Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Sopir Truk Akhirnya Tertangkap


__ADS_3

Malam Hari.


Papa Rio sedang duduk di kursi rumah sakit sambil mengobrol ringan dengan besannya. Mereka pun saling bertukar cerita mengenai pengalaman ketika mereka masih remaja sampai akhirnya menikah.


Pada saat mereka asik bercerita, Caca menghampiri Papa Rio untuk mengantarkan para wanita ke hotel.


“Papa, sekarang sudah jam 9 malam. Kami ingin pulang, kasihan kalau Yusuf terus di sini,” tutur Caca.


Caca sangat yang mengkhawatirkan kesehatan Yusuf, dikarenakan Yusuf dari pagi sampai malam terus saja digendong dengan berpindah tangan berulang kali.


“Mas Faizal, saya pergi dulu mengantarkan mereka untuk pulang ke hotel. Nanti kita lanjutkan lagi obrolan kita ini,” tutur Papa Rio.


“Ayah, kami permisi dulu ya. Assalamu'alaikum,” ucap Caca dan mencium punggung tangan Ayah mertua.


“Wa'alaikumsalam, istirahat ya Caca. InshaAllah Adi akan segera siluman,” balas Ayah Faizal.


Caca berjalan menuju area panggil sambil menggandeng erat tangan Papa tercinta.


“Papa, kalau begini Caca ingat ketika Caca SD Dulu, Papa dan Mama sering menjemput Caca. Kala itu, Caca merasa sangat bangga dan sombong sedikit karena Papa serta Mama datang ke sekolah bersama-sama hanya untuk menjemput Caca,” pungkas Caca.


“Benarkah? Saat Yusuf sudah besar nanti, Caca dan Adi pasti akan bersama-sama menjemput Yusuf,” balas Papa Rio.


Caca tersenyum lebar sambil membayangkan bagaimana dirinya dan suami datang menjemput Yusuf.


Tak terasa, mereka ternyata sudah sampai area parkir dan di sana sudah ada Mama Ismia serta Ibu Puspita yang tertidur di dalam mobil. Sementara Yusuf diletakkan dikursi mobil dengan mata terbuka lebar.


Ketika Papa Rio dan Caca masuk ke dalam mobil, Mama Ismia terbangun.


“Kalian dari mana saja? Kami sampai tertidur di mobil,” tutur Mama Ismia lirih karena besannya sedang terlelap di sampingnya.


“Tadi Caca sama Papa lagi mengobrol sebentar,” jawab Caca yang juga lirih sambil menggendong bayi Yusuf.


Papa Rio kemudian menyalakan mesin mobil untuk segera mengantarkan mereka ke kamar hotel.


***


Keesokan Pagi.


Mama Ismia menatap suaminya dengan tatapan terheran-heran, dikarenakan hampir 1 jam Papa Rio wara-wiri tak jelas seperti ada yang sedang dipikirkannya.


Karena tak tahan lagi dengan sikap aneh suaminya, Mama Ismia akhirnya menepuk pundak suaminya.

__ADS_1


“Papa kenapa dari tadi Mama perhatikan seperti orang aneh,” tutur Mama Ismia terheran-heran.


“Papa sedang menunggu kabar dari Kepolisian perihal pengemudi truk yang tak bertanggungjawab itu,” terang Papa Rio.


“Apa si pelaku akan tertangkap?” tanya Mama penasaran.


“Tentu saja, orang itu harus tertangkap dan mempertanggungjawabkan semuanya. Kalau saja dia tidak kabur, mungkin Papa masih bisa memaafkan dia. Akan tetapi, dia justru kabur tanpa ada rasa bersalah sedikitpun,” jawab Papa Rio.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ponsel Papa Rio berbunyi.


“Hallo, assalamu'alaikum,” tutur Papa Rio.


Papa Rio mendengarkan dengar serius apa yang ingin disampaikan oleh salah satu temannya yang bekerja di kepolisian.


“Alhamdulillah. Sebentar lagi saya akan ke sana,” ucap Papa Rio.


Papa Rio lalu mengucapkan salam sebelum mengakhiri sambungan telepon.


“Papa tadi mengucap Alhamdulillah karena apa? Apa sopir truk itu sudah tertangkap?” tanya Mama Ismia penasaran.


“Alhamdulillah, sudah tertangkap dan Papa harus segera pergi ke kantor polisi,” tutur Papa Rio.


