
Setelah melaksanakan sholat subuh, Caca memutuskan untuk melanjutkan tidurnya yang nyenyak. Sementara Adi, memilih untuk membuat sarapan untuknya dan juga istri kecilnya.
Caca terbangun dari tidur setelah mendengar suara berisik di dapur, kebetulan antara dapur dan kamar tidur begitu berdekatan.
“Mas ngapain?” tanya Caca yang belum sepenuhnya sadar.
“Mau buat sarapan,” jawab Adi yang sedang mengiris bawang merah.
“Mas bisa masak?” tanya Caca sambil merapikan rambutnya yang berantakan dengan jemari tangan.
“Tidak sepintar chef juna, tapi setidaknya bisa di makan.”
Caca tidak terlalu mendengarkan apa yang suaminya katakan, karena gadis itu tiba-tiba saja ingin menggoda suaminya yang pagi itu terlihat sangat tampan.
“Caca, apa yang kamu lakukan?” tanya Adi ketika Caca tiba-tiba saja memeluknya dari belakang.
Mata Adi melotot lebar ketika merasakan ada dua benjolan menempel di punggungnya.
“Mas lupa ya semalam mencium Caca dengan semangat?” tanya Caca yang semakin erat memeluk punggung suaminya.
“Mas sedang mengiris bawang, tolong lepaskan!” pinta Adi.
“Terus saja mengabaikan Caca, kita lihat saja seberapa lama Mas acuh tak acuh begini pada Caca!”
Gadis itu pergi meninggalkan Adi dengan kecewa dan memutuskan untuk mandi.
Adi hanya melihat sekilas kemana perginya Caca dan kembali fokus membuat bumbu nasi goreng.
Tak berselang lama, nasi goreng buatan Adi siap untuk di hidangkan.
“Caca, buka pintunya!” panggil Adi dari luar kamar.
Caca tak merespon panggilan suaminya karena ia memilih untuk mengabaikan apapun yang suaminya katakan.
“Caca, ayo sarapan!” ajak Adi.
Gadis itu akhirnya membuka pintu kamar dan bukannya berjalan menuju dapur, justru ia berjalan ke arah pintu depan.
“Kamu mau kemana?” tanya Adi ketika Caca membuka pintu depan.
“Caca mau mencari udara segar,” jawab Caca dan melenggang pergi tanpa ada senyum sedikitpun di wajahnya.
Gadis itu berlari secepat mungkin agar suaminya tidak ada mengejarnya dan Caca memang butuh waktu untuk sendiri menghilang pikiran jenuhnya.
“Ibu!” Caca menyapa seorang wanita yang menatapnya dengan tatapan penasaran.
Wanita paruh baya itu justru menggerakkan tangannya memberi isyarat agar Caca mendekat.
“Ibu memanggil saya?” tanya Caca dengan berjalan mendekat ke arah wanita paruh baya itu.
“Nama kamu siapa? Kamu yang tinggal di rumah kontrakannya Pak Fattah ya?”
“Saya Caca, Bu. Saya dan suami tinggal di rumah itu,” jawab Caca sambil menunjuk ke arah rumah bercat putih bersih.
“Kamu masih muda sudah menikah? Hamil duluan ya?” tanyanya yang tentu saja membuat Caca terkejut.
Pertanyaan wanita paruh baya itu membuat Caca sangat syok.
“Maksud Ibu apa ya bicara seperti itu? Hamil duluan maksudnya apa? Memang Ibu kenal sama saya? Ibu sudah tua, lebih baik mulut Ibu itu di jaga,” tegas Caca yang tak terima dengan pertanyaan Ibu paruh baya di hadapannya yang menuduhnya yang tidak-tidak.
__ADS_1
“Kamu itu kalau hamil duluan ya tinggal bilang saja. Kok malah bicara kasar sama orang tua seperti saya,” sahut wanita paruh baya.
Keributan itu memicu orang-orang untuk berdatangan menghampiri Caca dan Ibu paruh baya.
