
2 Minggu Kemudian.
Caca terbangun dari tidurnya ketika menyadari bahwa suaminya tidak ada di sampingnya. Saat Caca sedang menoleh ke sekitar kamar, rupanya Sang suami tengah sholat tahajjud.
Hampir setiap hari Sang suami melaksanakan sholat tahajjud, lain halnya dengan Caca yang dalam sebulan bisa dihitung pakai jari.
Caca memiringkan posisi tidurnya ke kiri sembari terus menatap suaminya yang sedang berdo'a.
Adi sekilas menoleh Caca yang ternyata Caca sudah terjaga dan sedang menatapnya. Pria 28 tahun itu tersenyum seraya menepuk bagian pahanya memberi isyarat agar Caca tidur di paha milik Adi.
Tak pikir panjang, Caca turun dari tempat tidur dan meletakkan kepalanya di paha Adi.
“Alhamdulillah,” ucap Adi yang telah selesai berdo'a memanjatkan do'a kepada Sang Pencipta.
Caca masih tetap posisinya dan tengah sibuk menyentuh wajah Sang suami.
“Mas kenapa tidak membangunkan Caca?” tanya Caca lirih yang terlihat masih mengantuk.
“Mas sudah berusaha membangunkan Caca, apakah Caca sama sekali tidak mendengar panggilan Mas?” tanya Adi.
“Lain kali, kalau mau membangunkan Caca pakai air ya Mas. Mas siram Caca dengan air segayung, agar Caca bisa bangun,” tutur Caca yang juga ingin mendapatkan pahala dari sholat tahajjud.
“InshaAllah,” balas Adi singkat dan mengajak Caca untuk tidur kembali.
Pagi nanti Adi akan sangat sibuk, karena keinginannya untuk pindah sekolah sebentar lagi terwujud.
Merekapun telah berada di tempat tidur dengan posisi saling berpelukan.
“Caca, hari ini adalah terakhir kali Mas mengajar di sekolah,” ujar Adi.
“Maksudnya Mas?“ tanya Caca yang cukup terkejut dengan apa yang suaminya katakan. “Mas tidak berhenti, kan?” sambung Caca.
“Siapa yang bilang kalau Mas berhenti mengajar? Tentu saja, tidak. Hari ini terakhir Mas mengajar di sekolah dan pindah ke sekolah yang lebih dekat,” jawab Adi.
“Benarkah? Maksudnya Mas pindah di SMA cendekiawan itu? Yang ada di seberang jalan raya?” tanya Caca.
__ADS_1
“Benar sekali,” jawab Caca.
Seketika itu Caca mengucap syukur dan mencium pipi suaminya berulangkali. Caca sangat senang sehingga tidak banyak berkata-kata lagi.
“Ayo tidur lagi, sebentar lagi kita harus bangun untuk menunaikan ibadah sholat subuh,” tutur Adi mengajak Caca untuk segera tidur.
****
Adi telah siap untuk berangkat ke sekolah, hari itu adalah hari terakhir dirinya mengajar sekaligus menjadi Guru olahraga di sekolah Pelita Kasih.
Adi berharap setelah kepindahannya, ia mendapatkan lingkungan yang nyaman di sekolah SMA Cendekiawan.
“Caca sayang, Mas berangkat ya. Do'akan semoga hari terakhir di sekolah bisa berjalan dengan lancar!” pinta Caca.
“Pastinya Caca mendo'akan yang terbaik untuk Mas. Semangat untuk hari ini!” seru Caca.
Adi mencium kening Caca dan bergegas naik motor untuk segera berangkat ke sekolah.
Baru saja Sang suami pergi, beberapa tetangga mendatanginya dengan niat membeli sayur-mayur, beras serta kebutuhan pokok lainnya.
Caca sebenarnya panik karena yang datang cukup ramai, akan tetapi sebisa mungkin Caca menunjukkan ketenangannya.
Caca mulai melayani satu-persatu pembeli yang ternyata belanja cukup banyak di warungnya. Sekitar 30 menitan Caca baru selelah melayani pembeli.
“Akhirnya selesai juga,” ucap Caca sembari menyentuh dadanya yang berdetak cukup kencang.
Setelah merasa cukup tenang, Caca mulai menyusun uang pendapatan pagi itu yang lumayan sangat banyak.
