
Ibu Puspita kembali seorang diri dengan wajah lesu. Dirinya tidak bisa mendonorkan darahnya karena memiliki riwayat darah tinggi.
Mama Ismia dan Caca kompak menoleh ke arah Ibu Puspita yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Ibu tidak bisa mendonorkan darah untuk Adi,” tutur Ibu Puspita sambil mendaratkan bokongnya di kursi bersebelahan dengan Caca.
“Kenapa?” tanya Caca sedih.
“Apa Mbak memiliki riwayat darah tinggi?” tanya Mama Ismia.
Ibu Puspita mengangguk kecil dan meneteskan air matanya karena kecewa dengan dirinya sendiri yang tak bisa mendonorkan darahnya untuk putra kandungnya.
“Ibu, tolong jangan menangis. Caca tidak ingin menangis lagi, karena Caca yakin bahwa Allah akan menyembuhkan Mas Adi,” ucap Caca.
Ibu Puspita cepat-cepat menghapus air matanya karena tidak ingin membuat mereka kembali bersedih.
“Maafkan Ibu ya Caca, Ibu akan berusaha untuk tidak menangis lagi,” balas Ibu Puspita.
Tak berselang lama, Ayah Faizal datang dengan membawa makanan serta minuman untuk mengisi perut mereka.
“Ibu, bagaimana? Sudah selesai mendonorkan darah untuk Adi?” tanya Ayah Faizal.
Ibu Puspita menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa mendonorkan darah untuk putra mereka, dikarenakan memiliki riwayat darah tinggi.
“Lalu, siapa yang akan mendonorkan darah untuk putra kita?” tanya Ayah Faizal panik.
Ayah Faizal sendiri memiliki riwayat darah tinggi dan tentu saja ia tidak diperbolehkan untuk mendonorkan darah.
Papa Rio datang sambil tersenyum lega karena akhirnya ia bisa mendonorkan darahnya untuk menantu kesayangannya.
“Papa bisa mendonor darah?” tanya Caca sambil menyentuh lengan Papanya.
“Alhamdulillah, Papa bisa mendonorkan darah Papa untuk Suami kamu. Sekarang, kita harus banyak berdo'a untuk keajaiban yang akan Allah berikan kepada kita,” ujar Papa Rio.
Mereka semua mengucap Alhamdulillah dan Ayah Faizal mendekati besannya untuk mengucapkan Terima kasih atas kebaikan dari besannya itu.
“Mas Faizal tidak perlu berterima kasih seperti ini. Kita ini sudah menjadi keluarga dan fungsi keluarga ya memang harus saling membantu,” balas Papa Rio dan kemudian menepuk sekilas bahu Ayah Faizal.
Ayah Faizal bersyukur memiliki besan yang sangat baik dan juga rendah hati.
“Apa ini, Mas?” tanya Papa Rio melihat beberapa nasi kotak serta air mineral.
“Tadi saya membeli makanan dan minum ini di luar rumah sakit, Mas. Ayo, sebaiknya kita makan dulu,” ucap Ayah Faizal.
Meskipun sedang tidak nafsu makan, mereka juga harus mengisi perut mereka agar menjadi tenaga.
“Malam ini kita tidur di hotel terdekat,” ucap Papa Rio.
“Saya tempat di sini saja, Mas,” ucap Ayah Faizal yang ingin terus berada di rumah sakit, menunggu kabar selanjutnya mengenai kondisi Adi.
__ADS_1
“Baiklah, besok malam gantian saya yang di sini,” sahut Papa Rio.
Mereka pun duduk berjejer dan mulai memakan nasi kotak yang Ayah Faizal beli.
Beberapa saat kemudian.
Karena waktu sudah sangat malam dan ada Bayi Yusuf diantara mereka. Tidak mungkin mereka tetap berada di rumah sakit sampai tengah malam, saat itu juga Papa Rio mengajak mereka untuk segera istirahat di hotel. Sementara Ayah Faizal tetap berada di rumah sakit mengawasi putra kandungnya.
“Mas, kami beristirahat di hotel. Kalau ada apa-apa, segeralah hubungi saya!” pinta Papa Rio pada besannya.
Ayah Faizal mengiyakan dan mengelus lembut pipi cucunya yang tengah terlelap.
Kemudian, mereka pun pergi menuju hotel yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Hanya sekitar 2 km dari rumah sakit.
“Caca belum minum vitamin hari ini?” tanya Mama Ismia ketika melihat wajah Caca yang semakin pucat.
“Caca lupa, Mama,” jawab Caca.
“Lalu, vitaminnya kamu bawa?” tanya Mama Ismia sambil terus berjalan ke arah parkir.
“Ada di dalam tas Yusuf, Mama.”
Saat itu tas Yusuf ada pada Ibu Puspita, Yusuf dalam gendongan omanya yaitu Mama Ismia dan koper ada pada Papa Rio.
Tak berselang lama, mereka akhirnya tiba di hotel.
Mama tidur dengan Papa, sementara Caca, Yusuf dan Ibu Puspita ada di kamar sisi kiri.
