Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Si Manis Lastri


__ADS_3

3 Hari Kemudian.


usaha laundry yang baru dua hari dijalankan oleh Adi dan Caca ternyata cukup banyak yang datang menggunakan jasa mereka. bahkan pagi itu saja sudah banyak yang datang untuk laundry di tempat Adi dan Caca.


“Pak Adi, ini bayar sekarang atau nanti tanya?” salah satu pelanggan yang menggunakan jasa laundry milik Caca dan Adi.


“Nanti saja, setelah pakaian Mbak Wiwin telah bersih dan rapi,” balas Adi.


Wanita bernama Wiwin itu mengucapkan terima kasih dan pamit pergi karena ia harus pergi bekerja.


Kebanyakan yang menggunakan jasa laundry adalah para pegawai negeri dan juga orang kantoran yang tentunya sangat sibuk. Bahkan ada beberapa anak kampus yang juga menggunakan jasa laundry tersebut.


30 menit kemudian.


Seorang wanita berkulit hitam manis yang berusia sekitar 18 tahun datang untuk menjadi karyawati di laundry milik Adi dan Caca.


Wanita muda itu bernama Lastri dan statusnya adalah seorang janda beranak satu. Adi dan Caca menerima Lastri karena kasihan terhadap pastry yang masih sangat muda telah menjadi seorang janda serta memiliki bayi yang masih berusia 1 tahun.


“Assalamu'alaikum, saya Lastri orang yang akan membantu Pak Adi dan Bu Caca,” ucap Lastri memperkenalkan diri.


“Wa'alaikumsalam,” balas Adi dan juga Caca.


“Panggil saya Mbak Caca saja, usia kita tidak berbeda jauh. kamu 18 tahun dan saya 19 tahun,” tutur Caca memberitahu mengenai usianya.


Lastri cukup kaget, karena ia mengira kalau Caca masih berusia sekitar 15 atau 16 tahun.


“Maaf, Saya kira tadi Mbak Caca lebih mudah dari saya,” tutur Lastri Seraya tersenyum lebar.


Caca tersenyum malu-malu mendengar penuturan Lastri padanya yang mengira bahwa ia lebih mudah dari Lastri.


“Kamu bisa saja,” sahut Caca.


Ibu Puspita datang menghampiri mereka bertiga dan saat itu juga Ibu Puspita berinisiatif mengajak Lastri untuk mencuci pakaian milik para pelanggan.


Lastri sendiri sudah terbiasa dengan pekerjaan itu dan karena jarak rumahnya dan rumah kontrakan milik pasangan muda itu, Lastri mau bekerja di laundry.

__ADS_1


“Halo Lastri, perkenalkan saya Ibu dari Adi sekaligus ibu mertua Caca Ucap Ibu Puspita memperkenalkan diri kepada Lastri.


“Iya Bu, saya Lastri dan saya mohon bimbingan ibu, Pak Adi dan juga Mbak Caca,” balas Lastri dengan sangat sopan.


Ibu Puspita menggandeng tangan Lastri dan membawa Lastri masuk ke dalam untuk melakukan pekerjaannya mencuci pakaian. sementara Adi dan Caca menyibukkan diri di warung.


“Mas, Lastri manis ya Mas?” tanya Caca yang ingin tahu pendapat dari suaminya.


“Bisa jadi,” jawab Adi singkat.


“Kalau Caca bagaimana? Apakah Caca juga manis sama seperti Lastri?” tanya Caca penasaran.


Adi mengernyitkan keningnya dan menatap istrinya dengan tatapan terheran-heran. Adi merasa bahwa istri kecilnya sedang cemburu.


“Mas kok diam saja? itu artinya Caca tidak manis ya?” tanya Caca sedih.


Karena sang suami tak kunjung menjawab pertanyaan darinya, Caca memutuskan untuk pergi dari warung dan bergegas masuk ke dalam rumah.


“Caca sayang, kamu mau ke mana? sudah di dalam warung saja temani Mas!” pinta Adi.


“Mbak Lastri bisa melakukannya?” tanya Caca yang datang menghampiri Ibu Puspita dan Lastri yang sedang sibuk berkutat dengan mesin cuci.


