
Sesampainya di rumah, Caca memutuskan untuk beristirahat dan ternyata sudah ada dokter yang menunggunya.
“Tante ngapain di sini?” tanya Caca pada dokter wanita yang tak lain adalah adik dari Papa Rio.
“Papamu tadi mengirim pesan kalau kamu habis bertengkar. Sini, Tante mau lihat wajah mu yang terkena cakaran,” tutur Tante Risty.
“Wajah Caca bisa cantik lagi, kan?” tanya Caca yang tidak ingin jika cakaran Wuri membuat wajahnya menjadi jelek.
“Tenang sayang, Tante ada krim yang bisa membuat wajahmu kembali mulus.”
“Kalau tidak mulus juga, bagaimana Te? Atau Caca harus melakukan operasi wajah?” tanya Caca dengan serius.
Papa Rio dan Tante Risty tertawa geli mendengar pertanyaan Caca.
“Kamu ini ada-ada saja. Lagian tidak sampai operasi kok,” pungkas Tante Risty.
“Tante Risty tidak bekerja hari ini?”
“Jam kerja Tante sudah berakhir dan besok pagi Tante berangkat. Kamu kapan mau main sama adek Chika?” tanya Tante Risty.
Caca tidak terlalu dekat dengan adik sepupunya itu. Karena menurut Caca, Chika agak cerewet dan juga cengeng.
Caca hanya tersenyum dan permisi untuk pergi ke kamarnya. Sebelum naik ke lantai atas, Tante Risty memberikan krim wajah untuk Caca agar bekas cakaran itu cepat menghilang.
***
Keesokan pagi.
Kali ini Papa Rio sengaja mengantarkan Caca ke sekolah karena Mama Ismia ada meeting penting yang tidak bisa di tunda.
“Caca belajar yang rajin ya sayang, Papa pergi dulu. Nanti Papa yang jemput!”
Caca mencium punggung tangan Papa Rio dan dengan semangat melambaikan tangannya ketika Papa Rio masuk ke dalam mobil.
“Caca!” Lia dan Rina berlari kecil menghampiri Caca.
“Hai! Apa kabar?” tanya Caca menyapa Lia dan Rina.
“Justru kami yang harusnya bertanya mengenai kabar kamu. Bagaimana kabar kamu? Seharusnya kemarin itu Aku saja yang bertengkar dengan Wuri,” ucap Rina.
“Dasar omdo,” celetuk Lia.
“Omdo? Siapa juga yang omong doang. Lagian ya, cewek seperti Wuri itu harus di beri pelajaran,” sahut Rina.
__ADS_1
“Ini masih pagi dan kalian berdebat dengan hal yang tidak penting. Stop membahas masalah aku dan Wuri. Lebih baik, kalian membantu ku mendekati Pak Adi,” ucap Caca malu-malu.
“Caca!” Lia dan Rina tak habis pikir dengan keinginan gila Caca.
Adi melihat Caca dari kejauhan yang tengah tertawa lepas bersama dengan Lia dan juga Rina.
Caca tak sengaja melihat Adi yang sedang memperhatikannya dari depan ruang guru. Saat itu juga Caca melambaikan tangannya dan terus tersenyum lebar.
Adi sama sekali tak membalas lambaikan tangan Caca maupun tersenyum pada gadis 17 tahun itu.
“Jelas sekali kalau Pak Adi melihat ke arahku. Tapi kenapa malah berpura-pura tak melihatku?” tanya Caca dengan sedih.
“Caca, kamu tidak boleh terlalu percaya diri seperti itu. Bisa jadi Pak Adi itu sedang memantau lingkungan sekolah. Yuk lebih baik kita masuk ke sekarang!” Lia menggandeng tangan Caca, begitu juga dengan Rina yang juga menggandeng tangan Caca.
Mereka berjalan seperti sebelumnya, yaitu Caca di tengah dan dua lainnya di sisi kanan serta kiri Caca.
Tiba di kelas, Wuri melempar senyum ke arah Caca dan hanya di balas anggukan kepala oleh Caca.
“Caca, Wuri kenapa senyum padamu? Memangnya apa yang sudah terjadi kemarin?” tanya Lia dengan berbisik.
