
Caca tersenyum lebar ketika melihat matahari pagi yang mulai mengintip dan bersamaan dengan suara burung yang berkicauan di pagi itu.
Gadis 17 tahun itu tak sabar ingin melihat calon suaminya datang untuk menjemputnya, sekaligus berangkat ke sekolah bersama-sama.
“Selamat pagi dunia, selamat pagi juga calon suamiku,” ucap Caca kepada sebuah foto milik Adi yang ia simpan di galeri ponselnya.
Setelah puas menatap foto calon suaminya yang tampan, Caca pun bergegas menuju kamar mandi untuk segera bersiap-siap mengenakan seragam sekolah di hari senin yang istimewa itu.
Mama Ismia yang sedang masak bersama Bibi Ningrum, cukup kaget melihat Caca yang sudah lebih dulu duduk di kursi meja makan.
“Caca? Kamu kenapa sudah turun sepagi ini? Dan lagi, ini benar kamu?” tanya Mama Ismia terheran-heran.
“Mama, sejak kapan Caca ada dua? Lagian ya, Caca dan Pak Adi akan berangkat ke sekolah bersama dan pulang sekolah juga harus bersama. Maka dari itu, sebagai calon istri yang baik Caca harus bersiap sebelum Pak Adi datang,” pungkas Caca.
Mama Ismia dan Bibi Ningrum saling melempar senyum setelah mendengar jawaban panjang lebar Caca.
“Mama dan Bibi kok tersenyum begitu? Ayo kita sarapan!” pinta Caca yang ingin cepat-cepat mengisi perutnya yang kosong itu.
“Caca yakin mau sarapan duluan? Papa tadi mengirim pesan pada calon suamimu, kalau sarapannya di sini,” ujar Mama Ismia.
“Benarkah? Sekarang Papa di mana, Ma?” tanya Caca yang ingin menghampiri Papan tercintanya untuk berterima kasih.
“Papa mu kebetulan ada di depan, sedang menunggu calon menantunya,” jawab Mama Ismia.
Caca dengan semangat berlari menuju depan untuk mengucapkan terima kasih.
“Papa!” Caca berlari penuh semangat.
“Caca, ini masih pagi dan kamu malah berlarian begini. Ada apa, Caca sayang?” tanya Papa Rio.
Caca tersenyum dan meminta Papa Rio untuk beranjak dari kursi kayu yang ia duduki.
Papa Rio mengangkat kedua alisnya dan berdiri mengikuti intruksi dari putri tunggal kesayangannya.
“Terima kasih, Papa terbaik. Terima kasih sudah mengundang Pak Adi untuk sarapan bersama kita,” ucap Caca yang sangat manja dengan Papa Rio.
“Caca senang?” tanya Papa Rio.
“Tentu saja, Caca senang dan juga bahagia,” jawab Caca.
Ketika Caca sedang berpelukan dengan manja, Adi datang dengan motornya itu.
Caca saat itu juga melepaskan pelukannya dan bersikap layaknya seorang gadis dewasa.
Sekuat apapun Caca mencoba untuk tetap tenang, tetap saja Caca tidak bisa. Caca kalah dengan sikapnya yang manja dan centil itu.
“Selamat pagi, calon suami!” Caca menyapa Adi dengan melambaikan tangannya.
Adi hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan menghampiri Papa mertuanya itu.
__ADS_1
“Assalamu'alaikum,” ucap Adi sembari bersalaman dengan Papa Rio.
“Wa’alaikumsalam, mari masuk!” Papa Rio menyambut Adi dengan sangat ramah.
Caca hanya bisa mendengus kesal setelah Adi sengaja tak menghiraukan dirinya.
“Jelas-jelas aku duluan yang menyapa Pak Adi, tapi kenapa hanya Papa saja dan aku tidak?” gumam Caca.
Caca sengaja berjalan menghentakkan kakinya untuk mendapat perhatian dari Adi. Akan tetapi, Adi tetap saja tidak menoleh padanya dan malah tertawa bersama Papa Rio.
“Papa, anak Papa itu Caca atau Pak Adi?” tanya Caca sambil menarik baju yang Papa Rio kenakan.
Papa Rio berbalik dan merangkul bahu putrinya.
“Tentu saja Caca anak Papa dan Mama,” jawab Papa Rio.
Tibalah mereka di ruang makan, Adi tersenyum dan bersalaman dengan Mama mertuanya.
“Nak Adi dari tadi?” tanya Mama Ismia mencoba mengobrol ringan dengan calon menantunya.
“Baru saja, Bu,” jawab Adi.
“Panggil saja Mama, seperti Caca memanggil Mamanya!” pinta Mama Ismia.
****
Selesai sarapan bersama, Adi dan Caca pun bergegas berangkat ke sekolah. Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, Caca terus memeluk pinggang Adi dengan sangat erat.
