Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Dinner Diteras Depan Rumah


__ADS_3

Setelah makan siang bersama, Papa Rio tiba-tiba saja memiliki ide yang cukup aneh. Yaitu, Dinner di halaman depan rumah. Entah bagaimana jadinya jika ide Papa Rio terealisasikan.


Karena tidak bisa berlama-lama,Lia dan Rina memutuskan untuk pamit pulang ke rumah mereka masing-masing.


Caca berusaha untuk menghentikan kedua sahabatnya agar pulang lebih sore. Akan tetapi, Lia dan Rina tidak bisa karena mereka ada kegiatan masing-masing di rumah.


“Maaf ya Caca, kami tidak bermaksud untuk pulang buru-buru,” ucap Lia.


“Sudah santai saja, kalian hati-hati ya di jalan. Terima kasih untuk ide menjengkelkan kalian. Kalian berhasil membuatku menangis,” terang Caca.


Lia dan Rina pun pamit kepada Caca serta yang lainnya.


“Semuanya, kami pulang. Assalamu'alaikum!”


“Wa'alaikumsalam!” seru Caca seeta yang lainnya.


Mereka pun bergegas masuk ke dalam mobil dan melaju pergi keluar dari area halaman rumah kontrakan Adi dan Caca.


Caca tersenyum lebar dan menyikut lengan suaminya karena masih geram dengan apa yang telah suaminya lakukan padanya.


“Caca sayang, jangan seperti ini. Rasanya cukup sakit,” ucap Adi.


“Salah siapa membuat Caca sedih? Mas pun mau mengadu sama Ibu?” tanya Caca.


Adi tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.


“Ayo kita duduk di ruang tamu. Ada yang ingin Papa sampaikan!” ajak Papa Rio.


Mereka pun bergegas berkumpul di ruang tamu dan penasaran dengan apa yang ingin Papa Rio sampaikan pada mereka.


“Papa mau membicarakan apa pada kami?” tanya Mama Ismia penasaran.


“Begini, bagaimana kalau nanti malam kita makan malam di halaman depan rumah?” tanya Papa Rio.


Caca merespon pertanyaan Papa Rio dengan raut wajah kebingungan. Begitu juga dengan yang lainnya. Kecuali, Adi Hidayatullah.


“Setuju!” seru Adi.


Caca, Ibu Puspita dan Mama Ismia saat itu juga menatap Adi.


“Bagaimana dengan yang lain?” tanya Papa Rio yang ingin mendengar pendapat yang lain.


“Kalau menurut Caca agak aneh, Papa. Belum lagi tetangga sekitar sini,” terang Caca.


“Kalau Mama sih Fifty fifty. Mama akan mengikuti suara terbanyak saja,” ucap Mama Ismia.


“Bagaimana dengan Mbak Puspita?” tanya Papa Rio penasaran dengan jawaban besannya.


“Bagaimana kalau kita dinner diteras rumah saja? Duduk di tikar sambil makan ikan panggang,” ucap Ibu Puspita memberi saran yang terdengar cukup bagus.


Papa Rio dan yang lainnya berpikir sejenak dengan saran Ibu Puspita. Kemudian, mereka dengan kompak mengiyakan saran tersebut.


“Saya setuju!” seru Papa Rio menyetujui saran baik besannya.


“Saya juga setuju!” seru Mama Ismia yang sangat setuju dengan saran Ibu Puspita.


Adi dan Caca saling tukar pandang seraya memberi sinyal agar terus kompak bersama.


“Kami setuju!” seru Adi dan juga Caca.


“Alhamdulillah, berarti nanti malam kita dinner alias makan malam diteras depan rumah ya!”


****


Sore Hari.


Warung tutup lebih awal karena keluarga mereka akan mengadakan makan malam bersama yang cukup unik. Caca tersenyum lebar dan tak sabar menunggu malam.


“Mama!” panggil Caca ketika sedang mengunci warung.


“Iya Caca sayang, ada apa? Ada yang ingin Caca katakan kepada Mama?” tanya Mama Ismia yang berdiri tepat disamping Caca.


“Terima kasih untuk hadiah ini. Caca sangat suka,” ucap Caca sambil menyentuh kalung berlian pemberian kedua orang tuanya.


