Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Mertua Bagaikan Orang Tua Sendiri


__ADS_3

Pagi Hari.


Adi dan Ayah Faizal belum juga pulang dari masjid, padahal pagi itu waktu sudah hampir menunjukkan pukul 06.00 WIB.


“Ibu! Ayah dan Mas Adi belum pulang juga ya?” tanya Caca yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Belum, sepertinya sebentar lagi. Lihatlah, Ibu sudah membuatkan Caca cah kangkung, telur mata sapi dan tempe goreng. Caca suka, tidak?” tanya Ibu Puspita.


“Ibu sudah memasak? Kenapa tidak memanggil Caca?” tanya Caca yang sungkan dengan Ibu mertua.


“Sudah jangan sungkan begitu, Ibu memang sengaja tidak memanggil Caca. Lagipula, Ibu senang memasak makanan untuk menantu kesayangan,” jawab Ibu Puspita.


“Ibu sayang sama Caca?” tanya Caca penasaran.


“Kok masih tanya, tentu saja Ibu sayang sama Caca. Boleh Ibu peluk Caca?” tanya Ibu Puspita.


Caca terkejut mendengar Ibu mertuanya yang ingin memeluknya, saat itu juga Caca memeluk Ibu Puspita dan menangis.


Pelukan Ibu Puspita sama persis dengan pelukan Sang suami, yang menenangkan hati dan sangat nyaman.


“Ibu janji yang jangan bilang Mama dan Papa kalau Caca menangis,” ucap Caca meminta Ibu mertua untuk tidak menceritakan kesedihan yang ia alami kemarin.


“Caca jangan sedih lagi ya, Ibu berjanji akan tutup mulut. Kedepannya, kalau Caca bersedih langsung telepon Ibu. Ibu pasti akan mendengarkan semua yang Caca ceritakan,” pungkas Ibu Puspita.


“Terima kasih, Ibu.” Caca menangis terharu dengan apa yang dikatakan oleh Ibu mertua.


Ayah Faizal dan Adi baru saja pulang, mereka terkejut melihat Ibu Puspita bersama Caca dengan posisi saling berpelukan.


“Caca kenapa, Ibu?” tanya Adi.


“Tidak kenapa-kenapa, kami sedang membahas masalah kami sendiri. Kalian kenapa pulang tidak mengucap salam?” tanya Ibu Puspita yang sudah melepaskan pelukannya.


Caca menghapus air matanya seraya memberikan senyuman terbaiknya.


“Kami tadi sudah mengucapakan, seperti Ibu dan Caca tidak mendengar,” jawab Adi.


Caca mendekati suaminya dan mengajak Sang suami untuk masuk ke dalam kamar. Karena ada yang ingin Caca bicarakan dengan Adi.


“Ayah, Ibu. Kami ke kamar dulu,” tutur Adi dan bergegas masuk ke dalam kamar bersama Sang istri.


Setibanya di kamar, Caca mengunci pintu kamar agar tidak ada yang bisa masuk. Kemudian, meminta Adi untuk mencium bibir nya. Adi tentu tidak menolak, ia pun mencium bibir manis Caca dengan cukup lama.


“Sudah,” ucap Caca tersenyum lebar setelah mendapatkan ciuman maut dari Sang suami.


“Tidak mau nambah?” tanya Adi yang terlihat bahagia karena mendapatkan sarapan spesial.


“Sudah cukup, Mas. Caca juga masih datang bulan, takutnya Mas tidak bisa menahannya. Sekarang lebih baik Mas ganti pakaian, bukankah Mas harus berangkat lebih pagi?” tanya Caca sambil menoleh ke arah jam di dinding.


“Astaghfirullah, untung saja Caca memberitahu Mas,” ucap Adi buru-buru mengganti pakaiannya.


***


Adi beserta yang lain telah selesai sarapan dan sudah waktunya bagi Adi untuk berangkat ke sekolah.

__ADS_1


“Hati-hati ya Mas, Caca akan menunggu Mas pulang,” ucap Caca.


“Mas pergi dulu ya!” Adi mencium kening istrinya dan pamit kepada kedua orang tuanya sebelum pergi mengajar.


Setelah Adi pergi mengajar, Caca dan kedua mertuanya masuk ke dalam rumah.


“Ayah pulang sendirian saja ya, Ibu akan menemani Caca di sini sampai Adi pulang,” ucap Ibu Puspita yang tidak tega meninggalkan Caca seorang diri di rumah.


“Ibu, Caca tidak apa-apa. Ibu sebaiknya pulang dengan Ayah,” sahut Caca yang tidak ingin merepotkan Ibu mertua.


“Nak Caca jangan sungkan sama kami, Ayah bisa kok pulang sendirian. Nanti sore Ayah akan datang ke sini menjemput Ibu. Kebetulan nanti siang Ayah ada pekerjaan di rumah Pak Joko, lumayan gajinya,” terang Ayah Faizal.


“Ibu yakin mau menemani Caca?” tanya Caca yang tidak ingin merepotkan Ibu mertua.


“Caca sayang, jangan sungkan sama Ibu. Kamu itu sudah Ibu anggap seperti putri Ibu sendiri, pokoknya kamu santai saja. Nanti kalau Adi sudah pulang, Ibu akan pulang ke rumah,” pungkas Ibu Puspita.


Ayah Faizal pun memutuskan untuk segera pulang seorang diri dan membiarkan Ibu Puspita tetap di rumah kontrakan menemani menantu kesayangan mereka.


“Hati-hati di jalan, Ayah,” ucap Ibu Puspita.


Perlahan, Ayah Faizal pergi seorang diri pulang ke rumah.


“Maaf ya, Ibu,” tutur Caca meminta maaf.


