Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Adi Kembali Mengajar


__ADS_3

Pagi Hari.


Tibalah waktu di mana Adi akan kembali mengajar di sekolah. Adi berharap bahwa tidak ada kesulitan dijam pertama dirinya mengajar dan Adi juga berharap bahwa para muridnya tidak protes dengannya yang tak mengajar berbulan-bulan.


Adi belum berani untuk naik motor karena Adi merasa belum kuat untuk menggerakkan tangannya maupun kakinya yang sebelumnya patah. Bahkan, kemarin ketika Adi hendak berbelanja di pasar, Adi justru memesan mobil online. Dan pagi itu juga sama, namun bukan mobil melainkan motor.


“Mas yakin mau berangkat ke sekolah hari ini? Bagaimana kalau Mas kenapa-kenapa di jalan?” tanya Caca.


“Husshh... Tidak baik bicara seperti itu. Ucapan adalah do'a. Bagaimana jika ada Malaikat yang mendengar ucapan Caca dan mengabulkannnya?” tanya Adi.


“Astaghfirullah, Caca sama sekali tidak Bermaksud begitu Mas Adi sayang. Sungguh bukan maksud Caca bicara begitu,” jawab Caca panik.


“Ssuutt... Mas tahu kok. Sekarang mari kita sarapan dan setelah itu Mas akan berangkat ke sekolah!”


“Yusuf sekalian sarapan bersama kita ya Mas. Baru deh memandikan Yusuf,” ucap Caca dan berjalan beriringan menuju ruang makan.


Adi duduk di kursi ruang makan dan dengan manisnya Caca menuangkan air serta menyiapkan makan untuk suaminya.


“Mas tunggu di sini dulu. Caca akan menyusul Yusuf agar ikut sarapan bersama kita,” tutur Caca.


Tak berselang lama, Caca datang ke ruang makan dengan membawa kereta bayi yang di dalamnya terdapat bayi lucu nan menggemaskan.


“Yusuf makan sayur bayam ya,” ucap Caca dan memberikan nasi yang sudah dihaluskan kemudian mencampur nya denga bayam.


Caca kemudian mengangkat bayi Yusuf dan mendudukkan bayinya dikursi khusus bayi. Kemudian, memberikan bayi Yusuf sendok agar bisa makan sendiri.


Tentu saja Yusuf tidak dibiarkan begitu saja. Caca tetap mengawasinya bayinya dan sesekali menyuapi bayi Yusuf makanan ke dalam mulut mungil Yusuf.


“Yusuf sudah diperhatikan, waktunya Mas dong!” pinta Adi pada istri kecilnya.


“Mas mau Caca suap?” tanya Caca.


“Tentu saja!” seru Adi.


Caca geleng-geleng kepala sambil menahan mulutnya untuk tidak tertawa.


“Ada yang salah dengan Mas?” tanya Adi terheran-heran.


“Tidak ada yang salah. Cuma bagaimana ya kalau murid Mas disekolah tahu mengenai Gurunya yang suka disuapi oleh istrinya?” tanya Caca dan tertawa geli.


“Jangan dong. Yang ada Mas nanti jadi bahan candaan murid-murid di sekolah,” jawab Adi yang berharap bahwa muridnya tidak akan pernah tahu bahwa dirinya masih saja disuapi oleh istri kecilnya.


“Kalau mereka tahu bagaimana?” tanya Caca penasaran.


“Ya mau bagaimana lagi? Tapi, kalau bisa ya jangan deh,” sahut Adi.


Caca tertawa terpingkal-terpingkal melihat reaksi suaminya yang nampak sedikit panik.


“Tenang saja, Caca tidak akan memberitahu mereka!” seru Caca.


Seusai sarapan bersama, Adi bergegas berangkat ke sekolah karena ojek online yang dipesan sudah datang dan siap mengantar Adi pergi ke sekolah.


“Semangat ya Mas, Caca akan menunggu Mas pulang,” tutur Caca.


“Mas berangkat dulu ya sayang, assalamu'alaikum!” Sebelum naik ke motor, Adi lebih dulu mengecup kening dan pipi istri kecilnya.


