
Keesokan Pagi.
Mama Ismia dan Papa Rio sedang melakukan meeting melalui laptop. Mereka sedang mendiskusikan sebuah merk sepatu yang akan diproduksi.
Orang tua dari Caca tentu saja sangat sibuk, meskipun begitu mereka memutuskan untuk tetap berada di dekat Caca sampai Adi bisa membuka matanya.
“Terima kasih atas pertemuan kita ini, selebihnya kita akan membahasnya di lain hari,” ucap Papa Rio dan mengakhiri meeting online tersebut.
Mama Ismia menghela napas panjang dan berbaring sejenak di tempat tidur. Mama dari Caca itu sedang memikirkan kondisi sang menantu.
Melihat istrinya yang sedang melamun, Papa Rio pun ikut berbaring dengan terus menatap langit-langit kamar.
“Mama sedang memikirkan apa?” tanya Papa Rio penasaran.
“Sedang memikirkan kondisi menantu kita, Pa. Adi orang yang sangat baik dan selama ini tidak ada sedikitpun hal yang membuat kita tidak menyukai Adi. Mama yakin Adi bisa sembuh dan kembali normal seperti sebelumnya,” jawab Mama Ismia.
“Aamiin, Allah pasti mendengar dan mengabulkan do'a kita,” sahut Papa Rio.
Disaat yang bersamaan, Caca baru saja memandikan bayi Yusuf yang sangat anteng kalau dimandikan.
“Kesayangan Bunda sudah mandi, waktunya pakai baju. Yusuf mau warna apa? Biru? atau kuning?” tanya Caca sambil mendekatkan setelan bayi warna biru dan kuning.
Tangan mungil Yusuf menarik setelan bayi miliknya berwarna kuning.
“Pintar ya bayi Bunda, sudah bisa memilih,” puji Caca sambil mengenakan setelan pakaian bayi Yusuf.
Caca mencubit gemas pipi gembul Bayi Yusuf yang semakin menggemaskan.
“MasyaAllah, sekarang kesayangan Bunda sudah ganteng,” ucap Caca yang kembali mencubit gemas pipi bayi kecilnya.
“Caca, Ibu mandi duluan ya. Habis ini Caca gantian yang mandi,” tutur Ibu Puspita sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
“Iya, Ibu. Di dalam ada sabun cair Caca, Ibu pakai saja ya!”
“Baik, Caca. Akan Ibu gunakan,” balas Ibu Puspita dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Caca menggendong bayinya dan memutuskan untuk bersantai di balkon kamar sembari menyusui bayi Yusuf.
“Waktunya minum susu ya sayang,” tutur Caca seraya tersenyum menatap bayi Yusuf.
Beberapa jam kemudian.
Siang Hari.
__ADS_1
Mereka semua tengah duduk di kursi sambil menunggu kabar dari Dokter. Caca berharap keajaiban akan segera datang untuk kesembuhan suaminya.
Ayah Faizal terduduk di kursi dengan mata yang sudah sangat mengantuk. Semalaman Ayah Faizal terjaga karena tidak tenang jika harus tidur.
Melihat besannya yang sangat mengantuk, Papa Rio berinisiatif mengantarkan besannya itu untuk tidur di hotel dan akan menjemputnya kembali ketika sore hari.
Awalnya Ayah Faizal menolak saran dari Papa Rio, dikarenakan ia ingin terus berada di rumah sakit. Akan tetapi, Papa Rio serta yang lain memaksa Ayah Faizal untuk tidur di hotel. Pada akhirnya Ayah Faizal mengiyakan dan bergegas pergi menuju hotel dengan diantarkan oleh Papa Rio.
“Kami pergi dulu, assalamu'alaikum!”
“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas mereka bertiga.
Tak berselang lama, Dokter keluar dari ruangan Adi dengan tersenyum kecil.
Caca dengan cepat beranjak dari duduknya untuk menanyakan kondisi suaminya.
“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?” tanya Caca penasaran.
“Alhamdulillah, Tuan Adi telah melewati masa kritisnya dan kita tinggal menunggu Tuan Adi siuman,” jawab Dokter Jefry.
Caca mengucap syukur begitu juga dengan Ibu Puspita dan Mama Ismia.