“Iya sayang. Apakah Caca sangat menyukai kalung pemberian Mama dan juga Papa?” tanya Mama Ismia penasaran.


“Tentu saja sangat suka, Mama. Kalau tidak suka, mana mungkin Caca memakai kalung cantik ini?”


Mama Ismia tersenyum lega dan merangkul lengan putri kandungnya untuk menuntun putrinya itu masuk ke dalam rumah.


Setelah berada di dalam rumah, Caca duduk di kursi dekat dengan Papa Rio yang ketika itu sedang menggendong bayi Yusuf.

__ADS_1


Jika Caca duduk di kursi ruang tamu bersama Papa Rio, Yusuf dan juga Adi. Lain halnya dengan Mama Ismia, Ibu kandung Caca itu justru memilih untuk pergi ke dapur membuatkan minuman yang segar-segar di tengah hari yang cukup panas.


“Mbak Puspita seperti sedang sibuk di dapur,” ucap Mama Ismia ketika melihat Ibu Puspita sedang sibuk membuat sesuatu.


Ibu Puspita tersenyum sambil mencampurkan tepung beras ke dalam air.


“Mbak mau buat apa?” tanya Mama Ismia penasaran.


“Mau buat peyek, untuk cemilan nanti malam atau bisa dijadikan sebagai pendamping lauk untuk nanti malam,” terang Ibu Puspita.


Mama Ismia tersenyum lebar sambil mengacungkan jari jempol tangannya.


“Mbak Puspita sangat hebat,” puji Mama Ismia.


“Tidak sehebat Mbak Ismia,” sahut Ibu Puspita.


Mama Ismia menatap besannya dengan tatapan penuh tanya.


“Mbak kenapa bicara begitu? Seakan-akan Mbak Puspita tidaklah hebat,” ujar Mama Ismia penasaran.


“Mbak Ismia itu menurut saya adalah wanita karir yang hebat sekaligus pintar. Saya beruntung memiliki besan seperti Mbak Ismia,” pungkas Ibu Puspita yang sebenarnya cukup iri dengan kehebatan Mama kandung dari menantu kesayangannya.


“Mbak jangan bicara seperti itu. Kita hebat pada porsi masing-masing,” sahut Mama Ismia.


Mama Ismia menepuk bahu Ibu Puspita dan berpelukan dalam waktu beberapa detik.


“Mbak Puspita pun hebat dan juga kuat. Setelah cobaan banyak yang Mbak alami dulu, Mbak Puspita tetap tegar dan sangat kuat. Bahkan, saya tidak akan pernah bisa sekuat, setegar dsn sehebat Mbak Puspita,” terang Mama Ismia.


Ibu Puspita tersenyum lega mendengar keterangan dari besannya.


“Sekarang Mbak fokus membuat peyek ini. Lalu saya akan membuat es campur untuk kita nikmati di cuaca panas seperti ini,” ujar Mama Ismia dengan tersenyum lebar.


Kemudian, Mama Ismia berjalan menuju kulkas untuk mengambil beberapa buah-buah untuk dijadikan es campur.


“Sepertinya es campur kurang tepat. Kalau begitu, Sop buah yang paling tepat untuk es buatanku,” gumam Mama Ismia dan mengeluarkan semua buah yang ada di dalam kulkas.


“Mbak Ismia, apakah buahnya kurang?” tanya Ibu Puspita.


“Rencana awal saya mau membuat es campur. Tapi, begitu melihat buah-buah ini seperti cocok diolah menjadi sop buah. Dan ketika saya melihat lagi buah-buah ini, sepertinya kita membutuhkan buah yang lebih banyak lagi agar bisa dinikmati sampai malam nanti,” terang Mama Ismia panjang lebar.


“Masih ada beberapa buah di kulkas dalam warung, Mbak Ismia.”


Caca yang sedang duduk diantara Papa Rio dan juga Sang suami, saat itu sedang tertawa lepas sambil menggendong bayi Yusuf yang terus saja memainkan bibirnya yang mungil.


Tiba-tiba saja datang Mama Ismia untuk meminta kunci warung.


“Caca, Ibu pinjam kunci warung untuk mengambil buah di dalam kulkas,” terang Mama Ismia.


“Sebentar Mas,” sahut Caca sambil merogoh isi di dalam kantong celananya.


