
Adi dan Ayah Faizal berbelanja ke pasar setelah melaksanakan sholat subuh di masjid. Sambil menunggu keduanya pulang, Ibu Puspita memasak makanan untuk sarapan. Sementara Caca hanya duduk diam memperhatikan Ibu mertuanya memasak, bukan karena Caca tidak ingin membantu. Melainkan, Ibu Puspita yang tidak ingin membuat menantunya kelelahan.
Sebisa mungkin, Ibu Puspita meringankan tenaga menantunya selama dirinya tinggal bersama keluarga kecil itu.
“Ibu tidak bosan apa?” tanya Caca karena kegiatan Ibu rumah tangga mengurus segala macam pekerjaan rumah.
“Dibilang bosan tentu saja sangat bosan. Tapi itu dulu, sekarang Ibu justru senang karena bisa berolahraga. Diluaran sana, banyak juga seusia Ibu yang hanya terbaring di tempat tidur,” jawab Ibu Puspita.
“Ibu sama saja dengan Mas Adi. Kalau ditanya alasan mengenai beres-beres rumah, pasti jawabannya olahraga,” tutur Caca.
“Adi putra Ibu, tentu saja kami mirip,” pungkas Ibu Puspita dengan bangga.
Caca tersenyum malu dengan ucapan Ibu mertua.
“Caca, mereka sudah pulang. Cepat pergi ke depan!” pinta Ibu Puspita.
Caca mengiyakan dengan patuh dan berlari kecil menuju teras depan rumah.
“Assalamu'alaikum,” ucap Adi dan Ayah Faizal.
“Wa'alaikumsalam, wah ternyata belanjanya cukup banyak,” tutur Caca ketika melihat banyaknya belanjaan yang dibeli.
“Masih ada beberapa barang lagi yang masih berada di pasar. Mas dan Ayah pergi lagi ya,” balas Adi yang kembali menyalakan mesin motor.
“Mas dan Ayah hati-hati ya di jalan!” seru Caca sambil melambaikan kedua tangannya.
Ibu Puspita datang menghampiri Caca yang sedang sibuk menata barang belanjaan.
“Adi dan Ayah mana? Kenapa hanya barangnya saja yang ada?” tanya Ibu Puspita penasaran.
“Mas Adi dan Ayah sedang mengambil barang belanjaan di pasar,” jawab Caca.
“Sepertinya hari ini kita akan sibuk menata barang jualan ini,” tutur Ibu Puspita.
“Semoga lancar ya Bu!”
“Amiin,” balas. Ibu Puspita berharap dagangan mereka laris manis.
Beberapa saat kemudian.
Adi dan Ayah Faizal telah kembali dari pasar dengan membawa bahan-bahan kue yang cukup banyak.
“Mas sebaiknya ganti pakaian dan setelah itu kita makan bersama,” ucap Caca.
Adi dengan cepat berlari masuk ke dalam kamar, mengejar waktu agar tidak terlambat berangkat mengajar.
“Caca, biar ini menjadi urusan Ibu dan Ayah. Kamu sebaiknya ke kamar, bantu suaminya di dalam!” perintah Ibu Puspita.
“Baik, Ibu. Caca permisi.”
Caca pun masuk ke dalam kamar, untuk membantu suaminya bersiap-siap.
“Ada yang bisa Caca bantu?” tanya Caca.
“Sayang, tolong masukkan laptop Mas ke dalam tas ya!” pinta Adi yang sedang mengancing seragamnya.
“Baik, Mas. Caca akan memasukannya ke dalam tas,” jawab Caca dan dengan hati-hati memasukan laptop tersebut ke dalam tas khusus laptop.
Ada yang sudah selesai mengenakan pakaiannya, seketika itu berjalan menghampiri Caca dan mendekap erat tubuh istri kecilnya.
