Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Keputusan Caca Berhenti Kuliah


__ADS_3

Beberapa Hari Kemudian.


Malam Hari.


Caca memutuskan untuk bermalam di rumah sakit, sementara Bayinya yang menggemaskan berada di rumah bersama kedua mertuanya.


Entah kenapa, Caca merasa bahwa ia harus menemani suaminya di rumah sakit.


“Mas, sebenarnya ada hal yang ingin Caca sampaikan kepada Mas. Akan tetapi, Caca takut Mas kecewa dengan Caca,” tutur Caca yang tak sanggup menatap suaminya.


“Ceritakan saja sama Mas, lagipula Caca belum bilang sama Mas,” balas Adi.


“Caca ingin berhenti kuliah, Mas. Tidak kuliah bukan berarti kehilangan masa depan, 'kan?” tanya Caca.


“Masa depan tidak diukur dari seberapa tinggi kita mengenyam pendidikan. Masa depan itu hasil dari kerja keras kita dan bukan karena pendidikan. Hanya saja, pendidikan itu salah satu penyokong untuk diri kita agar bisa menyesuaikan dengan perubahan dunia yang semakin maju. Mas boleh tahu alasan Caca ingin berhenti sekolah?” tanya Adi penasaran.


“Karena Caca sudah memiliki Mas dan Yusuf. Kita juga sudah memiliki warung yang sampai detik ini cukup banyak orang yang berbelanja di warung kita. Kalaupun kedepannya Caca ingin berkuliah, Caca ya tinggal kuliah saja. Karena selama Caca masih hidup, berapapun usia Caca, bukankah Caca masih boleh berkuliah?”


Adi sama sekali tidak kecewa dengan keputusan istrinya, justru Adi sangat bangga karena pemikiran istri kecilnya sangat lah bijak.


“Kalau itu keputusan Caca, Mas sama sekali tidak kecewa. Justru Mas bangga dengan pemikiran bijak Caca. Sekarang, Caca jangan bersedih maupun merasa sungkan dengan Mas. InshaAllah keluarga yang lain pasti akan mengerti dengan keputusan Caca,” balas Adi.


“Mas memang yang terbaik. Caca mengira Mas akan kecewa dengan Caca,” tutur Caca memberitahukan isi hatinya yang tak membuat kecewa Sang suami.


“Sudah jangan sedih, ayo tidur di sini!” pinta Adi agar Caca tidur seranjang dengannya.


Jika biasanya Caca menuruti apa yang suaminya katakan, lain halnya dengan malam itu. Caca menolak permintaan suaminya yang mengajaknya tidur seranjang.


“Kenapa sayang? Apa Caca sudah tidak mau tidur seranjang dengan Mas?” tanya Adi sedih.


“Siapa bilang kalau Caca tidak mau tidur seranjang dengan Mas? Caca tidak bilang tidak mau, akan tetapi ranjang ini hanya bisa digunakan oleh satu orang saja,” jawab Caca.


“Lalu, Caca tidur di mana?” tanya Adi.


“Masih ada sofa yang bisa menjadi tempat Caca untuk tidur. Mas juga sedang sakit, Caca takut ketika tidur nanti banyak gerak dan membuat sakit Mas Adi malah semakin parah,” jawab Caca.


Caca tersenyum genit sambil mengedipkan matanya. Kemudian, ia berbalik badan menggoyangkan bokongnya dihadapan Adi.


“Jadi kapan kita bisa melakukannya?” tanya Caca dengan setengah melirik.


Adi menelan salivanya mendengar pertanyaan istrinya.

__ADS_1


Melihat ekspresi suaminya yang panik, membuat Caca tertawa terpingkal-pingkal. Jika biasanya Sang suami yang menggoda dirinya, kini saatnya ia yang menggoda suaminya.


Adi hanya pasrah melihat istrinya tertawa dan tentu saja menganggap santai candaan istrinya.


“Sayang, tunggu Mas sembuh. Mas akan balas dendam,” pungkas Adi.


“Caca akan menunggu waktu di mana Mas balas dendam kepada Caca!” seru Caca dan berlari kecil naik ke sofa.


Caca melepaskan ikat rambutnya dan berbaring di sofa empuk yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


“Sudah malam, waktunya kita tidur,” ujar Caca dan memejamkan matanya.


Adi sebenarnya masih ingin berbicara dengan istri kecilnya, akan tetapi Sang istri sudah lebih dulu tidur.


