
Pagi Hari.
Setelah melaksanakan sholat subuh, Ayah Faizal kembali tidur dan sudah jam 7 pagi Ayah Faizal belum juga terjaga.
Karena Sang suami belum juga bangun, Ibu Puspita pun bergegas pergi ke kamar untuk mengajak suaminya sarapan bersama.
“Ayah, ayo bangun sudah waktunya sarapan,” ucap Ibu Puspita.
Ibu Puspita menepuk bahu suaminya dan ketika tangannya menyentuh leher Ayah Faizal, Ibu Puspita berteriak karena suhu tubuh suaminya sangatlah dingin.
“Ayah!” panggil Ibu Puspita sambil membalikkan tubuh suaminya yang posisinya saat itu membelakangi dirinya.
Tubuh Ayah Faizal nampak kaku dan itu membuat Ibu Puspita kembali berteriak histeris.
Caca yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut mendengar suara teriakan Ibu Mertuanya.
“Ibu, ada apa?” tanya Caca panik.
“Caca, tolong panggilkan siapapun. Kita harus ke rumah sakit sekarang!” pinta Ibu Puspita.
Caca berlari ke dalam kamarnya untuk mengambil ponsel dan mencoba memesan mobil online.
Setelah berhasil memesan dan dalam perjalanan menuju ke rumah, Caca pun memberitahu Ibu mertuanya. Kemudian, Caca berlari keluar rumah untuk menutup warung secepat mungkin.
Ibu Puspita menangis di kamar sambil terus menggenggam tangan suaminya.
Seberapa keras Ibu Puspita membangunkan suaminya, tetap saja suaminya hanya diam tak bergerak sedikitpun.
Mobil yang Caca pesan akhirnya datang dan karena dengan kompak, Ibu Puspita, Caca serta pengemudi online memapah tubuh Ayah Faizal masuk ke dalam mobil.
****
Rumah Sakit.
Ibu Puspita tak henti-hentinya menangis, ia takut jika sesuatu yang buruk terjadi kepada suaminya.
Caca saat itu yang menggendong bayinya bisa merasakan bagaimana ketakutan seorang istri mengetahui bahwa Sang suami sedang sakit.
Ya Allah, cobaan apa lagi yang Engkau berikan kepada kami? (Batin Caca)
Ibu Puspita menoleh ke arah Caca dan meminta Caca untuk pergi menemui Adi. Akan tetapi, Ibu Puspita meminta tolong kepada Caca untuk merahasiakan perihal Ayah Faizal yang masuk rumah sakit.
“Ibu, biarkan Caca di sini menemani Ibu,” ucap Caca yang enggan meninggalkan Ibu mertuanya sendirian menunggu kabar dari Dokter mengenai sakit Ayah mertuanya.
“Caca harus mendengarkan apa yang Ibu katakan. Lihatlah, Caca masih ada bayi Yusuf yang harus diperhatikan. Sekarang, Caca masuklah ke ruangan Adi!” pinta Ibu Puspita memaksa Caca untuk segera pergi menemui Adi.
Caca dengan terpaksa mengiyakan dan akhirnya pergi ke ruangan di mana suaminya dirawat.
“Assalamu'alaikum,” ucap Caca sambil memasuki ruang kamar Sang suami.
“Wa'alaikumsalam, ada apa sayang? Kok kamu menangis?” tanya Adi ketika melihat mata sayu Caca yang masih basah dengan air mata.
“Caca menangis karena teringat dengan Lia dan juga Rina. Mereka kemarin datang ke rumah setelah mendapat pesan dari Caca,” terang Caca yang tidak sepenuhnya berbohong.
“Lalu, di mana Ayah dan Ibu? Apakah mereka di rumah?” tanya Adi.
Pertanyaan Adi kali itu membuat Caca bingung untuk menjawabnya. Jika ia berbohong, itu artinya dia tidak jujur kepada suaminya. Akan tetapi, ketika ia jujur maka Ibu Puspita akan kecewa padanya.
“Oek... oek...” Bayi Yusuf menangis sepertinya baru saja mengalami mimpi buruk.
“Mas, Caca mau menyusui Yusuf dulu ya,” tutur Caca dan berjalan menuju sofa.
Adi memperhatikan istrinya dari tempat ia berbaring. Mata Adi kemudian memperhatikan salah satu gunung kembar milik istri kecilnya.
“Sabar,” gumam Adi sambil menelan salivanya dengan susah payah.
Beberapa jam kemudian.
Caca meletakkan bayi Yusuf di sofa dan memutuskan untuk menghampiri Ibu Puspita.
