Istri Centil Mas Adi

Istri Centil Mas Adi
Ternyata Panti Asuhan


__ADS_3

Selama perjalanan menuju tempat yang dimaksudkan oleh Sang suami, Caca menyibukkan dirinya dengan mengemil cemilan yang ia beli setengah jam lalu di minimarket.


“Mas mau?” tanya Caca menawarkan cemilannya.


“Nanti saja,” jawab Adi yang sedang sibuk menyetir mobil.


“Kok nanti sih?” tanya Caca dan menyuapi kacang almond ke dalam mulut suaminya.


Adi tersenyum dan perlahan mengunyah kacang almond yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


“Masih lama ya Mad?” tanya Caca.


“Tidak sampai 5 menit, kita akan sampai di tempat tujuan,” jawab Adi.


“Benarkah?” tanya Caca yang begitu antusias.


“Iya, Caca sayang!” seru Adi.


Caca dengan semangat meletakkan cemilannya dan mengambil sisir untuk merapikan tatanan rambutnya. Tak lupa Caca menambahkan lipbalm di bibirnya agar selalu lembab.


Mobil perlahan memasuki area panti asuhan dan seketika itu Caca menatap suaminya dengan terheran-heran.


“Kita sudah sampai,” ucap Adi dan mengajak istri kecilnya untuk segera turun.


“Tunggu dulu. Maksud Mas tempat favorit yang sebelumnya Mas katakan adalah panti asuhan?” tanya Caca memastikan dengan raut wajah agak kecewa.


Caca pikir Sang suami akan membawanya ke pantai atau ke tempat wisata terkenal. Akan tetapi, suaminya malah membawanya ke panti asuhan.


Caca mendengus kesal seraya memalingkan wajahnya dari Sang suami.


“Caca kecewa ya karena Mas mengajak ke sini?” tanya Adi sembari menyentuh pundak Caca.


“Ternyata panti asuhan. Caca pikir Mas akan mengajak Caca ke tempat wisata. Kalau tahu begini, kenapa kita datang dengan tangan kosong?” tanya Caca yang ternyata kekecewaannya karena mereka berdua tidak membawa apapun untuk diberikan ke panti asuhan itu.


Adi bernapas lega mendengar apa yang Sang istri ucapkan.


“Caca tidak usah khawatir, Mas sudah menyiapkan uang tunai,” terang Adi dan mengajak Caca untuk segera turun dari mobil.


Caca memang sedikit kecewa karena tak sesuai dengan ekspektasi nya. Meskipun begitu, Caca tidak mungkin ngambek kepada suami yang sangat ia cintai.


Kedatangan mereka rupanya disambut hangat oleh pemilik panti asuhan tersebut. Bahkan, pemilik panti dan Adi saling berpelukan layaknya saudara dekat.


“Mas Adi, wanita ini siapa?” tanya pemilik panti asuhan bernama Pak Yahya.

__ADS_1


“Ini istri saya, Caca,” jawab Adi memperkenalkan Caca sebagai istrinya.


Pak Yahya tersenyum seraya menganggukkan Kepalanya ketika mengetahui status Adi yang telah beristri.


“Silakan masuk, Bapak ingin berbicara banyak pada Mas Adi,” ucap Pak Yahya dengan merangkul punggung Adi dan membawanya masuk ke dalam.


Caca tersenyum kecut melihat bagaimana Pak Yahya dan Adi nampak sangat akrab. Bahkan, kehadirannya seperti tak dianggap.


Mereka bertiga akhirnya tiba di sebuah ruangan yang cukup lebar. Lagi-lagi Pak Yahya mengajak ngobrol suaminya dan sepertinya tak tertarik untuk bicara padanya.


Caca yang merasa seperti terasingkan, memutuskan untuk melihat-lihat lingkungan panti asuhan daripada tidak diajak berbincang-bincang.


“Pak, bolehkah saya melihat-lihat lingkungan di sini?” tanya Caca.


“Silakan,” jawab Pak Yahya singkat.


Caca buru-buru meninggalkan ruangan itu dan mulai melihat-lihat area panti asuhan.


Saat Caca sedang berjalan menelusuri sekitar panti, banyak anak-anak panti yang menatapnya. Mereka tentu saja penasaran dengan Caca yang sedang berjalan-jalan seorang diri.


“Apa ada yang aneh denganku?” tanya Caca seraya memeriksa setelan yang ia kenalan barangkali ada yang salah.


