
Waktu yang di takutkan Caca akhirnya datang juga. Lebih menakutkan 10 kali lipat daripada menghadapi soal-soal ujian nasional.
Caca bahkan kehilangan nafsu makan dan tidak ingin melihat hasil dari kerja kerasnya dalam belajar.
“Mas, Caca tidak masuk sekolah ya. Caca takut melihat nilai yang pastinya tidak memuaskan,” tutur Caca yang enggan bangkit dari tempat tidur.
“Kamu tidak boleh begitu, bagaimanapun hasilnya kamu harus bersyukur,” tutur Adi sembari menarik tangan istrinya agar segera turun dari tempat tidur.
“Kalau nilai Caca benar-benar jelek dan tidak lulus, bagaimana? Mas pasti langsung meninggalkan Caca,” ujar Caca sedih.
“Astaghfirullah, kok kamu bicara seperti itu?” tanya Adi dan mengecup bibir istrinya berulang kali.
“Ya mau bagaimana lagi, Mas? Caca sangat tidak percaya diri. Bu Intan pasti tertawa paling keras ketika tahu nilai ujian nasional jelek,” pungkas Caca.
“Sudah ya, jangan bicara yang ngelantur begini. Apapun hasilnya, Mas akan bangga dengan Caca,” tutur Adi seraya tersenyum.
Caca menghela napasnya dan mendaratkan bokongnya di kursi.
“Pokoknya Caca ingin cepat-cepat lulus. Semakin hari kelakuan Bu Intan semakin jahat pada Caca. Bahkan, Bu Intan sengaja memanggil Caca cewek gatal di depan teman-teman,” terang Caca yang akhirnya speak up masalah Intan yang memanggilnya gatal.
“Apa? Dia memanggil kata itu sama kamu?” tanya Adi terkejut.
“Sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu. Cuma, Caca memilih untuk tidak memberitahu Mas. Tapi, semakin kesini kelakuan Bu Intan semakin jahat pada Caca. Seumur-seumur tidak ada yang pernah memanggil Caca dengan sebutan itu,” pungkas Caca.
Adi sudah cukup bersabar dengan kelakuan Intan yang terus saja mencoba mendekatinya dan ternyata Intan malah mengganggu istri kecilnya.
“Sepertinya, Mas harus bertindak jauh,” ujar Adi.
“Bertindak jauh? Jangan bilang kalau Mas mau memukul Bu Intan?” tanya Caca seraya menyipitkan kedua matanya.
“Astagfirullah, kok kamu malah berpikir yang tidak baik tentang Mas. Bukan itu maksudnya,” balas Adi dengan mengelus-elus dadanya sendiri, agar kesabarannya semakin diperbanyak oleh Allah.
“Ya habis mau bagaimana lagi? Ucapan Mas saja sudah membuat Caca takut,” sahut Caca.
Adi tersenyum sembari merapikan rambut Sang istri yang sedikit berantakan.
“Mas tidak pernah dan tidak akan pernah berbuat kasar terhadap wanita. Mas hanya ingin membuat Bu Intan mengerti kesalahannya,” pungkas Adi.
Caca tersenyum lega setelah mendengar apa yang suaminya katakan.
“Sekarang Caca bersiap-siap dan kita sarapan bersama. Setelah itu, kita berangkat ke sekolah!”
***
__ADS_1
Di Sekolah.
Intan tak sengaja melihat Caca sedang Caca dan kedua temannya melintas depan Ruang Guru. Intan tersenyum kecil dan berlari menghampiri ketiganya.
“Kalian bertiga ke sini!” panggil Intan seraya menggerakkan tangannya memberi isyarat agar ketiganya segera datang padanya.
Caca, Lia dan Rina dengan sangat terpaksa menghampiri Intan yang memanggil mereka bertiga.
“Ada apa, Bu?” tanya Caca.
“Ibu sedang sibuk, kalian bantu Ibu membawa buku cetak ke perpustakaan ya!” pinta Intan.
“Ibu kira kami ini tidak sibuk? Tolong ya Bu, Ibu itu di gaji di sini dan kami di sini itu tugasnya belajar. Bukan jadi perusuh Ibu,” tegas Caca.
Caca pun menarik tangan Lia dan Rina untuk segera pergi menjauh dari Area Ruang Guru.