__ADS_1
“Mas, Caca mau keluar sebentar. Mau mencari jus,” ucap Caca dan pamit pergi.
Wanita muda itu berlari kecil menghampiri Ibu Puspita yang nampak sangat stress.
“Ibu!” Caca berlari dan memeluk erat Ibu mertua.
“Caca, sepertinya kita akan kehilangan Ayah Faizal,” ucap Ibu Puspita.
“Ibu kenapa bilang begitu? Ayah pasti baik-baik saja,” balas Caca.
“Tadi Dokter sudah menemui Ibu dan mengatakan keadaan Ayah. Dokter mengatakan bahwa Suami Ibu mengalami struk dan kemungkinan untuk selamat hanya 10%” terang Ibu Puspita.
Ibu Puspita belum siap untuk melepaskan suaminya.
Caca pun menangis melihat Ibu Puspita yang sangat putus asa.
“Ibu, apa sebaiknya kita memberitahu Mas Adi?” tanya Caca karena tidak mungkin jika mereka terus menyembunyikan keadaan Ayah Faizal.
“Jangan dulu, Nak Caca. Adi butuh banyak istirahat dan bagaimana jika sampai suami kamu tahu? Yang ada akan memperburuk keadaan. Sebaiknya Caca pergi dari sini, jangan tinggalkan Yusuf sendirian di kamar Adi,” ujar Ibu Puspita.
Caca dengan terpaksa menuruti perintah Ibu Mertua dan kembali menghampiri suaminya.
“Assalamu'alaikum,” ucap Caca dengan langkah lesu.
“Wa'alaikumussalam, Caca datang dengan tangan kosong? Bukankah tadi ingin mencari jus?” tanya Adi melihat istrinya datang tidak membawa apapun.
“Tiba-tiba saja Caca tidak ingin minum jus,” jawab Caca tanpa menatap suaminya.
Saat Caca hendak duduk di sofa, Adi meminta istri kecilnya untuk datang mendekat.
“Sayang, tolong kemarilah!” panggil Adi.
“Iya Mas, ada yang bisa Caca bantu?” tanya Caca yang lagi-lagi tidak menatap suaminya.
“Caca sayang, coba tatap mata Mas sekarang juga!” pinta Adi.
Caca perlahan menatap suaminya seraya tersenyum lebar. Caca yakin dengan ia tersenyum, suami tercinta tidak sadar bahwa dirinya baru saja menangis.
Caca mulai bimbang dan juga mulai goyah. Ia takut berdosa jika sampai berbohong kepada suaminya.
“Ujian kembali datang, Mas Adi. Sekarang, Ayah sedang dirawat di rumah sakit ini dan keadaan Ayah saat ini kritis. Ibu sudah meminta Caca untuk merahasiakan keadaan Ayah,” terang Caca yang kini kembali menangis.
“Innalillahi wa inna ilahi raji'un. Kritis yang bagaimana, sayang?” tanya Adi mulai panik.
“Ayah terkena struk,” jawab Caca.
Adi mencoba untuk tetap tegar, ia juga sadar diri bahwa dirinya tidak bisa melakukan apapun. Bahkan, untuk bergerak saja ia tidak mampu.
“Apakah Ayah masih bisa selamat?” tanya Adi yang sudah meneteskan air matanya.
“Tentu saja. Mas juga pernah kritis dan Allah memanjangkan umur Mas. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin,” balas Caca yang mencoba terlihat tenang di hadapan suaminya.
Adi memejamkan matanya dan berdo'a untuk kesembuhan Sang Ayah.
****
Malam Hari.
Ibu Puspita baru saja selesai sholat isya dan tengah duduk di kursi sambuk menunggu kabar dari suaminya.
“Ibu dari mana saja?” tanya Caca yang sebelumnya tidak menemukan batang hidung Ibu mertua.
“Ibu baru saja dari Masjid, melaksanakan sholat isya,” jawab Ibu Puspita.
“Ibu, ayo kita ke kamar Mas Adi. Caca sebenarnya sudah memberitahu keadaan Ayah pada Mas Adi,” ungkap Caca dan sangat siap jika Ibu Mertua memarahinya habis-habisan.
“Benarkah?” tanya Ibu Puspita.
“Jika Ibu mau memarahi Caca, maka marahi lah Caca. Caca siap,” ucap Caca sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Ibu Puspita sama sekali tidak marah dan justru memeluk menantunya.
“Sampai kapanpun Ibu tidak akan pernah memarahi Caca. Kalau Adi sudah tahu ya mau bagaimana lagi? Lagipula, Ibu juga tidak berani memberitahu Adi dan untungnya Caca yang melakukannya,” pungkas Ibu Puspita sambil melepaskan pelukannya.
