
Adi tersenyum bahagia melihat raut wajah istrinya yang begitu gugup. Bahkan, Caca tidak berani membalas tatapannya.
“Apakah Caca mengantuk?” tanya Adi yang kini menyentuh kedua tangan istrinya.
“Ti... tidak,” jawab Caca terbata-bata.
“Baguslah, ayo sunah rasul!” ajak Adi sambil membantu istrinya bangkit.
Adi tersenyum dan menuntun Sang istri naik ke tempat tidur.
“Mas jangan tersenyum seperti itu, Caca takut,” pinta Caca karena sebelumnya ia tidak pernah melihat senyuman aneh suaminya.
“Takut kenapa, Caca?” tanya Adi terheran-heran.
“Kalau boleh jujur, senyuman Mas Adi itu seperti Om-om yang di film-film. Om-om genit dan mata keranjang,” terang Caca sambil memeluk guling miliknya.
“Astaghfirullah, kok malah om-om genit? Bukankah yang selama ini genit adalah Caca?” tanya Adi menggoda istrinya.
Caca membalas ucapan suaminya dengan pukulan berulang kali.
Adi memegang erat tangan istrinya dan menjatuhkan tubuh istrinya ke atas tubuhnya. Kemudian, tangan Adi perlahan menyentuh punggung dan turun ke bagian pinggang.
Caca reflek memukul dada suaminya dan bergegas bangkit dari tubuh Sang suami.
“Mas kenapa sih tiba-tiba mesum?” tanya Caca yang kini seluruh tubuhnya sudah terlilit selimut, kecuali bagian wajahnya.
Adi pun bangkit dan duduk bersila menghadap lurus ke arah Sang istri.
“Bukankah Caca menginginkan malam pertama? Mas tidak bisa menahannya lagi dan Mas harap Caca bisa mengerti!” pinta Adi.
Mendengar malam pertama, Caca seketika itu suasana hatinya berbunga-bunga. Setelah sekian lama, akhirnya Sang suami membahas perihal malam pertama.
“Mas tidak sedang bercanda, 'kan?” tanya Caca memastikan.
“Apakah Mas tidak bercanda bagi Caca? Sekarang Caca mendekatlah!” pinta Adi.
Caca menggelengkan kepala, tanda bahwa ia menolak apa yang suaminya katakan.
“Bukankah sekarang Mas yang membutuhkan Caca? Kalau begitu, Mas lah yang mendekat ke sini!” Caca tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Adi menyisir rambutnya dengan jemari tangannya dan perlahan merangkak mendekati Caca.
Melihat suaminya yang seakan-akan ingin memakannya, membuat Caca menjadi gugup.
“Sekarang, Caca ikuti ucapan Mas!” pinta Adi.
Adi menengadahkan tangannya ke atas dan membaca do'a sebelum melakukan hubungan istri. Caca sebagai seorang istri, mengikuti apa yang suaminya ucapkan.
__ADS_1
“Semoga semuanya lancar,” ucap Adi.
Pria 28 tahun itu perlahan membelai rambut panjang Caca dan meniupkan angin ke ubun-ubun kepala Sang istri.
Adi tersenyum seraya memuji kecantikan Sang istri di malam jum'at itu.
“Mas Adi...” Caca tersenyum malu-malu setelah mendengar suaminya memuji kecantikan wajahnya.
“Kita pemanasan dulu,” ucap Adi yang terdengar sangat lembut di telinga Caca.
Caca dengan patuh berbaring dan Adi tepat berada di atas tubuhnya. Lalu, secara perlahan Adi menciumi sekitar area leher istrinya.
Caca menggigit bibirnya ketika merasakan efek dari apa yang suaminya lakukan pada dirinya.
“Caca, Mas sudah maju dan tidak bisa mundur lagi,” bisik Adi dan meniup telinga Sang istri.
Tubuh Caca reflek menggeliat merasakan seperti ada aliran listrik di seluruh tubuhnya.
Setelah cukup bermain di area leher Sang istri, kini Adi beralih ke bagian bibir istrinya.
Caca merasakan betapa semangatnya Sang suami menciumi bibirnya.
“Aaahhh...” Tanpa sadar mulutnya mengeluarkan suara desah*n dan itu membuat Adi semakin bergair*h.
Satu-persatu Adi menanggalkan pakaiannya dan tersisa celan* dal*m saja yang ia kenakan.
Adi membantu istrinya menanggalkan pakaiannya dan Caca sama sekali tidak memberontak.
“Caca siap?” tanya Adi lirih.
