
Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yaitu, pantai. Caca dengan riang berlari keluar dari mobil untuk segera menikmati indahnya Ciptaan Allah.
“Caca!” panggil Adi sambil mengejar istrinya yang terlalu bersemangat berlari.
Caca menoleh sekilas suaminya dan memilih untuk menikmati keindahan pantai tersebut.
“Caca!” panggil Adi yang semakin cepat mengejar istrinya.
“Akkhhh!” Teriak Caca karena Adi berhasil menangkapnya.
Adi memeluk punggung Caca dengan erat seraya berbisik kata-kata mesra.
Orang tua yang melihat Putra dan Putri mereka bermesraan ikut berbahagia.
“Papa dulu sepertinya tidak seromantis Nak Adi,” ucap Mama Ismia.
“Mama juga tahu kalau dulu Papa sibuk merintis usaha sampai bisa semaju sekarang ini,” balas Papa Rio yang membuat Mama Ismia tersenyum lebar.
Adi dan Caca memutuskan untuk menikmati waktu sore mereka dengan bermain kejar-kejaran. Keduanya terlihat bahagia bahkan beberapa pengunjung pantai yang melihat mereka ikut tersenyum.
“Mas, cepat kejar Caca! Tangkap Caca!” pinta Caca yang terus berlari mengejar Sang suami.
Mereka berdua tentu saja bertelanjang kaki, alas kaki yang mereka gunakan sebelumnya sudah lebih dulu di lepas ketika masih berada di mobil.
“Awww... Sakit!” Caca jatuh seraya berteriak kesakitan.
Adi panik sambil terus berlari menghampiri istri kecilnya.
“Mas, kaki Caca sepertinya terkena bulu babi,” ucap Caca.
Ketika Adi melihat telapak kaki istri kecilnya, terdapat beberapa bulu babi yang masuk ke telapak Sang istri. Saat itu juga Adi menggendong istrinya untuk membawa Sang istri ke tempat yang lebih aman.
“Papa, lihatlah sepertinya terjadi sesuatu dengan putri kita,” ucap Mama sambil menunjuk ke arah Adi yang sedang menggendong Caca.
Adi mendudukkan istri kecilnya di tikar yang sebelumnya sudah disiapkan Papa Rio. Kemudian, mengambil air mineral untuk membersihkan kaki Caca dari sisa-sisa pasir pantai.
Para orang tua terlihat sangat panik, mereka bahkan menahan napas ketika Adi mencoba mencabut bulu babi tersebut.
Caca mencoba untuk tidak menangis ataupun berteriak, ia percaya bahwa suaminya bisa mencabut bulu babi tersebut.
Tak berselang lama, bulu babi pun berhasil di cabut dan para orang tua bernapas lega, begitu juga dengan Caca.
“Masih mau main kejar-kejaran lagi?” tanya Adi.
Dengan sangat Caca mengiyakan pertanyaan Adi. Bagaimanapun bermain kejar-kejaran adalah hal wajib jika berada di pantai.
“Yakin?” tanya Adi memastikan.
“Yakin dong!” seru Caca.
Dua orang pria datang menghampiri mereka sambil membawa sebuah karung kecil dan baskom berukuran cukup besar.
“Assalamu'alaikum!” ucap dua pria yang datang menghampiri mereka.
“Wa’alaikumsalam!” seru para orang tua, Caca dan juga Adi.
Rupanya dua orang pria itu datang membawa pesanan Papa Rio. Caca terlihat sangat antusias untuk segera bakar-membakar.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Papa sambil menyerahkan uang tunai kepada salah satu dari dua orang pria yang mengantarkan pesanannya.
“Pak, uangnya kelebihan,” ucap pria pengantar pesanan.
“Sudah ambil saja,” balas Papa Rio santai.
Mereka berdua mengucapkan terima kasih dan pergi untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Adi bertugas membuat bakaran, sementara Mama Ismia dan Ibu Puspita mengupas jagung yang akan mereka bakar.
Caca mendekati Papa Rio seraya tersenyum manis. Lalu, Caca mengucapkan terima kasih pada Papa Rio yang telah menuruti keinginannya.
“Terima kasih, Pa. Papa memang yang terbaik, Caca sayang Papa,” tutur Caca sambil memeluk lengan Papa tercinta.
Mama Ismia tiba-tiba saja mempunyai ide untuk menambah suasana liburan mereka menjadi lebih berwarna, yaitu memutar musik dengan volume cukup kencang.
“Mama bawa sound system?” tanya Caca yang cukup terkejut melihat Mama Ismia mengeluarkan sound system berukuran sedang dari mobil.
“Iya dong, sayang. Mama ingin liburan kita semakin istimewa!” seru Mama Ismia dan mulai menyalakan musik.
Mama Ismia reflek mengangkat tangannya mengikuti ritme musik yang jedag-jedug.
Papa Rio pun pada akhirnya ikut berjoget dan menular pada kedua besannya.
“Mas, Caca mau joget,” ucap Caca yang ingin segera ikut bergabung.
“Ayo, joget bersama!” Adi berdiri seraya mengulurkan tangannya dan Caca pun menyambut tangan suaminya sebagai tanda setuju.
Mereka berenam berjoget mengikuti musik yang di putar dan ternyata musik mereka mengundang pengunjung yang lain untuk ikut bergabung.
Sontak saja, suasana di pantai semakin meriah dengan adanya suara musik. Bahkan, beberapa dari mereka membuat rekaman untuk dijadikan kenangan.
***
Malam hari.