“Maaf untuk apa? Karena Ibu tetap di sini. Ibu sudah bilang kalau Caca harus santai dan jangan sungkan,” balas Ibu Puspita.


Ketika mereka hendak masuk ke dalam rumah, ada anak kecil datang menghampiri mereka.


“Assalamu'alaikum, jual beras?” tanya anak kecil.


“Wa’alaikumsalam, adik mau beli beras? Beli berapa kg?” tanya Caca dan anak kecil itu menyerahkan uang 24 Ribu.


Caca meminta anak kecil itu untuk menunggu sebentar selagi dirinya menimbang beras.


Sambil menunggu Caca yang sedang menimbang beras di dalam rumah, Ibu Puspita berinisiatif untuk berbicara dengan anak tersebut.


“Adik namanya siapa?” tanya Ibu Puspita.


“Dhika,” jawabnya dengan tatapan polos.


“Oh Dhika. Dhika sudah sekolah?” tanya Ibu Puspita seraya tersenyum lebar.


Dhika hanya menggelengkan kepalanya dan ketika Caca datang dengan membawa kantong plastik berisikan beras, Dhika dengan cepat mengambil beras tersebut dan berlari kecil dengan kakinya yang imut.


Caca tertawa kecil melihat bagaimana Dhika berlari dengan langkah pendek.


“Dhika sangat lucu ya,” ucap Ibu Puspita.


“Dhika? Jadi nama Adik kecil itu Dhika? Dia memang sangat lucu, Bu,” balas Caca.


Ibu Puspita menoleh ke arah meja panjang di samping yang masih kosong.


“Caca, kamu hari ini tidak jualan?” tanya Ibu Puspita sambil menggandeng tangan Caca untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


“Jujur, Caca masih takut sama kejadian kemarin, Bu. Caca takut kalau Ibu itu datang lagi dan membentak Caca,” terang Caca.


“Sudah jangan takut. Di sini ada Ibu yang menemani Caca. Bagaimana kalau kita buat bolu kukus?”


“Bolu kukus? Caca tidak tahu cara membuatnya, Ibu. Kemarin saja Caca menggoreng telur gosong sampai-sampai asap memenuhi dapur seperti kebakaran,” ungkap Caca.


“Caca jangan khawatir, nanti Ibu ajarkan bagaimana caranya menggoreng telur yang benar. Sekarang, Caca mau menemani Ibu membuat bolu kukus?” tanya Ibu Puspita.


“Sepertinya alat untuk membuat bolu kukus tidak ada, Bu. Kalau buat yang lain saja bagaimana? Kebetulan Caca ingin makan stick bawang,” ujar Caca.


“Wah, ide yang bagus. Ayo tunggu apa lagi!” seru Ibu mertua dan berlari kecil menuju dapur.


Caca beruntung memiliki Ibu mertua yang sayang padanya dan tidak mendikte kekurangannya. Justru, Ibu mertuanya mau membantunya tanpa sedikitpun menyinggung dirinya.


“Caca ada mentega?” tanya Ibu Puspita.


“Kebetulan ada, Ibu. Masih ada 3 bungkus untuk jualan,” jawab Caca.


“Kalau Ibu minta 1 boleh untuk membuat adonan?” tanya Ibu Puspita.


Caca tertawa lepas mendengar pertanyaan Ibu mertuanya.


“Tentu saja boleh, Ibu. Semuanya juga boleh,” jawab Caca.


“Kalau semuanya yang ada stick bawang menjadi makanan pokok Caca dan Adi selama beberapa ke depan,” balas Puspita sambil menahan tawanya.


Caca perlahan mendekati Ibu mertua dan memeluk punggung Ibu mertuanya dari belakang.


“Maafkan Caca ya Bu, belum bisa menjadi istri yang baik sekaligus menantu yang baik,” tutur Caca.


“Ssssuuttss.. Tidak boleh bicara begitu, tidak baik. Siapa yang bilang kalau Caca belum bisa? Selama Caca mau berusaha, insya Allah semuanya dilancarkan oleh Allah,” pungkas Ibu Puspita.


***


Adi baru saja selesai mengajar teori di kelas dan memutuskan untuk segera pergi ke kantin. Tenggorokannya sangat kering dan butuh minuman yang segar.


“Pak Adi!” panggil Intan yang tiba-tiba saja muncul di samping Adi.


Adi tak menggubris panggilan tersebut maupun menoleh Intan yang berada tepat di samping.


“Pak Adi! Pak Adi!” panggil beberapa murid sembari berlari menghampiri Adi.


Intan akhirnya tak bisa mendekati Adi, karena sekeliling Adi terdapat para murid.


Adi tersenyum dalam hatinya karena para murid datang di saat yang tepat.


“Pak Adi, tugas yang kemarin itu saya belum selesai. Apa masih boleh di kumpulkan?” tanya salah satu siswa.


“Boleh, kumpulkan sekarang di meja Bapak. Nanti Bapak akan periksa tugas yang kemarin,” jawab Adi.


Setelah menjawab semua pertanyaan dari para murid, Adi buru-buru melanjutkan langkahnya untuk membeli es teh.


“Terima kasih,” ucap Adi yang telah membeli es teh dan meminumnya sampai habis.

__ADS_1


Adi bernapas lega dan memilih untuk bersantai sejenak di kantin sembari mengirim pesan singkat kepada Sang istri tercinta yang berada di rumah.


Adi sendiri tidak tahu kalau Ibu Puspita masih berada di rumah kontrakan menemani istri kecilnya. Kalau saja Adi tahu, pasti Adi sangat senang karena Ibu dan istri kecilnya ternyata sangat dekat.


__ADS_2