Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Salah Mengira


__ADS_3

Pagi Hari.


Adi, Caca dan Ibu Puspita baru saja selesai sarapan. Caca dengan sigap mencuci alat makan yang telah mereka gunakan, kemudian setelah mencuci alat makan sampai benar-benar bersih, Caca pergi ke warung untuk membuka warungnya.


Setelah warung sudah dibuka oleh Caca, Caca pun kembali masuk ke dalam rumah untuk memandikan bayi Yusuf.


Pagi itu, buah hatinya cukup rewel dan ketika akan dimandikan pun Yusuf menangis.


Caca dengan sabar menunggu Yusuf selesai menangis dan kembali memasukan tubuh bayinya ke bak yang sudah berisi air hangat.


Saat Caca hendak memasukkan tubuh Yusuf ke dalam air, Yusuf kembali menangis dan cukup membuat Caca merasa sedih.


Tiba-tiba Ibu Puspita masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil alih untuk menggantikan Caca memandikan Yusuf.


“Nak Caca, biar Yusuf Ibu yang mandikan. Caca sudah menyiapkan baju Yusuf?” tanya Ibu Puspita sambil mengambil Yusuf yang saat itu sedang berada dipangkuan Caca.


“Sudah Caca siapkan semuanya Bu,” jawab Caca.


“Baiklah, biar Ibu yang mengurus Yusuf. Sekarang, pergilah ke depan dan temani suami Caca di teras depan!” pinta Ibu Puspita.


“Terima kasih, Ibu. Caca permisi ke depan.”


“Iya, Nak Caca. Sama-sama,” balas Ibu Puspita.


Caca menepuk bahu suaminya ketika menyadari suaminya yang kembali melamun.


“Mas Adi mau Caca buatkan kopi?” tanya Caca menawarkan kopi untuk suaminya.


“Boleh, gulanya sedikit saja,” balas Adi.


“Baiklah, suami Caca yang baiknya sedunia. Caca akan segera datang dengan membawa kopi cinta untuk Mas Adi!” seru Caca penuh semangat.


Tak berselang lama, kopi buatan Caca pun jadi dan dengan tidak sabaran Caca meminta pendapat suaminya tentang rasa kopi yang ia buat.


“Bagaimana rasanya? Apakah rasanya enak?” tanya Caca sangat antusias.


Adi mengangkat kedua bahunya karena ia belum meneguk kopi buatan istri tercinta.


“Caca sayang, Mas belum minum kopi ini. Bagaimana Mas bisa tahu tentang rasanya?” tanya Adi.


“Laku, bagaimana dengan rasa Caca? Apakah enak?” tanya Caca serius.


Adi menoleh kiri dan kanan takut jika ada orang yang mendengar percakapan mereka berdua.


“Tentu saja sangat enak dan nikmat,” bisik Adi.


Caca tertawa lepas begitu juga dengan Adi.


Saat sedang berbincang-bincang, dua wanita muda datang menghampiri mereka berdua.


Adi maupun Caca belum pernah melihat dua wanita muda yang tengah berdiri dihadapan mereka.


“Adik, beli gula ada?” tanya salah satu wanita kepada Caca, namun matanya justru memandangi Adi.


“Ada, Kak. Mau berapa kg gulanya?” tanya Caca dan mempersilakan keduanya untuk ikut Caca ke warung.


Caca memberikan gula tersebut dan menerima uang pas dari mereka.


“Adik!” panggil salah satu dari dua wanita ketika Caca hendak meninggalkan warung.


Caca berbalik dan sebisa mungkin ramah kepada pelanggan barunya itu.


“Dik, kalau boleh tahu nama abang kamu siapa ya? Kami mau kenalan. Atau begini saja, kakak akan memberikan kamu uang 100 ribu asal kamu memberikan nomor cowok ganteng itu sama kami!”


Caca menatap dingin kedua wanita yang usianya tak jauh dari Caca. Bagaimana bisa mereka berdua dengan sangat santai meminta nomor suaminya.


“Kakak-kakak ini baru ya tinggal di sini?” tanya Caca.


“Kok kamu tahu, Dik? Iya benar, kami baru di sini. Karena itu, kami butuh cowok supaya tidak kesepian di sini.”


Caca tidak bisa menahan sabarnya lagi, saat itu juga ia menuntun suaminya masuk ke dalam warung. Sementara, dua wanita muda itu tampak senang karena Caca dengan baik memperkenalkan cowok ganteng kepada mereka.


“Mas, mereka berdua ingin berkenalan dengan Mas dan ingin meminta nomor telepon Mas. Apakah Mas akan memberikannya?” tanya Caca ketus.


Mereka berdua sama sekali tidak peka dengan raut wajah Caca yang nampak sangat tidak nyaman. Akan tetapi, mereka justru fokus kepada wajah Adi yang putih bersih dan juga menggemaskan.


“Caca sayang, jangan begini dong sama suami sendiri,” ucap Adi dan mengecup kening istrinya di depan mereka berdua.

__ADS_1


“Maaf ya, sepertinya suami saya tidak bisa berkenalan ataupun memberikan nomor teleponnya kepada kalian berdua,” terang Caca dengan tersenyum penuh kemenangan.