“Caca, cepat lepaskan tangan kamu itu!” perintah Adi dengan terus mengendarai motornya menuju sekolah.
“Memangnya kenapa? Apa yang salah? Sebentar lagi kita akan menikah,” jawab Caca dengan santai.
Adi ingin sekali menurunkan Caca di pinggir jalan, akan tetapi Adi tidak sanggup melakukannya.
“Caca, kalau masih begini. Bapak akan menurunkan Caca di pinggir jalan,” ucap Adi yang tentu saja tidak benar-benar menurunkan Caca di pinggir jalan.
Ucapan Adi ternyata berhasil, saat itu juga Caca melepaskan pelukannya dari pinggang Adi.
“Sudah,” ucap Caca dengan ketus.
Adi tersenyum kecil mendengar suara Caca yang sedang ngambek itu.
Tibalah mereka di sekolah, Caca mengucapkan terima kasih kepada calon suaminya itu.
“Terima kasih, Pak Adi. Nanti pulang sekolah kita pulang bersama, ok!”
“Iya, ya sudah sana masuk kelas!”
Caca melambaikan tangannya dan berlari menuju kelasnya dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
“Pak Adi berangkat sekolah sama Caca? Kok bisa?” tanya Intan yang tak terima melihat Adi dan Caca berangkat berboncengan.
“Apa ada undang-undang yang tidak memperbolehkan seorang guru dan murid berboncengan?” tanya Adi.
Seketika itu Intan tak bisa berkata-kata mendengar pertanyaan dari Adi.
“Saya permisi,” ucap Adi dan melenggang pergi menuju Ruang Guru.
Di sepanjang pelajaran di kelas, Caca terus saja tersenyum dan membuat dua temannya terheran-heran dengan sikap aneh Caca.
Sementara Wuri, nampak tak suka dan penasaran dengan Caca yang terlihat biasa saja.
“Aku sudah menguncinya di gudang, kenapa dia terlihat seperti biasa. Seharusnya dia trauma dan tidak mau sekolah,” gumam Wuri.
Berulang Caca menoleh ke jam tangan miliknya dan berharap waktu sedikit lebih cepat agar ia bisa segera bertemu dengan calon suaminya.
“Caca, kamu kenapa sih dari tadi senyum terus dan melihat jam terus? Ayo ceritakan ada apa!” pinta Lia mendesak agar Caca mau menceritakan sesuatu padanya.
Jika biasanya Caca curhat dengan Lia maupun Rina, lain halnya dengan hari itu. Caca memilih untuk tidak memberitahukan mengenai pernikahannya dengan Adi yang akan berlangsung sebentar lagi.
“Lain kali saja ya, Lia,” jawab Caca menolak permintaan Lia dengan halus.
Lia dan Rina memaklumi keputusan Caca yang tidak ingin bercerita.
Saat yang ditunggu-tunggu oleh Caca datang juga. Gadis itu berlari secepat mungkin menuju Ruang Guru.
Ketika Caca hendak menghampiri Calon suaminya, Caca melihat Intan bersama dengan Adi berduaan.
Spontan saja, Caca memanggil Adi untuk segera pulang bersamanya.
“Pak Adi, ayo pulang!” Mimik wajah Caca tidak bisa berbohong, gadis itu terlihat sangat cemburu dengan mata berkaca-kaca.
Adi merasakan kecemburuan Caca, saat itu juga Adi menghampiri Caca dan berusaha menenangkan calon istrinya.
“Caca yang tenang, Pak Adi dan Bu Intan hanya membahas perihal masalah nilai,” ucap Adi sembari menyentuh kedua pundak Caca.
Caca mencoba untuk tetap tenang dan menggandeng tangan Adi di depan Guru matematika, yaitu Intan.
“Ayo, Pak Adi. Waktunya kita pulang, Caca juga sangat lapar,” tutur Caca dan semakin erat menggandeng tangan calon suaminya.
Intan begitu syok dengan pemandangan tersebut, pemandangan di mana Adi terlihat tak risih mendapat sentuhan dari seorang murid.
“Pak Adi!” Intan berlari kecil mengejar calon pengantin.
Adi pun menoleh sekilas tanpa ingin menghentikan langkahnya.
“Pak Adi kenapa harus pulang dengan murid seperti Caca ini? Lebih baik pulangnya sama saya saja. Kebetulan, saya tidak bawa motor,” tutur Intan yang ingin menumpang pada Adi.
“Ibu Intan bisa pulang menggunakan ojek atau angkutan umum. Saya harus segera pulang mengantarkan Caca ke rumah,” balas Adi.
__ADS_1
Adi pun menyalakan mesin motornya dan bergegas pergi meninggalkan area parkir Guru.
Intan sedikit kecewa dengan sikap Adi yang lebih memilih Caca daripada dirinya.