Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Kelakuan Konyol Pengantin Baru


__ADS_3

Adi bersiap-siap menuju masjid untuk melaksanakan sholat jum'at bersama Papa Rio dan juga Ayah Faizal. Melihat suaminya mengenakan pakaian koko membuat Caca tak berhenti tersenyum dan juga memuji suaminya.


“Mas sangat tampan,” puji Caca di depan orangtuanya dan mertuanya.


Mama Ismia menepuk tangan putrinya agar tak. terlihat seperti istri yang kekanak-kanakan.


“Apaan sih Ma?” tanya Caca yang malah semakin menempel pada suaminya.


Dengan santainya, Caca memeluk lengan suaminya yang akan pergi untuk melaksanakan sholat jum'at.


“Caca, nanti dilanjutkan lagi ya, sekarang suamimu harus segera pergi ke masjid,” ucap Mama Ismia dengan sedikit menarik tangan Caca supaya lepas dari menantunya.


Papa Rio hanya bisa memberikan tatapan dingin kepada putrinya dan kemudian, merangkul lengan menantunya untuk segera pergi ke masjid.


Melihat Papa nya menatapnya dengan dingin, Caca pun membalas dengan tatapan melotot tajam.


“Caca, tidak boleh begitu sama orang tua,” ucap Mama Ismia dan sedikit memaksa putrinya untuk segera masuk ke dalam kamar.


Caca dengan cepat berlari ke arah Ibu mertuanya.


Melihat Caca dan besannya saling menempel, membuat Mama ismia agak khawatir. Khawatir mengenai besannya yang harus menghadapi sikap manja Caca.


“Ibu, Caca boleh tanya sesuatu?” tanya Caca dengan tatapan penuh antusias.


“Menanyakan soal apa ya Nak Caca?” tanya Ibu Puspita.


Caca dengan semangat mengajak Ibu mertuanya untuk duduk di sofa, agar perbincangan mereka semakin santai.


“Mama boleh bergabung?” tanya Mama Ismia menghampiri Caca dan Ibu Puspita.


“Tentu saja boleh, sini Mama duduk di samping Caca!”


Caca menunjukkan senyum manisnya sembari menyentuh tangan dari Ibu mertuanya.


“Ibu, sekarang Caca sudah menjadi menantu. Caca ingin tahu apakah selama ini Mas Adi pernah dekat dengan wanita dan apakah wanita itu lebih cantik dari Caca?” tanya Caca penasaran.


Mama Ismia hanya bisa diam sambil menahan diri untuk tidak berkomentar apapun mengenai pertanyaan Caca itu.


“Kalau soal itu, Nak Caca tanyakan sendiri kepada suami Caca. InshaAllah Adi bisa menjawabnya,” balas Ibu Puspita.


Itu bukanlah jawaban yang Caca inginkan dan Caca juga tidak mungkin menanyakan langsung kepada suaminya.


“Tanya tidak ya?” gumam Caca.


Saat itu juga Caca pamit ke kamarnya untuk beristirahat sejenak sembari menunggu suaminya pulang.


****


Bintang di malam hari bertebaran dengan sangat indah dan itu membuat Caca begitu bahagia karena bintang ikut mengucapkan selamat atas pernikahannya yang tidak terduga itu.


“Kenapa masih di luar?” tanya Adi yang sengaja menghampiri Caca di luar rumah.


Caca berbalik badan dan dengan agresif memeluk erat tubuh suaminya.

__ADS_1


“Mas khawatir yang dengan Caca? Takut Caca masuk angin?” tanya Caca yang semakin erat memeluk suaminya.


“Caca lepaskan! Bagaimana kalau ada yang melihat?”


“Tidak. Pokoknya Caca ingin selamanya memeluk Mas,” jawab Caca.


Papa Rio yang tak sengaja melihat bagaimana Caca begitu agresif, bergegas menghampiri pengantin baru itu.


“Caca? Pergilah ke kamar sekarang!” perintah Papa Rio agar mereka bisa bermesraan di kamar daripada harus bermesraan di luar rumah.


Mendengar perintah dari Papa Rio, Caca pun dengan semangat menarik tangan suaminya untuk masuk ke dalam kamar mereka.


Adi tak bisa menolak karena Papa Rio terus saja memperhatikan mereka.


Setibanya di kamar, Caca kembali memeluk suaminya dan meminta suaminya untuk membalas pelukannya.


“Cepat peluk Caca!” pinta Caca.


Adi perlahan menggerakkan tangannya melingkar ke tubuh istrinya.


“Mas, sebenarnya ada pertanyaan yang ingin Caca tanyakan. Akan tetapi, sekarang pertanyaan itu sudah tidak penting lagi bagi Caca. Yang paling penting Mas sudah menjadi suami Caca dan Caca sudah menjadi istri Mas,” ucap Caca bahagia.


“Caca, sudah malam. Mas juga sangat lelah dan ingin segera beristirahat,” ujar Adi yang ingin segera tidur.


“Kita tidak melakukan malam pertama, Mas?” tanya Caca yang begitu mengharapkan malam pertama mereka.


Wajah Adi tiba-tiba merah begitu juga dengan kedua telinganya.


Melihat wajah serta telinga suaminya yang merah, Caca begitu panik dan mencoba menghilang warna merah tersebut.


