Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Tak Bisa Menahannya Lagi


__ADS_3

Adi enggan melepaskan pelukannya pada Sang istri karena merasa masih belum puas memeluk erat tubuh istrinya.


Caca yang merasa pengap sekaligus sesak, meminta suaminya untuk melonggarkan pelukan itu.


“Mas, tolong jangan terlalu erat memeluknya!” pinta Caca.


Adi seketika itu melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan istrinya mengajak Sang istri untuk segera masuk ke dalam kamar.


Setibanya di dalam kamar, Adi malah menggaruk-garuk tengkuknya yang gatal dan malah salah tingkah.


Melihat suaminya yang kebingungan, Caca justru tertawa lepas. Karena sebelumnya Caca tidak pernah melihat raut wajah kebingungan dari suaminya itu.


“Mas akhir-akhir ini kenapa berkeringat terus?” tanya Caca sambil menghapus keringat suaminya dengan tissue miliknya.


“Be...benarkah?” tanya Adi terbata-bata.


“So cute,” ucap Caca menggoda suaminya yang kini tampak gugup.


Adi segera memalingkan wajahnya karena semakin ia menatap istrinya, semakin Adi jatuh cinta kepada Sang istri.


“Mas, tidak boleh menarik kata-kata yang telah diucapkan,” tutur Caca yang masih berdiri tepat di belakang suaminya.


Adi tak tahan lagi, seberapa keras ia mencoba untuk tidak melewati batasnya, tetap saja pria itu tidak bisa. Saat itu juga ia berbalik dan mengangkat tubuh istrinya menuju tempat tidur mereka.


Caca terkejut ketika melihat betapa semangatnya Sang suami membawanya ke tempat tidur mereka.


Adi meletakkan istrinya secara perlahan dan tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh dagu istrinya, kemudian bergerak menyentuh bibir indah Sang istri.


Jantung Caca terus berdegup ketika merasakan sentuhan suaminya yang sangat berbeda dari biasanya.


Adi tersenyum kecil dan mulai menciumi bibir istrinya dengan lembut.


“Tunggu....” Caca mengalihkan pandangannya dan sekuat tenaga bangkit dari posisi yang cukup intim itu.


Gadis itu berlari ke luar dari kamar, meninggalkan Adi yang nampak kebingungan dengan sikap Caca yang kabur begitu saja.


Caca berlari masuk ke dalam kamar mandi dan tak lupa mengunci pintu kamar mandi untuk mencegah suaminya masuk.


“Apa itu tadi? Apakah malam ini adalah malam yang tepat untukku dan Mas Adi?” gumam Caca.


Adi tak bisa menahan hasratnya kepada Sang istri, saat itu juga Adi ke luar kamar untuk menghampiri Sang istri dan mengajak istri kecilnya itu masuk ke dalam kamar.


“Caca!” panggil Adi.


Deg! Deg! Deg! Jantung Caca semakin berdegup tak karuan ketika mendengar suaminya memanggil namanya.

__ADS_1


“Caca!” panggil Adi sekali lagi.


Panggilan Adi kali ini berhasil membuat Caca ke luar dari kamar mandi dan terlihat jelas wajah basah Sang istri.


“Mas kenapa memanggil Caca berulang kali? Caca baru saja membasuh wajah dan menggosok gigi,” terang Caca.


“Jangan menghindari Mas!” pinta Adi sambil membelai rambut panjang Caca yang terurai.


Perlakuan suaminya yang hangat itu membuat Caca merinding. Entah kenapa, Caca justru tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya setelah itu.


“Diam di sini atau tunggulah Mas di kamar,” ucap Adi dengan kaki kiri yang sudah memasuki kamar mandi.


“Akan lebih baik jika Caca tunggu Mas Adi di kamar,” balas Caca dan berlari kecil masuk ke dalam kamar.


Gadis itu segera naik ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya saat itu gemetaran dan jantungnya berdegup tidak karuan.


Deg!!!!


Jantung Caca semakin berdegup tak karuan ketika mendengar bunyi suara pintu yang terbuka.


“Aaaaa!” Caca reflek berteriak ketika tangan suaminya menyentuh perutnya.