“Mas Adi kenapa belum tidur? Sudah malam, besok pagi Caca juga harus pulang ke rumah,” ucap Caca yang melihat suaminya belum juga memejamkan mata.


Adi mengiyakan perkataan Caca dan mulai memejamkan matanya berharap ia bisa segera tidur.


***


Keesokan Paginya.


Setelah melaksanakan sholat subuh di ruang tersebut, Caca memutuskan untuk mengelap tubuh suaminya.


“Mas mulai lagi, Caca tidak suka kalau Mas mengucapkan terima kasih dengan tatapan sedih seperti itu,” balas Caca.


“Apa sangat terlihat jelas?” tanya Adi penasaran.


“Tentu saja!” seru Caca yang telah selesai mengelap tubuh suaminya.


Ponsel Caca berbunyi dan dengan cepat Caca berlari mengambil ponselnya yang berada di atas sofa.


“Hallo, assalamu'alaikum. Ada apa Papa?” tanya Caca.


Caca menoleh sekilas ke arah suaminya dan izin keluar ruangan untuk berbicara dengan Papa Rio.


Sekitar 5 menit, Caca masuk kembali seraya tersenyum lebar.


“Sayang, apakah tadi itu Papa?” tanya Adi memastikan.


“Iya Mas, Papa menghubungi Caca untuk memberitahukan bahwa beberapa hari kedepan Papa dan Mama akan pergi ke Bali. Ada urusan bisnis,” ungkap Caca.

__ADS_1


“Apakah Caca sedih?” tanya Adi ketika melihat raut istrinya yang tak bersahabat.


“Dibilang sedih tentu saja sedih, tapi Caca sudah terbiasa dengan kesibukan Papa dan Mama. Sebenarnya, Caca sungkan dengan Ayah dan Ibu,” jawab Caca karena selama ini yang memomong bayi kecilnya adalah mertuanya.


“Caca jangan sedih ya, Ayah dan Ibu pasti mengerti mengenai keadaan kita. Lagipula, Ayah dan Ibu sangat senang bila berada dekat dengan kita,” pungkas Adi.


“Mas sangat beruntung memiliki orang tua seperti Ayah dan Ibu. Caca pun beruntung, memiliki Mas, Ayah dan juga Ibu yang sangat menyayangi Caca dengan tulus,” terang Caca.


Ponsel Caca kembali berdering dan ternyata pesanannya Caca telah datang.


“Sebentar ya Mas,” ucap Caca.


Wanita itu berlari kecil untuk segera menghampiri kurir makanan yang ia pesan.


“Terima kasih, Pak. Ini untuk Bapak,” tutur Caca dan bergegas masuk ke dalam ruang pasien.


Caca dengan semangat mengeluarkan piring yang ia simpan di nakas dan menyajikan nasi uduk untuk suaminya.


“Mas, pagi ini kita sarapan nasi uduk ya. Caca harap Mas suka nasi ini yang Caca pesan ini,” tutur Caca.


***


Disaat yang bersamaan, Ibu Puspita tengah mengajak cucu pertamanya berjalan-jalan disekitar rumah. Sesekali, Ibu Puspita bersenandung untuk membuat Yusuf nyaman di kereta bayi.


“Assalamu'alaikum,” ucap wanita yang berusia 30 tahunan sambil menggendong bayi berusia 2 bulan.


“Wa'alaikumsalam,” jawab Ibu Puspita.


“Ibu yang tinggal di rumah kontrakannya Pak Fattah ya?” tanya wanita itu.


“Iya Mbak. Putra saya dan menantu saya mengontrak di rumah itu. Ini cucu pertama saya, namanya Yusuf.”


Wanita itu menoleh ke arah Yusuf dan cukup terkejut melihat wajah tampan Yusuf, dengan hidung mancung layaknya keturunan Arab-India.


“Cucu Ibu tampan sekali,” puji nya.


“Alhamdulillah, ngomong-ngomong anak Mbak berusia berapa bulan?” tanya Ibu Puspita.


“Baru dia bulan, Bu. Bayi saya ini agak rewel, kalau tidak berjalan-jalan begini suka nangis,” terangnya.


Dari kejauhan Ayah Faizal melambaikan tangannya isyarat agar Ibu Puspita segera kembali.

__ADS_1


“Mbak, saya duluan ya. Suami saya sudah memanggil,” tutur Ibu Puspita dan berjalan pulang dengan terus mendorong kereta bayi milik Yusuf Hidayatullah.


__ADS_2