Caca berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil gayung yang berisikan air. Kemudian, mencelupkan sesuatu untuk membasahi wajah serta telinga suaminya.


“Caca, apa yang kamu lakukan?” tanya Adi ketika wajahnya ditempelkan sebuah kain.


“Mas diam saja, bisa jadi ini bukan alergi,” jawab Caca dengan santainya.


Mata Caca mendelik tajam dan mulutnya melongo lebar ketika menyadari kain tersebut adalah celan* d*lam miliknya.


“Ada apa?” tanya Adi dan mengambil kain yang berada di wajahnya saat itu juga.


“Jangan melihat!” Caca berusaha mengambil cel*na dal*m miliknya dengan sekuat tenaga.


Melihat reaksi berlebihan dari istrinya, saat itu juga Adi membentangkan kain tersebut yang ternyata adalah celancelan* dal*m berwarna merah terang.


“Aaaaaaa!!!” Adi berteriak sembari melempar jauh celan* dal*m milik istrinya.


Caca hanya bisa menunduk di hadapan suaminya dengan penuh penyesalan.


“Caca, bagaimana bisa kamu meletakkan kain itu ke wajahku?” tanya Adi sebagai bentuk protes, namun tak sampai membentak Caca.


“Maafkan Caca, Mas. Caca sama sekali tidak ada maksud begitu. Caca juga tidak tahu,” jawab Caca.


Adi mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat karena gemas ingin memukul kepala istrinya dengan sumpit.

__ADS_1


“Jangan ulangi kesalahan seperti ini lagi, sekarang Mas ingin tidur dan kamu juga harus tidur,” ujar Adi dengan tenang.


“Terus bagaimana dengan malam pertama kita?” tanya Caca penasaran.


“Masih ada lain waktu, lagipula kita berdua sama-sama lelah,” jawab Adi.


Adi belum siap untuk melakukan malam pertama yang diinginkan oleh Caca. Karena kondisinya yang masih kelelahan. Akan tetapi, Adi berjanji dalam hati bahwa malam itu akan terjadi setelah ia benar-benar sanggup dan juga siap.


Caca mengiyakan dan mempersilakan suaminya untuk tidur lebih dulu. Sementara ia, masih ingin terjaga sementara waktu.


“Ok,” jawab Adi singkat dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya sekaligus berwudhu.


Setelah selesai dari kamar mandi, Adi pun berbaring di tempat tidur dengan posisi miring ke kanan. Kemudian Adi memejamkan mata agar segera tidur.


Caca melirik ke arah suaminya dan memastikan apakah suaminya sudah tidur ataukah belum. Setelah dipastikan bahwa Adi tidur, dengan langkah kecil Caca memungut celan* dal*m miliknya.


“Haduh, semoga Mas Adi tidak memberitahu Mama dan Papa perihal ini,” gumam Caca dan tertawa kecil mengingat kelakuannya yang aneh itu.


Setelah meletakkan celan* dal*m yang basah, Caca pun bergegas naik ke tempat tidur miliknya yang setengahnya telah di kuasai oleh suaminya.


“Mas sudah tidur?” tanya Caca lirih.


Caca memandangi suaminya dalam-dalam dan perlahan tangannya membelai wajah Adi. Adi pun bereaksi dengan gerakan kecil dan akhirnya Caca tahu bahwa suaminya belum tidur.


“Mas belum tidur?” tanya Caca.


Adi berusaha untuk tetap memejamkan matanya dan ia pun tersentak ketika Caca tiba-tiba mengecup bibir nya.


“Caca, apa yang kamu lakukan?” tanya Adi yang sudah jatuh dari tempat tidurnya sembari menutup bibirnya yang baru saja di kecup oleh Caca.


“Mas santai saja dong, itu tadi hanya hadiah kecil untuk Mas. Yang paling penting, tadi itu kecupan pertama Caca,” jawab Caca dengan sangat bangga.


Adi cukup tenang mendengar bahwa itu adalah hal pertama bagi Caca maupun dirinya.


“Mas juga tidak pernah mengecup apalagi mencium wanita?” tanya Caca penasaran.


“Pernah,” jawab Adi.


“Apa???” Caca terkejut dan memeluk suaminya dengan bantal berulang kali.


“Bapak dan Ibu yang pernah melakukannya ketika Mas masih bayi,” jawab Adi ketika melihat bagaimana Caca yang sedang dilanda cemburu.


Caca menghentikan pukulannya dan memeluk suaminya dengan erat.


“Caca, ini sudah malam dan kenapa harus memeluk Mas di lantai begini?” tanya Adi mencoba melepaskan pelukan Caca.


“Baiklah, ayo cepat!” perintah Caca yang sudah berada diatas tempat tidur.


Adi kembali melongo melihat Caca yang begitu aktif.


“Kenapa bengong, Mas? Ayo cepat naik!” pinta Caca.


Adi pun naik dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut agar Caca tidak macam-macam padanya.

__ADS_1


“Mas tidak kepanasan tidur model begitu?” tanya Caca ketika melihat suaminya terbungkus selimut, sama persis dengan kepompong.


“Tidak sama sekali,” jawab Adi dari balik selimut.


__ADS_2