“Caca pasti akan meminumnya,” balas Caca dan bergegas masuk ke dalam kamar hotel.
Ibu Puspita saat itu tidak langsung beristirahat, justru ia sedang sibuk mengganti popok Yusuf yang ternyata sudah penuh.
“Ibu kenapa baik banget sama Caca? Selama Caca menikah dengan Mas Adi, Ibu tidak pernah berbicara kasar dengan Caca bahkan tidak pernah mengeluh dengan sikap Caca yang masih jauh diatas rata-rata,” tutur Caca sambil duduk di bibir ranjang dengan tertunduk lesu.
“Ibu sudah pernah bilang, kalau Caca sudah Ibu anggap seperti anak sendiri. Lagipula, tidak ada untungnya berbuat seperti yang Caca sebutkan tadi,” balas Ibu Puspita yang sudah mengganti popok cucu pertamanya.
“Ibu, Caca memang belum bisa menjadi menantu yang sempurna untuk Ayah dan Ibu. Namun, Caca tidak akan pernah berhenti untuk terus belajar menjadi menantu yang baik,” terang Caca.
“Bagi kami, Caca sudah lebih dari cukup. Apapun Caca, Ibu dan juga Ayah akan tetap sayang sama Caca,” jelas Ibu Puspita.
Caca menghela napasnya dan meminta Ibu mertuanya untuk memeluk dirinya.
“Terima kasih, Ibu. Ibu memang mertua yang sangat baik,” ucap Caca.
“Iya sayang, sekarang lebih Caca mandi. Caca bawa baju, 'kan?” tanya Ibu Puspita.
“Caca bawa beberapa setel baju tidur, Ibu pakai baju punya Caca ya,” tutur Caca.
“Tapi, Ibu tidak membawa dalaman,” terang Ibu Puspita.
__ADS_1
Caca dengan cepat mengeluarkan ponselnya untuk memesan dalaman secara online.
“Ibu tenang saja, Caca sudah memesan dalaman untuk Ibu. Ukuran Ibu tidak jauh berbeda dari Caca,” terang Caca.
“Memang bisa di jam segini? Kan, sudah jam 10 malam,” tutur Ibu Puspita.
“InshaAllah bisa, Bu. Kebetulan Caca ada toko langganan ya buka sampai jam 11 malam dan kebetulan juga lokasinya tidak jauh dari sini,” terang Caca.
“Terima kasih ya Caca sayang, Caca selalu perhatian pada Ibu.”
“Terima kasih juga Ibu, karena sudah menyayangi Caca,” balas Caca.
Caca pun bergegas mandi terlebih dahulu untuk menyegarkan tubuhnya serta pikirannya.
Sambil menunggu Caca selesai mandi, Ibu Puspita dengan senang mengajak Bayi Yusuf berbicara.
“Hallo cucunya Nenek. Kok belum tidur? Mau minum susu dulu ya? Sabar ya sayang, tunggu Bunda Caca selesai mandi,” ucap Ibu Puspita.
Ibu Puspita dengan lembut membelai kening Yusuf agar cepat mengantuk dan tak butuh waktu lama cucu pertamanya itu terlelap.
Beberapa menit kemudian.
Caca telah selesai mandi dan melihat pemandangan yang begitu enak dipandang mata. Di mana Ibu mertua dan Bayi Yusuf tidur bersama dengan saling berhadapan.
“Ibu Puspita pasti sangat lelah, sampai ketiduran,” gumam Caca sambil mengenakan piyama miliknya.
Pada saat akan menyisir rambut basahnya, ada suara bel berbunyi.
Ibu Puspita terkejut dan langsung bangkit dari tidurnya.
“Caca, suara apa itu?” tanya Ibu Puspita panik.
“Ibu yang tenang ya, itu hanya suara bel saja. Paket yang Caca pesan sepertinya sudah datang,” pungkas Caca sambil mengambil uang di dalam dompetnya.
Caca dengan cepat membuka pintu kamar hotel dan membayar belanjaannya.
“Sekarang Ibu sudah bisa mandi,” ucap Caca sambil menyerahkan paper bag berisi dalaman dan juga dua setelan piyama.
Ibu Puspita mengeluarkan isi di dalam paper bag tersebut dan mengucapkan terima kasih berulang kali kepada menantunya.
“Ibu tidak perlu mengucapkan terima kasih begitu, sekarang Ibu mandi ya. Habis itu kita istirahat.”
“Ibu mandi dulu kalau begitu,” ujar Ibu Puspita dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Caca kembali menyisir rambutnya yang panjang dan masih basah itu.
“Mas Adi, Caca rindu mendengar suara Mas Adi memanggil Caca. Mas cepat sembuh ya, kami sangat merindukan Mas,” gumam Caca.
Caca menghela napasnya dan buru-buru mendongakkan kepala ke atas agar tidak menangis.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup tenang, Caca memutuskan untuk menghampiri Bayi Yusuf untuk menyusui putra pertamanya.
“Sayangnya Bunda minum susu ya,” ujar Caca sambil menggendong bayi Yusuf.