__ADS_1
“Sayang, entah kenapa hari ini suasana hati Mas tak tenang. Seperti gelisah, tapi tidak tahu alasan dari kegelisahan Mas,” ungkap Adi yang entah kenapa ingin selalu mendekap erat tubuh istrinya.
“Mas harus tenang, banyak-banyak berdo'a. Bukankah Mas yang selalu menyemangati Caca? InshaAllah tidak akan terjadi apa-apa,” tutur Caca.
Mendengar ucapan Caca membuat hatinya sedikit lebih tenang. Dikecup nya kening Caca dan berbisik dengan penuh cinta.
Caca tersipu malu mendengar perkataan suaminya yang sangat membuatnya tak bisa berkata-kata lagi.
“Mas, sudah waktunya sarapan,” tutur Caca mengingatkan suaminya untuk segera sarapan.
“Ya Allah, hampir saja lupa!”
Adi menggandeng tangan Caca dan merekapun bersama-sama menuju ruang makan.
Usai sarapan bersama, Adi akhirnya pamit untuk pergi mengajar.
“Caca mau ngapain?” tanya Ayah Faizal ketika melihat Caca hendak masuk ke dalam warung.
“Mau menata barang jualan,” jawab Caca.
“Tidak usah, biar Ayah dan Ibu saja yang menatang barang jualan. Lebih baik Caca temani Yusuf di kamar, takutnya nanti menangis dan kita tidak mendengar tangisan Yusuf,” pungkas Ayah Faizal.
“Ayah, tolong biarkan Caca ikut membantu. Caca akan sangat sedih kalau hanya diam tanpa membantu sedikitpun. Lagipula, Caca sangat ingin berjualan!” pinta Caca.
“Ya Allah, maaf ya Caca. Ayah sama sekali tidak bermaksud membuat Caca sedih. Baiklah, Caca boleh ikut membantu menata barang-barang ini,” tutur Ayah Faizal.
“Ayah sebaiknya menjaga Yusuf, biar Caca dan Ibu di sini,” sahut Ibu Puspita.
Beberapa saat kemudian.
Caca menangis terharu karena akhirnya warung miliknya sudah tertata rapi dengan kebutuhan dapur serta bahan-bahan kue.
“Ibu, terima kasih banyak. Caca sangat senang sekaligus terharu,” tutur Caca yang sudah berlinang air mata.
“Aamiin,” ucap Caca sambil menghapus air matanya.
Seorang gadis muda datang untuk membeli bahan kue yang dijual oleh Caca.
“Mbak, ada tepung terigu?” tanya gadis tersebut.
“Ada, mau berapa kg?” tanya Caca.
“Tepung terigu 3 kg, pewarna makanan warna hijau pandan 2, mentega 3 bungkus, telur 2 kg dan gula 2 kg,” ucapnya.
Caca dengan cepat mengambil semua barang yang disebutkan oleh gadis itu.
“Caca ingat semuanya?” tanya Ibu Puspita.
“Tentu saja Caca ingat dengan sangat baik!” seru Caca penuh percaya diri.
Dengan lihai Caca mencatat semuanya dan menjumlahkan semuanya tanpa menggunakan kalkulator.
“Serius harganya segini? Waw, harganya sangat terjangkau. Kalau begitu saya akan beli di sini terus,” ucapnya setelah selesai melakukan pembayaran.
Caca mengucapkan terima kasih dan akan menantikan kedatangan pembeli yang lainnya.
“Kamu mengambil untung sedikit, apa tidak apa-apa?” tanya Ibu Puspita.
“Lebih baik untung sedikit, tapi banyak yang datang untuk membeli lagi. Daripada mengambil untuk banyak dan pembeli justru kapok beli di sini,” jawab Caca dengan bijak.
__ADS_1
“MashaAllah, Adi pasti sangat senang mendengar jawaban Caca,” tutur Ibu Puspita memuji jawaban Caca.
“Ibu bisa saja, Caca jadi malu.”
