
Caca kembali ke kantin dan membayar biaya jajan mereka bertiga.
Lia dan Rina tampak terheran-heran karena Caca datang dengan membawa uang.
“Caca, bukannya kamu tadi bilang lupa membawa uang? Kenapa tiba-tiba ada uang?” tanya Rina.
“Aku pinjam sama Pak Adi,” jawab Caca yang tidak mungkin memberitahu Lia dan Rina bahwa Adi memberikannya.
“Haaaa???” Lia dan Rina melongo tak percaya.
“Santai dong bestie, aku pinjam dan akan mengembalikan uang Pak Adi. Lagian ya, tidak mungkin juga Pak Adi tidak meminjamkan aku uang. Secara aku cewek paling cantik di kelas kita,” ucap Caca membanggakan dirinya.
Ucapan Caca sama sekali tidak salah, Lia dan Rina bahkan mengakui kecantikan Caca yang di atas rata-rata.
“Kira-kira kalau aku yang pinjam dibolehkan tidak ya sama Pak Adi?” tanya Lia penasaran.
“Mungkin tidak, sudahlah tidak usah di bahas lagi. Sebaiknya kita ke kelas sekarang!” ajak Caca.
Mereka bertiga kembali ke kelas dan menyantap bersama-sama jajan yang mereka beli.
Wuri memberikan tatapan jengkel kepada Caca yang baru saja masuk ke dalam kelas.
“Ada masalah?” tanya Caca yang geram dengan sikap Wuri.
“Iya! Memangnya kenapa?” tanya Wuri menantang.
“Bersikaplah sewajarnya saja dan jangan sampai aku meminta Papahku memecat Ayahmu,” tegas Caca.
Wuri tak bisa melawan, Caca membuatnya kalah untuk kesekian kalinya.
“Aku harap kamu tidak lagi menggangguku,” tegas Caca sekali lagi.
***
Waktunya pulang sekolah dan satu-persatu para murid meninggalkan sekolah.
“Caca, ayo pulang!” ajak Lia dan Rina agar segera ke luar kelas.
“Aku nanti saja, kalian pulanglah duluan!” seru Caca.
Lia dan Rina akhirnya melenggang pergi meninggalkan Caca seorang diri di kelas. Caca tentu saja sengaja ingin pulang terakhir, karena ia ingin suaminya datang menghampirinya.
“Kita lihat saja, apakah Mas Adi menghampiriku atau mengabaikan ku,” gumam Caca dan menonaktifkan ponselnya.
Gadis itu duduk manis di kursinya sambil terus menunggu kedatangan suaminya.
Adi sedang menunggu istrinya yang tak kunjung datang, ia menoleh ke sana dan kemari berharap Caca segera datang untuk pulang bersama.
__ADS_1
“Pak Adi menunggu siapa?” tanya Intan ketika melihat rekan kerjanya yang tak kunjung pulang.
Pria 28 itu tak menjawab pertanyaan Intan dan bergegas pergi menuju kelas 12 IPS 3.
“Pak Adi!” panggil Intan yang diabaikan begitu saja oleh Adi.
Adi berlari kecil untuk segera memeriksa apakah Caca masih di kelas atau tidak.
“Astagfirullahaladzim Caca, kamu kenapa diam di kelas sendirian?” tanya Adi yang berdiri diantara pintu kelas.
Caca bertepuk tangan dan segera berlari mendekat ke arah suaminya.
“Caca pikir Mas tidak akan datang menghampiri Caca,” ujar Caca dan berinisiatif menggandeng tangan suaminya.
Adi dengan cepat melepaskan gandengan tangan Caca.
“Kenapa di lepas?” tanya Caca kesal.
“Ini masih di area sekolah, Caca. Nanti saja di rumah,” balas Adi.
Mereka berdua dengan kompak berjalan beriringan menuju area parkir. Ternyata, Intan masih menunggu Adi dan Intan cukup terkejut melihat pria yang ia suka bersama dengan murid yang ia tak suka.
“Jangan bilang kalau Pak Adi boncengan sama anak ini,” ucap Intan sambil menatap sinis Caca.
“Masalah Ibu apa? Memangnya Ibu siapanya Pak Adi?” tanya Caca yang terpancing emosi.
“Bu Intan yang mulai duluan, Pak,” balas Caca membela diri.
