Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Adi Akhirnya Siuman


__ADS_3

Mama Ismia, Papa Rio dan Ayah Faizal sedang duduk di kursi sambil berbincang-bincang untuk mengisi kejenuhan mereka di rumah sakit.


Sesekali Ayah Faizal memberikan jokes receh yang membuat kedua besannya tertawa terpingkal-pingkal.


Papa Rio bahkan memuji kepiawaian seorang Faizal Hidayatullah yang ternyata bisa membuat ia dan istrinya tertawa lepas.


“Mas Faizal sepertinya berbakat menjadi komedian,” celetuk Papa Rio.


“Wah, kalau saya jadi komedian takutnya komedian yang lain tidak laku karena saya,” balas Ayah Faizal sambil menahan tawanya.


Suasana hati mereka pagi itu cukup bahagia karena mereka sangat yakin bahwa sebentar lagi Adi bangun dari tidurnya.


Ketika sedang berbincang-bincang, seorang Dokter bernama Jefry menghampiri ketiganya untuk memberitahu hal penting mengenai kondisi Adi.


“Permisi,” ucap Dokter Jefry.


Ketiganya kompak bangkit dari duduk dan menyapa Dokter Jefry.


“Selamat pagi, Dok!”


“Pagi juga. Ada hal penting yang harus saya sampaikan dan tentu saja kabar ini sangat ditunggu oleh keluarga Tuan Adi,” ucap Dokter Jefry.


“Apa Dok? Apa ada sesuatu yang sangat penting? Menantu saya baik-baik saja, 'kan?” tanya Mama Ismia panik.


“Tuan Adi telah siuman dan dari tadi memanggil nama Caca. Pasti itu istrinya,” terang Dokter Jefry.


Akhirnya setelah hampir seminggu lamanya, mereka mendengar kabar bahwa Adi telah siuman. Mereka bertiga menangis terharu sambil terus mengucapkan syukur atas kebaikan Allah SWT.


“Terima kasih, Dokter. Sekali lagi terima kasih,” ucap Mama Ismia.


“Cukuplah berterima kasih kepada Allah. Kalau begitu saya permisi, karena sebentar lagi Tuan Adi akan pindah ke ruang lain,” terang Dokter Jefry dan melenggang pergi melanjutkan pekerjaannya yang lain.


Mama Ismia pun meminta suaminya untuk segera menjemput mereka bertiga yang ada di rumah kontrakan. Tanpa pikir panjang, Papa Rio pun berangkat menjemput Besan, putri kesayangannya dan cucu pertama mereka.


“Sebaiknya Mas Faizal ikut menjemput mereka. Biar saya sendirian di sini,” tutur Mama Ismia pada besannya.


Ayah Faizal langsung mengiyakan dan mereka pun bergegas menjemput Ibu Puspita, Caca serta Bayi Yusuf.


Beberapa saat kemudian.


Caca dan Ibu Puspita baru saja selesai membersihkan warung yang cukup kotor. Mereka bahkan mengucapkan terima kasih satu sama lain berkat kerja tim yang sangat baik itu.


Setelah membersihkan warung, mereka bergegas kembali ke dalam rumah untuk melihat Bayi Yusuf.


Saat Ibu Puspita menoleh ke arah jalan raya, ia melihat mobil milik besannya.


“Caca, bukankah itu mobil orang tua Caca?” tanya Ibu Puspita sambil menepuk pundak Caca dari belakang.


Caca pun menoleh ke arah mobil yang sedang melaju menuju mereka.


“Iya, Bu. Itu mobil Papa, tapi kenapa Papa ke sini ya?” tanya Caca penasaran.


Mobil pun berhenti tepat di depan rumah. Papa Rio dan Ayah Faizal turun dari mobil dengan full senyum.

__ADS_1


“Assalamu'alaikum,” ucap keduanya.


“Wa'alaikumsalam,” balas Caca dan Ibu Mertua.


“Papa dan Ayah ngapain ke sini? Ini saja belum ada jam 9” ujar Caca terheran-heran.


“Papa ada kabar baik untuk Caca, Papa harap Caca jangan menggila,” tutur Papa Rio.


“Sejak kapan Caca bisa menggila, Papa? Cepat beritahu apa yang ingin Papa katakan pada Caca!” pinta Caca.


“Caca mau ke rumah sakit sekarang apa nanti? Soalnya Adi mau ketemu Caca,” ungkap Papa Rio.


Mulut Caca menganga lebar mendengar bahwa suaminya ingin bertemu dirinya. Yang artinya, Sang suami telah siuman.


“Papa tidak membohongi Caca, 'kan?” tanya Caca memastikan.


“Tentu saja tidak, kalau tidak percaya tanya saja pada Ayah Faizal,” balas Papa Rio.


Caca dengan perasaan bahagia melompat-lompat seperti anak kecil. Siapa yang tidak gembira mengetahui Sang suami telah siuman.


“Caca, kendalikan diri kamu. Jangan menggila di sini,” ucap Papa Rio sengaja menggoda putri kesayangannya.


Caca tertawa kecil dan di detik berikutnya ia menangis terharu.


“Kok kesayangannya Papa menangis?” tanya Papa Rio sambil memeluk putrinya.


“Caca menangis terharu, Papa. Akhirnya Mas Adi siuman,” jawab Caca.


