
Mama Ismia masuk ke dalam warung seraya menggendong cucu pertamanya, Yusuf Hidayatullah. Melihat Mama mertua masuk ke dalam warung membuat Adi terkejut dan hampir saja jatuh di kursi yang ia duduki.
“Nak Adi baik-baik saja? Apa tadi Nak Adi sedang melamun?” tanya Ibu Puspita.
Adi hanya membalas pertanyaan Mama Ismia dengan tersenyum kecil.
“Jangan sering-sering melamun, tidak baik juga untuk kesehatan pikiran dan juga mata,” tutur Mama Ismia santai.
“Iya Ma, Adi hanya sedang memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak cukup penting untuk dilamunkan,” ujar Adi.
Mama Ismia hanya menanggapinya dengan anggukkan tanpa ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh menantunya.
Caca datang menyusul dengan membawa roti cokelat yang dibeli oleh Mama Ismia ketika berada di Singapura.
“Mama, kalau beli roti seperti ini kenapa tidak banyak sekalian? Kan, lumayan kalau dijual di sini,” ucap Caca dan menarik kursi kecil lebih dekat agar bisa duduk berdampingan dengan suami tercinta.
“Caca sayang, Mama membeli roti ini untuk dimakan bukannya untuk dijual. Lagipula, roti ini harganya cukup mahal kalau dirupiah kan ke mata uang Indonesia,” jelas Mama Ismia.
Caca tersenyum bodoh karena benar-benar lupa bahwa mata uang Indonesia dan Singapura berbeda.
“Haduh, kenapa sampai lupa?” gumam Caca pada dirinya sendiri.
Caca lalu membuka roti coklat tersebut dan memberikannya kepada Sang suami.
“Buka mulut Mas lebar-lebar!” pinta Caca meminta Adi membuka mulutnya selebar mungkin.
Adi tanpa pikir panjang membuka mulutnya selebar mungkin.
“Sekarang kunyah dengan baik,” tutur Caca yang berhasil memasuki setengah roti ke dalam mulut suaminya.
Adi dengan susah payah mengunyah roti coklat dari tangan istrinya. Sementara Caca, justru merekam momen ketika Adi tengah berusaha menghabiskan roti coklat itu yang sudah berada di dalam mulutnya.
Caca tertawa melihat bagaimana suaminya mengunyah roti coklat dan terus merekamnya.
“Alhamdulillah,” ucap Caca dan memberikan segelas air putih untuk Sang suami.
Adi tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala karena kelakuan istrinya yang cukup usil.
Di saat yang bersamaan, Papa Rio yang sedang duduk santai di ruang tamu mendapat pesan dari pihak kepolisian. Papa Rio mengambil ponselnya yang berada diatas meja dan mulai membaca isi pesan tersebut.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji'un,” ucap Papa Rio dan beranjak dari duduk, kemudian melangkah keluar menuju warung.
Papa Rio masuk ke dalam warung dan memperlihatkan isi pesan yang ia terima.
Mama Ismia terkejut melihat isi pesan tersebut. Kemudian, Mama Ismia memperlihatkan isi pesan tersebut kepada putri kandungnya.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, Ya Allah...” Caca sangat terkejut melihat isi pesan tersebut.
Adi cukup penasaran, namun sepertinya pesan tersebut adalah privasi keluarga istri kecilnya.
“Mas kenapa diam saja? Lihatlah isi pesan ini!” Caca memperlihatkan isi pesan yang telah ia baca.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, astaghfirullah Ya Allah,” ucap Adi yang tak menyangka dengan apa yang telah terjadi kepada Intan.
Isi pesan itu memberitahukan bahwa Intan meninggal dunia karena perbuatan Intan sendiri. Yaitu, Intan sengaja tidak makan selama beberapa hari sampai akhirnya ditemukan tidak bernyawa di dalam selnya sendiri.
“Caca sayang, Mama dan Papa akan melayat nanti siang. Caca sebaiknya diam di rumah, menjaga Yusuf dan menemani Adi,” tutur Papa Rio.
“Baik, Papa. Caca akan tetap di rumah,” balas Caca.
Caca menghela napasnya yang terasa berat dan tak menyangka bahwa Intan telah meninggal dunia diusia yang terbilang masih muda. Yaitu, 29 tahun.
***
Siang Hari.
Papa Rio dan Mama Ismia bersiap untuk melayat sekaligus pamit pulang ke rumah. Caca memeluk bergantian kedua orang tuanya dan meminta kedua orang tuanya untuk sering berkunjung ke rumah kontrakan.
“Mama dan Papa sering-sering lah berkunjung ke sini!” pinta Caca.
“Iya sayang, Papa dan Mama akan sering-sering main ke sini. Sekarang kami pamit ya, assalamu'alaikum!”