“Ada apa ini?” tanya seorang Pria mengenakan peci berwarna hitam.
“Anak muda ini sudah menikah dan hamil duluan tapi tidak mengaku,” terang wanita paruh baya.
“Siapa yang hamil duluan? Memang Ibu punya bukti? Saya bisa menuntut Ibu ya!” tegas Caca dengan nada tinggi.
Di saat yang bersamaan, Adi datang dan langsung memeluk istrinya.
“Ada apa, Caca? Kenapa kamu teriak?” tanya Adi yang begitu khawatir melihat banyak orang mengerumuni istrinya.
“Mas, Ibu ini mempertanyakan hal yang sensitif kepada Caca,” jawab Caca.
“Lihatlah, istrinya masih muda dan suaminya terlihat sudah dewasa. Sudah pasti kalau anak ini hamil duluan,” ucap wanita paruh baya sambil menunjuk ke arah pengantin baru yang saling berpelukan itu.
Pak Fattah datang menghampiri mereka dan meminta semua orang untuk bubar. Sebelum itu, Pak Fattah menegaskan bahwa siapapun yang mengganggu pengantin baru itu akan langsung berhadapan dengannya.
Mereka akhirnya pergi kembali ke tempat mereka masing-masing, akan tetapi wanita itu masih bersikeras menuduh Adi dan Caca yang bukan-bukan.
“Bu Lela tidak boleh menyebarkan fitnah seperti itu, untung tadi ada yang datang ke rumah dan akhirnya saya kemari. Sebaiknya Bu Lela meminta maaf kepada Mas Adi dan Mbak Caca!” pinta Pak Fattah.
“Untuk apa? Wong aku tidak bohong,” celetuk Bu Lela sambil melempar kain kotor ke arah Adi dan Caca sebelum kembali masuk ke dalam rumah.
Setelah Bu Lela masuk dengan terus mengoceh. Adi melepaskan pelukannya dan mengajak Caca untuk pulang.
Pak Fattah selaku ketua RT meminta maaf atas tindakan Bu Lela kepada Mereka berdua, terutama Caca yang begitu dirugikan.
“Maafkan, Bu Lela. Sebenarnya Ibu Lela mengalami gangguan jiwa karena beberapa tahun yang lalu beliau kehilangan putrinya yang waktu itu hamil di luar nikah,” terang Pak Fattah.
Gadis itu berlari dengan perasaan malu, ia malu dengan ucapan Bu Lela dan para tetangga yang memberikan tatapan hina ketika Bu Lela menuduhnya hamil duluan.
“Nek meteng dhisik ki yo ngomong wae to, (Kalau hamil duluan ya ngomong saja)” ucap Bu Lela pada Adi yang masih berdiri di depan rumahnya bersama Pak Fattah.
“Pak, saya permisi untuk pulang. Sepertinya Istri saya harus segera saya temani, assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,” balas Pak Fattah yang juga merasa bersalah atau ucapan salah satu warganya.
Adi berlari masuk ke dalam rumah dan mencari istrinya di dalam kamar.
“Caca, kamu marah sama Mas?” tanya Adi sambil melangkah mendekat ke tempat tidur.
Gadis itu memilih diam dan tidak ingin menjawab pertanyaan apapun dari suaminya.
“Jangan diambil hati, bukankah Pak Fattah sudah mengatakan kalau Ibu Lela itu mengalami gangguan jiwa,” ujar Adi yang kini membelai rambut Caca.
Sekali lagi Caca memilih untuk diam membisu karena syok dengan perkataan Bu Lela.
Adi ikut berbaring dan mencoba membuat Caca tidak sedih atas apa yang terjadi. Pria itu berbaring dan mendekap tubuh Caca dengan cukup erat.
Deg! Deg! Jantung Caca berdegup lebih kencang ketika mendapatkan pelukan hangat dari suaminya.
Deg! Deg! Adi juga merasakan hal yang sama, jantungnya berdegup lebih cepat ketika sedang mendekap tubuh istrinya.