Setelah memeriksanya, Caca tidak menemukan satupun kesalahan pada dirinya.


Tenggorokan Caca terasa kering dan Caca ingin sekali meminum es teh. Pada saat yang bersamaan, ada seorang anak perempuan mendekati Caca seraya memberikan permen dengan rasa susu.


“Ini buat kakak cantik,” ucapnya seraya memberikan permen kepada Caca.


Caca menerima pemberian permen susu itu seraya tersenyum lebar.


“Terima kasih,” ucap Caca.


“Sama-sama,” jawab anak perempuan berusia 6 tahun dengan senyum malu-malu.


“Kamu namanya siapa, Dik?” tanya Caca dengan tubuh yang setengah membungkuk karena ingin mendengar jawaban dari anak kecil di hadapannya.


“Nama aku Anugerah, Kakak cantik,” jawabnya.


“Nama yang sangat cantik,” puji Caca seraya membelai rambut Anugerah bergelombang.


Anugerah hanya tersenyum malu-malu mendengar Caca memuji namanya.


“Kak Caca sekarang lagi haus. Kira-kira di mana ya yang ada warung sekitar sini?” tanya Caca seraya menyentuh tenggorokannya yang kering.

__ADS_1


“Ayo kakak cantik, Anugerah tunjukkan di mana warungnya,” jawab Anugerah dan menggandeng erat tangan Caca ke warung yang ia maksud.


Tak butuh waktu lama, mereka berdua tiba di sebuah warung yang letaknya berada di selatan panti asuhan.


Di saat yang bersamaan, Pak Yahya mengajukan pertanyaan yang serius kepada Adi. Pertanyaan yang membuat Adi cukup terkejut.


“Kenapa Mas Adi malah menikah dengan wanita lain? Apa anak Bapak kurang cantik?” tanya Pak Yahya yang cukup sedih mengetahui bahwa Adi telah menikah.


“Maksudnya Pak Yahya?” tanya Adi yang tidak mengerti dengan pertanyaan Pak Yahya.


“Mas Adi, selama ini Fatimah menaruh perasaan pada Mas Adi. Apakah selama ini Mas tidak pernah tertarik dengan anak Bapak?” tanya Pak Yahya.


“Fatimah?” Adi mencoba mengingat Fatimah yang tak lain adalah putri semata wayang Pak Yahya.


Di sisi lain.


Caca mengucapkan Terima kasih kepada Anugerah dan mentraktir apapun yang Anugerah inginkan.


“Sebagai rasa Terima kasih Kak Caca, kamu boleh mengambil apa saja dan Kak Caca yang akan mentraktir kamu,” ucap Caca.


Anugerah menggelengkan kepalanya dan memilih untuk main bersama teman-temannya.


“Anugerah!” panggil Caca, tetapi bocah kecil itu terus saja berlari dan tak terlihat dari pandangan Caca.


Caca menghela napasnya dan duduk di kursi kayu seraya meneguk air mineral dingin yang ia beli.


Tiba-tiba saja tatapan Caca fokus pada sesosok wanita yang mengenakan gamis dan kerudung yang sangat panjang hingga menutupi bagian bokongnya. Wanita yang berpakaian serba hitam itu sangat bersinar hingga membuat Caca merasa iri dengan kecantikan wanita itu.


“Cantik sekali,” puji Caca yang keluar begitu saja dari mulutnya.


Anak-anak panti asuhan dengan kompak berlari menghampiri wanita cantik itu hanya sekedar menyapanya.


“Umi Fatimah cantik deh,” puji salah satu anak kecil.


Caca merasa malu dengan wanita bernama Fatimah karena dirinya tidaklah berhijab.


Bahkan ketika wanita itu pergi menjauh, Caca masih saja memperhatikannya.


“Sepertinya aku sudah cukup lama di sini, aku harus menemui Mas Adi dan mengajaknya pulang,” ucap Caca bermonolog.


Caca bergegas menghampiri suaminya yang sedang berbincang-bincang dengan Pak Yahya. Akan tetapi, ia lupa dengan ruangan yang sebelumnya ia masuki bersama Sang suami.


Untuk orang yang pertama kali datang ke panti asuhan itu, dapat dipastikan mereka akan bingung. Karena hampir semua gedung terlihat sama dan sulit sekali untuk membedakannya.

__ADS_1


“Hai Adik, boleh minta tolong?” tanya Caca yang berinisiatif meminta tolong anak panti asuhan untuk membawanya menemui Pak Yahya.


__ADS_2