“Insya Allah saya bisa melakukannya, Sebelumnya saya bekerja sebagai asisten rumah tangga dan semua pekerjaan rumah saya yang mengerjakan. Mbak Caca tidak perlu kuatir saya akan bekerja semaksimal mungkin terang Lastri yang sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk membiayai kehidupannya serta bayi kecilnya yang baru berusia 1 tahun.


Caca tersenyumlah dan pamit meninggalkan ibu mertua serta Lastri yang masih sibuk mencuci pakaian.


Caca berjalan masuk ke dalam kamarnya dan melihat Yusuf yang sudah terjaga sambil memegang mainan bebek yang terbuat dari bahan karet.


“Kesayangannya Bunda sudah bangun? Wah pintarnya tidak menangis tutur Caca sambil memindahkan Yusuf ke tempat tidur Ayah dan Bundanya.


Popok yang dikenakan oleh Yusuf ternyata sudah penuh dan Caca memutuskan untuk mengganti popok tersebut. tetaplah terkejutnya Jangan melihat bagian lipatan mengalami iritasi karena keseringan menggunakan popok.


agar kemerah-merahan di bagian lipatan Yusuf segera mereda, Caca akhirnya kita memasangkan sosok kepada kita sendiri.


“Yusuf sayang, hari ini Yusuf tidak pakai popok ya ucap saja pada buah hatinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


Caca kembali masuk ke dalam warung sambil menggendong bayi Yusuf Yang tengah asik dengan dot susu miliknya.


“Mas sudah mendapatkan jawabannya?” tanya Caca Ketus.


“Caca sayang, Caca itu tentu saja manis tapi kecantikan Caca mengalahkan kemanisan yang Caca miliki,” pungkas Adi Seraya membelai rambut istri kecilnya dengan penuh cinta.


Caca tertawa kecil dan memukul dada suaminya dengan cukup keras.


Adi pasrah dengan apa yang istrinya lakukan. Yang terpenting istrinya tidak marah ataupun ngambek terhadap dirinya Karena perihal masalah dari pertanyaan istrinya mengenai Lastri.


“Mas, Caca mau apa tolong kupaskan Caca buah apel!” minta Caca yang sangat ingin mengunyah apel sebagai antioksidan.


Adi mengiyakan dan membuka kulkas yang berada di dalam warung tersebut untuk mengambil apel yang istrinya. Akan tetapi, Apa yang dimaksud istri kecilnya tidak ada di dalam kulkas itu dan ternyata ada di dalam kulkas di rumah.


“Mas mau ke mana?” tanya Caca ketika melihat suaminya hendak keluar dari warung.


“Tentu saja ingin mengambil apel yang Caca inginkan,” jawab Adi yang sudah berada di luar pintu warung.


“Baiklah, tapi Mas jangan lama-lama ya dan jangan melihat Lastri!” minta Caca yang kecemburuannya terlihat sangat jelas di mata Adi.


Adi hanya mengiyakan dan bergegas mengambil apel yang istrinya inginkan.


“Mas kok cepat sekali mengambil apelnya? Kenapa?” tanya Caca dengan tatapan dingin.


“Caca sayang, sudah ya jangan cemburu tidak jelas begini. Apakah cinta dan ketulusan Mas Rama ini membuat Caca menjadi ragu dengan hati Mas? tanya di sambil menyentuh pipi istrinya.


“Memangnya siapa yang cemburu, Mas? Caca sama sekali tidak cemburu, lagi pula Mbak Lastri sudah memiliki anak dan cukup manis. Mas itu Jangan berpikiran yang aneh-aneh tentang Caca, karena Caca menganggap perkataan Caca biasa saja tutur Caca dengan santai.


“Sudah jangan dibahas lagi ya, sekarang Mas akan mengupas kulit apel ini,” tutur Adi dan memberikannya sebuah kecupan manis di kening istri kecilnya.


Caca tersenyum lebar dan duduk di kursi sambil memperhatikan suaminya yang tengah mengupas kulit buah apel.


“Mas Kenapa hanya membawa dua saja? soalnya itu sangat sedikit Mas,” ujar Caca melihat apel yang kulitnya Tengah dikupas oleh sang suami.

__ADS_1


__ADS_2