
Wawan telah diinterogasi mengenai pembakaran warung, motif yang sebenarnya karena Wawan iri dan dendam karena dulu dirinya pernah membuka warung. Namun sayangnya, warung miliknya tidak berjalan sesuai keinginannya dan ketika dirinya bangkrut, Adi justru membuka warung sendiri dan pada akhirnya jualan yang Adi jual laris manis. Tidak seperti usaha Wawan sebelumnya yang tidak membuahkan hasil apa-apa.
Justru, Wawan memiliki hutang yang tentu saja bernilai puluhan juta rupiah. Karena merasa hidupnya penuh kesialan, Wawan membalas dendam dengan cara membakar warung yang hampir jadi itu.
“Mas Wawan, apakah anda benar-benar melakukannya seorang diri?” tanya Adi secara langsung.
“Kenapa? Kalau memang saya melakukannya dengan membawa teman saya, tentu saja tidak hanya warung kamu yang saya bakar. Rumah kalian pun akan saya bakar sampai tak tersisa,” ucap Wawan yang sedikitpun tidak ada rasa bersalah maupun penyesalan.
Adi mengelus dadanya sembari mengatur napasnya agar tenang menghadapi orang gila seperti Wawan.
“Pak, masalah orang ini saya serahkan kepada Bapak dan rekan. Saya izin pulang karena istri di rumah sedang hamil,” ucap Adi dan bergegas pergi.
Adi tentu saja akan menempuh jalur hukum, tidak ada kata damai untuk seorang Wawan yang tega membakar warung hasil keringat bersama Sang istri.
***
Adi akhirnya kembali dengan membawa buah srikaya untuk istri kecilnya. Adi tentu saja kembali membeli buah srikaya untuk Sang istri, karena buah yang sebelumnya ia beli sudah habis tak tersisa.
“Assalamu'alaikum,” ucap Adi sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Caca yang duduk bersama Ibu Puspita, terkejut melihat suaminya sudah kembali.
“Assalamu'alaikum,” ucap Adi sekali lagi.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Caca dan Ibu Puspita.
Caca dengan langkah tergesa-gesa menghampiri suaminya dan memeluk erat tubuh Sang suami.
“Mas, baik-baik saja? Caca takut kalau terjadi sesuatu kepada Mas,” ujar Caca khawatir.
“Sayang, kamu yang tenang ya. Mas baik-baik saja dan pelaku pembakaran warung kita sudah tertangkap,” terang Adi sambil membelai punggung Caca.
Caca melepaskan pelukannya seraya tersenyum lega karena suaminya datang dengan selamat.
“Adi, kamu pasti sangat lapar. Pergilah ke ruang makan, Ibu tadi sudah memasakkan kamu makanan,” ucap Ibu Puspita.
“Ayo, Mas. Caca temani!” ajak Caca sembari merangkul lengan suaminya.
Adi tersenyum dan mengangkat kantong plastik berisi buah srikaya untuk istri kecilnya.
“Apa itu, Mas?” tanya Caca penasaran.
__ADS_1
“Mas membeli buah srikaya lagi untuk Caca,” jawab Adi.
“Mas tahu saja apa yang Caca inginkan!” seru Caca dan menerima buah srikaya yang sengaja suaminya beli untuk dirinya.
Kini, mereka sudah ada di ruang makan untuk menikmati momen kebersamaan mereka di meja makan.
“Mas, saat bayi kita lahir jangan pernah membagi kasih sayang Mas untuk Caca ya!” pinta Caca.
Adi terkekeh kecil mendengar permintaan istrinya.
“Kok respon Mas Adi begitu?” tanya Caca sedih.
Adi menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Caca dan perlahan Adi menyentuh kedua tangan istri kecilnya seraya tersenyum tulus.
“Mas berjanji akan memperlakukan kalian berdua sebaik mungkin dan berjanji tidak akan membuat Caca merasakan kesedihan dengan permintaan Caca tadi,” jawab Adi serius.
“Mas, Caca tadi hanya bercanda saja. Bagaimanapun, setelah punya anak yang kita pikirkan sama-sama adalah buah hati kita,” balas Caca.
