Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Akhirnya setelah menunggu cukup lama, mereka berdua akan merasakan yang namanya sebuah resepsi pernikahan.


Akan banyak saudara yang datang serta orang-orang penting yang ikut meramaikan acara tersebut.


Adi datang menghampiri istri kecilnya yang sedang bersiap untuk pergi ke pelaminan bersama Sang suami.


“Caca, kamu hari ini terlihat semakin cantik,” puji Adi melihat Caca mengenakan gaun pengantin yang begitu mewah.


“Mas suka dengan penampilan Caca hari ini?” tanya Caca dengan tersenyum malu-malu.


“Sangat suka dan tentu saja membuat Mas semakin cinta dengan Caca,” jawab Adi.


Papa Rio dan Mama Ismia datang menghampiri keduanya untuk menjemput mereka supaya segera duduk di kursi pelaminan menyambut kedatangan para tamu undangan.


“Sayang, ingat ya kamu harus banyak duduk. Kalau kamu merasa tidak nyaman segera beritahu suamimu atau beritahu kami,” ucap Mama Ismia mengingat Caca yang masih hamil.


“Baik, Mama. Caca akan langsung mengatakan bila nantinya Caca merasa tidak nyaman,” balas Caca.


“Ayo sayang, mereka sudah menunggu kalian berdua!”


Papa dan Mama kompak menggandeng putri kesayangan mereka. Pada saat akan naik ke kursi pelaminan, Mama serta Papa menyerahkan Caca kepada Adi.


Adi dan Caca berjalan perlahan naik ke kursi pelaminan dengan disaksikan banyak pasang mata memandang mereka berdua. Bahkan, ada juga yang mengambil gambar mereka berulang kali.


“Mas, ayo senyum. Kok wajahnya malah tegang begitu?” tanya Caca.


“Ini juga senyum, sayang,” balas Adi tersenyum kaku.


Caca tertawa lepas melihat senyum suaminya yang sangat kaku.


“Mas Adi, coba di bawa santai saja. Jangan tegang, kita tidak sedang berperang.”


Adi mengangguk kecil isyarat bahwa ia mengerti dengan ucapan Sang istri.


Satu-persatu para tamu undangan menghampiri mereka berdua untuk memberi salam dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka tahun lalu.


“Caca!” Lia dan Rina datang memberi ucapan selamat kepada Caca.


“Aku pikir kalian tidak akan datang, terima kasih ya telah menyempatkan waktu datang ke resepsi pernikahan kami,” ucap Caca pada kedua sahabatnya.


Adi dan Caca cukup kelelahan karena masih banyak tamu yang belum mengucapkan selamat kepada mereka.


“Mas, kok tamunya makin banyak ya?” tanya Caca yang ingin kembali duduk karena cukup pegal jika berdiri terus-menerus.


“Sabar ya sayang, mungkin sebentar lagi agak sepi,” balas Adi.


Adi dan Caca tersenyum lebar setiap ada yang datang. Namun, senyum keduanya langsung memudar seorang wanita mengenakan gaun putih datang kepada mereka.


“Mas mengundang Mak Lampir?” tanya Caca yang tiba-tiba saja suasana hatinya langsung jelek melihat Intan.


“Tidak. Mas sama sekali tidak mengundangnya,” jawab Adi yang memang tidak mengundang Intan.

__ADS_1


Adi serta Caca memandang Intan dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak, dandanan Intan terkesan menor. Lipsticknya merah seperti darah segar dan riasan matanya biru gelap seperti orang yang baru saja terkena tinju.


“Pak Adi...” Intan berdiri tepat di hadapan Adi dengan berderai air mata.


Adi maupun Caca melongo melihat Intan yang tiba-tiba saja menangis.


“Pak Adi, saya akan merelakan Pak Adi mulai hari ini. Meskipun hati saya sakit, saya akan mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Ya ada sedikit rasa kesal karena kalian berdua menari di atas penderitaan saya,” ucap Intan.


Tentu saja apa yang Intan ucapkan hanya bisa di dengar oleh Adi da Caca. Sementara para orang tua sibuk dengan para tamu yang datang.


“Ibu, tolong jangan membuat malu di acara resepsi pernikahan kami. Kalau Ibu masih berkata yang tidak masuk akal, saya terpaksa akan meminta security untuk mengusir Ibu,” ucap Caca dengan menjaga ekspresi wajahnya agar tidak terbaca oleh tamu undangan yang lain bahwa dirinya tengah marah kepada Intan.


Intan tersenyum lebar dan melenggang pergi tanpa ingin bersalaman dengan Caca.


Mood Caca seketika itu hilang, ia pun duduk dan tak ingin berbicara kepada siapapun.


“Sayang, maafkan Mas ya,” ucap Adi.


“Mas untuk apa meminta maaf atas apa yang Mak Lampir itu lakukan kepada kita?”


Adi menyentuh tangan Caca dan membelai punggung tangan Caca dengan perlahan. Caca menarik napas panjang dan mengeluarkan secara perlahan-lahan.


Cara itu cukup ampuh untuk membuat hatinya tenang dan perlahan ia tersenyum agar energi positif kembali datang padanya.


“Caca sekarang merasa jauh lebih baik,” ujar Caca dan kembali bangkit untuk menyambut kedatangan para tamu yang datang menghampiri mereka berdua.