__ADS_1
“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Adi, Caca dan Ibu Puspita seraya tersenyum melihat orang tua Caca masuk ke dalam mobil.
Mobil pun perlahan jalan meninggalkan area halaman rumah.
“Caca kenapa menangis?” tanya Adi ketika melihat istrinya tiba-tiba menangis.
“Caca teringat Bu Intan, Mas. Apakah Bu Intan sangat ingin mengakhiri hidupnya sehingga melakukan hal seperti itu?” tanya Caca sedih.
“Caca sayang, sudah jangan dipikirkan lagi. Kalau memang begitu, ya mau bagaimana lagi? Lebih baik kita mengirim do'a untuknya, agar Allah mengampuni dosa-dosa Almarhumah Bu Intan,” terang Adi dan mengajak istri kecilnya untuk kembali masuk ke dalam warung.
Baru saja masuk ke dalam warung, seorang wanita datang untuk berbelanja bahan kue.
“Neng Caca! Saya beli tepung terigu 2 kg, gula 3 kg, telur 2kg, pewarna makanan warna merah 1 dan warna hijau pandan 1 ya!”
Caca dengan cepat mengumpulkan semua pesan yang disebutkan oleh pelanggan wanita itu. Kemudian memasukannya ke dalam kantong plastik seraya menjumlahkan semuanya secara manual.
“Berapa semuanya?” tanya pelanggan.
Caca tersenyum dan menyebut total harga yang dibeli pelanggan tersebut.
“Alhamdulillah,” ucap Adi melihat istrinya yang baru saja memasukkan uang ke dalam laci uang.
“Alhamdulillah ya Mas, rezeki tidak akan kemana,” tutur Caca.
***
Papa Rio dan Mama Ismia telah sampai di rumah duka keluarga Intan. Setibanya mereka di kediaman rumah orang tua Intan, ternyata Intan sudah dikuburkan 2 jam yang lalu.
“Assalamu'alaikum,” ucap Papa Rio dan Mama Ismia seraya masuk ke dalam rumah menghampiri Bu En, Ibu kandung dari Intan.
Bu En membalas ucapan salam mereka dan mereka bahkan berjabat tangan.
Bu En sama sekali tidak dendam dengan keluarga Caca maupun keluarga Adi. Bagi Bu En, putrinya lah yang salah mengambil jalan dan bahkan di napas terakhir putrinya masih saja salah mengambil jalan.
“Bu, kami sungguh turut berdukacita cinta atas meninggalnya putri Ibu,” ucap Mama Ismia.
“Terima kasih, kepada Mas dan Mbak yang telah datang ke sini. Sekali lagi saya meminta maaf atas nama Putri saya. Semoga Mas, Mbak dan keluarga mau berkenan memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah Intan perbuat,” tutur Bu En dengan tulus.
Mama Ismia menggelengkan kepalanya dan memeluk erat tubuh Bu En.
Bu En mengangguk kecil dan kembali menangis dipelukan Mama Ismia.
****
Malam Hari.
Adi duduk sendirian di teras depan rumah seraya memandangi cantiknya bintang yang bertebaran di langit.
Adi sangat serius memperhatikan bintang-bintang yang bertebaran di langit dan bahkan tak menyadari bahwa ada dua wanita muda yang sedari tadi memperhatikan Adi dari kejauhan.
“Gila, itu cowok ganteng banget. Kira-kira siapa ya namanya?” gumam salah satu wanita yang tengah memandangi Adi dari kejauhan.
“Lucu kali ya kalau kita datang terus kenalan sama itu cowok?” gumam wanita yang lain.
Keduanya terkejut melihat seorang wanita muda datang menghampiri pria yang tengah mereka pandangi dari kejauhan.
“Eh, ternyata dia punya adik. Bagaimana kalau besok pagi kita dekati adiknya?”
Dua wanita muda itu saling tukar pikiran mencari cara agar bisa berkenalan dengan Adi.
Caca datang sembari membawakan air putih untuk suaminya yang tengah asik dengan kecantikan bintang di langit.
“Mas sedang melihat apa?” tanya Caca penasaran dan mendongak melihat ke arah langit.
Senyum Caca merekah lebar ketika menyadari bahwa bintang-bintang di langit malam itu sangat cantik.
“Caca sayang...” panggil Adi lirih.
“Iya Mas, ada apa?” tanya Caca penasaran.
“Bagaimana kalau Mas meninggal dunia dengan tiba-tiba?” tanya Adi serius.
__ADS_1
Caca yang sedang serius menatap bintang, saat itu juga menatap dingin suaminya dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
“Mas ini bicara apa?” tanya Caca kesal sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
Adi terkejut melihat respon istri kecilnya yang langsung ngambek.
Dengan perlahan, Adi bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar untuk membujuk istri kecilnya agar tidak ngambek.