Caca berhasil mengambil kunci warung tersebut dan memberikannya kepada Mama Ismia tercinta.


Mama Ismia berlari kecil menuju warung dan cepat-cepat membuka kunci tersebut.


***


Sore Hari.


Para wanita sedang sangat sibuk di dapur untuk memasak menu makan makan mereka nanti. Caca request ingin makan sambal kecap karena sangat cocok di totol dengan ikan gurame panggang.


Jika biasanya Caca meminta dimasukkan oleh Ibu mertua. Lain halnya dengan hari itu, Caca ingin Mama Ismia lah yang membuat sambal kecap serta tumis taoge.


Mama Ismia tersenyum lebar dan mengiyakan permintaan putri kesayangannya.


“Caca sudah memotong tempe?” tanya Ibu Puspita yang hendak membuat orek tempe.


“Sudah Ibu, semua sudah Caca potong,” jawab Caca yang sudah memotong tahu, mencuci segala macam dedaunan dan bahkan telah mencuci bersih ikan gurame ukuran jumbo untuk dipanggang nanti malam.


“Terima kasih, Nak Caca!” seru Ibu Puspita berterima kasih atas bantuan Caca.


“Sama-sama, Ibu!” seru Caca kembali.


“Caca sayang! Kan, ini sudah selesai. Sebaiknya Caca ke depan saja. Yusuf pasti ingin bersama dengan Bundanya,” tutur Mama Ismia agar Caca segera istirahat karena dari beberapa jam yang lalu Caca sudah sibuk membantu di dapur.


Caca mengiyakan perkataan Mama Ismia dan pamit meninggalkan Mama Ismia serta Ibu Puspita.


Mereka terus saja memasak dan tak terasa waktu telah memasuki maghrib.


Ibu Puspita dan Mama Ismia pada akhirnya kembali membersihkan diri. Karena banyak keringat yang keluar selama berada di dapur.


Waktu terus berlalu dan tibalah malam di mana mereka akan mengadakan makan malam diteras depan rumah.

__ADS_1


Papa Rio menggelar tikar diteras depan rumah. Kemudian, para wanita satu-persatu mengisi tikar yang kosong itu dengan alat makan, nasi, lauk serta keperluan untuk makan makan bersama.


Kemudian, datanglah 3 ekor gurame berukuran jumbo yang siap untuk mereka santap bersama.


“Sudah selesai. Waktunya Dinner!” seru Mama Ismia.


Mereka duduk melingkar dengan duduk bersila. Kemudian, Adi yang memimpin do'a sebelum makan. Do'a pun selesai dan dengan semangat mereka menyantap gurame berukuran jumbo.


Para tetangga dari kejauhan melihat sedang memperhatikan keluarga Adi dan Caca yang tengah berkumpul diteras depan rumah.


“Mereka ngapain ya dudud begitu?” tanya salah satu tetangga bertanya pada suaminya.


“Sudah.Tidak perlu harus melihat mereka seperti itu. Dari sini saja sudah terlihat jelas bahwa mereka sedang makan bersama,” terang si suami.


“Makan kok di depan rumah? Seharusnya makan itu di dalam rumah,” celetuk si istri.


“Sudahlah, ayo kita masuk saja!” ajak si suami sambil menarik tangan istrinya agar segera masuk ke dalam rumah.


Caca sebagai istri yang baik menyuapi suaminya dengan tangannya sendiri. Adi dengan senang membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya melalui tangan istri kecilnya.


“Bumbunya sangat pas,” ucap Papa Rio.


Ibu Puspita saat itu teringat dengan sosok suaminya dan akan sangat lengkap kalau suaminya masih hidup di dunia.


“Ibu kenapa melamun? Makanlah yang banyak Ibu,” tutur Caca seraya menyentuh tangan Ibu mertua.


Ibu Puspita tersadar dari pikirannya dan kembali memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


Acara keluarga diteras depan rumah cukup berhasil membuat ikatan keluarga mereka terjalin dengan lebih baik lagi.


“Ibu kembali tinggal di sini, 'kan?” tanya Caca memastikan.


“Belum, Nak Caca. Ibu datang ke sini atas ajakan Mama Caca dan InshaAllah malam ini Ibu langsung pulang bersama Papa dan Mama Caca,” terang Ibu Puspita.