Ayah Faizal datang sambil menggendong bayi Yusuf yang sudah bangun dari tidurnya.
“Caca, sepertinya popok Yusuf sudah penuh. Waktunya untuk mengganti popok,” tutur Ayah Faizal yang tengah menggendong Yusuf.
“Hallo kesayangannya Bunda, sudah bangun ya! Sini sama Bunda ya,” ucap Caca dan mengambil Yusuf dari gendongan Ayah Mertua.
Caca kemudian pamit untuk mengganti popok Yusuf dan meminta mertuanya segera memanggil dirinya kalau ada pembeli.
Yusuf diam dengan tenang di gendongan Bundanya, sesekali Yusuf menyentuh dagu Bundanya.
“Yusuf mau minum susu? Nanti ya, setelah Bunda mengganti popok Yusuf,” ujar Caca sambil meletakkan Yusuf ke tempat tidur.
“Oek.. Oek...” Yusuf menangis kencang dan Caca sebisa mungkin tetap tenang menangani bayi kecilnya.
“Yusuf sayang, jangan menangis ya. Bunda hanya ingin menggantikan popok Yusuf, kalau sudah selesai kita ke depan. Oke!!!”
Tangisan bayi Yusuf perlahan mereda ketika mendapatkan mainan miliknya.
“Kesayangannya Bunda sekarang pintar ya,” puji Caca yang telah selesai menggantikan popok Yusuf.
Ibu Puspita mengetuk pintu kamar Caca dan memberitahu menantunya bahwa ada pembeli.
Caca mengiyakan dan bergegas keluar kamar dengan menggendong bayi Yusuf.
“Sini, biar Yusuf Ibu yang gendong. Caca sebaiknya melayani pembeli!”
Caca menyerahkan bayi Yusuf ke dalam gendongan Ibu mertuanya dan dengan langkah lebar ia berjalan menuju warung.
Ayah Faizal duduk sambil memperhatikan cara Caca melayani pembeli.
“Alhamdulillah,” ucap Caca bersyukur karena di hari pertama jualan, sudah mendapatkan pemasukan lebih dari 200 ribu.
“Caca, kamu sangat cocok jadi pebisnis. Ayah berharap, kedepannya kamu dan Adi memiliki toko yang besar serta memiliki banyak karyawan,” ucap Ayah Faizal.
“Aamiin, terima kasih Ayah atas do'anya,” sahut Caca dan kembali masuk ke dalam rumah untuk menemani Yusuf bermain.
Ayah Faizal menghela napasnya sembari menyentuh dadanya yang sesak.
“Ya Allah, sembuhkanlah penyakit hamba ini!” pinta Ayah Faizal.
Ayah Faizal berserah diri kepada Yang Maha Kuasa atas penyakit yang ia derita. Meskipun hanya mengalami flu disertai batuk, akan tetapi rasanya benar-benar menyakitkan. Ayah Faizal sangat takut jika umurnya tidak akan lama lagi.
Dirinya masih ingin melihat cucunya tumbuh dengan baik dan ingin melihat Yusuf mengenakan seragam sekolah.
“Ibu, Caca mau menyeduh teh. Apakah Ibu mau?” tanya Caca menawarkan secangkir teh untuk Ibu mertua.
“Kamu saja, Nak Caca. Ibu sedang tidak ingin minum teh!”
“Baiklah, Caca ke belakang dulu ya Bu.”
Caca berlari kecil pergi ke arah dapur untuk membuat secangkir teh untuknya.
“Ya ampun, ternyata gula habis. Sebaiknya aku mengambil dari warung saja,” gumam Caca.
Caca merogoh uang disakunya untuk membeli gula di warung.
__ADS_1
“Caca mau apa? Belum ada pembeli lagi,” tanya Ayah Faizal karena Caca yang tiba-tiba saja muncul.
“Ayah, Caca mau membeli gula,” jawab Caca daj memasukkan uang pas ke dalam kotak uang.