Pengemudi ojek online itu berpura-pura tak melihat karena pemandangan seperti itu hampir setiap hari ia lihat.


“Wa'alaikumsalam, Hati-hati Mas Adi!” seru Caca.

__ADS_1


Yusuf tersenyum lebar karena mendapatkan kecupan manis di bibirnya dan pipinya.


“Enak ya Yusuf, kamu dicium di bibir. Sedangkan, Bunda hanya di kening dan pipi,” tutur Caca sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


***


Di Sekolah.


Adi baru saja memasuki ruang Guru. Melihat Adi yang telah kembali masuk ke sekolah, mereka menghampiri Adi dan menyapa Adi yang sudah lama tidak masuk sekolah karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu.


“Apa kabar, Pak Adi?” tanya mereka yang sangat senang melihat Adi telah kembali mengajar.


“Alhamdulillah, kondisi saya sudah membaik. Hanya tinggal pemulihan sedikit lagi,” jawab Adi.


Mereka dengan kompak mengucap syukur Alhamdulillah karena Adi sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


“Maaf ya Pak Adi, saya tidak pernah menjenguk Pak Adi,” ucap salah satu Guru wanita yang tengah hamil besar.


“Oh, tidak apa-apa Bu Wen. Yang paling penting Bu Wen telah berdo'a untuk kesembuhan saya,” jawab Adi.


Pak Kepala sekolah juga datang menghampiri Adi untuk memberikan selamat atas kesembuhan Adi. Meskipun terbilang cukup baru bagi Adi mengajar di sekolah tersebut, tapi Adi sudah merasakan kekeluargaan yang cukup mendalam.


Beberapa saat kemudian.


Adi masuk ke kelas 11 IPA 3 dan ketika baru saja melangkah masuk ke dalam kelas. Para murid bersorak kegirangan karena Guru olahraga favorit mereka telah kembali untuk mengajarkan mereka mata pelajaran olahraga.


“Pak Adi!!!!!”


“Pak Adiiiii Apa kabar!!!!!”


Adi memberikan isyarat kepada para murid untuk tidak bersorak maupun berteriak sehingga membuat konsentrasi kelas lain jadi terganggu.


Mereka pun dengan serempak menutup mulut mereka dan duduk dengan rapi di kursi masing-masing.


Adi menghela napasnya seraya tersenyum dan perlahan duduk mendaratkan bokongnya di kursi.


“Anak-anak, harap maklum ya Bapak banyak duduk!” pinta Adi.


Mereka mengiyakan dengan patuh karena mereka juga tahu musibah apa yang telah menimpa Guru favorit mereka.


“Hari ini kita belajar teori dulu ya. InshaAllah minggu depan kita praktek dilapangan. Dan maaf karena Pak Adi tidak bisa mengajar selama berbulan-bulan.”


“Tidak apa-apa, Pak Adi!” seru mereka.


Adi tersenyum lega dan mulai menjelaskan materi yang sudah Adi rangkum semalaman.


Setelah kelas berakhir, Adi berpindah ke kelas 12 IPS 1 dan lagi-lagi murid di kelas tersebut bersorak kegirangan.


Adi dengan cepat memberi isyarat agara para murid tetap diam tenang.


“Oke anak-anak semua,Terima kasih atas sambutan kalian semua pak Adi senang melihat kalian kembali,” sahut Adi.


Adi kemudian duduk di kursinya dan meminta para murid untuk segera membuka buku cetak.


“Pak Adi kok Tambah ganteng aja sih?” tanya salah satu siswi.


“Iya dong kan ada istri di rumah yang mengurusi Pak Adi!” seru Adi.


“By the way istri Pak Adi cantik sekali aku pengen seperti istrinya pak Adi cantik, putih, pokoknya baik deh!”

__ADS_1


Adi tertawa kecil mendengar pujian dari salah satu siswi di kelas itu.


“Ayo anak-anak sekarang kita fokus dengan pelajaran Pak Adi hari ini oke!”


Tak terasa waktu cepat berlalu Adi akhirnya pamit untuk kembali ke ruang guru karena waktu untuk mengajar telah habis.


Adi sendiri adalah salah satu guru favorit di sekolah tersebut. Adi senang karena para murid maupun para guru menerimanya dengan sangat baik.


