Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Belum Bersedia


__ADS_3

Dini Hari.


Caca terbangun dari tidurnya karena tangisan bayi Yusuf. Untuk pertama kalinya bayi itu menangis dan membuat Caca cukup kewalahan. Bahkan, Caca sampai ikut menangis karena bayinya terus saja menangis.


Ibu Puspita pun ikut terjaga, begitu juga dengan Adi karena tangisan Bayi Yusuf begitu lantang.


“Mas, Caca bingung kalau bayi kita menangis terus seperti ini,” tutur Caca panik dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


“Apa Yusuf tidak mau menyusu?” tanya Adi.


“Tidak mau, Mas. Caca sudah mencobanya, tapi bayi kita justru menangis,” jawab Caca.


Ibu Puspita mengetuk pintu kamar sambil memanggil nama Adi serta menantunya yang berada di dalam kamar.


Adi pun bergegas membukakan pintu untuk Ibunya.


“Bayi kalian kenapa menangis? Coba sini biar Ibu yang gendong!” pinta Ibu Puspita.


Caca dengan lembut memberikan bayi mungilnya ke dalam gendongan Ibu mertua.


Tangisan bayi Yusuf perlahan berhenti, membuat Adi dan Caca melongo lebar.


“Bagaimana Ibu bisa melakukannya?” tanya Caca terheran-heran.


Ibu Puspita membalas pertanyaan Caca dengan sebuah senyuman keibuan.


“Ibu sangat hebat,” puji Caca.


“Ibu kalau soal beginian sangat pengalaman, maklum dulu suamimu juga lumayan rewel setiap jam segini,” terang Ibu Puspita.


Caca mengangkat kedua alisnya seraya menoleh ke arah Sang suami.


“Jangan melihat Mas seperti itu. Mas juga masih bayi, bisanya cuma menangis. Bukankah Caca juga begitu?” tanya Adi membela diri.


“Ssuuttss... Sebaiknya kalau tidur saja, biar bayi kalian Ibu yang jaga,” tutur Ibu Puspita dan meminta izin untuk membawa bayi Yusuf bersamanya masuk ke kamar.


Adi dan Caca awalnya sungkan karena lagi-lagi akan merepotkan Ibu Puspita, akan tetapi Ibu Puspita bersikeras untuk menjaga bayi Yusuf dan pada akhirnya merekapun setuju.


“Mas, Caca jadi tidak enak dengan Ibu dan juga Ayah di kamar sebelah. Apa sebaiknya kita menyewa babysitter untuk bayi kita?” tanya Caca.


Adi seketika itu menggelengkan kepalanya, ia tidak setuju untuk memakai jasa babysitter. Mengingat banyak kasus yang terjadi dan bahkan ada beberapa Guru di sekolah yang kapok memakai jasa babysitter.


“Kenapa, Mas?” tanya Caca penasaran.


Adi menyentuh kedua tangan istri kecilnya dan menjelaskan mengenai ketidaksetujuannya itu.

__ADS_1


Caca yang sudah mendengar penjelasan suaminya hanya bisa beristighfar agar dijauhi dari orang-orang modelan seperti itu.


“Caca sayang, ayo kita tidur. Sepertinya bayi kita juga sudah tidur di kamar sebelah,” tutur Adi mengajak istri kecilnya untuk segera melanjutkan tidur mereka.


****


Pagi Hari.


Setelah sarapan bersama, Adi bergegas untuk berangkat ke sekolah. Sebagai seorang istri, Caca mencoba memperhatikan perhatian lebih untuk suaminya.


Caca tidak ingin bila ada wanita genit di luar sana yang mencoba menggoda suaminya, meskipun Caca tahu suaminya tidak akan berselingkuh darinya.


Perhatian yang dimaksud Caca adalah memberikan pelukan maupun kecupan untuk suaminya, manakala Sang suami akan berangkat mengajar.


“Mas, semangat ya untuk hari ini,” tutur Caca dan memberikan kecupan manis di bibir suaminya.


Adi tersenyum senang dan tanpa sadar dirinya salah tingkah setelah mendapatkan kecupan manis dari istri kecilnya.


Tanpa sadar Adi tersenyum lebar sambil berjalan keluar rumah.


“Mas, kok pergi begitu saja?” tanya Caca terheran-heran.


“Astaghfirullah, hampir saja.” Adi kembali mendekati istri kecilnya untuk pamit mengajar.


Merekapun pada akhirnya berpisah untuk beberapa jam kedepan.


Seorang wanita turun dari mobil dan disusul oleh pria paruh baya, siapa lagi kalau bukan Fatimah dan Pak Yahya.


“Assalamu'alaikum,” ucap Fatimah dan Pak Yahya melihat Caca yang berdiri di teras depan rumah.