Caca mengangguk kecil dan saat itu juga Adi berusaha menjebol gawang milik Sang istri.
Rintihan dengan rintihan ke luar dari mulut Caca dan di saat yang bersamaan Caca mencengkram kuat punggung suaminya.
Dengan sekuat tenaga Adi mencoba menerobos gawang tersebut dan pada akhirnya usahanya berhasil. Adi akhirnya berhasil unboxing sesuatu yang luar biasa nikmatnya.
Awalnya Caca mengeluh kesakitan dan kesakitan itu perlahan berubah menjadi kenikmatan surga dunia.
Kini, tidak hanya suara desah*n Caca yang terdengar. Suara Adi pun perlahan mulai terdengar dan suara penuh kenikmatan mereka pada akhirnya saling bersahutan satu sama lain.
Tentu saja malam itu akan menjadi malam yang sangat panjang bagi Adi dan juga Caca.
***
Pagi hari.
Caca tidak sanggup bangun dari tidurnya, bahkan ketika sholat subuh dirinya terpaksa sholat dengan cara duduk karena untuk berdiri saja ia tidak kuat. Hal itu tentu saja membuat Adi merasa bersalah karena telah membuat istrinya kelelahan.
__ADS_1
“Caca sayang, kamu hari ini izin sakit ya. Maaf gara-gara semalam kamu jadi seperti ini,” ucap Adi merasa bersalah.
“Tentu saja semua ini salah Mas Adi. Mas Adi terlalu bersemangat dan tidak ada capeknya,” balas Caca.
“Ya maaf, habisnya enak,” sahut Adi dan tertawa sendiri karena geli mendengar ucapannya sendiri.
“Pokoknya Caca mau sekolah, Mas nanti bawa motornya pelan-pelan saja. Kalau keadaan Caca makin parah, Caca akan beristirahat di UKS,” terang Caca.
Adi mengiyakan keinginan istrinya, lagipula Adi tidak tega meninggalkan istrinya di rumah sendirian.
“Sekarang, kesayangan Mas pakai seragam ya!” seru Adi.
Pria 28 tahun itu dengan lembut membantu istrinya memakai seragam sekolah dan tak lupa membantu Sang istri mengenakan sepatu.
“Terima kasih, suami,” ucap Caca seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar agar di peluk oleh pria yang berhasil unboxing dirinya.
“Sama-sama, cintaku!” seru Adi dan memeluk erat tubuh istrinya.
Beberapa saat kemudian.
Mereka berdua telah sampai di sekolah. Berhubung Caca masih dalam keadaan sakit, Adi pun memutuskan mengantarkan istrinya sampai ke kelas.
Kedekatan mereka tentu saja di lihat oleh para murid yang ada di sekolah. Bahkan, ada beberapa siswi yang cemburu dengan kedekatan mereka berdua.
“Apa tidak masalah jika mereka melihat kita, Mas?” tanya Caca lirih.
“Abaikan saja mereka,” balas Adi.
Caca akhirnya sampai di depan kelas dan saat itu juga mereka berpisah.
Lia dan Rina yang penasaran dengan cepat berlari menghampiri Caca yang masih berdiri di depan kelas 12 IPS 3.
“Aku tidak salah lihat, 'kan? Kamu dan Pak Adi kelihatan sangat dekat,” ucap Lia yang begitu heboh melihat Caca bersama dengan Guru olahraga mereka.
Caca memilih untuk mengabaikan ucapan Lia dan berusaha berjalan seperti biasanya. Akan tetapi, cara berjalan Caca kali itu sangatlah aneh dan membuat kedua temannya penasaran.
“Caca, kenapa cara jalan kamu seperti orang kesakitan? Kamu sakit apa?” tanya Lia khawatir.
“Iya, Caca. Kamu sakit apa? Apakah ada bisul di bok0ng mu?” tanya Rina menerka-nerka.
Caca mengiyakan dengan cepat agar Lia maupun Rina tak banyak bertanya.
“Ya ampun, kok bisa? Kamu pasti mandinya tidak bersih,” celetuk Lia.
Masa bodo' dengan Lia dan Rina. Lebih baik aku mengiyakan saja apa yang mereka katakan. (Batin Caca)
Caca tiba-tiba senyum sendiri ketika membayangkan betapa buasnya Sang suami di ranjang. Adi yang terkenal cuek dan dingin, pada akhirnya menjadi suaminya.
__ADS_1
“Caca, kamu kok semakin aneh? Apa gara-gara bisul?” tanya Rina penasaran.