Intan mencoba menghentikan mereka bertiga, akan tetapi ketiganya terus saja pergi menjauh darinya.
“Melihat si kegatelan itu pergi, membuatku yakin kalau hubungan suami istri antaran Pak Adi dan Caca hanyalah kebohongan belaka,” gumam Intan.
Lia dan Rina menatap Caca dengan tatapan bertanya-tanya. Mereka penasaran tentang Caca dan Intan.
“Caca, kamu ada masalah sama BU Intan?” tanya Lia penasaran.
Caca melirik tajam dan menggigit bibirnya sendiri.
“Kenapa kalian berdua berpikiran begitu?” tanya Caca seraya mendaratkan bokongnya di kursi panjang.
Lia dan Rina pun ikut duduk bergabung dengan Caca.
“Kalau aku perhatikan kamu dan Pak Adi sangat dekat. Aku bahkan curiga kalau kalian sedang menjalin hubungan,” tutur Lia dengan yakin.
“Aku setuju dengan Lia. Kamu dan Pak Adi selalu berangkat bareng, pulang bareng. Kalau bukan pacaran lalu apa?” tanya Rina penasaran.
Ketika Caca ingin menjawab rasa penasaran Lia dan Caca. Adi tiba-tiba saja datang dan meminta mereka bertiga untuk segera melihat papan pengumuman.
“Kalian kenapa masih di sini, lihat pengumuman sekarang!” perintah Adi.
Ketiganya dengan semangat berlari untuk segera mengetahui hasil dari ujian mereka.
“Caca, jangan lari-lari!” pinta Adi mengingatkan istrinya untuk tidak berlarian.
“Baik, Pak!” seru Caca seraya tersenyum.
__ADS_1
Lia dan Rina semakin curiga dengan hubungan keduanya. Mereka yakin bahwa ada sesuatu yang sengaja mereka berdua sembunyikan.
“Caca!” panggil Leo yang sudah lebih dulu melihat nilainya.
Caca perlahan mendekat dan dengan sigap Leo memberikan jalan untuk Caca agar bisa melihat nilainya.
“Alhamdulillah!” Caca berteriak penuh semangat ketika melihat nilainya yang memuaskan.
Caca reflek berlari menghampiri suaminya yang sedang memandangi nya dari kejauhan.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Adi.
“Terima kasih, Mas. Karena sudah membuat Caca belajar dan terus belajar,” ucap Caca berterima kasih.
Caca menyentuh tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya. Adi tanpa sadar membelai rambut istrinya dan menyentuh lembut pipi Sang istri.
Tak butuh waktu lama, Adi dan Caca sudah menjadi pusat perhatian seluruh murid SMA.
“Mas, bagaimana ini?” tanya Caca lirih sembari melangkah menjauh dari suaminya.
Adi tak ingin menyembunyikan hubungannya dengan Sang istri. Saat itu juga Adi menggengam erat tangan istrinya dan mengajak Sang istri untuk pulang ke rumah.
Lia dan Rina terkaget-kaget melihat mereka berdua yang sangat dekat.
“Lia, sepertinya mereka berpacaran,” ucap Rina dengan tatapan yang masih syok.
Leo mengepalkan tangannya kuat-kuat ketika melihat Caca yang dicintainya pergi bersama Adi.
“Leo, kamu kenapa diam? Cepat kejar Caca!”
Leo hanya tersenyum tipis mendengar saran dari salah satu temannya.
Caca dan Adi sudah pergi meninggalkan sekolah.
“Mas, bagaimana jika mereka berpikiran yang tidak-tidak?” tanya Caca penasaran.
“Kenapa memangnya? Kamu sudah lulus dan tidak perlu lagi menyembunyikan hubungan kita. Lagipula, Mas tidak akan lama di sekolah itu,” ujar Adi.
“Maksudnya, Mas Adi apa?”
“Hhmm.. Untuk sekarang Mas tidak ingin memberitahu Caca. Caca yang sabar ya!” pinta Adi.
Caca pun mengiyakan, ia tak sabar ingin memberitahu kedua orang tuanya perihal nilainya yang sangat memuaskan.
__ADS_1
“Mas! Caca tidak sabar ingin memberitahu Papa dan Mama. Mereka pasti senang dan bangga dengan Caca,” tutur Caca bahagia.