“Alhamdulillah, baru jam segini aku sudah mendapatkan uang 190 ribu,” ujar Caca yang sangat bersyukur.
Pendapatan tiap harinya tentu saja berbeda-beda, kadangkala seharian hanya mendapatkan uang 70 ribu dan kadangkala mendapatkan uang lebih dari 100 ribu. Berapapun hasil yang di dapat, Caca maupun suaminya selalu bersyukur.
“Minggu depan aku akan mendaftar kuliah, semoga saja aku diterima di kampus yang dekat dari rumah,” gumam Caca.
Kebetulan sekali, kampus yang ingin Caca tempuh tidak terlalu jauh dari rumah kontrakan. Jika naik motor, perjalanan hanya memakan waktu 15 menit saja.
__ADS_1
“Neng, ada kecap? Ibu beli kecap yang bungkusan harga 2000 an, 2 bungkus saja. Lalu, sisanya cabe,” ucap pembeli sembari memberikan uang kertas senilai 10 ribu.
“Terima kasih, Ibu!” seru Caca sambil memberikan kecap dan juga cabe yang sudah ia bungkus ke dalam kantong plastik.
Caca berharap ia dan suami memiliki tabungan yang cukup untuk kedepannya. Sebelumnya, Sang suami telah menjelaskan kepada dirinya untuk tidak bergantung kepada orang tua, Sang suami menjelaskannya dengan sangat jelas dan juga sangat enak di dengar. Sehingga, tak sedikitpun kata yang menyinggung dirinya.
“Sebaiknya uang ini langsung aku pisahkan dan aku harus mencatat apa saja yang akan kami beli besok,” gumam Caca.
Mereka berbelanja ke pasar 3 hari sekali, sekalinya berbelanja mereka bisa mengeluarkan uang sebesar 1 juta bahkan bisa lebih. Semakin banyak mereka beli, semakin besar diskon yang mereka dapatkan dari penjual kelas atas.
***
Ruang Guru.
Jam istirahat Para Guru diminta untuk berkumpul di Ruang Guru, karena ingin memberitahu perihal Adi yang akan pindah sekolah.
Karena semua Guru telah berkumpul, Kepala Sekolah akhirnya memberitahukan alasan mengapa mereka dikumpulkan.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka tahu bahwa Adi besok tidak akan mengajar di Sekolah SMA Pelita Kasih.
Banyak Guru yang terkejut, begitu juga dengan Intan yang seketika itu pingsan. Tentu saja Intan sangat syok, seperti mendapatkan pukulan yang sangat keras.
“Cepat bantu!” Beberapa Guru wanita kompak mengangkat tubuh Intan dan membawanya ke ruang UKS.
Satu-persatu Guru mendekati Adi seraya memberikan ucapan dan juga do'a agar di sekolah barunya mendapatkan kelancaran, keberkahan dan semakin sukses.
Pak Kepala sekolah yang biasa di panggil Pak Ganjar, mengajak Para Guru makan-makan sepulang sekolah. Sebagai acara perpisahan untuk Adi yang tidak akan mengajar lagi di sekolah tersebut.
Intan belum juga sadarkan diri, ketika ia sadar wanita itu malah menangis. Dua Guru yang masih berada di ruang UKS berusaha menenangkan Intan yang tak henti-hentinya menangis.
“Apa Ibu tadi mendengar yang dikatakan Pak Ganjar?” tanya Intan.
“Tentang Pak Adi yang tidak lagi mengajar di sekolah kita,” jawab Nining, Guru Seni yang usianya 3 tahun lebih tua dari Intan.
“Ya Allah, jadi itu bukan mimpi? Bagaimana ini? Apa artinya saya tidak bisa melihat Pak Adi lagi?” tanya Intan yang tak ikhlas jika Adi pergi meninggalkannya.
__ADS_1
“Bu Intan tidak boleh terlalu berharap, lagipula Pak Adi telah beristri. Kalau Bu Intan terus seperti ini, bukankah sangat tidak etis sebagai seorang Guru? Saya bicara seperti ini karena sayang kepada Bu Intan dan juga mengingatkan Bu Intan kalau menyukai suami orang itu dosa besar,” ucap Nining.
“Saya tahu itu, Bu Nining. Namun, sekuat apapun saya mencoba melupakan Pak Adi, pada akhirnya perasaan saya untuk Pak Adi semakin besar,” pungkas Intan.