“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Ayo kita makan!” ajak Adi.
Ibu Puspita berdiri tak jauh dari mereka berdua, Ibu dari Adi itu nampak sangat bahagia melihat hubungan harmonis antara putra kandungnya dan menantu kesayangannya.
Ibu Puspita pun bergegas pergi menjauh dan membiarkan keduanya menikmati hidangan yang dimasak.
Malam Hari.
Caca merasakan pegal di bagian punggung dan juga pinggang. Saking pegal nya, Caca bahkan tak bisa menikmati tidurnya di malam hari.
Caca tidak bisa tidur? Mau Mas pijat?” tanya Adi menawarkan diri memijat istri kecilnya.
“Tidak usah, Mas. Hampir setiap hari Mas memijat Caca, sebagai istri Caca merasa sangat merepotkan Mas Adi,” balas Caca.
“Ini bukan masalah direpotkan, Sayang. Mas melakukannya karena ini adalah tanggung jawab Mas sebagai seorang suami. Mas juga telah menghamili Caca, oleh karena biarkan Mas memijat Caca ya,” ujar Adi.
“Mas memang yang terbaik,” puji Caca.
Caca bersyukur memiliki suami yang sangat perhatian. Suami yang sedikitpun tidak akan membiarkan dirinya kesusahan apalagi sampai bersedih.
“Mas, apakah pria membakar warung kita akan jera?” tanya Caca penasaran.
“Kenapa Caca bertanya seperti itu?” tanya Adi kembali.
__ADS_1
“Caca takut kalau kedepannya dia memiliki motif balas dendam seperti yang dia lakukan kepada warung kita,” ungkap Caca.
“Sayang, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak seperti itu, InsyaAllah semuanya akan berjalan dengan baik. Allah bersama kita,” balas Adi.
“Aamiin,” sahut Caca.
Caca berdo'a dalam hati untuk keselamatan keluarga kecilnya dan dijauhkan dari hal-hal yang berniat buruk kepada keluarga kecilnya itu.
Sekitar 30 menit, Adi memijat punggung serta bagian pinggang istrinya. Caca merasa pegal di punggung serta pinggang nya sudah berkurang. Saat itu juga ia meminta Sang suami untuk berhenti dan melanjutkan tidur mereka yang tertunda.
“Mas, ini sudah malam. Caca sudah merasa mendingan karena pijatan Mas. Ayo Mas, kita tidur!” ajak Caca dan perlahan berbaring dengan posisi miring menghadap kiblat.
“Sayang, kalau nanti merasa pegal jangan sungkan untuk membangunkan Mas ya!” pinta Adi.
“Mas jangan khawatir, InsyaAllah Caca sudah bisa tidur nyenyak,” balas Caca.
Caca merasa harus buang air kecil, saat itu juga Caca turun dari tempat tidur untuk segera pergi ke kamar mandi.
“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Adi melihat istri kecilnya meninggalkan tempat tidur.
“Caca mau ke kamar mandi, Mas. Kebelet pipis,” jawab Caca.
Tanpa pikir panjang, Adi bergegas turun dari tempat tidur untuk menemani Sang istri masuk ke dalam kamar mandi.
“Mas tidak perlu menemani Caca, Mas itu sangat lelah. Dari tadi sore belum sempat beristirahat,” ujar Caca.
“Sayang, jangan mengkhawatirkan Mas ya. Lagipula, Mas ini laki-laki dan tentu saja hal seperti ini sangatlah wajar,” balas Adi yang tidak ingin istri kecilnya khawatir.
“Baiklah kalau Mas Adi memaksa,” sahut Caca pasrah.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.
Tak berselang lama, Caca keluar bersama dengan Sang suami. Mereka bahkan telah mengambil air wudhu untuk persiapan tidur.
“Mas, selamat tidur,” ucap Caca sebelum tidur.
“Selamat tidur juga, istriku. Tidurlah yang nyenyak,” balas Adi.
Caca tersenyum dan perlahan memejamkan matanya, begitu juga dengan Adi.
Adi berharap tidur mereka malam itu nyenyak dan akan bangun sebelum sholat subuh.
__ADS_1