Sebenarnya Adi sempat berpikir untuk mengundurkan diri dari sekolah tersebut. Akan tetapi, Adi mengurungkan niatnya karena jika ia tidak mencari nafkah. Maka tidak ada pemasukan yang ia dapatkan. Jika hanya mengandalkan pendapatan warung saja tidaklah cukup untuk keperluan lainnya.


Sore Hari.


waktu sudah menunjukkan jam 03.00 sore namun Adi belum juga kembali dan itu membuat Caca khawatir mengenai suaminya yang belum juga kembali ke rumah.


“Ya Allah kenapa mas Adi belum juga kembali hamba takut ya Allah Mas Adi kenapa-kenapa di jalan,” gumam Caca.


Tak berselang lama Adi kembali dengan diantarkan oleh salah satu rekan kerja di sekolah.


Ketika Adi baru saja turun dari mobil Caca cepat-cepat menghampiri suaminya dan memeluk suaminya dengan erat.


“Syukurlah Mas baik-baik saja. Tadi Caca sudah berpikiran yang tidak-tidak Caca takut Kejadian beberapa bulan yang waktu yang lalu terulang kembali.”


“Pak Adi, mbak Caca! Saya langsung pulang ya Assalamu'alaikum!”


Adi pun mengucapkan terima kasih kepada Kevin yang telah repot-repot mengantarkan dirinya sampai ke rumah.


Mereka pun masuk ke dalam rumah dan Yusuf menyambut kedatangan Papa Adi dengan senyum terbaiknya. Melihat senyum buah hatinya membuat rasa lelah Adi seketika itu menghilang.


“Sepertinya Mas lebih sayang buah hati kita daripada Caca Apakah Caca sudah tidak lucu lagi?”


“Caca sayang, sama anak sendiri tidak boleh cemburu. Yusuf juga butuh kita dan Mas juga butuh Caca kita saling membutuhkan. Benar begitu?”


“Mas Adi memang paling pintar membuat Caca tak bisa berkata-kata lagi. Sekarang Caca ingin Mas peluk Caca dengan erat!” pinta Caca dengan manja.


“ jangan di ruang tamu juga Caca Sayang. Ayo kita pergi ke dalam kamar!” ajak Adi sambil merangkul erat pinggang istri kecilnya.


Merasa ditinggalkan, Yusuf pun berteriak cukup kencang. Adi maupun Caca seketika itu menoleh ke arah buah hati mereka dan membawa buah hati mereka ke dalam kamar.


“Kesayangan bunda dan ayah ternyata cukup rewel ya,” tutur Caca pada buah hatinya.


Dengan wajah yang sangat imut Yusuf memajukan bibirnya dan hal itu membuat kedua orang tuanya tertawa lepas.


“Caca sayang, Yusuf sangat persis dengan kamu,” ujar Adi pada istri kecilnya.


“Tentu saja lagi pula Yusuf adalah kesayangan Caca, ”jawab saja dengan santai.


“Lalu bagaimana dengan mas Apakah Mas bukan kesayangannya Caca,” tanya Adi penasaran.


“Mas tentu saja kesayangan Caca tapi Caca lebih sayang Yusuf,” jawab Caca sambil menahan tawanya melihat raut wajah masam suaminya.


“Baiklah kalau begitu kita harus membuat bayi yang mirip dengan Mas,” celetuk Adi dan tertawa lepas melihat raut wajah kecut istrinya.


“Mas jangan bercanda begitu. Ingat, Mas sedang sakit dan Caca tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi kepada Mas Adi. Pokoknya Mas harus benar-benar sembuh,” pungkas Caca panjang lebar.


"Iya sayang, Mas hanya bercanda dan Caca tidak perlu sampai mengatakannya dengan sangat jelas,” tutur Adi yang sangat gemas dengan ucapan istri kecilnya itu.


“Ya mau bagaimana lagi? Mas yang mulai duluan,” celetuk Caca pada Sang suami yang sering kali usil kepadanya.


“I Love you!” ucap Adi mengucapkan kata cinta kepada istri kecilnya dan Caca hanya membalas ucapan suaminya dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2