Caca perlahan berbalik menghadap ke arah suaminya dan lengan suaminya menjadi bantal untuknya.
“Kita sudah belum pernah melakukan hubungan suami istri, bagaimana Caca bisa hamil?” tanya Caca sambil memainkan bulu-bulu halus di bagian dagu Sang suami.
__ADS_1
“Insya Allah akan ada masa di mana Caca mengandung dan melahirkan,” balas Caca.
“Jadi kapan?” tanya Caca yang tak sabar ingin mengandung dan juga melahirkan.
“Tidak dalam waktu dekat ini, Caca. Mama dan Papa sebelumnya sudah berpesan kepada Mas mengenai kehamilan kamu. Mereka ingin kamu lulus sekolah terlebih dulu,” jawab Adi.
“Apa? Kapan? Kenapa Caca tidak tahu?” tanya Caca terkaget-kaget.
“Sudah jangan dipikirkan, Mas ingin sekarang tidak memikirkan hal yang tidak penting. Lebih baik Caca sarapan dan setelah itu belajar!”
“Jangan karena Mas seorang guru seenaknya menyuruh Caca belajar, lagipula Caca tidak bodoh,” balas Caca.
“Memangnya belajar itu hanya untuk orang yang bodoh saja? Caca tidak boleh memiliki pemikiran seperti itu. Ayo kita sarapan! Mas lapar dan Mas tidak ingin kalau sampai telat makan,” tutur Caca.
“Mas tahu tidak sih, kalau Caca masih sebal sama Ibu yang tadi. Pasti semua tetangga mengira Caca hamil duluan!”
“Kalau sampai mereka berbicara seperti itu lagi, Mas akan memarahi mereka,” tutur Adi yang sudah lebih dulu turun dari tempat tidur.
“Kok cuma dimarahin saja, Mas? Lebih baik hukum yang bertindak,” tegas Caca.
“Selama masih bisa diselesaikan secara baik-baik, tidak perlu sampai membawanya ke ranah hukum,” balas Adi dan melenggang pergi menuju dapur.
“Tunggu!” pinta Caca dan cepat-cepat menyusul suaminya.
Caca akhirnya duduk di kursi meja makan bersebelahan dengan suaminya.
“Caca tidak mau makan,” ucap Caca dan malah memeluk lengan suaminya.
“Kamu mau Mas suapin?” tanya Adi datar.
“Tumben peka,” celetuk Caca.
“Jadi, bagaimana nih? Mau disuapin apa tidak?”
“Ya mau dong!” seru Caca dan memukul kecil lengan suaminya.
Adi akhirnya menyuapi Caca dan tentu saja Caca sangat senang. Walaupun suaminya masih saja bersikap dingin padanya.
“Ini Mas yang masak?” tanya Caca memastikan.
“Iya, kenapa memangnya?”
Caca tersenyum dan menjawab pertanyaan suaminya dengan sebuah kecupan di bibir.
“Muaccchhh!” Suara kecupan bibir dari Caca untuk suaminya.
Adi tertegun sejenak karena serangan tiba-tiba dari istrinya.
“Wajah Mas kenapa jadi merah?” tanya Caca menggoda suaminya.
Adi segera memalingkan wajahnya karena tak ingin wajahnya di lihat oleh Caca yang saat itu sedang menertawai dirinya.
“Mas! Mas mau kemana?” tanya Caca pada Adi yang malah pergi meninggalkannya.
“Kamar mandi,” jawab Adi dengan terus berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
“Bilang saja malu, ngapain juga pakai kabur segala,” gumam Caca dan tertawa lepas melihat reaksi berlebihan dari suaminya.
Asi telah berada di dalam kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan jantung yang masih berdegup lebih kencang dari biasanya.
__ADS_1
“Selalu saja Caca mencium ku secara tiba-tiba. Kalau begini terus, aku pasti akan lepas kendali,” gumam Adi.