?” tanya wanita itu yang memeluk Adi dengan tiba-tiba.


Caca sangat syok dan tak sempat memisahkan Sang suami dari wanita yang tiba-tiba memeluk suami tercinta.


Adi diam mematung, ia terkejut dengan pelukan tiba-tiba dari teman SMA nya dulu.


“Adi, kamu kok diam saja? Aku sangat merindukanmu? Aku harap kamu masih setia dengan perkataan mu dulu yang akan menikahi ku,” terang wanita itu.


“Mas, siapa Tante ini?” tanya Caca yang memeluk lengan suaminya dengan erat.


Adi menyentuh pipi Caca dan mencium kening istri kecilnya agar tidak salah paham.


“Caca sayang, ini teman Mas waktu SMA,” jawab Adi.

__ADS_1


“Adi? Siapa anak kecil ini?” tanya Monica memyebut Caca sebagai anak kecil.


“Tante tidak lihat apa kalau saya bukan anak kecil lagi, Tante rabun ya? Apa perlu saya belikan kacamata?” tanya Caca kesal.


“Sepertinya memang rabun deh,” celetuk Lia membela Caca.


“Kasihan rabun,” celetuk Rina yang tak terima jika Caca dibilang anak kecil.


“Adi, kamu kok sekarang bergaul sama anak-anak tak punya etika ini sih?” tanya Monica kesal.


“Caca, Lia dan Rina. Tidak boleh berbicara sembarangan begitu, kalian harus menghargai orang yang lebih tua,” ujar Adi pada ketiganya.


“Caca kecewa sama Mas,” ucap Caca pergi menjauh dari suaminya.


Caca memutuskan untuk mengurungkan mendaftar kuliah pagi itu karena suasana hatinya yang cukup berantakan. Caca ingin suaminya mengerti perasaannya dan bukannya menceramahi dirinya.


Lia dan Rina mencoba menghentikan Caca yang berlari menjauh. Akan tetapi, Caca berlari semakin kencang dan itu membuat keduanya tidak bisa lagi mengejar Caca.


“Pak ojek, bukan?” tanya Caca.


“Iya, Neng!”


“Cepat antarkan saya pulang, Pak!” pinta Caca bergegas naik ke motor.


Adi tak bisa mengejar Caca karena Caca sudah pergi menjauh.


“Adi! Kamu kenapa sih cuek begini, dulu kita itu sangat dekat,” ucap Monica sambil menarik tangan Adi.


“Monica, wanita yang kamu bilang anak kecil adalah istriku. Tidak sepantasnya kamu memelukku seperti tadi. Dan satu hal lagi, perihal masalah aku ingin menikahimu, bukankah kamu tahu dengan jelas bahwa itu adalah tugas bahasa Indonesia yang mana kita sedang melakukan pentas drama di panggung ketika perpisahan. Jadi tolong dengan sangat, jangan pernah sok dekat dengan ku,” tegas Adi yang sangat kesal dengan sikap Monica.


“Adi, aku minta maaf,” ucap Monica meminta maaf karena keterlaluan.


Adi tak menghiraukan permintaan maaf Monica, yang Adi pikirkan saat itu adalah mengejar istrinya dan meminta maaf atas kesalahpahaman tersebut.


Lia dan Rina nampak kebingungan, mereka bahkan tidak jadi mendaftarkan diri di kampus tersebut. Dikarenakan, Caca yang telah pergi dengan penuh kekecewaan.


“Ayo, kita pulang saja,” ajak Lia.


***


Caca menangis di atas motor, entah harus berapa banyak lagi kesabaran yang ia telan bulat-bulat. Caca tidak habis pikir, kenapa ia harus melihat suaminya dipeluk oleh wanita lain di depan matanya sendiri. Dan lagi, Sang suami justru menceramahi dirinya yang jelas-jelas tidak salah.


Caca memilih pulang ke rumah orang tuanya daripada harus pulang ke rumah kontrakan. Caca ingin menyendiri dan tidak ingin melihat wajah suaminya untuk beberapa hari ke depan.


Adi telah sampai di rumah kontrakan dan ternyata Caca tidak pulang.


“Caca pasti sangat marah padaku,” gumam Adi dan memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya.


Di motor, Caca mencoba menenangkan dirinya dan tiba-tiba saja ia ingin pulang ke rumah mertuanya.