“Kamu ya di omongin orang tua itu yang di dengerin, bukan malah sibuk mencari pembenaran,” ujar Intan yang merasa puas melihat Caca ditegur oleh Adi.
“Bu Intan, Ibu adalah guru di sekolah ini dan Caca hanyalah seorang murid SMA. Soal saya pulang dengan siapapun, biarlah itu menjadi urusan saya. Permisi!”
Adi bergegas menyalakan mesin motornya dan meminta Caca untuk segera naik.
“Weekkkkkk!” Caca tersenyum sinis dan mengejek puas Guru matematika tersebut.
Di perjalanan, Caca terus saja mengoceh karena kesal dengan rekan kerja suaminya itu.
“Mas lihat sendiri, 'kan? Mentang-mentang Guru seenaknya bicara seperti itu kepada Caca. Salah Caca apa coba? Pokoknya Mas tidak boleh dekat-dekat sama nenek lampir itu,” ujar Caca.
“Caca tidak baik bicara seperti itu mengenai Bu Intan, lagipula Mas tidak pernah dekat-dekat dengan Ibu Intan,” balas Adi yang saat itu mengendarai motor matic nya dengan kecepatan sedang mendekati pelan.
“Memang Bu Intan itu Mak Lampir di sekolah, apalagi ketika ada pelajarannya. Semua teman di kelas tidak suka kalau Guru matematika nya adalah Ibu Intan,” terang Caca.
“Lalu, menurut Caca siapa Guru yang cocok mengajarkan pelajaran matematika?” tanya Adi penasaran.
“Almarhumah Bu Mujirah, beliau sangat baik dan juga tidak pandang bulu dalam mengajarkan matematika. Kalau Bu Intan hanya fokus pada murid yang pintar matematika saja dan murid yang tidak pintar malah diabaikan,” pungkas Caca.
__ADS_1
“Kalau begitu, Caca harus pintar belajar matematika.”
“Mas tidak asik, Caca kesal dengan Mas Adi. Sekarang kita mampir supermarket!” pinta Caca.
“Iya maaf deh, jangan ngambek dong. Kamu mau beli di supermarket?” tanya Adi.
“Caca boleh beli sepuasnya?” tanya Caca dengan antusias.
“Tidak boleh. Belilah seperlu dan secukupnya saja. Ingat, di luar sana masih banyak orang yang kekurangan dan tidak bisa beli makanan yang mereka inginkan,” balas Adi.
“Mas Adi itu Guru olahraga, kenapa malah menceramahi Caca seperti Guru agama?”
“Memangnya harus Guru agama saja yang boleh memberikan nasihat?”
“Iya juga ya, maaf ya Mas.”
Merekapun tiba di supermarket dan dengan semangat Caca merangkul tangan suaminya.
“Mas, beliin Caca snack sama ice cream ya!” pinta Caca dengan manja.
Adi mengiyakan dengan tenang keinginan istrinya.
Saat itu Caca tak sengaja melihat ke arah luar yang ternyata ada Intan yang baru saja tiba di area parkir supermarket tersebut.
“Ada apa?” tanya Adi ketika Caca melepaskan genggamannya.
“Lihat siapa yang datang!” Caca menunjuk ke arah Intan.
Intan tengah fokus dengan helm di kepalanya dan ia pun membuka helm tersebut. Kemudian, ia bergegas masuk untuk melihat Adi dan Caca.
“Ngapain juga mereka mampir ke supermarket?” tanya Intan sembari menoleh ke arah supermarket.
Caca yang kesal saat itu juga menghampiri Intan yang baru masuk supermarket.
“Bu Intan ngapain ke sini? Bu Intan sengaja ya mengikuti kami?” tanya Caca.
Intan memilih pergi mencari Adi Hidayatullah.
“Pak Adi ngapain ke supermarket sama si tengil ini?” tanya Intan yang menyebut bahwa Caca adalah si tengil.
“Tengil? Yang tengil itu Ibu bukan saya,” balas Caca.
Adi mencoba melerai keduanya dan meminta Caca untuk segera mengambil snack serta ice cream yang ia inginkan.
Caca dengan gerakan cepat mengambil snack dan ice cream keinginannya agar segera pergi dari supermarket tersebut.
“Pak Adi kok yang bayarin?” tanya Intan yang nampak protes dengan sikap Adi.
__ADS_1
“Kami permisi,” balas Adi singkat.