Mereka baru saja selesai sholat isya di musholla dekat dengan pantai. Kemudian, mereka bergegas menuju tenda yang sebelumnya telah mereka sewa. Tentu saja mereka tidak tidur di tenda, karena Papa Rio sudah menyiapkan Villa untuk menjadi tempat istirahat mereka.
Jagung bakar, ayam panggang dan singkong bakar sudah siap untuk dinikmati.
“Selamat makan,” ucap Caca sebelum menikmati singkong bakar yang sangat ingin ia santap.
Adi mengambil singkong bakar yang berada di tangan Caca dan perlahan membuka kulit singkong bakar, serta membuang bagian yang gosong.
“Kalau begini, sudah bisa di makan. Makanlah dengan perlahan,” ucap Caca.
Caca tersenyum lebar seraya menyentuh pipinya yang mulai panas karena perlakuan Sang suami yang sangat-sangat romantis.
Para orang tua kompak menoleh ke arah lain agar Adi dan Caca bisa menikmati malam yang romantis di bibir pantai.
Adi melirik orang tuanya dan juga mertuanya yang sedang melihat ke arah lain. Tak ingin menyiakan kesempatan itu, Adi dengan cepat mengecup bibir istri kecilnya.
Caca terkejut dengan mulut yang menganga lebar setelah apa yang suami lakukan dengan tiba-tiba.
“Mas Adi genit deh,” tutur Caca dengan berbisik.
Caca menjadi salah tingkah dan malah mengunyah bagian gosong dari singkong bakar.
__ADS_1
“Uhhh.. Pahit,” ucap Caca dan segera mengeluarkan rasa pahit di mulutnya.
Adi tertawa lepas melihat bagaimana raut wajah jelek istri kecilnya.
Mama Ismia, Papa Rio, Ayah Faizal dan Ibu Puspita ikut tertawa lepas ketika melihat mulut Caca yang sudah di penuhi oleh warna hitam.
Caca pun tertawa lepas hingga gigi hitamnya terlihat akibat dari memakan singkong bakar yang telah gosong.
Lagi-lagi suasana bibir pantai menjadi ramai karena suara tawa mereka yang sangat bahagia.
Caca sangat puas bisa membuat suasana liburan mereka menjadi lebih berwarna dan juga istimewa.
Kejadian ini tidak akan pernah terlupakan. Bisa berkumpul dengan keluarga sekaligus bisa tertawa bersama. (Batin Caca)
Caca tertawa sampai meneteskan air matanya, tentu saja ia adalah air mata bahagia.
“Sini sayang.” Adi tersenyum dan memeluk tubuh istri kecilnya dengan erat, seraya memandangi air laut di malam hari.
“Mas, kira-kira di pantai ada putri duyung tidak?” tanya Caca penasaran.
“Entahlah, kalaupun ada semoga tidak sampai terjamah oleh manusia,” jawab Adi.
Caca mendongakkan kepalanya menatap wajah pria yang sangat ia cintai.
“Mas, Caca tidak pernah merasakan liburan se-istimewa ini selain sama Mas. Terima kasih banyak, Mas. Terima kasih atas kebahagiaan ini,” ungkap Caca menangis terharu.
Adi pun ikut menangis terharu, ia bisa merasakan apa yang Caca rasakan saat itu. Adi berharap, keluarganya bisa segera lengkap dengan kehadiran buah hati mereka.
3 Jam Kemudian.
Caca sudah tak bisa menahan diri untuk tidur, karena sudah mengantuk dan tidak mampu untuk berjalan menuju villa. Caca pun memutuskan tidur di pelukan Sang suami.
Adi tak tega jika harus membangunkan Caca, satu-satunya cara agar bisa membawa istri kecilnya dengan cara di gendong. Seperti yang kalian tahu, Adi dengan hati-hati menggendong Sang istri menuju Villa.
Sementara para orang tua berada tepat di belakang Adi dan sedang asik berbincang-bincang sembari berjalan menuju Villa yang telah di sewa Papa Rio.
“Mama, Papa, Ayah dan Ibu. Kami istirahat dulu,” ucap Adi sebelum masuk ke dalam kamar.
Adi perlahan merebahkan tubuh Caca ke tempat tidur yang empuk itu. Ketika Adi sedang memandangi wajah istri kecilnya, Adi menyadari ada beberapa helai kelopak bunga mawar di rambut Caca.
Seketika itu Adi menoleh ke arah sekitar yang ternyata sudah disulap bak kamar malam pengantin.
Bibir Adi mendadak membeku, ia terhipnotis dengan indahnya kamar mereka berdua.
Caca perlahan bangun dari tidurnya dan terkejut mendapati dirinya sudah berada di tumpukan kelopak bunga mawar yang jumlahnya cukup banyak.
“Apa ini, Mas?” tanya Caca yang buru-buru bangkit dari ranjang tersebut.
“Caca sayang, sepertinya ini semua sudah disiapkan oleh orang tua kita,” jawab Adi.
Caca melongo dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kemudian, melompat kegirangan karena ia bisa melihat indahnya kamar pengantin mereka.
“Mas, apakah ini gantinya dari kamar pengantin kita dulu?”
“Mungkin saja begitu,” jawab Adi.
Di saat yang bersamaan, para orang tua tertawa lepas dan penasaran dengan respon suami istri tersebut.
__ADS_1
Ide tersebut tentu saja datangnya dari Mama Ismia yang kasihan karena sebelumnya tidak ada kamar pengantin untuk mereka berdua.