Ibu Puspita dengan tegar menggandeng erat tangan Sang menantu dan berjalan bersama-sama menuju kamar Adi.
“Assalamu'alaikum,” ucap Ibu Puspita dan juga Caca.
“Wa'alaikumsalam,” jawab Adi.
Adi sebisa mungkin tersenyum melihat wajah Ibunya yang sudah muncul keriput di area mata maupun pipi.
“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Ibu Puspita.
“Alhamdulillah, Adi baik-baik saja Bu. Bagaimana dengan Ibu?” tanya Adi.
Ibu Puspita tersenyum kecil dan tiba-tiba saja air mata mengalir dipipi nya.
“Ibu harus kuat, kita harus kuat,” ucap Adi menyemangati wanita yang telah berjuang melahirkannya ke dunia.
“Iya Adi, Ibu akan berusaha untuk tetap kuat. Kali ini Cobaan yang Allah berikan datang silih berganti,” tutur Ibu Puspita.
Ibu Puspita menyentuh tangan putranya dan meminta kepada Sang putra untuk tetap semangat.
Caca yang melihat adegan itu hanya bisa berdo'a untuk kesembuhan suaminya dan juga kesembuhan Ayah Mertua.
“Nak Caca, tentang Ayah Faizal yang masuk rumah sakit tolong jangan diceritakan kepala Papa dan Mama Caca ya!” pinta Ibu Puspita.
Ibu Puspita tidak ingin mengganggu urusan bisnis yang sedang ditangani oleh Papa Rio dan Mama Ismia.
“Maaf, Ibu. Caca tidak bisa berjanji, bagaimanapun Papa dan Mama pasti akan sedih kalau sampai tidak diberitahu tahu mengenai Ayah Faizal yang saat ini masuk rumah sakit karena penyakit struk,” terang Caca.
Ibu Puspita tak bisa berkata-kata, bagaimanapun perkataan Caca tidaklah salah. Justru, Ibu Puspita lah yang salah jika sampai tidak memberitahu kedua besannya yang saat itu sedang berada di Bali.
“Ibu malam ini tidur di sini ya!” pinta Adi.
“Iya Adi, Ibu akan tidur di sini bersama kamu, Caca dan juga Yusuf,” balas Ibu Puspita.
Caca mengeluarkan tas ransel yang sebelumnya ia bawa dan memberikan setelan pakaian untuk Ibu Mertua.
“Ibu terlihat sangat lelah, bagaimana kalau Ibu mandi dulu!” pinta Caca.
Ibu Puspita berterima kasih kepada Menantunya yang sangat memperhatikan dirinya, kemudian Ibu Puspita masuk ke dalam kamar untuk segera mandi.
Sambil menunggu Ibu selesai mandi, Caca memesan makanan melalui aplikasi.
“Mas, malam ini bagaimana kalau kita makan soto?” tanya Caca.
“Apapun itu Mas suka,” jawab Adi.
Caca menghela napasnya dan mulai memesan soto babat.
“Setengah jam lagi soto babat yang Caca pesan datang,” ujar Caca.
Wanita muda itu menoleh ke arah sofa tempat di mana Bayi Yusuf tidur.
“Kesayangan Bunda waktunya ganti popok,” ucap Caca dan dengan lembut melepaskan popok Yusuf yang sudah penuh.
Melihat betapa mandirinya Sang istri, membuat Adi kagum atas apa yang istrinya lakukan.
“Tak disangka, istriku yang terkenal manja dan juga genit bisa menjadi seorang wanita yang hebat,” gumam Adi.
Meskipun begitu, Adi ingin Caca terus bergantung pada dirinya. Karena dengan seperti itu, dirinya merasa menjadi suami yang bertanggungjawab untuk keluarga kecil mereka.
“Mas Adi pasti sedang memuji Caca ya, 'kan?” tanya Caca penuh percaya diri ketika memergoki suaminya sedang menatapnya seraya tersenyum.
“Bisa dibilang begitu,” balas Adi dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Caca tersenyum kecil melihat suaminya yang sedang main mata padanya. Meskipun sedang dalam masalah, Sang suami masih bisa menutup kesedihan itu dengan candaan.
__ADS_1
“Caca sayang Mas Adi,” ucap Caca yang sangat sayang serta Cinta kepada suaminya.
“Mas juga sayang dan cinta kepadamu, Caca sayang,” balas Adi dengan terus menatap istrinya yang masih duduk di sofa sambil menggendong buah hati mereka.