Beberapa saat kemudian.


Caca sudah tidak sanggup untuk berdiri lagi, sepertinya bayi di dalam perutnya ingin segera beristirahat di dalam kamar.


“Mas, Caca sudah tidak sanggup berdiri lagi. Kaki Caca pegal dan pinggang Caca serasa ingin copot,” ujar Caca mengeluh pada suaminya mengenai kondisi tubuhnya.


Caca memberi isyarat kepada Papa Rio mengenai Caca yang sudah kelelahan. Saat itu juga Papa Rio berlari mendekati putri kesayangannya dan membawa putrinya itu masuk ke dalam kamar.


Kini, hanya ada Adi yang tetap berada di kursi pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.


“Papa, Caca mau makan sesuatu. Boleh ya malam ini Caca makan salad buah!” pinta Caca yang sudah berada di dalam kamar.


Mama Ismia masuk ke dalam dan kebetulan sekali mendengar permintaan Caca yang ingin salad buah.


“Papa lebih baik temani menantu kita, biar Caca menjadi urusan Mama,” tutur Mama Ismia.


Papa Rio pun mengiyakan apa yang Mama Ismia dan bergegas menemani Adi serta kedua besannya.


“Caca mau salad buah?” tanya Mama Ismia seraya membantu Caca melepaskan gaun tersebut.


“Untuk buahnya anggur, kelengkeng dan apel ya Mas!” pinta Caca request buah yang ia inginkan.


“Iya sayang, Mama akan membuatkannya untuk kamu. Sekarang kamu istirahat ya di sini, Mama ke belakang dulu,” tutur Mama Ismia.


Sembari menunggu salad buah yang Caca inginkan jadi, Caca memutuskan untuk mengenakan piyama sekaligus menghapus seluruh make up di wajahnya.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, Para Guru dari sekolah Cendekiawan datang untuk menberikan selamat kepada Adi. Mereka penasaran kepada Caca yang ternyata sudah tidak ada di kursi pelaminan.


“Pak Adi, istrinya mana kok tidak kelihatan?” tanya Pak Kepala Sekolah.


“Iya Pak, istri saya sudah lelah dan butuh istirahat,” jawab Adi.


Satu-persatu Para Guru Cendekiawan mengucapkan selamat kepada Adi dan mendo'akan agar rumah tangga mereka berdua selalu sakinah, mawaddah dan warahmah.


3 Jam Kemudian.


Acara resepsi pernikahan telah selesai, Adi sangat lelah dan bergegas menyusul istri kecilnya yang sudah lebih dulu beristirahat.


“Caca sayang.” Adi masuk ke dalam kamar seraya memanggil Sang istri yang sudah tidur nyenyak.


Melihat istri kecilnya yang nampak kelelahan, membuat Adi tak tega membangunkan Sang istri. Dengan hati-hati, Adi melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.


Di saat yang sama, Caca bangun ketika mendengar suara pintu kamar mandi.


“Mas Adi,” panggil Caca lirih dengan mata yang masih terpenjam.


Sayup-sayup Caca membuka matanya dan turun dari tempat tidur untuk memastikan bahwa di dalam kamar mandi adalah Sang suami.


“Ternyata Mas Adi,” ucap Caca yang melihat suaminya tidak memakai sehelai benang pun.


Adi terkejut melihat Caca yanh ternyata sudah bangun.


“Caca, kamu bangun gara-gara Mas?” tanya Adi dengan tubuh yang sudah basah.


“Tidak juga, Mas cepat mandi ya. Caca mau minta peluk!” pinta Caca dan kembali menutup pintu kamar mandi agar Sang suami melanjutkan mandinya.


Caca menoleh ke arah nakas dan melihat sisa salad buah miliknya yang masih setengah. Tanpa pikir panjang, Caca mengambilnya dan menghabiskan salad buah buatan Mama tercinta.


Adi telah selesai membersihkan diri dan tertawa kecil melihat Caca mengunyah salad buah dengan mata terpenjam.


“Caca, kalau ngantuk ya langsung tidur,” tutur Adi.


Caca membuka matanya seraya menertawakan dirinya sendiri.


“Caca tidak tidur kok, Mas. Oya, Ayah dan Ibu tidur di rumah ini, kan?” tanya Caca.


“Iya sayang, Ayah dan Ibu tidur di lantai bawah. Bagaimana keadaan kamu?” tanya Adi sambil mengambil piyama yang berada di almari pakaian.


“Kaki Caca tidak terlalu pegal, tapi pinggang dan punggung Caca masih terasa pegal dan juga nyeri,” jawab Caca.


Adi yang sudah mengenakan pakaian, buru-buru mengambil minyak oleh di dalam tasnya. Kemudian, mengoleskan minyak tersebut ke pinggang dan punggung istri kecilnya.


“Terima kasih, Mas. Cuma Mas yang bisa mengerti apa yang Caca butuhkan,” ujar Caca.


Adi hanya tersenyum mendengar apa yang Caca katakan sambil terus memijat lembut punggung serta pinggang istri kecilnya.


“Mas, habis ini kita tidur ya!” ajak Caca.

__ADS_1


“Iya sayang, Mas juga sangat mengantuk. Besok pagi kita akan pulang ke rumah kontrakan,” balas Adi.


__ADS_2