“Aku tidak ingin membahasnya,” jawab Caca.
Guru datang lebih awal karena tidak ingin hal kemarin terjadi lagi.
“Selamat pagi, Anak-anak. Hari ini ada ulangan harian,” ucap Intan Guru Matematika.
“Kami belum belajar, Bu. Minggu depan saja ya,” ucap salah satu murid di kelas.
“Kalian sebentar lagi mau ujian akhir sekolah. Itu artinya, tinggal beberapa minggu lagi kalian akan lulus. Jadi, Hari ini kalian harus ulangan,” tegas Intan.
Bel sekolah berbunyi dan saat itu juga pelajaran di mulai. Akan tetapi, sebelum pelajaran di mulai mereka berdo'a terlebih dahulu.
Caca menoleh ke arah luar kelas dan secara kebetulan saat itu Adi lewat. Caca reflek melambaikan tangannya ke arah Guru olahraga dan di balas senyum oleh Adi.
Caca tertawa kegirangan dan sama sekali tidak menyadari bahwa ia menjadi sorotan teman yang lain. Intan selaku Guru yang sedang mengajar, meminta Caca untuk maju ke depan.
“Caca, maju ke depan sekarang juga dan kamu ulangi do'a sebelum belajar!” perintah Intan.
Dengan senang hati Caca maju dan membaca do'a sebelum belajar dengan sangat lantang. Pagi itu, suasana hatinya cukup baik karena Adi tersenyum padanya.
“Lain kali kalau temannya berdo'a, kamu juga harus berdo'a!” tegas Intan dan kembali mempersilahkan Caca untuk duduk.
Senyum Caca begitu lebar seakan-akan mendapatkan jackpot besar.
__ADS_1
“Caca, kendalikan dirimu,” ucap Lia mengingatkan Caca.
“Iya, maaf. Habisnya Pak Adi tersenyum padaku,” balas Caca.
“Sudah jangan ada yang bicara lagi, sekarang kalian fokus dengan ulangan harian!”
***
Jam sekolah telah berakhir dan seperti biasa, para murid berhamburan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
“Caca, aku pulang duluan ya. Bye!” Rina melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobil.
Arah pulang Caca, Lia dan juga Rina sama-sama berlawanan arah. Hal itu, membuat Caca sedikit sedih karena tidak bisa berangkat maupun pulang bersama dua temannya.
“Papa kenapa belum datang? Mana sekolah mulai sepi,” ucap Caca.
Caca duduk di kursi tunggu seorang diri tanpa ada seorangpun yang bisa di ajak bicara.
“Itu Pak Adi dan Bu Intan ngapain berduaan di situ? Tidak bisa dibiarkan, aku harus ke sana,” ucap Caca.
Caca berlari kecil menghampiri Adi dan Intan yang sedang mengobrol.
“Hallo, Pak Adi!” Caca mencium punggung tangan Adi dengan tersenyum manis.
Intan mengangkat tangannya agar Caca juga mencium punggung tangannya.
Caca pun dengan terpaksa mencium punggung tangan Intan.
“Caca, kenapa kamu belum pulang? Ya ampun, nilai kamu matematika kamu itu kenapa jelek sekali?” tanya Intan.
“Gurunya kurang pintar, Bu,” celetuk Caca.
Intan merasa kesal karena celetuk Caca mengarah padanya.
“Memangnya tadi Caca nilai berapa?” tanya Adi penasaran.
“60 itu juga Caca sudah berusaha, Pak Adi,” jawab Caca dengan sedikit manja.
“Caca belajar lebih giat lagi ya, agar nilai ujian Caca memuaskan,” ucap Adi menyemangati Caca.
Caca tersenyum bahagia dan mengiyakan ucapan Adi yang nampak begitu perhatian dengannya.
Intan tak suka percakapan keduanya yang begitu dekat.
__ADS_1
“Pak Adi, ayo ke ruang Guru. Sudah siang, kita juga harus pulang!” ajak Intan sambil menggandeng lengan Adi.
Melihat hal itu, Caca buru-buru menjauhkan tangan Intan yang menggandeng lengan Guru kesayangannya.