Malu. Satu kata yang dapat menggambarkan respon mereka setelah tahu bahwa Caca dan Adi adalah suami istri. Karena saking malunya, mereka lari secepat mungkin dan tak berani sedikitpun menoleh ke belakang.


Caca tertawa lepas melihat ekspresi muka keduanya yang sangat malu bukan main.


“Apakah Caca sangat senang mengetahui bahwa masih ada wanita yang menyukai Mas?” ucap Adi sambil menyentuh dagunya.


“Caca sangat senang melihat wajah mereka setelah tahu Mas adalah suami Caca,” jawab Caca dan memeluk erat tubuh suaminya.


Caca kemudian menjelaskan bahwa dirinya sangat cemburu dan tidak akan membiarkan wanita manapun mencoba menggoda suaminya.


Adi tersenyum lega dan menjelaskan dengan serius bahwa dirinya tidak akan sedikitpun berpaling dengan istri kecilnya. Justru, Adi lah yang cukup waspada karena takut jika ada pria muda yang mendekati istrinya itu.


Ibu Puspita masuk ke dalam warung dengan menggendong Yusuf, kemudian terkejut melihat sepasang suami-istri yang sedang berpelukan.


“Masih pagi,” ucap Ibu Puspita.


Mereka terkejut dan kompak saling melepaskan pelukan mereka.


“Ibu mengganggu saja,” celetuk Adi.


Ibu Puspita tertawa kecil sembari memberikan Yusuf kepada Caca.


“Ibu ingin beres-beres kamar, ini Yusuf sudah mandi dan dan sudah sarapan,” terang Ibu Puspita.


“Terima kasih, Ibu!” seru Caca dan juga Adi.


Caca duduk di kursi begitu juga dengan Adi.


“Yusuf minum susu dulu ya sayang,” ucap Caca dan bergeser duduk di pojok sambil menyusui bayinya.


****


Sore Hari.


Caca sedang menemani Adi berjalan sekitar area rumah. Adi saat itu tengah mencoba untuk berjalan melatih kembali otot kakinya dan tiba-tiba saja ada seorang pria cukup tampan menghampiri Caca yang saat itu tengah menggandeng erat tangan Adi.


“Neng, boleh kenalan?” tanya pria itu yang masih berada diatas motor.


“Kamu tidak tahu siapa saya?” tanya Adi dingin.


“Astaghfirullah, ini suami saya. Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu, sana pergi!” Usir Caca dengan mata melotot.


“Sorry sorry,” ucapnya meminta maaf dan melaju dengan kecepatan tinggi.


Adi dan Caca geleng-geleng kepala.


“Haduh, kenapa sih hari ini banyak yang berpikir kalau kita bukan suami istri? Tadi pagi kita dikira adik kakak. Terus siang tadi ada yang mengira kalau kita saudara dan baru saja ada yang mengira kita berdua bapak sama anak,” ucap Caca terheran-heran.


“Sayang, coba lihat wajah Mas dengan jeli. Apakah Mas terlihat sangat tua?” tanya Adi penasaran.


“Mau dilihat lewat manapun Mas terlihat cukup tua,” jawab Caca dan tertawa lepas melihat wajah kecewa suaminya.


Adi hanya bisa menghela napasnya, bagaimana ia dan Caca terpaut 10 tahun keatas.


“Mas jangan sedih dong, Mas Adi tidak se-tua itu,” terang Caca dan mengajak suaminya untuk kembali pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Ibu Puspita meminta Adi dan Caca untuk segera duduk di ruang tamu.


“Ada yang ingin Ibu sampaikan kepada Adi dan juga Nak Caca,” tutur Ibu Puspita.


“Ibu ingin menyampaikan apa kepada kita?” tanya Adi penasaran.


“Sejak Ayah kamu meninggal dunia, Ibu sudah sangat jarang tinggal di rumah. Bahkan dari Ayah kamu meninggal dunia sampai hari ini, Ibu tinggal di sana tidak lebih dari 10 hari,” jawab Ibu Puspita.


Saat Ibu Puspita ingin menjelaskan, Yusuf justru bangun dan menarik-narik rambut Neneknya.


“Nanti malam saja Ibu menjelaskannya kepada kalian. Saat ini, sepertinya Yusuf ingin bermain dengan Ibu,” tutur Ibu Puspita dan menggendong Yusuf masuk ke warung.


Adi dan Caca saling tukar pandang satu sama lain melihat Ibu Puspita yang sudah berada di warung bersama dengan buah hati mereka.


“Mas, kira-kira Ibu ingin bicara apa ya?” tanya Caca penasaran.


“Mas juga tidak tahu, Caca sayang. Lebih baik kita tunggu sampai Ibu sendiri yang cerita ke kita. Sekarang, Mas ingin Caca menggoreng tempe mendoan!” pinta Adi.


“Kalau tempe mendoan Caca kurang enak, Mas jangan kecewa ya!” pinta Caca.

__ADS_1


“Tenang saja, tempe mendoan Caca tidak akan mengecewakan,” terang Adi.