“Terima kasih, Dokter.” Caca menangis terharu karena Allah telah mengabulkan do'a mereka.
Papa Rio kembali setelah mengantarkan Ayah Faizal ke dalam hotel dan penasaran dengan pemandangan yang tengah dilihatnya.
“Ada apa ini?” tanya Papa Rio ketika melihat Caca, istrinya dan besannya saling berpelukan sambil menangis.
Mama Ismia menghampiri suaminya dan memeluk suaminya dengan menangis terharu.
“Mama kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan menantu kita?”
“Adi akhirnya melewati masa kritisnya, Papa. Dokter mengatakan bahwa kita tinggal menunggu Adi siuman,” ungkap Mama Ismia.
“Alhamdulillah ya Allah, Terima kasih sudah mendengarkan do'a-do'a kami ini.” Papa Rio tersenyum lega karena akhirnya Adi akan sembuh.
Papa Rio kemudian meminta yang lainnya, terutama Ibu Puspita untuk tidak memberitahu terlebih dahulu Ayah Faizal. Papa Rio ingin besannya itu bisa beristirahat dan tidur nyenyak.
Salah satu perawat ingin masuk ke dalam ruang ICU dan saat itu juga Caca meminta izin untuk melihat suaminya. Akan tetapi, keinginan Caca belum bisa dipenuhi. Dikarenakan pasien harus beristirahat total dan akan diperbolehkan ketika Adi sudah siuman.
Caca hanya bisa menghela napas dan kembali duduk di kursi rumah sakit.
Mata Caca menatap bayi Yusuf yang tengah terlelap. Caca sangat bersyukur memiliki bayi Yusuf yang sama sekali tidak rewel alias anteng.
__ADS_1
“Sambil menunggu Adi, bagaimana kalau kita makan siang?” tanya Papa Rio.
Mama Ismia mengiyakan, kemudian diikuti oleh Caca serta Ibu Puspita.
“Ayo, kita makan siang bersama,” tutur Papa Rio.
Papa Rio tersenyum kecil melihat besannya yang nampak kebingungan.
“Mbak Puspita tidak perlu khawatir mengenai Mas Faizal. Saya sudah memesan makanan untuk Mas Faizal dan sebelum jam 1 makanan itu akan diantar ke kamar hotel,” jelas Papa Rio.
Ibu Puspita akhirnya bisa tenang dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
“Mama mau makan apa?” tanya Caca sambil terus berjalan menuju rumah makan masakan padang.
“Mama apa saja, sayang. Bagaimana dengan Caca?” tanya Mama Ismia.
“Caca makan pakai lauk telur dadar saja, Mama.”
Merekapun tiba sebuah rumah makan masakan padang untuk mengisi perut mereka yang terasa kosong.
Mau pesan apa?” tanya seorang pelayan pria.
Papa Rio serta yang lain bergiliran menyebutkan menu makanan yang ingin mereka nikmati.
Setelah mencatat semua menu makanan yang disebutkan oleh keluarga itu, Pelayan dengan ramah meminta mereka untuk menunggu.
Caca dengan lembut menggendong bayi Yusuf yang terus saja terlelap dan sama sekali tidak rewel.
“Yusuf haus? Mau minum susu?” tanya Caca sambil menyentuh mulut mungil bayi nya.
Bayi Yusuf sama sekali tidak merespon, sepertinya ia sangat mengantuk dan tidak ingin diganggu.
“Caca, sini biar Papa saja yang menggendong Yusuf!” pinta Papa Rio.
Tanpa pikir panjang, Caca memberikan bayinya ke dalam gendongan Papa Rio.
“Mama, kapan ya Mas Adi siuman? Caca sudah sangat rindu,” tutur Caca sambil membayangkan senyum manis suaminya.
“Kamu yang tenang ya sayang, pasti ada saatnya Adi bisa siuman dan bisa beraktifitas seperti biasanya,” balas Mama Ismia.
Tak berselang lama, makanan yang mereka pesan tiba dengan es teh segar yang sangat menggiurkan.
“Kalian makanlah dulu, biar bayi Yusuf Papa yang jaga,” tutur Papa Rio yang sudah berdiri sambil menimang Bayi Yusuf.
__ADS_1
Caca, Mama Ismia dan juga Ibu Puspita akhirnya makan siang terlebih dahulu.