1 Jam Kemudian.


Mereka baru saja sampai di area parkir rumah sakit. Terlihat jelas bahwa Caca tak sabar ingin bertemu dengan Sang suami yang telah siuman.


Jantungnya berdetak tak karuan, rasanya hampir copot dan ia semakin salah tingkah karena akan bertemu Sang suami.


“Bu, jantung Caca dag dig dug. Bagaimana ini, Bu?” tanya Caca sambil memegang erat tangan Ibu mertua.


Ibu Puspita terkejut ketika merasakan telapak tangan Caca yang terasa dingin. Efek samping karena ingin bertemu putranya, Adi Hidayatullah.


“Ibu kok melihat Caca seperti itu? Caca aneh ya?” tanya Caca penasaran.


“Pasti sangat senang ya karena akan bertemu Adi?” tanya Ibu Puspita.


“Tentu saja, Ibu. Akhirnya Caca bisa bertemu Mas Adi dan mungkin bisa melepas rindu,” jawab Caca.


Merekapun tiba di depan sebuah ruangan.


“Mama, kok di sini? Mas Adi sudah pindah ya dari ICU?” tanya Caca.


“Caca, cepat masuk ke dalam. Suamimu sudah menunggu kamu dan Yusuf,” tutur Mama Ismia.


Caca pun mendekat ke Papa Rio untuk mengambil bayinya yang menggemaskan.


“Caca permisi masuk dulu ya semua,” tutur Caca dan perlahan masuk ke dalam ruang Sang suami.

__ADS_1


Jantung Caca berdetak tak karuan bersamaan dengan langkah kakinya yang berjalan menuju suami tercinta.


“Mas Adi!” panggil Caca sambil menyentuh pipi suaminya.


Adi tak juga merespon dan itu membuat Caca frustasi. Caca dengan lembut meletakkan bayinya di dekat suaminya dan kembali menyentuh pipi suaminya, akan tetapi lagi-lagi Adi tak merespon.


“Mas jangan bercanda dengan Caca dalam keadaan begini. Kalau Mas tidak mau bangun, Caca akan pergi mencari suami baru,” tutur Caca dan berbalik ingin pergi.


“Caca sayang!” panggil Adi.


Mendengar suara yang sangat ia rindukan, membuat Caca menangis terharu. Caca berbalik dan mencium bibir suaminya dengan lembut.


“Bagaimana keadaan Mas sekarang?” tanya Caca dengan terus berlinang air mata.


“Mas hanya bisa berbaring seperti ini. Tidak banyak hal yang bisa Mas lakukan, karena kedua tangan Mas patah dan kaki kanan Mas juga patah,” jawab Adi.


“Mas masih bisa tahan, 'kan?” tanya Caca seraya membelai lembut rambut suaminya.


“Tentu saja bisa, Caca sayang. Allah ternyata masih mengizinkan Mas untuk berkumpul dengan kalian. Mas pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi,” terang Adi.


“Hiks.. hiks... Mas jangan bicara seperti itu,” ucap Caca yang menangis tersedu-sedu.


“Sudah dong jangan nangis, Mas ini tidak apa-apa. Seharusnya kamu memberikan Mas sebuah senyuman dan bukannya air mata,” tutur Adi.


Caca menggelengkan kepalanya dan mencium kening suaminya dengan penuh cinta.


“Caca sangat sayang dengan Mas. Terima kasih ya Mas karena sudah mau bertahan untuk kami,” balas Caca.


“Mas yang seharusnya berterima kasih kepada Caca yang tak pernah putus mendo'akan suamimu ini. Maaf, karena Caca harus melihat Mas dalam kondisi menyedihkan seperti ini,” ucap Adi yang akhirnya menangis.


Adi menangisi dirinya sendirinya yang dalam keadaan parah, tapi masih bisa selamat atas izin Allah SWT. Entah bagaimana jadinya kalau ia sungguh meninggal dunia, meninggalkan seorang istri dan seorang bayi yang baru berusia 3 bulan.


Merekapun menangis bersama-sama karena pada akhirnya Allah memberikan kesempatan untuk keduanya menjalani hidup yang lebih baik lagi.


“Oek... Oek....” Bayi Yusuf yang berada tepat disamping Ayahnya ikut menangis.


“Maaf ya sayang, gara-gara Bunda dan Ayah menangis. Kamu juga ikut menangis.”


Caca menggendong bayinya dan menepuk-nepuk lembut bokong bayinya agar kembali terlelap.


Sekitar 5 menit lamanya, Bayi Yusuf kembali tidur dan dengan lembut Caca kembali meletakkan bayi mereka di ranjang rumah sakit.


“Caca kok jelek?” tanya Adi yang sengaja menggoda istrinya.


“Benarkah?” tanya Caca panik.


“Mas hanya bercanda saja, istriku. Istriku tetap cantik tapi terlihat kurang sehat,” tutur Adi.


“Mas tidak perlu memikirkan Caca, lebih baik Mas fokus untuk sembuh supaya bisa berkumpul lagi di rumah,” balas Caca.


Adi tersenyum dan meminta istrinya untuk menciumnya sekali lagi.


Dengan penuh semangat, Caca mencium seluruh wajah suaminya berulang kali.

__ADS_1


__ADS_2