“Papa pergi sendiri atau Mama ikut menemani Papa?” tanya Mama Ismia.


Mama Ismia dengan cepat mengganti pakaiannya dan berdandan layaknya Ibu sosialita.


Di saat yang bersamaan, Ibu Puspita dan Caca sedang menikmati pagi mereka di taman yang disediakan oleh hotel tempat mereka menginap.


“Cuaca hari ini sangat hangat ya Bu. Akan sangat indah bila menikmati hangatnya matahari pagi bersama Mas Adi,” tutur Caca yang selalu saja menyebut nama suaminya.


“Keinginan Caca akan segera terwujud. Allah pasti akan menyembuhkan Adi,” sahut Ibu Puspita yang tengah menggendong bayi Yusuf.


Bayi Yusuf sama sekali tidak risih, justru ia sangat nyenyak tidur ketika merasakan hangatnya matahari pagi.


Mama Ismia dan Papa Rio telah keluar dari kamar hotel untuk pergi ke kantor polisi. Sebelum pergi, mereka ingin pamit terlebih dahulu. Akan tetapi, pintu kamar yang ditempati oleh Caca serta Ibu Puspita tak kunjung dibuka.


“Papa, kok tidak dibuka juga?” tanya Mama Ismia penasaran.


“Sepertinya mereka tidak ada di dalam, Mama. Bisa jadi mereka ada di lantai bawah,” jawab Papa Rio dan mengajak istrinya mencari keberadaan Caca serta Ibu Puspita di taman.


Papa Rio dan Mama Ismia akhirnya menemukan Caca yang sedang duduk santai menikmati hangatnya matahari pagi.

__ADS_1


“Caca!” panggil Mama dan Papa sambil berjalan menghampiri Caca.


Caca menoleh ke arah orang tuanya yang saat itu berpenampilan sangat rapi.


“Mama dan Papa mau ke mana? Mau kerja?” tanya Caca pada kedua orang tuanya.


“Tidak Caca sayang, Mama dan Papa mau ke kantor polisi. Orang menabrak suami Caca sudah tertangkap,” ungkap Papa Rio.


“Syukurlah,” jawab Caca lega karena akhirnya sopir truk yang menyebabkan suaminya kritis akhirnya berhasil ditangkap.


“Caca diam di sini ya sama Bu Puspita. Mama dan Papa pergi dulu!”


Caca tersenyum lega dan berharap semuanya berjalan dengan lancar.


Sore Hari.


Mama Ismia dan Papa Rio baru saja kembali, sehabis dari kantor polisi. Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke perusahaan dan setelah urusan selesai, mereka pun kembali ke rumah sakit.


Mama Ismia memperhatikan putri tunggalnya yang nampak lesu. Bukan perkara sedih, tapi seperti orang yang tengah sakit.


“Astaghfirullah, kamu sakit sayang?” tanya Mama Ismia yang baru saja menyentuh kening Caca.


Caca diam membisu sambil menggelengkan kepalanya.


“Caca sayang, kamu ini panas. Ayo kita periksa!” ajak Mama Ismia menggandeng tangan Caca untuk segera diperiksa.


Ibu Puspita yang kala itu menggendong bayi Yusuf, hanya bisa berdo'a untuk kesehatan menantunya. Sementara Papa Rio sedang berbincang-bincang bersama Ayah Faizal.


“Dok, tolong periksa kondisi putri saya!” pinta Mama Ismia yang kini sedang berada di ruang khusus pasien.


“Namanya adik, siapa?” tanya Dokter bernama Veny.


“Nama saya Caca, dok,” jawab Caca lirih.


“Sebelumnya, Adik Caca ada keluhan?” tanya Dokter Veny sambil memeriksa detak jantung Caca.


Tak berselang lama, Mama Ismia keluar sambil menggandeng erat tangan putrinya. Dan hasilnya Caca mengalami kelelahan sehingga suhu tubuhnya menjadi tidak stabil.


Awalnya Mama Dokter menyarankan Caca untuk dirawat di rumah sakit, akan tetapi Caca tidak mau karena menurutnya ia akan sembuh dengan sendirinya.


“Bagaimana?” tanya Papa Rio ketika Mama Ismia dan Caca sudah kembali.

__ADS_1


“Caca kelelahan, Papa,” jawab Mama Ismia, sementara Caca hanya diam tanpa menjawab.


__ADS_2