
Sudah larut malam Caca tidak kunjung beristirahat karena terus memikirkan hubungan antara Adi dan Intan. Meskipun mereka berdua sesama Guru, Caca yakin bahwa mereka tidak sedekat itu.
“Besok aku harus tanyakan langsung kepada Pak Adi. Aku harus meminta penjelasan mengenai hubungan mereka,” tutur Caca.
Caca mencoba untuk memejamkan mata karena besok pagi ia harus bersekolah dan Caca tidak ingin ia terlambat untuk bangun lebih awal.
Upaya Caca untuk segera tidur ternyata tak berhasil. Alhasil gadis itu keluar dari kamarnya untuk menemui Mama Ismia di kamar.
“Mama sudah tidur belum? Caca tidak bisa tidur,” ucap Caca yang berdiri tepat di depan pintu kamar orang tuanya.
Kebetulan Mama dan Papa belum tidur karena sedang membahas masalah pekerjaan.
“Caca kenapa belum tidur?” tanya Papa dan Mama.
“Caca belum bisa tidur. Mama ada obat untuk Caca? Vitamin yang pernah Tante Risty berikan ke Mama,” ucap Caca mengingatkan kembali perihal Vitamin agar bisa merilekskan pikiran.
“Masih ada, sayang. Caca tunggu di sini, Mama akan mengambilnya,” balas Caca.
Setelah mendapatkan vitamin tersebut, Caca meminumnya dan kembali ke kamarnya untuk segera tidur.
Kini, Caca sudah di dalam kamar dan telah berbaring di ranjang tempat tidurnya sembari menatap langit-langit kamar.
“Aku sudah minum vitamin, sebaiknya aku menutup mataku agar bisa segera tidur,” gumam Caca.
Vitamin itu berhasil membuat Caca tidur terlelap untuk menghadapi esok pagi.
****
Pagi itu Caca tiba di sekolah lebih awal dari biasanya karena keinginan Caca yang ingin berangkat lebih pagi. Caca bahkan merelakan sarapan pagi nya di rumah hanya karena ingin bertemu dengan Adi.
Caca memperhatikan dengan seksama motor milik Adi yang ternyata belum terpampang di area parkir Guru.
Ketika Caca menoleh ke arah gerbang sekolah, Caca melihat Adi datang berboncengan dengan Guru perempuan, yaitu Bu Intan.
“Pak Adi dan Bu Intan berangkat bersama?” Caca menatap kesal mereka berdua yang baru saja tiba.
Gadis itu memilih untuk tidak menghampiri Adi dengan terburu-buru. Caca memilih waktu yang tepat untuk menghampiri Adi.
“Oke, Bu Intan sudah ke ruang Guru terlebih dulu. Waktunya bagiku menghampiri Pak Adi,” gumam Caca.
Caca berlari kecil menghampiri Adi yang akan masuk ke dalam Ruang Guru.
“Pak Adi!” panggil Caca.
Adi pun menoleh ke arah siswi yang memanggilnya.
__ADS_1
“Caca, kenapa tidak langsung masuk kelas?” tanya Adi.
“Langsung ke intinya saja, kemarin Pak Adi dan Bu Intan ke mana? Terus, kenapa berangkat ke sekolah bersama?” tanya Caca penasaran.
“Apa Bapak harus menjawab semua pertanyaan Caca? Bapak rasa itu tidak perlu. Sekarang Caca masuk ke kelas dan Bapak harus masuk ke Ruang Guru,” pungkas Adi dan melanjutkan langkahnya memasuki Ruang Guru.
Caca mendengus kesal karena Adi tak menjawab pertanyaan darinya.
“Pak Adi bisa cuek, Caca pun bisa,” gumam Caca.
Caca pun berjalan menuju kelasnya karena ia tak mendapatkan jawaban yang diinginkan dari seorang Adi Hidayatullah.
Ketika sedang berjalan menuju kelas, Wuri tiba-tiba saja muncul dan merangkul lengan Caca.
“Selamat pagi, Caca!” Wuri menyapa Caca seakan-akan mereka begitu dekat.
Caca yang risih melepaskan tangan Wuri yang merangkul lengannya.
“Pagi juga,” balas Caca yang tak nyaman dengan Wuri.