“Wa'alaikumsalam,” jawab Caca dengan perasaan tak nyaman.


Ibu Puspita mendatangi Caca untuk memberikan bayi Yusuf yang sudah terlelap. Pada saat akan memanggil menantunya, Ibu Puspita terkejut melihat dua orang yang sudah berdiri di hadapannya.


“Neng Fatimah dan Pak Yahya,” ucap Ibu Puspita yang cukup mengenal mereka berdua.


Rasa tak nyaman dihati Caca semakin besar, saat itu juga Caca mengambil bayi Yusuf di gendongan Ibu mertuanya dan masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Ibu Puspita menatap menantunya dengan tatapan terheran-heran, ia tidak pernah melihat sikap dingin Caca seperti itu.


“Neng Fatimah dan Pak Yahya silakan masuk!” Ibu Puspita dengan ramah mempersilakan tamu itu untuk segera masuk ke dalam.


Fatimah dan Pak Yahya semakin merasa tak enak dengan Caca. Mereka ingin berbicara langsung dengan Caca untuk meminta maaf atas kejadian beberapa bulan yang lalu.


“Ibu apa kabar?“ tanya Fatimah dengan suara lembutnya.

__ADS_1


“Alhamdulillah baik, Neng Fatimah dan Pak Yahya apa kabar?” tanya Ibu Puspita.


“Alhamdulillah kami baik,” jawab Fatimah.


“Tunggu sebentar, Ibu akan membuatkan teh,” ujar Ibu Puspita dan bergegas pergi ke dapur untuk membuat teh.


Ayah Faizal kebetulan tidak berada di rumah kontrakan, selepas sholat jum'at Ayah Faizal sudah kembali ke rumah untuk melaksanakan kerja bakti membersihkan selokan.


Sebelum pergi ke dapur, Ibu Puspita terlebih dulu masuk ke dalam kamar menantunya.


“Caca sayang, ada apa?” tanya Ibu Puspita penasaran.


Caca menggelengkan kepalanya dan memberitahu mertuanya bahwa ia tidak bisa menemui kedua tamu tersebut.


“Caca kenal dengan Neng Fatimah dan Pak Yahya?” tanya Ibu Puspita.


“Maaf, Bu. Kalau Ibu ingin tahu semuanya, lebih baik Ibu tanyakan saja pada Mas Adi. Caca tidak bisa menjelaskannya kepada Ibu, bahkan mengingat kejadian itu saja Caca hampir gila,” terang Caca yang tidak ingin kembali mengorek rasa sakit yang diberikan oleh Fatimah maupun Pak Yahya.


Bagi Caca, permintaan Fatimah dan Pak Yahya memberikan trauma yang cukup mendalam.


Ibu Puspita penasaran dengan apa yang terjadi, tapi tidak mungkin juga ia memaksa Caca untuk menceritakan apa yang telah terjadi antara Caca dan kedua tamu tersebut.


“Ya sudah, nanti Mama tanyakan ke Adi. Kamu istirahat saja di kamar, biar Ibu yang menemui tamu kita,” balas Ibu Puspita dan bergegas melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Fatimah dan Pak Yahya berharap Caca mau menemui mereka. Mereka berdua sadar bahwa kejadian waktu itu cukup menyakiti hati Caca.


“Abi, apakah Mbak Caca mau menemui kita?” tanya Fatimah dengan perasaan bersalah.


“Kita serahkan sama Allah ya Nak,” balas Pak Yahya.


Tak berselang lama Ibu Puspita datang dengan membawa nampan berisi teh hangat serta roti.


“Silakan dinikmati,” ucap Ibu Puspita.


“Maaf, Ibu. Apakah Mbak Caca mau menemui kami?” tanya Fatimah yang sangat ingin berbicara dengan Caca.


Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka? Kok sepertinya ada masalah serius. (Batin Ibu Puspita)


“Ibu...” Fatimah memanggil Ibu Puspita yang nampak melamun.


“Iya Neng Fatimah, bagaimana?” tanya Ibu Puspita.


“Begini Ibu, apakah Mbak Caca bersedia menemui kami? Ada hal penting yang ingin kami sampaikan,” terang Fatimah.


“Maaf sebelumnya, Caca sekarang butuh istirahat. Bagaimana kalau nanti sore atau nanti malam?” tanya Ibu Puspita karena pada saat itu Adi di rumah.

__ADS_1


Fatimah mau tak mau mengiyakan apa yang Ibu Puspita sarankan. Meskipun dalam hatinya, ia sangat ingin bertemu dengan Caca saat itu juga.


Suasana ruang tamu tiba-tiba saja menjadi hening dan untuk memecahkan keheningan itu, Ibu Puspita bertanya-tanya mengenai panti asuhan milik Pak Yahya.


__ADS_2