“Caca sayang....” Adi perlahan naik ke tempat tidur menghampiri Caca yang sudah berbaring dengan posisi membelakangi dirinya dan memeluk guling dengan erat.
Caca diam tak merespon, bagaimanapun Caca kesal dengan ucapan suaminya. Bagaimana bisa Sang suami dengan santainya menanyakan hal yang sangat sensitif kepada Caca.
“Caca sayang, jangan ngambek begini dong,” tutur Adi yang sudah berada di atas tempat tidur dan memeluk punggung Caca dengan lembut.
“Mas, tolong jangan sentuh Caca!” pinta Caca yang masih kesal dengan pertanyaan konyol suaminya.
“Mas tahu kalau Caca sedang kesal kepada Mas, tapi Mas hanya ingin bertanya saja. Kalaupun tidak dijawab ya tidak apa-apa,” tutur Adi.
Caca memilih diam dan tidak ingin mengeluarkan sepatah katapun.
“Caca masih ngambek? Apa perlu Mas tidur di ruang tamu?” tanya Adi yang bersiap-siap bangkit dari tempat tidur.
Caca berbalik dan mendekap erat punggung suaminya.
“Mas tidak perlu tidur di ruang tamu. Kalau Mas tidur di ruang tamu, bagaimana dengan Caca? Intinya, Caca tidak suka Mas Adi membahas kematian. Karena kematian itu tidak ada yang tahu dan oleh karena itu, tolong jangan bahas hal yang akan membuat Caca sedih!” pinta Caca kepada Sang suami tercinta.
“Baiklah, Mas tidak akan membahas perkara kematian kepada Caca. Sekarang, Caca mau memaafkan Mas, 'kan?” tanya Adi.
Caca dengan gerakan cepat bergerak melangkahi tubuh suaminya dan kini mereka saling bertatapan satu sama lain.
“Tentu saja!” seru Caca yang sudah kembali manis seperti gula.
Adi tak bisa berhenti tertawa setelah apa yang istrinya lakukan padanya. Yaitu, istrinya dengan gerakan tak terduga melangkahi dirinya dengan posisi Caca yang masih berbaring.
“Bagaimana bisa Caca melakukannya?” tanya Adi terheran-heran.
“Entahlah, Caca melakukannya begitu saja. Mas juga bisa melakukan, itupun kalau Mas mau,” celetuk Caca.
Ibu Puspita sedang menidurkan Bayi Yusuf dan ketika Cucunya sudah terlelap, wanita paruh baya itu kembali mengantarkan Yusuf ke pelukan menantunya.
“Caca...” panggil Ibu Puspita lirih sambil mengetuk pintu kamar.
Caca bergegas turun dan mengambil Yusuf dari gendongan Ibu Mertua tersayang.
“Terima kasih, Ibu..” Caca mengucapkan terima kasih dengan memberikan senyum terbaiknya.
“Sama-sama, Nak Caca. Ibu langsung ke kamar ya, mau istirahat,” ucap Ibu Puspita dan melenggang pergi masuk ke dalam kamar untuk segera beristirahat.
Caca pun masuk ke dalam kamar dan meletakkan bayi Yusuf ke dalam ranjang bayi. Setelah itu, Caca kembali naik ke tempat tidur untuk bisa kembali bermesraan dengan suami tercinta.
“Mas kenapa melihat Caca sambil senyum begitu? Hayoo.. Mas sedang memikirkan apa?” tanya Caca penasaran.
“Caca semakin cantik dan Mas semakin tidak sabar,” jawab Adi dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Caca mengangkat kedua alisnya dan memasang ekspresi wajah sejelek mungkin.
“Mau diapakan saja, wajah Caca tetap cantik,” puji Adi.
Caca tersipu malu dan reflek memukul dada suaminya.
Adi hanya bisa menahan pukulan reflek Caca dan tetap tersenyum lebar melihat respon malu-malu dari istri kecilnya.
“Mas Adi sekarang tambah genit ya, sepertinya Caca harus lebih genit dan centil lagi,” sahut Caca dan tiba-tiba saja tangannya menepuk-nepuk bokong suaminya.
Wajah Adi seketika itu berubah menjadi merah dan reflek mencium bibir Caca agar istrinya itu berhenti menepuk-nepuk bokongnya.
“Ternyata Mas yang lebih genit ya daripada Caca,” celetuk Caca.
“Mas begini karena ajaran dari Caca,” celetuk Adi sambil menahan tawanya.
Caca memanyunkan bibirnya dan turun dari tempat tidur saat itu juga. Kemudian, bergoyang-goyang menggerakan bokongnya dengan genit.
__ADS_1
“Bagaimana dengan ini? Mas tidak bisa bergoyang-goyang seperti Caca,” tutur Caca sambil terus bergoyang-goyang merayu suaminya.
Adi hanya bisa menelan salivanya melihat Caca yang begitu aktif bergoyang-goyang menggerakkan bokongnya.