Caca bukan tipe orang yang bisa dengan mudah melupakan apa yang telah terjadi. Bahkan, untuk bisa menjalin hubungan dengan Wuri menurutnya terasa sangat canggung.
“Caca, kamu tidak nyaman ya dengan ku?” tanya Wuri.
“Aku buru-buru mau ke kelas,” balas Caca bergegas menuju ruang kelas.
“Sampai kapan aku harus berpura-pura baik begini. Kalau saja bukan atasan Ayahku, tidak akan mungkin aku menyapamu,” gumam Wuri yang ternyata kata maafnya sama sekali tidak dari hati yang paling dalam.
Caca duduk di kursinya sembari menunggu kedatangan Lia dan Rina.
Tak berselang lama, Lia dan Rina masuk ke dalam kelas. Mereka terkejut melihat Caca yang sudah berada di kelas. Mereka hampir saja berpikiran bahwa Caca izin untuk tidak masuk sekolah di hari itu.
“Caca, kamu mimpi apa semalam? Tidak biasanya berangkat lebih awal daripada kami,” ucap Lia terheran-heran.
Rina merasa ada yang beda dari Caca yang terlihat kurang tidur.
“Ya ampun, pantas saja aku merasa ada yang aneh. Coba lihat kantung matamu,” tutur Rina sembari mengambil cermin di dalam ranselnya dan memberikannya ke Caca.
Caca memperhatikan kantung matanya yang cukup hitam karena efek susah tidur.
“Jangan bilang kalau kamu begadang?” tanya Rina.
Caca mengangguk kecil mengiyakan pertanyaan Rina.
“Ini semua gara-gara Bu Intan,” ucap Caca yang kembali kesal dengan kejadian kemarin sore.
__ADS_1
Lia dan Rina dengan antusias duduk lebih dekat untuk mengetahui alasan yang diucapkan Caca.
“Wah sepertinya seru nih. Cepat Caca ceritakan pada kami!” pinta Rina mendesak Caca untuk bercerita.
“Ayo cepat, ceritakan ke kami!” seru Lia yang juga penasaran.
Baru saja Caca ingin membuka mulutnya, bel masuk berbunyi dan ternyata sudah ada Guru yang masuk ke dalam kelas mereka.
Lia dan Rina mendengus kesal karena sangat penasaran dengan apa yang ingin Caca katakan.
“Nanti saja aku ceritakan,” ucap Caca.
Pelajaran di mulai dan nampak Caca yang banyak melamun daripada mendengarkan apa yang Guru jelaskan di depan.
Wiwik selalu Guru sosiologi, meminta Caca untuk membaca ulang apa yang baru saja Guru sosiologi itu bacakan. Akan tetapi, Caca malah berdiri dan membuat satu kelas menertawakan.
“Caca, baca ulang!” perintah Guru sosiologi.
“Ya!” seru Caca seketika itu berdiri tegak.
“Hahaha.. Hahaha.. ” Suara tawa mereka cukup membuat Caca malu.
Guru sosiologi itu mendengus kesal karena Caca yang tidak mendengarkan dirinya selama pelajaran di mulai.
“Caca Lestari, renungkan kesalahanmu dan belajarlah di luar kelas!” perintah Wiwik.
Caca mengambil buku paket Sosiologi dan dengan terpaksa meninggalkan kelas tersebut.
“Apa aku sekarang sudah menjadi anak nakal?” tanya Caca yang saat itu sudah berada di depan kelas dan tengah bersandar di dinding kelas.
Gadis itu mengembungkan pipinya dengan bibir bergaya manyun. Secara kebetulan, Adi yang tengah berjalan menuju kelas 12 IPS 1 melihat wajah konyol Caca.
“Astaga!” Caca tersadar ketika Adi melihatnya.
Adi pun menghentikan langkahnya sejenak untuk menanyai alasan mengapa Caca tidak belajar di kelas.
“Caca kenapa di luar?” tanya Adi dengan posisi berjongkok.
Caca bukannya menjawab, ia malah salah tingkah karena dirinya dan Adi cukup dekat.
“Caca kenapa diam?” tanya Adi penasaran.
Gadis itu menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan dari Guru yang ia sukai.
“Ini semua karena Pak Adi,” jawab Caca setengah berteriak.
__ADS_1
Sontak saja suara Caca membuat Bu Wiwik serta murid di kelas penasaran dengan teriakan Caca.