Caca pun bergegas pergi ke dapur untuk membuat tempe mendoan yang suaminya inginkan. Caca berharap besar bahwa tempe mendoan buatannya sendiri tidak mengecewakan dan memuaskan lidah suaminya.


“Mas sedang ngapain di sini?” tanya Caca mengetahui bahwa ternyata suaminya ikut menyusul dirinya.


“Apa Mas tidak boleh duduk di sini sambil melihat Caca membuat tempe mendoan? Lebih tepatnya, melihat wajah Caca,” terang Adi pada istri kecilnya.


“Mas jangan mulai deh, nanti kalau Ibu melihat kita bagaimana?” tanya Caca yang sedikit menggeser menjauh agar suaminya tidak sembarangan memeluk dirinya.


“Ya wajar dong suami-istri berpelukan. Toh, Ibu tadi hanya bercanda saja,” jawab Adi.


Caca tertawa kecil dan mengecup sekilas bibir suaminya.


“Mas jangan banyak bicara, Caca sekarang harus fokus menggoreng tempe mendoan ini. Kalau rasanya tidak enak, ini semua salah Mas yang mengganggu Caca memasak,” tegas Caca dan kembali mengecup bibir suaminya agar benar-benar diam.


Adi mengangguk setuju dan menutup mulutnya rapat-rapat.


Sekitar 20 menit Caca menghabiskan waktunya di dapur dan akhirnya tempe mendoan buatan Caca matang juga.


“Eitsss... Jangan dipegang dulu,” ucap Caca menepuk punggung tangan suaminya yang akan mencomot tempe mendoan yang baru saja ia angkat dari wajah penggorengan.


“Iya deh,” tutur Adi lirih sambil menahan diri untuk tidak mengambil tempe mendoan tersebut.


Disaat yang bersamaan, dua wanita muda yang berbelanja gula tadi pagi datang kembali untuk memastikan bahwa Adi dan Caca adalah suami istri atau bukan.


“Permisi, Bu ada telur? Boleh dong 1/2 kg?”


“Boleh,” jawab Ibu Puspita sambil mengambil telur yang beratnya 1/2 kg.


“Bu, apakah ....”


“Iya, ada apa?” tanya Ibu Puspita penasaran, karena wanita dihadapannya tak kunjung menyelesaikan ucapannya.


“Apakah pemilik warung ini sudah menikah?” tanya nya.


“Sudah, ini hasilnya,” jawab Ibu Puspita memperlihatkan Yusuf yang sedang digendong nya.


“Oh, jadi benar-benar suami istri? Ya ampun, kamu salah mengira,” ucap wanita muda itu.


Kemudian, mereka berdua berlari secepat mungkin setelah membayar harga telur yang mereka beli.


“Ibu kenapa terlihat seperti orang kebingungan?” tanya Caca penasaran.


“Itu tadi, ada orang yang menanyakan hubungan kalian berdua. Sepertinya, tadi mereka sudah berbelanja di sini,” terang Ibu Puspita.


Caca yang penasaran seketika itu menggambarkan dua orang yang dimaksud oleh Ibu Puspita dan Ibu Puspita mengiyakan semua gambaran yang Caca jelaskan.


“Fans Mas banyak juga ya,” celetuk Caca.


“Cie... Cemburu,” ucap Adi menggoda istri kecilnya yang sedang cemburu.


“Bagaimana Caca tidak cemburu, mereka tanpa bertanya sudah berani begitu,” terang Caca dan mencubit perut suaminya dengan cukup keras.


“Sudah jangan ribut,” ucap Ibu Puspita.


Adi dan Caca menjelaskan bahwa mereka sama sekali tidak ribut. Kemudian, Caca meminta Ibu mertua untuk mencicipi tempe mendoan buatannya.


“Kalau enak bilang ya Bu! Tapi, kalau tidak enak Ibu diam saja!” pinta Caca.


Ibu Puspita mencicipi tempe mendoan buatan Sang menantu.


“Nak Caca, ini enak sekali. Ibu suka,” puji Ibu Puspita yang sudah menghabiskan 1 tempe mendoan.


“Benarkah? Kalau begitu, dimakan lagi Bu!” pinta Caca.


Adi yang penasaran seketika itu mengunyah tempe mendoan buatan Sang istri yang ternyata sangat enak.


“Sayang, rasanya sama sekali tidak mengecewakan. Mas sangat suka,” terang Adi.


“Alhamdulillah,” ucap Caca bernapas lega karena tempe mendoan yang ia buat sama sekali tidak mengecewakan.


Mereka terus mengunyah dan mengunyah. Sampai akhirnya sepiring tempe mendoan buatan Caca habis tak tersisa.


“Mas, apa kita jualan gorengan juga ya?” tanya Caca.


“Boleh, tapi apa tidak kerepotan?” tanya Adi yang tidak ingin membuat istri semakin kerepotan jika berjualan gorengan.

__ADS_1


“InshaAllah tidak, Mas. Caca akan berusaha lagi membagi waktu untuk Yusuf dan usaha kita,” terang Caca.


“Baiklah, apapun itu Mas akan terus mendukung Caca!” seru Adi.


__ADS_2