“Pak, tolong belok kanan ya!” pinta Caca yang memutuskan untuk pergi ke rumah mertua.


Tak berselang lama, akhirnya Caca berhenti di depan rumah orang tua dari Sang suami. Kebetulan, ada Ibu Puspita yang baru saja selesai menyapu halaman rumah.


Melihat Caca yang baru saja turun dari motor, membuat Ibu Puspita bergegas menghampiri menantunya.

__ADS_1


“Terima kasih, Pak,” ucap Caca dan Pak ojek pun pergi.


Ibu Puspita mendekat dan terkejut melihat Caca yang tengah menangis.


“Caca, kamu kenapa menangis? Adi mana? Kenapa tidak datang bersama Adi?” tanya Ibu Puspita.


“Mas Adi jahat, Bu. Mas Adi tidak setia sama Caca,” terang Caca.


“Caca jelaskan di dalam saja, ayo tidak baik menangis di luar,” ujar Ibu Puspita dan mengajak menantunya untuk segera masuk ke dalam rumah.


Ibu Puspita mendudukkan Caca di kursi dan tak lupa memberikan air minum.


“Caca jelaskan sama Ibu apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Ibu Puspita seraya mengelus punggung Caca dengan lembut.


Caca pun menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana Adi di peluk oleh wanita lain di depan matanya langsung. Lalu, Caca juga menceritakan bagaimana Sang suami menceramahi dirinya dan bukannya memarahi wanita yang memeluk tubuh suaminya.


Ibu Puspita yang mendengar keterangan Caca ikut kesal dengan sikap putranya. Tidak seharusnya Adi membuat menantu kesayangannya menangis.


“Ibu harus menelpon Adi sekarang,” ucap Ibu Puspita yang terlihat sangat kesal dengan putra kandungnya.


“Ibu, jangan telpon Mas Adi. Biarkan Mas Adi datang ke sini dan meminta maaf kepada Caca. Mas Adi harus diberi pelajaran karena sudah membuat Caca menangis,” ujar Caca dan memeluk Ibu mertuanya.


Pilihan Caca sudah tepat untuk datang ke rumah mertuanya. Bakal repot jika ia pulang ke rumah dan membuat orang tuanya marah kepada Sang suami.


“Caca sudah makan?” tanya Ibu Puspita yang khawatir jika Caca datang dalam perut kosong.


“Caca sangat lapar, Ibu. Caca boleh ya makan banyak?” tanya Caca.


Caca dan Ibu Puspita sangat dekat, meskipun baru beberapa kali bertemu. Jika ada orang yang melihat mereka berdua, pasti tidak menyangka bahwa mereka berdua adalah Menantu dan Ibu Mertua.


Di sisi lain.


Adi terus mengendarai motornya untuk segera meminta maaf kepada istri kecilnya. Adi sanggup menerima semua kemarahan Caca dan mertuanya, yang terpenting Caca mau memaafkan dirinya dan kembali pulang padanya.


Jantung Adi berdetak hebat, ia begitu gugup untuk menginjakkan kakinya di rumah mertuanya.


“Loh, Nak Adi!” Mama Ismia terkejut melihat Adi yang sudah berdiri di depan pintu.


Mama Ismia menoleh ke arah belakang tubuh Adi dan tak melihat putri kesayangannya.


“Kok tumben Caca tidak ikut?” tanya Mama Ismia penasaran.


Adi terdiam sejenak, rupanya Sang istri tidak ada di rumah mewah itu.


“Adi cuma ingin mampir sebentar, Mama. Hanya ingin menanyakan kabar Mama dan Papa,” jawab Adi.


“Kabar kami baik,” jawab Mama Ismia dan mengajak Adi untuk segera masuk ke dalam.


Adi menolak ajakan Mama Ismia secara halus, karena beralasan bahwa ada hal penting yang harus ia selesaikan.


Mama Ismia sama sekali tidak curiga dengan apa yang menantunya itu katakan.


Adi pun memutuskan untuk segera pergi mencari istri kecilnya yang entah kemana.


“Nak Adi, besok mainlah ke sini. Mama kangen sama Caca!” pinta Mama Ismia.

__ADS_1


“Baik, Mama. InsyaAllah Adi dan Caca menginap di sini,” jawab Adi dan pergi dengan motornya.


__ADS_2