Caca terdiam sejenak dan tersenyum manis. Kemudian, Caca kembali fokus menyuapi suaminya.


Acara dinner bersama pun selesai sampai jam 10 malam dan merekapun kompak membersihkan teras depan rumah.


Setelah itu, para orang tua pamit pulang ke rumah mereka. Caca merasa sedih, namun sebisa mungkin ia menyembunyikan kesedihannya dengan memberikan senyuman terbaiknya kepada para orang tua.


“Nak Adi, Papa akan pulang. Tolong jaga Caca dan jika Caca tidak menurut, jangan sungkan untuk bilang sama Papa. Papa yang akan mendisiplinkan Caca,” ucap Papa Rio.


“Papa tak perlu sampai begitu kepada Caca. Lagipula, yang berhak mendisiplinkan Caca adalah suami Caca sendiri,” pungkas Caca.


Papa Rio tertawa begitu juga dengan Mama Ismia, Ibu Puspita dan Adi.


“Ternyata putri Papa sudah besar. Papa tadi sengaja mengatakan kalimat itu, untuk melihat reaksi Caca. Ternyata jawaban Caca cukup membuat Papa bangga. Teruslah seperti itu ya sayang. Ingat! Jangan pernah membantah apa yang suami Caca katakan,” ucap Papa Rio pada putrinya.


Caca hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.


“Caca sayang, tetap semangat ya. Nak Adi juga harus tetap semangat. Mama yakin dan kami semua yakin kalau kalian berdua bisa melewati semuanya dengan baik,” tutur Mama Ismia.


“Nak Caca, Ibu pamit pulang dulu. Ingat, banyak-banyak berdo'a sama Allah agar diberikan kelancaran untuk terus berjalan kedepan,” ujar Ibu Puspita.


“Baiklah. Semua yang Papa, Mama dan Ibu katakan akan Caca lakukan dengan baik. Sekarang sudah malam, waktunya untuk Papa, Mama dan Ibu pulang ke rumah.”


Mereka bergantian berpelukan satu sama lain dan pada akhirnya kembali berpisah.


Setelah para orang tua masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan area halaman rumah. Caca buru-buru mengajak suaminya masuk, karena ada beberapa tetangga yang berada di luar rumah hanya untuk memperhatikan mereka dari kejauhan.


“Dinner kita malam ini sangat amazing. Caca bahagia sekaligus senang luar biasa,” ucap Caca penuh semangat.


“Iya sayang, Mas juga begitu. Jarang-jarang kita bisa berkumpul bersama dan makan bersama seperti tadi,” balas Adi.


“Mas, sepertinya kita harus sering-sering berkumpul seperti tadi. Akan lebih seru kalau ada Ayah Faizal,” ujar Caca yang tiba-tiba teringat dengan Ayah kandung dari suami tercinta.


“Ayah sudah bahagia di sana. Pasti Ayah tadi sedang melihat kita dari atas. Sudah jangan dibahas lagi! Mas tidak ingin kembali merasakan kesedihan ditinggal meninggal oleh Ayah,” tutur Adi.


Adi lalu mengajak istri kecilnya masuk ke dalam kamar dan rupanya Yusuf tengah terjaga dengan posisi miring tengkurap.


“Yusuf sayang, kok belum tidur? Ayo tidur lagi,” tutur Caca yang hendak menyusui bayi Yusuf agar kembali tidur.


Sambil menunggu istri kecilnya selesai menidurkan Yusuf. Adi memutuskan untuk memeriksa data muridnya. Dikarenakan, dua hari lagi tepatnya hari Kamis Adi telah kembali dengan tugasnya sebagai seorang Guru.


“Mas, besok bagaimana?” tanya Caca mengenai isi warung yang hampir habis.


“Besok biar Mas saja yang pergi ke pasar,” jawab Adi.


“Mas belum bisa mengangkat beban berat. Kalau terjadi sesuatu bagaimana?”


“Tenang saja. Mas akan meminta beberapa orang anak-anak di pasar untuk membantu Mas mengangkat barang. Hitung-hitung sebagai uang jajan mereka,” jawab Adi.

__ADS_1


__ADS_2