“Kenapa?” tanya Adi terkejut sembari menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Sang istri.


Adi tertawa kecil ketika melihat reaksi berlebihan istrinya.


“Kenapa sikap agresif istriku? Apakah malam ini Mas yang harus agresif?” tanya Adi dengan tersenyum kecil.


Senyuman yang membuat Caca semakin salah tingkah karena senyuman itu seakan-akan ingin memakannya.


Adi mendekatkan wajahnya ke wajah Sang istri. Kemudian, mengecup lembut pipi serta kening Sang istri.


“Ini adalah malam yang tepat untuk kita,” bisik Adi di telinga Caca.


“Haaaa???” Caca merespon bisikan suaminya dengan raut wajah tak percaya.


“Kamu tidak perlu takut, meskipun ini adalah yang pertama untuk kita. Mas akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukannya,” bisik Adi.


Caca mendadak bodoh, gadis itu sama sekali tidak mengerti apa suaminya katakan.


“Maksimal? Maksudnya Mas Adi apa?” tanya Caca dengan tatapan polos.


“Benarkah kamu tidak tahu maksud dari kata itu?” tanya Adi memastikan.


Caca menggelengkan kepalanya dan di saat yang bersamaan Adi menind!h tubuh Caca.

__ADS_1


“Biar Mas perjelas,” ucap Adi dan segera bangkit dari tubuh istrinya.


Adi menarik tangan istrinya dan mengajak istrinya untuk segera mengambil air wudhu.


“Mas lupa ya kalau kita sudah sholat isya?” tanya Caca dengan ekspresi melongo.


“Cepatlah ambil wudhu, setelah itu Mas akan memberitahukan apa yang akan terjadi selanjutnya!” perintah Adi.


Caca pun tanpa pikir panjang mengikuti apa yang diperintahkan oleh suaminya. Setelah itu, Adi bergantian mengambil air wudhu.


Usai mengambil air wudhu, Adi membentangkan sajadah miliknya dan milik Sang istri.


“Kita akan sholat sunah dua raka'at sebelum sunah rasul,” ucap Adi sembari mengenakan sarung miliknya.


“Sunah rasul?” Caca masih tak mengerti dengan arti dari sunah rasul yang diucapkan oleh suaminya.


“Mas tidak akan mundur lagi dan Mas harap Caca sedikit lebih agresif,” bisik Adi.


Bisikan Adi membuat bulu kuduk Caca berdiri dan masih belum mengerti maksud dari perkataan suaminya itu.


Merekapun akhirnya sholat sunah berjama'ah di dalam. kamar mereka.


Beberapa menit kemudian.


Caca sengaja memalingkan wajahnya karena Sang suami terus saja menatapnya dan itu membuat Caca menjadi salah tingkah.


Jika biasanya ia agresif dan senang mencium atau memeluk suaminya dengan tiba-tiba, lain halnya dengan saat itu. Nyali Caca sangat ciut sehingga untuk menatap suaminya saja, ia sama sekali tidak berani.


“Mas tahu bahwa Caca sengaja menghindari tatapan Mas. Tolong beritahu alasannya kenapa?”


“Si... siapa yang sengaja menghindari Mas?” tanya Caca yang berusaha keras menatap sepasang mata milik suaminya.


Akan tetapi, semakin Caca berusaha justru semakin tak sanggup Caca melakukannya.


Deg! Deg!


Caca bahkan bisa mendengar betapa kencangnya suara jantung miliknya.


Adi samar-samar bisa mendengar suara detak jantung tersebut, karena posisi Adi saat itu sangat dekat dengan Sang istri.


“Bagaimana kalau malam ini?” tanya Adi sambil menyentuh dagu istrinya dan mengarahkan wajah Sang istri menghadap ke arah wajahnya.


“Mas kalau bicara yang jelas dong, Caca sungguh tidak mengerti. Perkataan Mas layaknya sebuah teka-teki bagi Caca dan Caca sedang tidak ingin berpikir,” terang Caca.


“Jika Mas mengatakannya dengan jelas, bisakah Caca melakukannya?” tanya Adi sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


__ADS_2